Arum Silviani

Backpackeran ke Bromo, Day-2

Boleh dibilang, perjalanan ini luar biasa! 16 Jam dari Bandung-Malang. Sampai di Stasiun Kota Malang hampir jam 10 pagi. Kami memutuskan untuk mengisi perut dulu di warung makan yang terletak di depan Stasiun. Menunya sederhana, namun tempatnya bersih. Setelah itu kami jalan lagi ke hotel Camelia. Nggak jauh dari stasiun memang, tapi ternyata hotel sudah penuh. Sehingga rencana kembali ke semula. Menginap di hotel Helios Malang di hari ketiga.
Dari stasiun, kami naik angkutan umum ke Terminal Arjosari, dan menyambung dengan bus Patas AC ke Probolinggo. Perjalanannya terbilang nyaman, karena supir bus mengemudi dengan hati-hati, juga full musik sepanjang jalan.
Sekitar jam 12.30 kami sampai di Terminal Bayuangga, Probolinggo. Bergegas menghampiri Bison (Elf) yang sedang menunggu penumpang penuh. Disitu kami bertemu dengan pasangan yang ternyata dari Bandung. Tiara dan Uje. Karena mereka masih terkatung-katung, belum dapat penginapan dan jeep untuk ke Bromo, maka akhirnya kami sepakat mengajak mereka join.
Kurang lebih satu jam menunggu di depan terminal Bayuangga, supir bison siap mengantarkan kami. Ada beberapa wisatawan asing, kemudian rombongan keluarga dari Jakarta, dan rombongan kami. Total ada 18 orang yang masuk ke dalam Bison tersebut. Kebayang kan dempet-dempetan nggak karuan? Sama sekali tidak nyaman lah. Belum lagi tingkah laku supir Bison yang ugal-ugalan. Hmm..nggak dimana-mana ya…semua supir Elf memang seperti menyandang 9 nyawa. Kebut-kebutan, padahal apa coba yang mau dikejar?
Namun rasa tidak nyaman itu terbayar ketika kami sudah memasuki kawasan kaki Gunung Bromo. Luar biasa Indah! Bahkan menurut saya, pemandangan di sepanjang desa yang dilalui sebelum mencapai Bromo lebih indah daripada Gunung Bromo itu sendiri.
Ditunjang udara yang bersih dan segar, tanpa polusi, membuat saya serasa sedang duduk di kendaraan yang nyaman. Begitupula dengan penumpang Bison lainnya. Para wisatawan asing bahkan berkali-kali berdecak kagum, bilang kalau “Wooooww…Wonderful!”
Hal yang membuat saya tersenyum simpul. This is only a part of wonderful Indonesia.  Demikian saya membatin. Sayangnya…karena ulah Sopir Bison yang ugal-ugalan, tak satupun gambar yang berhasil saya abadikan. Hmm…cukup diabadikan dalam memori saya saja.
Satu jam melaju, sampailah kami di Cemoro Lawang. Disitu dijemput Mas Adi (pemandu kami) yang kemudian mengantarkan kami ke penginapan.
Gerbang Masuk Cemoro Lawang
 
 Penginapan di Bromo
Penginapan ini sebenarnya rumah penduduk yang disewakan. Tidak ada plang atau papan nama di depannya. Namun sepertinya, setiap orang yang tinggal di kawasan Bromo ini memang sudah saling mengenal. Menurut saya, rumah sewaan kami sangatlah nyaman dan bersih. Dengan fasilitas dua kamar, satu ruang tamu dan satu kamar mandi, rasanya sudah sangat cukup untuk mengusir lelah dan mengistirahatkan raga setelah menempuh perjalanan jauh. Lingkungannya juga nyaman, dengan latar belakang kebun sayur dan rumah penduduk yang berdinding anyaman bambu.
Pemandangan di belakang penginapan
Baru beberapa saat kami masuk penginapan, saya melihat ada seorang gadis kecil menjajakan bunga edelweis. Saya tanya, apakah bunga tersebut dijualnya. Gadis kecil itu mengangguk, dan mengiyakan. Dia menawarkan harga 15 ribu rupiah untuk seikat bunga edelweis. Wooow….amazing!
Di daerah lain, bunga edelweis termasuk bunga yang dilindungi. Tidak boleh dipetik. Bahkan di beberapa tempat, kalau kita baru turun gunung akan diperiksa petugas. Jika kedapatan membawa bunga ini, maka kita bisa dikenai tindakan hukum.
Saya, mbak wian, dan Mbak Yanti juga kedua teman baru kita Uje dan Tiara, masing-masing membeli satu ikat untuk dibawa pulang. Mbak wian bahkan membeli satu ikat lagi untuk dibagikan ke teman-temannya di Bandung. Selanjutnya, karena lapar kami jalan-jalan mencari makanan. Tidak ada warung yang menyediakan nasi dan lauk pauknya disini. Semua warung yang ada hanya menyediakan mie instant. Akhirnya kami pun makan ala kadarnya. Baru belakangan kami tahu, ternyata ibu-ibu di sekitar penginapan bisa dimintai tolong untuk memasak. Hmm…lain kali kalau berkunjung kesini lagi, kami akan membawa bekal makanan yang cukup. supaya bisa dimasak dan dinikmati di kaki Bromo. Karena udara dingin, makan apapun terasa enak. Dan kita pun cepat lapar rasanya.
Ketika ke kamar mandi, airnya dingiiiin….seperti di kawasan Lembang, Bandung. Air hangat pun tak terasa rasanya. yang terasa hanya…dingiin…tapi sejuk.
Sore harinya kami berjalan-jalan ke Cemoro Lawang. Tidak jauh dari penginapan kami. Disitu ada spot yang digunakan untuk fotografi. Dimana sejauh mata memandang, kita bisa melihat Gunung Batok dan lautan Pasir, bak kabut di sore hari. Dari spot ini saya juga bisa melihat ada jeep yang sedang melaju kencang di bawah sana. Saya berpikir, kok bisa ya rutenya kelihatan? Padahal kan di atas Gurun Pasir. Jejak pun mudah terhapus karena tersapu angin.
Spot Fotografi diatas Lautan Pasir
Setelah puas mengabadikan moment indah tersebut, kami kembali ke penginapan. Sebelumnya kami memesan makanan dulu, agar bisa diantarkan ke penginapan. Pemilik warung yang ternyata tinggal di belakang rumah sewaan kami pun dengan senang hati memenuhi permintaan kami.
Sambil menunggu ngantuk, kami ngobrol kesana-kemari. Hingga makin malam, dingin mulai menusuk. Saya merepet ke Mbak Yanti. Apapun lah saya lakukan demi menghangatkan diri. Kaos kaki dipasang, jaket, selimut, semua lengkap. Tapi tetap saja dingin. Ketiduran, dan bangun lagi jam 2 pagi. Sudah nggak bisa lanjut tidur tuh, saking dinginnya. Akhirnya kami bertiga ngobrol-ngobrol lagi. di depan penginapan, sudah mulai terdengar suara mobil yang hendak ke Pananjakan 2. Dini hari mereka berangkatnya, demi mencapai spot terbaik untuk melihat matahari terbit.  Sedangkan kami, baru akan dijemput jam 03.30.

1 comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.