Karena Jogja selalu punya cerita

Gara-gara kondangan Februari lalu, tercetuslah trip dadakan ini. Tadinya kami mau ngadem di Baturraden, Purwokerto. Sebelum nantinya akan lanjut perjalanan ke Pekalongan menghadiri pernikahan Bagus. Setelah nelpon sana-sini ngecek penginapan di Baturraden juga transportasi di Purwokerto, hasil analsisis SWOT bikinan saya Purwokerto berada di Kuadran 3. Dimana Weaknessnya nya lebih gede daripada Opportunity nya. Sehingga strateginya harus diubah. Kenapa?

Continue reading “Karena Jogja selalu punya cerita”

Bernostalgia di Floating Market Lembang

 

 

Bukan tempatnya yang bikin saya bernostalgia. Tapi bersama siapa saya kesana. Sahabat saya jaman sekolah di AN Polban dulu, Fajarwati dan Lola yang ngajak jalan-jalan cantik ke tempat ini. Ternyata dalam perjalanan kami menuju Lembang, Dewi, sahabat saya semasa kuliah S1 di FE Unpas juga ikutan gabung. Kebetulan Dewi orang lokal (Baca: Warga Lembang), jadi deh kita berkelana.
Floating Market Lembang ini letaknya tak jauh dari Grand Hotel Lembang. Tapi karena jalannya satu arah, kita harus memutar melewati Pasar Lembang terlebih dahulu sebelum mencapai Floating Market. Hari itu Minggu, 31 Mei 2015, suasana Floating Market rame banget. Parkiran penuh (bener keputusan Lola untuk naruh kendaraan di Gegerkalong). Kami bayar tiket di loket Rp 15 ribu/orang. Tiket tersebut bisa ditukar welcome drink saat kita masuk venue.
Situ Umar, Floating Market Lembang
Ini pertama kalinya saya ke Floating Market (yang deket malah males ya…:D). Biasanya cuma lewat saja. Untuk pemandangan biasa saja sebenarnya, daya tariknya adalah pasar jajanan yang mengapung di atas danau. Venuenya juga tidak terlalu luas, jadi cocok buat yang bawa anak kecil. Nggak terlalu capek mengelilinginya.
3 sahabat lama
Saya, Dewi, Fajar, dan Awa
Menurut Dewi yang orang Lembang, danau di Floating Market ini adalah danau asli, bukan danau buatan. Dulu namanya Situ Umar. Situ adalah nama lain dari Danau. Areal ini ditata secara artifisial dengan mengelilingi Situ Umar, sehingga letaknya seperti di lembah. Tujuan utama wisatawan yang kesini sebenernya untuk : Makan.
Kondisi Floating Market Lembang

 

Penjual Tutut
Jajanan sederhana khas Bandung dijajakan di setiap perahu juga kafe-kafe di sekeliling danau. Untuk membelinya, kita diharuskan menukarkan uang dengan koin khusus yang disediakan pihak manajemen Floating Market. Uang tersebut bernilai Rp 5000 hingga Rp 50.000. Setiap penukaran yang sudah kita lakukan, jika masih ada lebih tidak bisa kita kembalikan ke loket. Maka dari itu, sebaiknya anda perhitungkan apa yang akan anda beli terlebih dahulu, sebelum menukarkan uang anda ke loket penukaran uang.
Harga makanan di floating market berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 25.000. Tergantung jumlah pembelian anda.  
memandang ikan Koi
Buat anda yang ingin santai juga bisa memilih duduk-duduk di tepian danau sambil menikmati sejuknya udara Lembang. Mangga dicobian ngalangkung ka Floating Market Lembang. Recommended!

Setelahnya, kami jalan-jalan lagi ke toko Snack. Beli cemilan. Tak jauh dari Floating Market (ke arah pasar Lembang), ada toko yang menjual snack khas Bandung dan harganya juga super murah. Anda bisa mampir ke tempat ini untuk membeli oleh-oleh buat keluarga dan handai taulan.

Awa yang memborong jajanan

 

Ini penampakan tokonya

Kami jajan lumayan banyak, tapi masing-masing hanya menghabiskan kurang lebih 30ribu rupiah untuk banyak item snack. Rasanya juga lumayan oke kok. Jadi…Recommended!

 
Sampurasun!

Review Tempat Wisata Seputaran Lembang – CIC, Pasar Buah, dan Taman Bunga Begonia

Kalau ngomongin Bandung, memang nggak ada habisnya. Selain kota kreatif, Bandung juga punya tempat-tempat yang kece buat didatengin. Baik itu sama keluarga, atau sama teman-teman. Anyway, kali ini saya mau berbagi info tentang jalan-jalan di Bandung, khususnya sekitar Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Nggak usah takut mahal, karena wisata alam ini selain ramah lingkungan, juga ramah sama kantong.

 

Round 1 – Outbond dan Botram di Ciwangun Indah Camp (CIC)
Ciwangun Indah Camp merupakan tempat outbond sekaligus berfungsi sebagai tempat hiking dan bumi perkemahan. Lokasinya berada di Parongpong, bersebelahan dengan Dusun Bambu. Saya dan teman-teman sekelas pernah nyoba hiking dan outbond disini. Lumayan lah, kabur sebentar dari tugas-tugas kuliah dan aneka macam jurnal yang harus direview setiap harinya.
Untuk sampai disini, dari Kota Bandung anda bisa ikuti jalur ke arah Jalan Setiabudhi. Setelah Universitas Pendidikan Indonesia, belok kiri ke Jl. Sersan Badjuri (Seberangnya terminal Ledeng). Susuri terus Jl. Sersan Badjuri sampai anda menemukan pertigaan (setelah Kampung Gajah). Ambil arah menuju Universitas Advent. Setelah itu ikuti jalan, CIC berada di sebelah kanan jalan.
Jalur menuju CIC termasuk agak ekstrem. Jadi harap berhati-hati. Tanjakan dan tikungan tajam dengan jalan aspal berbatu jadi tantangan tersendiri bagi anda yang ingin mengunjungi tempat ini.
Berpose – MIM Class 2014
Sampai di tempat parkir CIC, pemandangan hutan yang masih alami dan udara segar menyambut kami. Meskipun sudah dibuat jalur untuk kendaraan roda empat, namun di kanan kiri masih berupa perbukitan yang asri. Lokasi outbond sendiri berada di sebelah kiri tempat parkir. Dilengkapi dengan saung-saung yang bisa kita gunakan buat makan bersama (bawa makanan dari rumah), toilet umum yang bersih, dan juga restaurant.
Meniti Kayu
Flying Fox
Biaya outbond per orangnya dikenakan Rp 80.000/orang untuk 3 permainan (meniti kayu,  meniti bambu, dan flying fox). Nggak puas memang, sebentar banget udah kelar. Kurang seru dan kurang menantang sih kalau menurut saya. Yang bikin seru tuh kumpul-kumpulnya, balapan meniti kayu sambil ngeledek yang takut ketinggian (jahat ya hehehe…).
Selesai outbond kami foto-foto, terus botram (makan bareng-bareng). Untuk botram ini kami semua bawa dari rumah masing-masing, dengan sebelumnya bagi tugas. Ada yang bawa lauk, bawa sambel, bawa kerupuk, bawa buah, dan yang paling apes yang rumahnya deket lokasi. Dia suruh bawa segala macem mulai dari bawa nasi, lalapan, air putih, dan lain sebagainya.
Tapi kami semua happy kok. Indahnya kebersamaan dalam kesederhanaan. Makan di tengah hutan sambil bercengkrama, sebelum sibuk dengan thesis masing-masing.
Habis makan, pulang?
Itu peribahasa lama.
Sayang dongg…mumpung di Bandung harus puas-puasin jalan-jalan. *lah emangnya biasanya dimana? Orang sehari-hari juga ngumpul di Cimandiri dan Dipati Ukur kok 😀

 

Round 2 – Pasar Buah Lembang
Kondisi Pasar Buah Lembang
Kesini bukan karena mau berwisata, melainkan memenuhi permintaan teman-teman yang lagi kepengen makan buah-buahan segar, terutama alpukat dengan kualitas super tapi dibanderol dengan harga miring.
Pasar buah ini terletak di Jalan Raya Lembang. Kalau dari arah Bandung, setelah posko Tahu Lembang anda jalan terus. Pasar buah terletak di sebelah kiri jalan sebelum tikungan menuju Masjid Agung Lembang. Kalau tanya orang setempat, tanya saja dimana letak Pasar Lama. Pasti anda ditunjukkan ke tempat ini.
Di depan pasar buah banyak orang yang menjajakan ketan bakar khas Lembang, tahu, batagor, baso tahu, jagung bakar, roti bakar, dan cemilan lainnya. Jadi buat anda yang malas ke pasar, bisa nunggu di depan sambil jajan. Tapi ingat, jangan buang sampah sembarangan ya seperti yang orang Jakarta suka lakukan di Bandung. *Ups sorry, sengaja nyebut nama merek KOTA.
Pasar buah dan sayur ini nggak kayak pasar tradisional pada umumnya kok. Tempatnya tertata bagus dan bersih, dengan harga terjangkau. Senengnya, anda nggak bakal dibohongi soal harga di tempat ini. Juga nggak akan nemu perbedaan harga yang signifikan antara kios yang satu dengan kios lainnya, karena para penjualnya sudah melakukan strategi aliansi #halah.
Pedagang Alpukat
Meskipun sebutannya pasar tradisional, barang-barangnya kualitas ekspor semua. Anda mau cari sayuran segar, ada. Cari sayuran seperti paprika, brokoli, wortel, kol ungu, pumpkin, labu, ada. Semua dengan kualitas super dan terjamin tentunya. Asli dari petani Lembang.
Nah, sesuai rencana, teman-teman saya memilih alpukat mentega kualitas super. Disini kita juga bebas loh kalau mau mencoba. Para penjualnya ramah-ramah dan percaya diri banget ngasih tester ke kita (karena produknya bagus). Alpukat ini dibanderol sekitar Rp 17 ribu per kg. Rasanya? memang beda dengan alpukat yang biasa dibeli di supermarket. Benar-benar fresh, dan renyah. Enak banget deh rasanya.
Jeruk Galiprut, Sunkist of Indonesia
Kalau saya lebih tertarik sama jeruk Galiprut. Jeruk sunkistnya Indonesia yang berfungsi buat pengobatan herbal. Harganya super murah. Hanya Rp 10 ribu/ 1,5kg untuk jeruk yang besar-besar, dan Rp 7.500 untuk yang ukurannya lebih kecil. Rasanya sama, sama-sama menyegarkan dan nggak terlalu asam. Cocok banget untuk dibuat es jeruk. Saya beli Rp 25 ribu dapet 4 kg jeruk. Dikasih bonus sama ibu penjualnya yang happy karena banyak temen saya yang beli juga 😀

 

Round 3 – Ngerumpi cantik di Taman Bunga Begonia
Dari pasar buah Lembang, lanjut perjalanan ke Taman Bunga Begonia. Cuaca cerah dan sangat mendukung seolah memberkati langkah kami untuk tadabur alam #Berat amat bahasanya yak 😀
Hanya butuh waktu sekitar 5 menit dari Pasar Buah ke Taman Bunga Begonia di Maribaya. Tapi kami mampir dulu di KPSBU (Koperasi Peternak Susu Bandung Utara) untuk jajan susu murni, susu aneka rasa, dan es lilin youghurt yang menyegarkan. Sekitar 2 menit perjalanan naik motor dari Pasar buah Lembang. Susu aneka rasa dibanderol Rp 6000 per botol, susu murni Rp 4500/ liter, dan youghurt aneka rasa Rp 13 ribu, untuk isi 25 buah. Murah kan? Asli buatan dalam negeri, dan terjamin higienitasnya.
Karena weekend, suasana Taman Bunga Begonia lumayan ramai. Dan…ternyata harga tiketnya beda. Jadi Rp 10 ribu kalau hari Sabtu. Pada weekday hanya Rp 5.000. Bedanya, kalau hari Sabtu, tiket segitu sudah dapat es lilin gratis. Enak lagi. Kalau weekday nggak dapet.

 

 
Taman Begonia ini nggak terlalu besar, tapi nggak kecil juga sih. Lumayan buat jalan-jalan dan nyari spot yang bagus buat foto-foto. Seperti yang telah saya ulas sebelumnya di sini…. Taman Bunga Begonia mengenakan charge Rp 50ribu buat kamu yang bawa kamera, baik itu pocket kamera atau jenis kamera lain. Tapi buat kamera handphone atau tablet, nggak dikenai charge lagi.
Apa yang kami lakukan di Taman Bunga Begonia?
Nongkrong sambil bercengkrama tentunya. Ketawa-ketiwi sepuas hati, yang nggak bisa kami lakukan kalau kami di kampus akibat Jaim ke dosen 😀
Pulangnya, kami bagi-bagi makanan lagi. Ransum yang tadi kami bawa masih nyisa banyak banget. terus untuk jalan pulang, kami memilih lewat Dago. Menikmati rute ekstrem sambil melihat perkebunan sayur yang indah di sebelah kanan dan kiri jalan.
Total biaya jalan-jalan seputaran Lembang : Rp. 110.000/person. Sudah termasuk makan dan semua biaya tiket masuk. Tapi belum termasuk oleh-oleh ya.
So, tunggu apalagi buat jalan-jalan keliling Lembang? Nikmati alamnya, nikmati kesejukannya, nikmati kelezatan makanannya, bawa pulang oleh-olehnya, dan jaga kebersihannya.
Sampurasun!

 

Sebuah Tulisan

Saat jemari mengetik, saya berpikir, setiap hasil ketikan saya, baik maupun buruk, ada yang mencatatnya.
Entah yang di pundak sebelah kanan saya yang mencatat, ataukah yang di pundak sebelah kiri saya yang mencatat.

Wallahualambisshawab.

Kemudian saya berpikir, sebuah tulisan, apalagi yang dibaca orang banyak, pasti akan memberikan efek pada pembacanya. Baik itu dibaca sekilas, atau dibaca dengan penghayatan hingga akhirnya diserap ke dalam pikiran. Diamalkan dalam perbuatan.

Continue reading “Sebuah Tulisan”

Sup Ikan Nila

 

Sup Ikan Nila

Seperti biasa, aneka resep dari dapur saya biasanya sederhana dan mudah sekali dibuat. Kali ini yang ingin saya sharing adalah Sup Ikan Nila. Makanan sehat, lezat, dan nutrisinya tak kalah dengan makanan berbahan baku mahal. Ikan Nila ini mudah sekali ditemui baik di pasar tradisional, maupun di supermarket kesayangan anda.

Bahan-bahan :
1/2 Kg Ikan Nila, potong sesuai selera.
2 batang wortel
1 buah kentang
250 gram brokoli
3 batang daun bawang
1 batang seledri
1 liter air
1/2 sdm gula pasir.
1 buah tomat.

Haluskan :
1/2 sdm merica butiran
5 siung bawang putih
1 sdm garam.

Cara membuat :
Masak air, masukkan bumbu halus, kentang dan wortel. Tunggu hingga mendidih.
Masukkan Ikan Nila, tunggu hingga ikan empuk. Masukkan gula, daun bawang, tomat dan brokoli. aduk hingga rata, tunggu sekitar 2 menit. Angkat, tambahkan penyedap rasa (jika perlu).

Spicy Soft Tofu Stew

Spicy Soft Tofu Stew
Soft Tofu atau di Indonesia lebih dikenal dengan Tahu Sutera memang lumayan populer, apalagi di Bandung. Namun meskipun populer, saya jarang sekali mengolahnya. Dengan alasan, kurang suka dengan rasanya yang hambar. Di suatu pagi, saya disuguhi oleh teman sekelas saya (Sang Miss Juragan Tahu dari Lampung) olahan tahu dengan bumbu sederhana. Dia menggunakan cabai gendol sebagai salah satu bumbu (yang biasanya saya juga nggak suka dan nggak mau coba). Tapi ternyata, ketika dikombinasikan dengan tahu jadi lezat sekali rasanya.

Penasaran dengan Cabai Gendol (Sunda : Cabai Gendot), akhirnya saya mencoba membuat masakan ini.
Sederhana, dan mudah sekali dibuat di tempat kost dengan peralatan yang terbatas. Bahan-bahannya juga murah dan mudah didapatkan. Yuk simak cara membuatnya.

Bahan Utama :
1 buah Tahu Sutera, kira-kira ukuran 10cm X 10cm
2 batang daun bawang, potong-potong sesuai selera.
3 siung bawang putih, cincang halus.
3 buah cabai gendol, buang bijinya. Potong jadi 4 bagian.
2 sdm saus tiram
1/2 sdt garam
1/4 sdt gula putih.
2 gelas air (400 ml).
2 sdm minyak goreng untuk menumis.

Cara memasak :
Pertama, potong dadu tahu sutera, dengan ukuran sesuai selera.
Selanjutnya panaskan minyak goreng, tumis bawang putih hingga harum, kemudian masukkan cabai gendol,  daun bawang, dan saus tiram. Tumis sebentar.
Masukkan tahu sutera yang sudah dipotong dadu, aduk perlahan hingga bumbu tercampur.
Masukkan air, tunggu hingga mendidih, masukkan garam.
Aduk hingga rata, angkat.

Sajikan selagi panas.

*Untuk 3 Porsi.

Buat yang penasaran dengan bentuk cabai gendol/cabai gendot, berikut tampilannya :

Cabai Gendol/Cabai Gendot. Sumber : tokopedia.com