Safari Ramadhan Part 2 – Masjid Agung Al-Karomah, Martapura

Masjid Agung Al-Karomah berdiri megah di tengah kota Martapura, yaitu kota yang dikenal dunia sebagai kota intan. Sesuai dengan nama kotanya, Masjid ini pun sungguh menggambarkan kemewahan intan itu sendiri. Secara interior, mungkin masjid inilah masjid dengan interior termewah dan ternyaman di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Ini pendapat pribadi lho ya…karena saya pecinta bangunan klasik a-la Eropa gitu. Dan kubah masjid ini berbentuk bawang dengan ornamen gaya Belanda dan arsitektur interior gaya Modern Eropa. Namun meski bergaya modern, empat tiang yang terbuat dari Kayu Ulin yang menjadi Saka Guru peninggalan bangunan pertama Masjid masih tegak di tengah. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.
Masjid Agung Al-Karomah, Martapura. (sumber: panoramic.com)
Tak hanya itu, Kota Martapura yang juga terkenal dengan Kota Santri membuat masjid ini senantiasa ramai oleh orang-orang yang ingin memakmurkan masjid. Kita juga bakal ketemu banyak orang keturunan Arab disini, karena memang penduduk Martapura banyak yang keturunan Arab.
Berpose setelah shalat maghrib dan isya di Masjid Al-Karomah Martapura
Yeni yang berusaha memeluk pilar masjid
Nggak bosen narsis di dalam masjid 😀
Karena ada mitos kalau bisa berhasil memeluk pilar masjid bakal cepet naik haji, si Yeni berusaha memeluk pilar itu. Tapi apa mau dikata, pilar raksasa ini sulit sekali dipeluk. Tapi Yeni tak putus asa. Tak berhasil memeluk, maka dia ngumpet dibalik pilar dengan gaya Indiahe 😀

Safari Ramadhan – Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin

Banjarmasin dikenal sebagai “Kota Seribu Masjid”. Saya rasa yang demikian tidaklah berlebihan, karena rumah ibadah umat Islam ini sangat mudah ditemukan di Banjarmasin, dan kota-kota sekitarnya yang masih dalam wilayah provinsi Kalimantan Selatan. Saat saya dikasih kesempatan untuk jalan-jalan keliling Banjarmasin tempo hari, maka saya manfaatkan untuk menunaikan ibadah shalat di setiap masjid yang saya lewati.

 

Masjid pertama yang saya kunjungi adalah Masjid Sabilal Muhtadin. Terletak di jantung kota Banjarmasin, Masjid ini berdiri dengan gagahnya. Bangunannya yang menghadap Sungai Martapura menjadi daya tarik tersendiri. Arealnya yang luas, keseluruhan lantainya yang berlapis marmer, dan pilar-pilarnya yang besar dan tinggi memberikan kesan megah dan mewah. Saya seperti merasa sedang berada di Madinah. Pantaslah kalau Masjid ini menjadi kebanggan masyarakat Banjarmasin.
Masjid Raya Sabilal Muhtadin (tampak samping)
Memasuki masjid, hawa sejuk langsung terasa. Sungguh jauh berbeda dengan suhu di luar yang mungkin saat itu mencapai 34 derajat celcius. Namun selebihnya, saya hanya bisa berdecak kagum. Kalau dari luar hanya terlihat lantainya saja yang berlapiskan marmer, ternyata setelah kita masuk ke dalamnya, kita dapat melihat bahwa dinding, lantai, menara, dan turap plaza, keseluruhannya berla­piskan marmer. Pastinya super mahal. Masjid ini dapat menampung sekitar 15.000 jamaah. Di bagian dalam bangunan sekitar 7.500 jamaah, dan di luar 7.500 jamaah. Luar biasa, bukan?
Areal luar masjid
Uniknya, jika kita masuk ke dalam masjid, maka langsung terdengar nyanyian burung. Saya yang penasaran pun akhirnya melihat ke langit-langit masjid yang kubahnya memang didesain dengan kaligrafi yang berlubang gitu. Dan disitulah asal muasal suara nyanyian burung tadi. Mereka banyak yang berteduh di areal kubah.
Interior di dalam masjid
Kalau dari sisi sejarah yang saya kutip di wikipedia, Masjid Sabilal Muhtadin diambil dari nama ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710-1812) yang mengembangkan Islam di Kerajaan Banjar. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah penulis kitab Sabilal Muhtadin.
Nah, gitu deh ceritanya…karena saya harus melanjutkan perjalanan, setelah shalat jamak qashar dzuhur dan ashar saya pun meninggalkan masjid ini. Masjid yang mewah, megah, dan juga sangat bersih dan terawat. Semoga selalu demikian.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Arum Silviani.

Tanjung Beloam, Mutiara dari Lombok Timur

5 Hari Trip Keliling Pulau Lombok & Bali
Masih di kawasan Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru, ada lagi Pantai Tanjung Beloam. Tak jauh dari Pantai Pink. Kalau di Pantai Pink saya terpesona dengan warna pasirnya, di Pantai Tanjung Beloam saya langsung terkesima karena saya terpesona dengan semuanya. Meskipun garis pantainya tak terlalu luas, tapi panoramanya luar biasa. Pasirnya putih bersih dan sangat halus. Air lautnya bergradasi dari mulai buih putih, bening, hijau tosca, mint, aqua, biru muda, hingga biru tua yang pekat. Langitnya biru bersih, dengan udara segar tanpa polusi. Ombaknya bergulung tinggi, seolah memamerkan kekuatannya.

Continue reading “Tanjung Beloam, Mutiara dari Lombok Timur”

Mahasiswa Mental Tahu

 

 

Saya nggak ngerti, makin kesini, kualitas mahasiswa semakin menurun. Adanya smartphone dan kemajuan teknologi justru ditanggapi salah. Bukannya memaksimalkan teknologi, tapi malah menyalahgunakannya. Kebetulan saya masih ngajar. Dan kalau boleh saya ngomong, semester genap tahun ini merupakan kelas dengan kualitas terburuk sepanjang saya mengajar di sebuah kampus.

Continue reading “Mahasiswa Mental Tahu”

Kumandang Indonesia Raya dari Madrasah Ibtidaiyah Nawwarul Uyyun, Lombok Timur

Berpose bersama para pengajar di depan MI Nawwarul Uyyun

 

Masih dalam rangkaian trip keliling Lombok bersama Sahabat IDC, Tujuan pertama trip kami di hari pertama adalah Madrasah Ibtidaiyah ini. Sekedar untuk berbagi ilmu, semangat, dan secuil bantuan untuk menambal genteng yang bocor.

Continue reading “Kumandang Indonesia Raya dari Madrasah Ibtidaiyah Nawwarul Uyyun, Lombok Timur”

SISTEM ONLINE PPDB SMP YANG DIJADIKAN PELUANG OLEH TIKUS-TIKUS PENGERAT DI DUNIA PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

Sumber : www.kesekolah.com
Beberapa waktu lalu, adik bungsu saya lulus SD, dan hendak melanjutkan ke SMP Negeri “Z” di wilayah Kota Tangerang Selatan karena terhitung dekat dari rumah. Katanya sih, mutu SMP tersebut lumayan. Adik kecil saya pun berharap banyak. Dia memilih SMP tersebut supaya bisa naik sepeda ke Sekolah, dan tidak merepotkan orang rumah lagi untuk mengantarnya. Sederhana sekali keinginannya.
Nilainya pun tidak mengecewakan. Sekitar 25,56. Sedangkan batas masuk SMP ybs adalah 24 sekian. Jika nilai rapor dikatakan membantu, tentunya kami sekeluarga percaya diri adik saya bisa masuk. Nilai rata-rata rapornya 8 dan 9. Bahkan tidak sedikit mata pelajaran yang dapat 10. Adik saya juga lulusan SDN vavorit dan selalu masuk peringkat 5 besar di kelasnya.
Saat mendaftar di SMP tersebut, kami menggunakan sistem kolektif sekolah untuk PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) online. Karena letaknya tak jauh dari rumah, bapak saya pun datang langsung ke sekolah tsb dan sempat melihat bahwa saingan adik saya banyak yang hanya memiliki nilai akhir 20, 21, dan paling tinggi sekitar 24. Namun saat mendaftarkan adik saya, nilai yang semula 25,56, setelah ditambah nilai rapor justru menjadi 24,566. Saya pun mengernyitkan kening mendengar laporan bapak saya. Lho, nilai rapor katanya buat menambah atau membantu menaikkan nilai. Karena yang dilihat adalah histori prestasi belajar selama 6 tahun di Sekolah Dasar. Itu konsep yang saya tangkap dari PPDB SMP 2014. Tapi kenapa malah jadi turun? Okelah kalau adik saya anak bodoh atau memang nilai rapornya kebakaran. Pantas jika nilainya jadi diturunkan. Saya pun akan tahu diri dan takkan menuliskan hal ini di blog pribadi saya. Tapi ini tidak sama sekali. Saya tahu betul nilai PR hariannya, nilai ulangan, nilai ujian, dan nilai rapor serta rata-rata kelasnya. Saya memantau detil soal hal ini.
Beberapa hari kemudian, adik kecil saya menelepon dengan girangnya. Dia diterima di SMP tersebut. Saya pun turut bahagia mendengar kabar baik ini. Apalagi dia berceloteh sudah siap menggunakan sepeda ke sekolah barunya.
Tapi…menjelang penutupan PPDB, tiba-tiba adik saya sudah tersingkir dari SMP “Z” tersebut. Dan tergeser jauh ke pilihan keduanya. Bapak saya bilang, tiba-tiba statusnya seperti itu. Nah ini bagian kurang ajarnya. Bapak saya dapat sms, “Anak bapak bisa masuk, tapi bayar 3 juta karena nilainya termasuk tinggi. Kalau nilainya dibawah itu bisa sampai 7 atau 10 juta.”
Saya langsung say NO!
Gila banget! Oke kalau itu adalah uang gedung atau DPP atau apapun biaya sekolah. Lha ini? Biaya suap! Jelas-jelas biaya suap karena dalam situs PPDB online saya tidak menemukan satupun peraturan atau kata-kata yang menyebutkan jikalau nilai tidak memenuhi maka dengan membayar sekian nilai bisa naik. Iseng, bapak saya pun mengecek kembali ke SMP “Z”. Nilai anak-anak yang semula rendah memang jadi melonjak tinggi.
Adik saya pun menelepon kembali sambil menangis sedih. Dia ingin sekali masuk SMP tersebut, tapi saya tetap bilang TIDAK. Bukan masalah besaran uangnya. Tapi masalah idealisme. Saya tidak pernah dan tidak akan pernah menyetujui hal yang bersifat korupsi maupun suap. 7 tahun sudah saya berkecimpung di dunia pendidikan, tak pernah sekalipun saya kotori tangan, pikiran, dan hati saya hanya demi lembaran-lembaran rupiah haram dan memeras orang lain. Sebaik mungkin saya melaksanakan tugas saya, saya bantu apa yang bisa saya bantu, dan saya mudahkan urusan yang bisa saya mudahkan, selama urusan tersebut mengikuti prosedur dan tidak melanggar peraturan yang ada. Dan tentu saja, tanpa sepeser pun uang suap.
Pelan-pelan saya bilang ke adik saya, “Jangan bersedih. Tuhan pasti punya jalan terbaik buat ade, tapi tidak dengan jalan menyuap. Masa ade mau sih diajarin di tempat yang nggak tulus ngajarin ade? Nanti ade mau jadi apa? Masa mau diajarin sama guru yang cuma minta uang ke ade? lebih baik masuk swasta tapi terhormat daripada masuk SMP vavorit tapi menyuap. Sekolah dimana saja sama, yang penting ade belajar giat. Pasti nanti bisa berhasil.” Begitu saya membesarkan hatinya. Akhirnya dia pun mengiyakan, meskipun saya tahu dia sangat sedih.
Padahal hati saya juga teriris rasanya mendengar isak tangis adik kecil saya. Saya mengerti betul kekecewaannya. Karena saya juga merasakannya saat saya hendak masuk SMP dulu. Dokumen saya dimanipulasi. Nilai saya yang tinggi justru terkalahkan dengan nilai anak-anak yang jauh sekali di bawah saya, bahkan jauh dibawah passing grade masuk SMP. Tapi itu dulu. Di akhir masa orde baru. Ini sudah masa reformasi dan semuanya sudah online, tetap saja bisa diakalin. Orang malah makin lihai dalam mencari celah untuk mengeruk uang haram. Bayangkan kalau orang tua lain. Melihat anaknya menangis dan merengek seperti adik saya pasti tidak akan tega. Maka mereka akan berusaha sekuat tenaga menyediakan dana demi menyuap dan demi anaknya tidak menangis lagi. Tak jarang juga, demi gengsinya sendiri karena anaknya bersekolah di SMP ini dan itu yang katanya “vavorit.”
Pada saat menuliskan hal ini, saya baru saja melihat liputan 6 SCTV edisi 4 Juli 2014 jam 05.00 WIB yang mengatakan bahwa sistem PPDB online diwarnai manipulasi angka prestasi calon siswa SMP oleh para oknum di dinas pendidikan. Dengan membayar sekian sekian maka nilai prestasi yang semula tidak ada menjadi “Diada-adakan” sehingga skor pun melonjak tinggi. Wah…baru saja akan saya publish, ehh perbuatan busuk oknum di dunia pendidikan ini sudah tercium media.  
Bulan puasa bukannya untuk berbuat baik, malah menerima suap dengan alasan buat lebaran. Ingat, sejatinya lebaran hanya berlangsung beberapa jam saja, dan hanya berhak dirayakan oleh orang-orang yang hati, pikiran, dan jiwanya telah dibersihkan. Lebaran sesungguhnya adalah kemenangan atas jiwa raga yang kembali fitrah. Bagaimana bisa kembali fitrah jika bergelimang uang kotor? Ibaratnya orang mandi. Gimana coba bisa bersih kalau mandinya pakai air got?
Kehidupan pun tidak hanya di dunia. Masih ada kehidupan akhirat yang stepnya jauh lebih panjang daripada dunia fana. Buat para oknum, semoga mereka dikasih kesempatan sama Tuhan untuk menyadari kekeliruannya.
Alhamdulillah saat ini adik saya diterima di SMPN pilihan keduanya. Padahal saya sudah siap-siap mendaftarkannya ke SMP Swasta. Toh banyak sekolah Swasta punya mutu dan sistem belajar mengajar yang justru lebih baik daripada sekolah Negeri. Paradigma masyarakat bahwa sekolah swasta adalah sekolah untuk anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri lah yang salah kaprah.
Buat Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Saya salut. Pastinya tidak mudah membuat sistem pangkalan data dan seleksi masuk SMP via online seluruh Indonesia. Butuh pemikiran, tenaga, pengkondisian server, dan sosialisasi yang tak mudah. Konsepnya sudah sangat baik, hanya saja pelaksanaan di bawah masih perlu pengawasan. Saya yakin, dengan kesabaran dan masih adanya orang-orang baik, konsep yang sudah baik ini akan berjalan dengan semestinya, sesuai dengan yang dicita-citakan. InsyaAllah.