Selayang pandang tentang isi Blog

Dalam beberapa tulisan saya, saya sering memberikan informasi mengenai isi blog ini. Namun tidak ada salahnya kalau saya tulis lengkap saja, supaya jelas dan tidak ada miskonsepsi. Tak kenal maka tak sayang, bukan?

Baiklah, inilah selayang pandang isi Blog.

  1. Blog ini berisi tentang informasi travelling dan gaya hidup yang Indonesia banget. Sisi Indonesia baik kelebihan maupun kekurangannya. Kenapa saya tuliskan juga kekurangannya? Karena siapa tahu ada pejabat, ajudan pejabat, komunitas, masyarakat yang baca blog saya, sehingga tempat yang saya sebutkan dan kategorikan “kurang baik” bisa dibenahi.
  2. Blog ini ditulis dengan tanpa muatan SARA di dalamnya. Isinya netral, dan tidak menjelek-jelekkan Suku, Agama, Ras, maupun Antargolongan. Tidak sama sekali. Sesekali saya mungkin menyelipkan tentang informasi mengenai Islam. Hal itu semata-mata sebagai pengingat bahwa saya adalah seorang muslimah, sehingga blog ini pun saya jadikan sebagai sarana saya menyampaikan ilmu. Bagi yang setuju membaca postingan saya yang berbau islami silakan dibaca, namun bagi yang tidak suka boleh diskip saja.
  3. Saya tidak pernah dan tidak akan pernah menyelipkan sesuatu yang berbau politik memihak. Artinya, saya nggak bakalan nyebutin nama partai, nama pejabat, atau nama jabatan tertentu dengan tujuan menjelek-jelekkan atau mencemarkan nama baik.
  4. Blog bersifat subjektif untuk hal-hal tertentu. Khususnya soal penilaian saya terhadap suatu tempat. Baik itu tempat wisata, rasa makanan, dan kenyamanan berwisata, termasuk sarana, prasarana, juga transportasi dan akomodasinya. Semua saya tulis sesuai dengan apa yang saya rasakan pada saat saya berkunjung ke tempat yang bersangkutan. Kalau bagus dan recommended akan saya tulis bagus dan saya rekomendasikan kepada pembaca, dan sebaliknya, kalau jelek ya saya bilang jelek. Bahkan saya tidak segan untuk memberikan kata “Not Worthed if you want to visit that place.” Saya akan membahas semua yang saya tulis, tanpa tedeng aling-aling.
  5. Setiap artikel dalam blog ini juga nggak pakai acara plagiat, nyontek, ngopy paste, atau hal-hal serupa. Semua saya tulis berdasarkan pemikiran saya sendiri. Beberapa kalimat disarikan dari wikipedia, dan beberapa gambar saya ambil dari blog orang. Tapi semuanya saya sertakan sumber yang jelas. Mohon diingatkan jika saya lupa menulis sumber, baik itu berupa tulisan maupun foto.

Baik, itulah yang bisa saya sampaikan, semoga anda semua enjoy membaca blog ini. Terima kasih buat para pembaca yang setia. Feel free kalau anda ingin menyampaikan kritik dan/atau saran kepada saya, sebagai bahan masukan agar blog ini lebih baik.

Salam Hangat,
Arum Silviani

Sajak untuk sahabatku

Tak usah kau bermuram durja
memusingkan bau busuk tak berbangkai
mencaci pun tiada guna,
seperti kebanyakan halilintar kurang hujan

biarlah dia menepuk air di dulang
menjemur bangkai di atas bukit
membiarkanmu makan hati berulam jantung
makan tak enak, tidur tak nyenyak
gundah gulana, diam seribu bahasa

Sungguh tak perlu kau risaukan lagi
bersikaplah seperti air di dalam kolam
tenang tak beriak.
biarkan waktu yang menghapus arang di muka
karena lama kelamaan orang pun tahu dirinya…
yang di luar bagai madu, di dalam bagai empedu

*Sajak di atas bukan murni tulisan saya. Diambil dari kumpulan Peribahasa Indonesia, kemudian oleh saya diberikan kata sambung, imbuhan, dan beberapa kalimat sehingga tersusunlah sebuah sajak. Sayangnya, saya pun tidak tahu penulis asli masing-masing peribahasa tersebut. Yang pasti, bukan tulisan saya.

1001 hal tentang Purwokerto Kota Satria

Gunung Slamet (Sumber : tripadvisor.in)
Pulang Kampuuunggg!!!
Kenapa saya bilang pulang kampung?
Karena bapak ibu saya orang Purwokerto asli.
Sekedar informasi, saya pernah numpang lahir di Purwokerto. Selanjutnya numpang tidur seminggu di Kebasen, sebelum saya dibawa ke Jakarta sampai lulus SD. Nah, setelah itu saya ikut eyang kakung dan eyang putri di Purwokerto hingga saya lulus SMA. Sebelum akhirnya kembali ke Jakarta dan menetap di Bandung hingga saat ini. Jadi bisa dibilang, saya sangat familiar dengan budaya juga bahasanya.
Saya sudah nulis sana-sini tentang beberapa daerah di Indonesia, bahkan sampai daerah pelosok pedalaman Kalimantan Selatan. Tapi nggak pernah sekalipun menulis tentang kampung sendiri. Daripada dibilang durhaka, kacang lupa kulitnya, dan parahnya, dibilang sombong karena lupa sama kampung halaman, here we go.
Purwokerto.
Orang sering memelesetkannya dengan kata Puerto Rico. Katanya sih biar keren. Mungkin nggak banyak orang yang sadar akan keberadaan kota ini. Bisa jadi karena Purwokerto merupakan daerah perlintasan sebelum ke Yogyakarta, Semarang, dan ke kota besar lainnya sehingga keberadaannya terlewatkan.
Sama nggak sih Purwakarta dengan Purwokerto?
Jawabannya, TIDAK.
Purwakarta ada di Jawa Barat, sedangkan Purwokerto di Jawa Tengah.
Kalau Purwakarta terkenal dengan waduk Jatiluhur, Purwokerto mempunyai Bendungan Gerak Serayu. Sungai terbesar di Jawa Tengah (Bangga dong :D)
Mayangsari
Icon Artis asli Purwokerto. Mungkin Mayangsari lebih populer dibandingkan kota Purwokerto sendiri. Untuk lebih jelasnya, saya akan mengupas tuntas tentang Purwokerto. Nggak tuntas-tuntas banget sih, karena saya juga lupa-lupa ingat 😀
Purwokerto merupakan kota administratif dari Kabupaten Banyumas. Terletak di Selatan Gunung Slamet, dan berbatasan dengan kabupaten Tegal dan kabupaten Pemalang di sebelah Utara. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Cilacap, Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes, dan Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga. Beriklim panas, namun terdapat tempat di kaki Gunung Slamet yaitu Baturraden, yang beriklim sejuk.
Mottonya “Purwokerto kota Satria”.Satria sendiri merupakan kependekan dari Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah, dan Aman. Memang benar, kota Purwokerto ini bersih. Makanya, beberapa kali juga menyandang gelar kota Adipura.
Bahasa dan aksen orang-orangnya sangat unik. Teramat sangat unik dan khas. Memang menggunakan bahasa Jawa, namun berbeda intonasi dan pengucapannya. Karenanya, bahasa orang Purwokerto sering disebut Ngapak. Saking khasnya intonasi, aksen, juga bahasa daerah Purwokerto, saya pun langsung bisa memastikan jika bertemu dengan orang asli daerah ini. Buktinya, saat saya hendak memberikan pelatihan di Jakarta, ada dua orang yang menghampiri saya. Mereka bertanya dengan bahasa Indonesia. Namun hanya dengan sekali mendengar mereka berdua bicara, saya pun langsung dapat memastikan kalau kedua orang tersebut adalah peserta pelatihan dari Purwokerto. Dan ternyata benar. Ketika saya melihat absen, mereka berdua memang berasal dari kota Satria. Pokoknya, dengan bahasa apapun mereka bicara, saya pasti langsung bisa menebaknya.
Makanan khasnya Mendhoan. Yaitu tempe yang diiris tipis, dilapisi tepung, dibumbui, lalu digoreng setengah matang (mendho kalau orang Banyumas bilang). Di Purwokerto ini bahkan disediakan bahan baku mendhoan, yaitu tempe yang berbentuk persegi panjang dan tipis, dan memang sudah dipersiapkan agar kita tidak memotong-motongnya lagi sebelum mengolahnya. Di postingan mendatang, saya akan memberikan resep asli mendhoan Purwokerto. Resep turun-temurun dari keluarga saya.
Mendhoan (Sumber : ngomongngapak.blogspot.com)
Kripik Tempe Purwokerto (Sumber : jajanlagi.blogspot.com)
Makanan khas lainnya yaitu kripik tempe. Dari daerah manapun di Indonesia, nggak ada yang sanggup mengalahkan lezatnya kripik tempe asli Purwokerto. Tidak ada. Saya bisa memastikan itu. Kekhasan kripik tempe Purwokerto adalah bentuknya yang super tipis, dengan rasa tempe yang gurih dan bumbu yang pas. Dulu saya sendiri heran, kenapa bisa tipis seperti itu? Penasaran, saya pun jalan-jalan ke Pabrik Kripik tempe di daerah Desa Tambaknegara, Rawalo, kabupaten Banyumas. Pabrik ini dikelola oleh home industry, dan juga menggunakan alat-alat yang sangat sederhana. Mereka membuat tempe dari kedelai, yang langsung dicetak dalam sebuah alat press khusus, sehingga ukuran tempe pun menjadi sangat tipis. Kedelai diambil dari sumber lokal, yaitu dari hasil pertanian masyarakat Banyumas.
Sroto. Sebutan orang Purwokerto dan Banyumas untuk Soto. Makanan yang satu ini selalu dikejar para wisatawan yang berkunjung ke Purwokerto. Rasanya khas dan lezat.
Sroto Sokaraja (Sumber : sotosokaraja.com)
Eits…tunggu dulu. Di Purwokerto memang banyak yang menjual Sroto lezat. Tapi aslinya, Sroto ini berasal dari Sokaraja. Kota di sebelah Purwokerto, dan termasuk wilayah kabupaten Banyumas. Sroto ini berbagai macam jenisnya. Ada Sroto kecik, yaitu Sroto dengan campuran susu. Sroto bening. Pilihannya yaitu Sroto sapi atau Sroto Ayam. Yang pasti, rasanya lezat.
Nopia. Kue kecil berbentuk bulat yang isinya kacang hijau, coklat, dan kini sudah dimodifikasi dengan berbagai rasa.
Gethuk Goreng Sokaraja.Terkenalnya adalah “GETUK GORENG “ASLI” SOKARAJA H. TOHIRIN HASIL KARYA BP. SANPIRNGAD TH. 1918.” Panjang banget kan namanya? Ada sekitar 7 kios yang namanya seperti itu di sepanjang jalan Sokaraja. Namun saya juga nggak tahu pasti yang paling enak Gethuknya yang mana. Hehehe…
Batik. Kota ini punya batik lho…unik motifnya. Nanti di postingan berikutnya saya bahas juga soal Batik Banyumasan.
Tempat Wisata. 
Lokawisata Baturraden (Sumber : tripadvisor.com)

 

  1. Purwokerto terkenal dengan Lokawisata Baturraden. Sebuah tempat di kaki Gunung Slamet yang mempunyai pemandangan indah dan udara yang sejuk. Anda bisa menemukan air dingin di Pancuran 1, Air hangat di Pancuran 2, dan Air yang sangat panas di Pancuran 7. Makin tinggi anda menempuh Pancuran, maka semakin tinggi pula suhu airnya.
  2. Gunung Slamet. Gunung ini adalah Gunung berapi terbesar di Pulau Jawa, dan masih aktif. Menaklukkan gunung ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi para pecinta alam. Medannya yang sulit ditempuh, juga misteri yang menyelimutinya membuat Gunung Slamet tak mudah untuk didaki. Butuh kesabaran dan kerendahan hati tingkat tinggi untuk dapat mencapai puncaknya. Nggak percaya? Coba saja sendiri.
  3. Bumi Perkemahan Kendalisada
  4. Bendungan Gerak Serayu
  5. Monumen Sepoer
  6. Museum Bank Indonesia

 

Universitas. The one and only general state university dan paling populer di Purwokerto, adalah Universitas Jenderal Soedirman. Terletak di kawasan Utara Kota Purwokerto. Satu lagi Perguruan Tinggi negeri, yaitu UIN Walisongo Purwokerto, yang bernaung dibawah Departemen Agama. Kalau Universitas Swasta banyak, sehingga tidak saya sebutkan satu persatu.
Transportasi.  Di dalam kota tersedia angkutan umum (angkot) berwarna orange yang ditandai dengan berbagai huruf seperti E1, B1, B2, C1, C2, dan lain sebagainya. Huruf tersebut menandai tujuan/rute angkot. Namun untuk transportasi ke daerah kota di luar Purwokerto, maka banyak tersedia pilihan Bus di Terminal Bus Purwokerto.
Bagaimana menuju Purwokerto? Untuk menuju ke kota ini, anda dapat menggunakan beberapa moda transportasi. Pertama menggunakan Bus atau Shuttle Travel, dengan waktu tempuh sekitar 9-10 jam dari Jakarta, dan 7-8 jam dari Bandung. Banyak Bus dan Shuttle Travel dari Jakarta dan Bandung dengan tujuan ke Purwokerto. Tinggal pilih saja mau merek Bus atau Shuttle Travel yang mana. Kedua, moda transportasi kereta api, dengan waktu tempuh sekitar 5 jam. Hanya saja, kereta api yang melintasi langsung Stasiun Purwokerto adalah Kereta di Jalur Utara. Atau Kereta dari arah Jakarta. Sedangkan kereta dari Stasiun Bandung (jalur selatan) hanya bisa singgah di Stasiun Kroya. Sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Purwokerto. Ketiga, menggunakan pesawat. Saya juga baru tahu ada pesawat ke daerah ini dari supir taksi yang mengantar saya jalan-jalan di Purwokerto. Susi Air terbang setiap hari dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta ke Bandara Tunggul Wulung di Kota Cilacap dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jika tujuan anda ke Purwokerto, maka butuh sekitar 1,5 jam lagi perjalanan dari Bandara ini ke kota Purwokerto.
Bandara Tunggul Wulung Cilacap (Sumber : baqiberbagi.wordpress.com)
Wah, sudah panjang lebar begini postingan saya. memang nggak sampai 1001 hal seperti dicantumkan di judul, tapi mudah-mudahan cukup memberikan informasi tentang kota Purwokerto. Mohon maaf tidak dilengkapi dengan foto-foto yang menunjang karena saya tidak punya file aslinya. Ketahuan jarang pulang kampung *_*
Kalau anda sedang dalam perjalanan ke arah Semarang, Yogya, Solo, maupun ke kota-kota di Jawa Timur dan kebetulan melintasi kota Purwokerto. Mampirlah barang sejenak. Menikmati Mendhoan dan Sroto Sokaraja, atau membawa pulang Kripik Tempe, Nopia, Gethuk Goreng, dan aneka snack khasnya sebagai camilan. Dijamin rasanya unik, juga memanjakan lidah anda.
Purwokerto juga highly recommended buat anda yang ingin liburan di kota kecil yang nyaman. Jauh dari kebisingan kota, dan dengan harga yang sangat terjangkau. Baik dari transportasi, akomodasi, maupun kulinernya. Boleh dong promosi kampung sendiri…

Sampah di News Feed Facebook

 

 

Beberapa bulan belakangan ini news feed akun facebook saya dipenuhi dengan orang yang ngeshare tentang betapa hebat dan sucinya sebuah partai. Orang itu juga mengagung-agungkan pemimpin dari partainya, dan dengan hebohnya menjelek-jelekkan pemimpin bangsa ini yang bukan berasal dari partai tersebut. Sibuk…banget cari-cari kekurangan Si Bapak X dan Bapak Y, Ibu M dan Ibu N, karena si bapak-bapak dan ibu-ibu tersebut kebetulan mempunyai jabatan penting di negeri ini. Semua dikorek-korek, tapi…tanpa BUKTI yang nyata. Hanya sibuk ngeshare sana-sini, ngambil dari web ini dan web itu, pinter banget cari celah buat menjelekkan Bapak X dan Bapak Y, juga Ibu M dan Ibu N.
(Nama Bapak X, Y, dan Ibu M, N hanya sebuah pemisalan).
Tadinya saya mikir, ini orang kerjanya ngapain ya? Apa seharian dia hanya sibuk mikirin si bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat itu? Atau bahkan, sehari semalam dia menelusuri berbagai web yang menulis tentang kejelekan orang lain? Memang ada untungnya ya menjelek-jelekkan orang?
Padahal saya yakin, orang yang dijelekkan pun nggak tahu menahu tentang keberadaan si tukang ngeshare berita jelek ini. Nggak peduli malah. Karena yang bersangkutan disibukkan dengan tugasnya, yaitu bekerja sebaik yang dia bisa demi negeri ini.  
Saya pun teringat dengan pepatah,
Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.
Nah, dalam kenyataannya, tentu bisa dilihat dong siapa kafilah, siapa pula yang menggonggong. Saya nggak usah menyebutkan nama partainya apa, siapa yang menjelek-jelekkan, dan siapa yang dijelek-jelekkan. Karena toh blog ini nggak dipakai buat menjelek-jelekkan suatu partai, golongan, ataupun kaum tertentu. Blog ini saya buat untuk menyebarkan dan menimbulkan brand awareness positif terhadap negara kita, Republik Indonesia. Maka dari itu, saya merasa perlu meluruskan sesuatu.
Pertama, ngurus negara sebesar Indonesia tuh nggak gampang. Dengan kondisi masyarakat yang heterogen, juga budaya dan bahasa yang berbeda. Nggak bisa tuh kita ambil satu pembenaran saja. Harus ada pemakluman, toleransi, juga kerja keras buat menyatukan negara ini.
Kedua, negara republik Indonesia, bukan negara agama. Sehingga semestinya, kita saling menghormati dan menghargai antarumat beragama dalam kehidupan bermasyarakat. Barangsiapa yang nggak bisa bersikap seperti ini, mungkin PPKN nya nggak lulus. Atau bisa jadi, yang bersangkutan memang nggak mengerti apa sejatinya makna kehidupan bernegara.  
Ketiga, daripada menjelek-jelekkan kaum, partai, maupun golongan tertentu, lebih baik bergerak dong. Lebih jelas tujuannya, lebih jelas maknanya, juga lebih jelas hasilnya nanti. Daripada ngeshare kabar berita yang belum tentu benar, jatuhnya jadi ghibah. Satu saja langkah yang kita jalani demi kebaikan, siapa tahu banyak yang mengikuti. Nggak usah nunggu pemerintah atau partai.
Satu saja langkah nyata.
Sekarang kita tahu Gunung Kelud meletus, Jakarta Banjir, Sinabung Erupsi. Nggak usah sibuk mikirin presiden melakukan apa, gubernur bersikap gimana, bupati bikin apa. Kalau  punya uang, ya transfer saja ke rekening yang sudah ditetapkan untuk menampung bantuan. Hari gini transfer gampang banget kok. ATM dimana-mana, bahkan bisa sms atau internet banking. Kalau  punya baju-baju yang layak pakai, datangi saja posko bencana terdekat. Titipkan bantuan anda disitu. Tapi kalau nggak punya apa-apa untuk diberikan, ya berdoalah. Titipkan doa pada Tuhan, keselamatan saudara-saudara kita disana.
Simpel kan? Nggak perlu menggonggong. Karena manusia nggak semestinya melakukan hal itu. manusia dikasih anugerah akal dan pikiran oleh Tuhan YME. Sehingga manusia punya kesempatan guna memanfaatkan anugerah tersebut.
Itu Saja.

Bandungku kini tak seindah dulu

Pertama kali ke Bandung, tahun 2002. Kala itu saya masih main-main di sekitaran Unpad Jatinangor, tempat sepupu saya kuliah. Bandung menawarkan udara yang sejuk, bersih, dengan banyak kuliner yang lezat serta keramahan orang-orangnya yang luar biasa. Bahkan jauh lebih ramah dari orang Jawa Tengah. Begitu saya berpikir.

Tahun 2003, saya ke Bandung lagi. Kali ini memang niatannya buat nerusin kuliah. Saya mendaftar di Politeknik Negeri Bandung, Jurusan Administrasi Niaga.
Kalau sebelumnya saya menikmati Bandung di kawasan Jatinangor yang bersuhu lumayan panas, kini saya kuliah di Kota Bandung. Dimana udaranya sangat sejuk, bahkan sangat dingin dan bersih. Kondisi jalannya juga baik. Pokoknya Bandung perfect lah buat belajar. Meskipun kampus saya strict banget soal aturan, semuanya jadi nggak terasa karena di Bandung tuh asyik. Suasananya bikin belajar jadi menyenangkan, buat main pun menyenangkan. Selain itu teman-teman juga kompak. Toleransi dan pengertian terbangun dengan kokohnya. Karena kami merasa, kami ini berasal dari berbagai macam suku yang berbeda, namun memiliki visi yang sama. Yaitu lulus kuliah dengan selamat sentosa. Setelah itu dapet kerjaan yang baik.
Tahun 2006, saya lulus kuliah. Bandung pun masih menyenangkan. Meskipun kalau weekend mulai dipadati para pelancong dari Jakarta. Hal ini nggak lepas dari peranan Tol Cipularang yang memudahkan perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Saya pun memilih untuk meniti karier di Bandung. Karena saat itu, buat saya nggak ada kota di Indonesia yang senyaman Bandung.
Tahun demi tahun kian merambat…Bandung pun tak seindah dulu. Awalnya saya sih nggak begitu kerasa Bandung mulai berubah karena saya sering ditugaskan ke luar kota. Namun ketika di tahun 2013 saya mulai sering menetap di Bandung, semuanya jadi terasa. Mau tidak mau, saya pun mulai membandingkan. Dari setiap kota yang saya kelilingi di seluruh Indonesia, yang paling bikin nggak nyaman dan kotor, juga transportasinya buruk adalah kota Bandung. Nggak ada lagi bunga-bunga yang menghiasi kota. Yang ada justru tumpukan sampah. Predikat Bandung Kota Kembang tak lagi pantas disandang. Sampah. Sampah dan Sampah dimana-mana. Bahkan di sekitaran kampus, bau sampah pun tercium dari radius 200 meter. Luar biasa, kan?
Belum lagi tata kota yang amburadul. Muter-muter nggak jelas. Buat orang yang nggak biasa dengan jalanan kota Bandung, pasti nyasar. Pasti! Gimana nggak, banyak jalan satu arah! Banyak bangunan liar, PKL dimana-mana. Jorok pula.
Makanya, waktu Inna Savova nulis artikel “Bandung the city of Pig” di blog pribadinya, saya sih hanya bisa mengangguk, setuju. Memang bener kan, kenyataannya? Dia hanya bicara barang nyata. Bandung tuh jorok. Itu realitasnya. Dan sebagai warga Bandung, semestinya ikut tergerak hatinya untuk menjaga Bandung, bukannya malah menghujat orang yang ngomong barang nyata. Sadar dong ah!

 

Hal lain, Ruas jalan di Bandung tuh sempit banget, dengan jumlah kendaraan yang banyak. Jadi bisa dipastikan macet dimana-mana. Kalau normal, jarak dari tempat kost saya di Dago ke Lembang hanya sekitar 1 jam. Tapi seringnya, kalau weekend justru bisa sampai 4 jam. Macet total. Dari Dago ke Polban di Ciwaruga, normalnya juga paling hanya sekitar 30 menit. Namun dengan layanan transportasi umum yang buruk, dimana-mana angkotnya ngetem, dan kondisi jalan banyak yang menganga, walhasil perjalanannya pun bisa sampai 2 jam. Keren, kan?
Padahal kota-kota besar di Indonesia sedang berlomba-lomba untuk meningkatkan transportasi publiknya. Bandung? Wallahualam bisshowab. Fasilitas umum saja banyak dirusak. Lihat saja tuh di Dago. Kawasan dekat Bank BCA Dago. Baru saja dibikin tempat dengan tulisan DAGO dengan desain yang cantik, hanya tahan beberapa hari. Setelahnya, dicorat-coret nggak jelas. Terus lagi soal keamanan. Kalau dulu kita pulang malam di Bandung tuh aman. Bahkan preman-premannya pun masih mau nunjukin rute angkot. Tapi sekarang? Ngeri mamen…geng motor dimana-mana. Jam 9 malam pun bisa jadi berbahaya. Padahal nggak jarang kan lembur di kantor?
Bandung juga sudah dianiaya sedemikian rupa oleh para developer. Lihat saja yang nyata-nyata kawasan resapan air di daerah Cisitu. Orang nggak sekolah juga tahu tempat itu resapan air. Karena sejak jaman dahulu kala, disitu adalah dataran tinggi tempat bernaungnya aneka pohon besar yang akarnya mengikat dan memperkokoh struktur tanah. Apalagi di bawahnya ada sungai Cikapundung yang kualitas airnya sangat baik. Tapi apa sekarang? Sudah ada bangunan besar dan tinggi nangkring disana. Buat Apartemen, katanya.
Dengan Pak Ridwan Kamil yang kini menjabat sebagai Walikota Bandung, saya berharap banyak. Mudah-mudahan Pak Emil dikasih kekuatan, kesehatan, dan kesabaran buat membenahi Bandung. Sekarang yang sangat terasa buat saya adalah pemfungsian kembali trotoar. Jadi seneng jalan kaki di Bandung, tanpa harus diklaksonin sama pemilik mobil yang nyebelin. Jadi berasa dikembalikan hak saya sebagai pejalan kaki.
Namanya mengubah sesuatu yang sudah mendarah daging memang nggak gampang. Apalagi soal manner manusia. Tapi saya yakin, Pak Emil dan jajarannya bisa kok bikin Bandung jadi bersih. Bikin Bandung kembali pantas menyandang gelarnya sebagai Kota Kembang. Biar saja banyak orang yang menghujat, toh yang dilakukan walikota sekarang adalah benar. Mari, kita jaga dan kita pelihara kota Bandung. Menjaga kebersihan tuh bukan tugasnya walikota, tapi tugas kita semua yang tinggal di Bandung. Baik itu warga kota Bandung, maupun pendatang. Baik itu penduduk asli, maupun turis yang cuma numpang lewat di Bandung.

 

Lawang Sewu, Saksi Sejarah di Bundaran Tugu Muda

Lawang Sewu
Bangunan ini merupakan saksi bisu sejarah penjajahan bangsa Indonesia oleh tentara Belanda dan Jepang.
Dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada 27 Februari 1904, dan digunakan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta NIS. Namun setelah Belanda kalah oleh sekutu, bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Jepang, dan banyak disalahgunakan pada masa itu. Banyak bagian ruangan yang semula untuk penampungan air, justru digunakan sebagai tempat penyiksaan dan penjara bagi rakyat Indonesia dan juga tentara Belanda. Sungguh miris bukan?
Pada saat saya berkunjung ke Lawang Sewu, bangunan tersebut baru saja selesai dipugar dan dibuka kembali untuk umum. Pemugaran pun masih belum selesai sepenuhnya. Karena sudah sejak lama bangunan ini dibiarkan kosong, sepi, kotor, tak terawat, sehingga menimbulkan imajinasi macam-macam bagi setiap orang yang melintasinya. Bahkan hanya mendengar namanya saja, sudah membuat bulu kuduk merinding. Hal ini tak lepas juga dari seringnya bangunan ini dijadikan lokasi ajang Uji Nyali di acara Mistis salah satu stasiun televisi Indonesia.
Lawang Sewu, Tampak Depan
Dan inilah…pertama kalinya saya ke Lawang Sewu. Bangunan indah nan megah menyambut saya, tinggi menjulang dengan banyak jendela. Koridor panjang nan sepi bersanding dengan jajaran daun pintu yang berderet-deret. Seolah mengajak saya untuk menelusuri ruangan demi ruangan satu persatu. Kesan angker masih ada, tentu saja. Namun yang terasa bukan ngeri, melainkan kekaguman yang membuncah. Penasaran, seperti apa bentuk ruangan di dalamnya.
Saya naik ke lantai dua. Disitu keadaan lebih sepi daripada di lantai satu. Untuk sejenak, saya menghela nafas panjang, lalu mengucap bismillah. Bayangkan, sejak jaman dulu sudah berdiri bangunan yang kokoh dan indah seperti ini. Berapa banyak orang yang dikerahkan untuk membangunnya? Dan pastinya, proses pembangunan gedung megah ini tak lepas dari pengorbanan rakyat Indonesia.
Koridor ini sungguh menakjubkan. Sejenak pikiran saya seolah kembali ke masa lalu. Mungkin banyak tentara Belanda yang berseliweran di koridor ini. Bekerja untuk memonitor transportasi kereta api dan layanan kargo.
Langkah demi langkah yang saya jalani makin membuat saya terkagum-kagum.

 

Koridor Panjang di Lantai 2
Namun saat masuk ke salah satu ruangan…Saya mendesah. Kenapa jadi seperti ini? Sungguh sangat disayangkan. Padahal bangunan ini indah sekali. Seandainya saja difungsikan dengan baik dan dirawat dengan teliti, tentunya jadi aset budaya dan sejarah yang tak ternilai harganya.

 

Salah satu ruangan di Lantai 2
Lihatlah, atapnya sudah hancur dan sangat rapuh. Bangunannya tak terawat, dengan pintu-pintu yang sudah rusak dimakan usia, juga engsel yang tak lagi berfungsi. Sekali lagi, sayaaang sekali.
Berpose di Koridor Lantai 1
Setelah puas menyusuri lantai 2, saya dan teman saya berjalan ke lantai dasar. Kami bertemu dengan seseorang yang menawari kami untuk menyusuri ruang bawah tanah. Semula saya gentar dan tidak berani turun. Namun Mas-mas itu meyakinkan tidak apa-apa. Tidak menyeramkan seperti yang terpikir di benak, juga tidak pengap seperti yang dikira sebelumnya. Lagipula, ruangan bawah tanah ini sudah diberikan penerangan yang cukup sehingga tidak terlalu gelap lagi.
Pintu ruang Bawah Tanah Lawang Sewu
Dengan menyewa sepatu boot Rp. 20.000,- dan biaya komisi pemandu Rp. 20.000 untuk dua orang, kami pun mulai menyusuri koridor bawah tanah ini. Awalnya agak mencekam. Yang terdengar hanya jejak langkah kami diantara genangan air. Namun selanjutnya, misteri demi misteri ruang bawah tanah ini terkuak, seiring dengan cerita sang pemandu.

 

Saya bersama boot Sewaan
Celah kecil menuju lorong bawah tanah
Lumayan butuh perjuangan juga untuk melewati lorong bawah tanah ini. Kami harus menerobos masuk lewat celah yang sempit, lalu kembali menembus genangan air. Hebatnya, lorong bawah tanah ini tidak pengap sama sekali. Kami bernafas dengan leluasa, juga tidak bau apek. Hanya mungkin tersisa bau darah, karena sebelumnya ruangan ini disalahgunakan oleh tentara Jepang untuk ruang penjara dan penyiksaan. Padahal sejatinya, ruangan ini dirancang oleh arsitek Belanda untuk difungsikan sebagai penampungan cadangan air.  Disini saya melihat jejak-jejak kekejaman manusia kepada sesamanya.

 

Mas-mas Pemandu yang saya lupa namanya
Bak penampung Air
Ruang bawah tanah ini juga dirancang sedemikian rupa sehingga tidak lembab. Tidak berlumut, juga tidak ada tikus maupun serangga-serangga pengganggu. Memang kalau sudah urusan arsitektur dan penataan ruang juga kota, Belanda jagonya. Two thums up lah pokoknya.
Lantai 1 – Masa Kini
Kini, bangunan Lawang Sewu yang berartikan “Gedung Seribu Pintu” dikembalikan lagi ke fungsi awalnya, yaitu sebagai kantor perkeretaapian. Disini juga ada museum sejarah kereta api Indonesia yang memajang aneka foto berikut cerita runut mengenai transportasi Kereta Api sejak jaman Belanda hingga saat ini. Sangat menyenangkan berkunjung kemari. Kita bisa belajar budaya, sejarah, sekaligus arsitektur. Banyak juga yang datang kemari untuk menyalurkan hobby fotografinya.
Tertarik? Biaya masuknya hanya Rp. 10.000/orang. Murah bukan?
Kalau berkunjung ke Semarang, tempat ini juga recommended untuk dikunjugi. Kereeen!!!

Sehari Melancong Keliling Semarang Part – 2

#Gereja Blenduk

Gereja Blenduk Semarang
Masih dalam rangkaian sehari melancong keliling Semarang, kali ini tujuan saya adalah Gereja Blenduk. Terletak di kawasan Kota Lama Semarang, tepatnya di Jl. Letjend Suprapto No. 32. Kurang lebih 5 menit perjalanan dari Masjid Agung Semarang. Konon, Gereja ini adalah Gereja tertua di Jawa Tengah yang diberi nama GPIB Immanuel, dan dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1753. Tua banget ya?

 

Di depan Gereja Blenduk
Nah, gereja ini unik banget. Nama aslinya justru nggak banyak yang tahu, karena oleh penduduk setempat disebut Gereja Blenduk. Diambil dari kata mblenduk, karena bentuk atapnya bulat setengah lingkaran. Mirip kubah gitu. Tapi kalau kita perhatikan dengan jeli, gereja Blenduk justru berbentuk heksagonal (persegi delapan). Gaya arsitekturnya sungguh menawan. Dindingnya yang kokoh, langit-langit yang tinggi, dan memang kolonial banget. Buat saya pecinta bangunan lama, tentunya sangat dimanjakan dengan pemandangan ini.
Kawasan sekitar Gereja pun tergolong sejuk karena dikelilingi taman yang tertata dan banyak pohon besar. Saat asyik berfoto-foto, oleh satpam saya ditawari untuk masuk ke gereja ini lho…padahal saya pakai jilbab. Katanya nggak apa-apa kalau mau melihat interior di dalam Gereja. Nggak dilarang. Wah…senangnya kalau kerukunan antar umat beragama dijaga. Hidup jadi selaras dan seimbang.
Sayangnya karena saya dan teman saya sudah keburu kepanasan, kami lebih memilih ngadem diantara pepohonan supaya bisa menghirup udara yang cukup. Kami duduk selonjor sambil menikmati suasana kota lama yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan jaman kolonial dulu. Klasik banget lah pokoknya.
Kawasan Kota Lama, Semarang
Kawasan Kota Lama Semarang, Sebelah Gereja Blenduk

 

Sekilas, kawasan kota lama ini mirip-mirip Jl. Braga di Bandung, atau Kota Tua Jakarta. Namun demikian, kota lama Semarang masih tetap menawarkan keunikan tersendiri. Suasananya, udaranya, dan tentunya, keramahan masyakaratnya.
Simak terus perjalanan saya di Semarang pada tulisan selanjutnya 🙂

Sehari Melancong Keliling Semarang

 

 

# Masjid Agung Semarang
Suatu pagi di bulan Ramadhan, saya sudah bersiap-siap menuju Bandara Husein Sastranegara. Tujuan saya kali ini…Semarang! Whoaa…setelah sekian lama ditugaskan di Indonesia Bagian Timur, kini bisa menginjakkan kaki lagi di Semarang merupakan sebuah kesenangan tersendiri. Buat saya yang dilahirkan di Jawa Tengah, Semarang seperti Hometown. Seluk beluk kotanya memang tidak sefamiliar Jogja, namun keramahan masyarakatnya tidak jauh berbeda dengan Kota Gudeg itu.
Saya terbang dengan Merpati, Pesawat dengan jenis M60 yang dapat memuat sekitar 52 orang. Karena salah memilih seat, saya duduk di kursi 3A, tepat di sebelah baling-baling. Agak takut saat hendak lepas landas, karena memang saya jarang sekali naik pesawat kecil. Kalau dihitung, sejak saya pertama kali terbang, ini ketiga kalinya saya naik pesawat kecil.
Baling-baling Pesawat Merpati M-60

 

Semarang from top
Penerbangan ke Semarang ditempuh kurang lebih satu jam, dan kami mendarat dengan mulus di Bandara Ahmad Yani. Bersama salah seorang teman, saya langsung menuju Hotel Horison Semarang untuk Check in. Kamar masih penuh, sehingga kami harus menunggu. Akhirnya kami menitipkan barang, dan langsung menyetop taksi tepat di depan hotel. Saya minta pada supir untuk mengantarkan kami berkeliling Semarang. Sesuai dengan petunjuk pak Supir, maka tujuan pertama kami adalah : Masjid Agung Semarang.
Sebuah Masjid yang terkenal dengan payung besarnya, yang mengingatkan kita pada Masjid Nabawi di Tanah Suci. Sayangnya saat kami kesana, payung sedang ditutup. Biasanya, payung-payung tersebut dibuka saat shalat Jumat, atau pada saat maghrib di bulan ramadhan. Tidak apa, yang penting bisa sujud dan shalat dzuhur serta ashar di Masjid Agung ini.
Masjid Agung Semarang, photo by Arum Silviani
Saat kami masuk ke dalam bangunan masjid ini, langsung terasa sejuk, bersih, dan sangat terawat. Gema adzan berkumandang syahdu, kemudian lantunan bacaan Al-Quran pun menambah suasana khidmat di masjid ini. Selesai shalat, salah seorang kyai memberikan wejangan dengan bahasa jawa kromo inggil. Sedikit banyak saya mengerti kalimat yang beliau sampaikan. Intinya, sebagai manusia bersikaplah legowo (lega), dalam menerima takdir dan keputusan Allah SWT. Selebihnya, kita harus berusaha dan berdoa dalam setiap langkah agar berkah selalu menaungi kehidupan kita. Mendengar kalimat kyai tersebut, tak terasa mata pun berkaca-kaca. Kalimatnya sederhana, diucapkan dengan sederhana pula, namun menyentuh hingga merasuk ke dalam sukma.
Sebagai informasi, Masjid Agung Semarang ini terletak di Jl. Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Kurang lebih 10 menit perjalanan dari Simpang Lima Semarang. Luas lahannya sekitar 10 hektar, dan luas bangunannya kurang lebih 7.669 meter persegi. (Sumber : seputarsemarang.com). Jika dilihat dari bangunannya, masjid tersebut bergaya aksitektur yang memadukan unsur Jawa Tengah dan Yunani. Makanya, keren kan?
Tampak depan Masjid Agung Semarang
Cuaca panas di luar masjid membuat saya tidak tahan berdiri lama-lama di areal payung Masjid Agung. Padahal sudah pakai kaus kaki lho…walhasil ya foto-fotonya hanya segini. Betapapun panasnya, kami tetap mengagumi keindahan dan keagungan Masjid ini. Recommended banget buat yang berkunjung ke Semarang untuk mampir ke Masjid ini. Singsingkan lengan baju, basuh wajah, kepala, hidung, telinga, tangan dan kakimu, lalu bersujudlah.

Bedanya Perilaku Orang Indo sama Bangsa Tetangga

Tulisan ini sebenernya repost dari status facebook saya beberapa waktu lalu. Here it is :
Mau tau hal mendasar yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain seperti Jepang, Korea, China, bangsa2 eropa, bahkan negara tetangga?

Hal mendasar tapi justru yang paling mencolok.

Perihal membuang sampah.

Di negara-negara yang saya sebutkan tadi, mereka begitu memperhatikan bagaimana dan dimana membuang sampah yang benar. Mereka menganut paham “Buanglah sampah pada tempatnya.” Sedangkan sebagian besar bangsa kita, menganut budaya, “buanglah sampah di tempat yang kotor.” Sorry2 to say, bahkan orang kaya raya dan berpendidikan yang punya mobil mewah pun nggak punya malu membuka kaca jendelanya, terus brrrrr. sampah plastik melayang ke jalan raya. Brrrr lagi. Daun pisang bekas bungkus lontong terbang ke mobil belakangnya.

Begitupula gadis cantik berpakaian seksi dan berkulit mulus yang lagi berjemur di tepi pantai. Siapa yang nggak suka lihat pemandangan kayak gitu? eeeehhh…tapiii…tiba2 dia lemparkan kaleng coca-cola ke laut. Menyusul adalah bungkus chiki, bungkus permen, bungkus es krim, dan sendal jepitnya yang putus. Lagi2, dia lemparkan semua ke laut tanpa beban. Sembari tangan mencet2 tuts hape buat pasang status baru.

Saat itu, laut sih terima2 saja. Tapi dalam jangka waktu tertentu, laut pun bisa kehabisan kesabarannya. Dia bisa marah, bahkan mengamuk, lalu melemparkan kembali sampah2 tersebut ke daratan. Membuat gunung sampah bertebaran dimana2. Membuat manusia tak lagi bisa menikmati keindahan pasir putih yang memanjang di bibir pantai.

Jangan heran mengapa alam bisa berlaku demikian. Sejatinya, mereka sama halnya dengan kita. Mereka adalah makhluk hidup, dimana Allah berfirman mereka adalah bagian dari bumi dan segala isinya. Hanya saja, mereka tak bernyawa seperti kita. Coba saja pikirkan, dimana terdapat bencana, pastilah sebelumnya berawal dari ulah manusia. Tidak bersahabat dengan alam, sehingga alam pun enggan bersahabat dengan kita.

Tapi lagi2, hal itu hanya mampu dicerna bagi orang2 yang berpikir.

Seringkali, sebuah rahasia biarlah tetap jadi rahasia.

Di dunia ini, sungguh amat jarang terjadi, orang yang mampu memegang rahasia saudaranya. Apalagi jaman kian berganti. Dimana curhat berbeda tipis dengan bergunjing. Kepo yang berselimut empati.

Itulah sebabnya, Tuhan memerintahkan manusia untuk selalu dan hanya berkeluh kesah padaNya. Tidak dengan sesamanya, tak pula dengan sesuatu yang menghianati keesaan Tuhannya.

Pun, saya tak menampik, masih ada orang yang bisa memegang rahasia-rahasia besar. Dia akan selalu memberikan waktu luangnya, menyisakan relung hati terdalamnya, untuk menampung rahasia sahabat, dan orang-orang yang dicintainya.

Dia akan menjaga hatinya, dan takkan pernah membiarkannya bocor melalui lidahnya.