Pagi kedua di Belitong, Kuliner pagi, Pelabuhan Tanjung Pandan, dan Pantai Batu Berahu

Rangkaian Solo Traveling ke Belitong.
Sarapan pagi sudah diantarkan jam 5.30. Seperti hari sebelumnya, saya pun menikmati sarapan saya di kamar sambil mendengarkan live concert Burung Walet. Mereka tak bosannya mendendangkan nyanyian pagi, menandakan aktifitas segera dimulai seiring dengan terbitnya matahari.

Continue reading “Pagi kedua di Belitong, Kuliner pagi, Pelabuhan Tanjung Pandan, dan Pantai Batu Berahu”

Menikmati sore di Manggar, kota seribu warung Kopi

Kopi Manggar

Selain Aceh, ternyata Manggar juga mendapatkan julukan Kota Seribu Warung Kopi. Rasanya memang pantas kota ini mendapat julukan tersebut. Warung-warung kopi berjajar, dari mulai warung kopi yang kecil, hingga yang berukuran besar dengan banyak meja dan kursi di dalamnya. Di jalan masuk warung kopi, berdiri monumen megah yang berbentuk Teko, dengan cangkirnya. Melambangkan kalau disini memang pusatnya kopi Manggar.
Monumen Kota Manggar
Setelah puas mengelilingi Belitung Timur, dalam perjalanan pulang saya pun singgah di salah satu warung Kopi. Kami memesan satu porsi pisang goreng, segelas kopi Manggar, dan segelas teh tarik. Namanya warkop Millenium, terletak di depan bangunan hotel apa gitu saya lupa.
Namanya Warkop Millenium
Kopi Manggar memang punya citarasa tersendiri. Harumnya tidak begitu menyengat, dan rasanya cocok sekali buat saya. Berbeda dengan kopi Aceh atau Makassar yang keras dan berat, Kopi Manggar menawarkan rasa yang ringan, namun khas sekali. Kalau buat saya, Kopi Manggar merupakan kopi terenak di Indonesia. No offense ya, kembali lagi ke selera. Karena meskipun saya pecinta kopi, saya nggak sanggup minum kopi yang terlalu berat seperti kopi Toraja, Takengon, atau Ulee Kareng. Bahkan kopi Lampung dan kopi AAA dari Jambi pun masih terkesan berat buat saya.
Ini dia tampilan Kopi Manggar :
Kopi Hitam khas Manggar dan Pisang Goreng
Harga untuk satu cangkir kopi Manggar, Satu Porsi Pisang Goreng, dan Satu gelas teh tarik dibanderol IDR 30.000.
Saat ngopi-ngopi, saya mendapat BBM dari teman lama, Bisma. Dia teman kuliah saya dulu. Gara-gara saya update status, dia tahu saya sedang berada di Manggar. Terus teman saya ini bilang kalau di Manggar juga ada Kiki, teman saya satu jurusan. Sekarang bekerja di Dinas PU Belitung Timur. OMG…tadi padahal kantornya kelewatan. Tak berapa lama, Kiki mengontak saya. Duh sayang banget nggak bisa ketemuan karena Kiki masih di Kantor, dan masih lama pulangnya. Sementara saya juga takut kemalaman tiba di Tanjung Pandan. Akhirnya kami hanya bisa ngobrol via BBM deh.
Nggak apa-apa lah ya…yang penting tahu Kiki ada di Manggar. Jadi lain waktu, saya akan atur pertemuan dengannya.

Menghirup udara segar di Vihara Dewi Kwan Im, Belitung Timur

 

 

Berarti ini kota ketiga dimana saya berkeliling Vihara. Pertama di Vihara Ekayana Tomohon, lalu di Sam Poo Kong Semarang, dan Vihara Dewi Kwan Im Manggar.
Ciri khasnya adalah bangunan merah menyala yang berdiri megah dengan ornamen-ornamen khas Tionghoa yang berjajar cantik. Saat saya datang, lagi-lagi saya adalah satu-satunya pengunjung disini. Saya minta izin sama penjaganya untuk memotret, dan beliau pun memperbolehkan. Nggak ada tampang antipati sama sekali meski saya mengenakan jilbab.
Tempat Sembahyang
Di dekat tempat sembahyang mereka terdapat dupa yang mengeluarkan bau khas. Juga terdengar musik yang mungkin puji-pujian. Nggak terlalu banyak yang bisa dilihat, hanya bangunan vihara saja. Juga tidak ada spot foto yang bisa mengenakan kostum seperti yang saya lakukan di Sam Poo Kong. Enaknya, disini tempatnya sangat bersih dan terawat. Juga karena berada di dataran tinggi, udaranya juga segar sehingga membuat kita tenang.

 

Pemandangan dari Vihara
Untuk masuk kesini, kita tidak dikenakan biaya retribusi maupun biaya parkir. Bebas saja. Asal datang dengan pakaian dan sikap yang sopan ya…

Pantai Nyiur Melambai, Tempat peristirahatan di atas awan, dan Buku PR untuk Belitung Timur

Katanya nggak sah kalau ke Belitung Timur tapi nggak mampir ke Pantai Nyiur Melambai. Sehingga di tengah hari yang panas menyengat, saya pun diantar Mas Ari ke tempat ini. Sebelumnya Mas Ari cerita ke saya, jangan pasang ekspektasi tinggi kalau ke pantai ini. Karena terkesan agak kurang terawat dan penataannya kurang rapi.
Cangkir raksasa di Pantai Nyiur Melambai yang menggambarkan Kota Seribu Warung Kopi
Berbeda dengan pantai yang ada di Tanjung Pandan yang memiliki landscape asli yang indah juga penataan yang baik dan bersih, Pantai Nyiur Melambai memang terkesan biasa saja. Bagus, namun tak cukup membuat kita berasa gimanaaa gitu. Nggak tahu ya, malah agak berantakan kalau menurut saya. Tadinya mungkin pantai ini ingin mengadopsi Pantai Losari di Makassar dengan memasang tulisan Pantai Nyiur Melambai. Tapi kayaknya salah tempat deh masangnya. Namanya pantai kan bagusnya ya tulisannya berada di dekat pantai, sehingga pusat perhatian pengunjung fokus, juga bisa berpose disitu sambil menikmati panorama pantai. Namun sayangnya, tulisan Pantai Nyiur Melambai malah ada di tempat parkir, yang agak jauh dari pantai. Latar belakangnya pun hanya semak belukar yang nggak rapi.
Landscape Pantai Nyiur Melambai
Saya nggak lama di Pantai ini. Hanya duduk sebentar di bawah pohon sambil menikmati hembusan angin yang ternyata siang itu menghentak-hentak. Mungkin karena sudah masuk full moon kali ya…Terus lagi, siang itu pengunjung pantai ini hanya ada saya dan Mas Ari. Kondisi pantai super sepi, tanpa ada aktifitas menarik yang bisa dilihat. So, perjalanan pun berlanjut ke Bukit Samak.
 
Bukit Samak, tempat peristirahatan di atas awan.
Kenapa saya bilang gitu?
Karena pemandangan dari Bukit Samak ini indah sekali. Kita bisa melihat keseluruhan Landscape Pantai Nyiur Melambai dari tempat ini. Kalau kata Mas Ari, Bukit Samak ini dulunya merupakan tempat peristirahatan para pegawai PN. Timah. Dimulai dari C, B, lalu A di dataran yang paling tinggi. Posisi tersebut menggambarkan peringkat atau pangkat pegawai PN. Timah. Makin tinggi pangkatnya di perusahaan, maka semakin tinggi tempat peristirahatannya. Semakin indah pula pemandangan yang bisa dinikmatinya.
Diskriminatif banget ya? Ternyata nggak hanya ke orang lokal saja PN. Timah ini diskriminatif, seperti yang dikatakan Andrea Hirata di buku-bukunya. Di dalam perusahaan pun demikian. Nggak sesuai tuh sama teori-teori di buku Human Resource Management yang saya pelajari. Dimana kita harus bekerja dengan bahagia, diperlakukan setara dan tanpa diskriminasi supaya produktifitasnya selalu meningkat.
Anyway…Bukit Samak sendiri dikenal dengan A1. Dimana terdapat Villa tempat peristirahatan petinggi PN. Timah. Sayangnya, tempat ini benar-benar tidak terawat. Kata Mas Ari, dulu sempat ada kebun binatang mini, juga tempat bermain anak-anak yang bagus dan menyenangkan. Namun kini, semua terbengkalai sehingga terkesan menyeramkan.
Sebelum sampai di puncak A1, saya berhenti sebentar untuk memotret. Ada spot khusus yang disiapkan disini. Sebuah Gazeebo, yang mungkin dulunya cantik. Namun kini sudah reyot dan tak terawat. Dari tempat ini, kita bisa melihat pemandangan kayak gini nih:
Pemandangan dari Bukit Samak
Kayak di negeri dongeng ya? Indah sekali. Meskipun aslinya jauh lebih indah sih…
Terus asyiknya, di Bukit Samak ini tenang sekali. Udaranya juga segar dengan suhu yang normal versi Bandung. Sekitaran 24 – 27 derajat celcius lah ya…Jadi sejuk.
Kalau dari A1, ini pemandangan yang bisa kita nikmati :
Pemandangan dari Bukit Samak, A1
Villa A1
Villa ini sekarang disewakan untuk umum. Saya sendiri lebih senang duduk di gazeebo yang disediakan. Tenang, jadi bisa sambil cari inspirasi buat nulis cerita. Mekipun disayangkan lagi nih…banyak banget sampah plastik, dan sepertinya nggak pernah ada yang bersihin. Karena disitu juga ada ranting-ranting patah yang terserak dimana-mana.
Semoga hal ini jadi perhatian buat Dinas Pariwisata Belitung Timur ya…banyak banget Pekerjaan Rumah nih untuk mereka. Pertama menyadarkan masyarakat kalau sekarang Timah sudah sangat sedikit jumlahnya, sehingga semestinya mereka beralih ke mata pencaharian yang lain. Potensi besar yang tersimpan adalah pariwisata, jadi infrastruktur yang mendukungnya harus menunjang. Selain itu, masyarakat diajak turut serta membangun daerahnya dengan kesiapan menerima wisatawan. Salah satunya dengan sikap, juga keramahan (hospitality) untuk meyakinkan wisatawan kalau mereka nggak salah memilih Belitung Timur sebagai destinasi wisata.
Juga perawatan dan pengaturan objek wisata. Sepanjang saya lihat sih Belitung ini potensinya banyak banget, tapi kurang digali. Banyak spot cantik yang diabaikan, juga banyak tempat yang “tadinya” cantik nggak dirawat, sehingga tak cantik lagi. Belitung Timur harus banyak bersolek kalau mau bersaing dengan tetangganya, Tanjung Pandan. Apalagi katanya Beltim mau dijadikan Objek Wisata kedua setelah Bali.
Duh malah jadi curhat ya…hehe

Menyusuri Gantong, Belitung Timur

Puas menikmati museum kata, saya melanjutkan perjalanan keliling Gantong. Mas Ari mengajak saya untuk menyusuri jejak-jejak laskar pelangi. Dari mulai pasar ikan Gantong, bangunan bersejarah tempat Ikal dan Arai bekerja sambilan, Kantor PN. Timah, juga tempat persembunyian Ikal waktu dikejar-kejar oleh para cukong.
Pasar Tradisional Gantong
Bangunan Tua tempat persembunyian Ikal dan Arai
Kantor PN. Timah

 

Setelahnya, saya diajak melihat lokasi asli SD Muhammadiyah Gantong. Dulu, bangunan reyot itu berdiri di tengah-tengah lapangan, namun karena sekarang sudah dibangun sekolah negeri dengan bangunan permanen, maka SD Muhammadiyah Gantong diratakan dengan tanah. Alasannya sih karena sering banyak orang yang datang, baik wisatawan maupun reporter untuk meliput, sehingga mengganggu ketenangan belajar siswa di sekolah ini.
Di tanah lapang itulah lokasi asli SD Muhammadiyah Gantong
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 11.30. Kami memutuskan untuk makan siang di Manggar. Ibukota Belitung Timur yang terkenal dengan sebutan kota seribu warung kopi. Singgah di sebuah rumah makan yang baru kami pengunjungnya. Tapi menurut Mas Ari, masakannya enak. Anyway, saya lagi kepengen makan Ikan Gangan, masakan khas Belitung yang berbumbu kuat itu. Sudah masuk waiting list food juga tuh di agenda saya. Namun saat dicari-cari di buku menu, Ikan Gangan tidak tecantum disitu. Membuat saya kecewa selama beberapa saat.

 

Bukan Mas Ari namanya kalau nggak bisa negosiasi. Dia langsung menghampiri koki, lalu minta dimasakkan Ikan Gangan. Saya kira sang koki nggak mau, tapi beliau malah mengajak saya masuk ke dapurnya, memilih langsung ikannya. Saya yang nggak ngerti, Cuma memilih ikan dari ukurannya saja. Saya pilih yang ukurannya besar, biar puas makannya. Hehehe…
Kata sang koki, itu namanya ikan bulat. Sejenis Ikan laut yang biasa dibuat untuk Gangan. Padahal menurut saya ikan itu nggak bulat bentuknya. Apapun lah ya…yang penting enak. Untuk pendampingnya, saya pilih Cah kangkung belacan dan tentunya, es jeruk kunci.
Pesanan pertama yang datang adalah es jeruk kunci. Saya pun langsung mencicipnya. Ternyata di tempat ini, es jeruk kuncinya sangat-sangat enak. Paling segar dan paling fresh rasanya. karena penasaran, saya pun bertanya ke Mas Ari kayak gimana sih bentuk jeruk kunci itu?
Mas Ari masuk lagi ke dapur restaurant, dan mengambil satu buah jeruk kunci. Ternyata ukurannya hanya sedikit lebih besar dari jeruk limau, hanya saja tekstur kulitnya sama seperti jeruk Pontianak. Baunya juga harum. Di restaurant ini, jeruk yang digunakan masih sangat fresh. Pantas rasa minumannya jadi enak sekali.
Jeruk Kunci
Tak berapa lama, pesanan saya pun datang. Ternyata ikan Gangannya benar-benar porsi jumbo. Cah kangkungnya juga porsi jumbo. Padahal yang makan cuma saya berdua dengan Mas Ari. Lapar mata saja saya tadi memilih ikan yang gendut. Kami dikasih mangkuk-mangkuk kecil untuk menikmati lezatnya ikan Gangan ini.
Ikan Gangan
Saat dicicip, rasa kuah Ikan Gangan memang segar dan nggak amis sama sekali karena menggunakan nanas. Perpaduan bumbunya sempurna. Pas, dan meresap sampai ke ikannya. Ikannya juga masih fresh, belum mati empat kali seperti kalau saya makan seafood di Bandung 😀 Kalau di Bangka, masakan ini dikenal dengan nama Lempah kuning. Hanya sebutan namanya saja yang berbeda.
Cah kangkungnya juga segar. Dibuat dari bahan baku yang bagus, pengolahannya juga bagus. Bumbunya otentik banget, karena terasinya juga benar-benar terasi udang asli. Bukan terasi abal-abal. Hehe…
Pokoknya saya puas makan disini. Rating 4,5/5. Harga juga lumayan oke. untuk semangkuk besar Ikan Gangan dibanderol IDR 75.000, 2 porsi nasi putih IDR 12.000, 2 gelas es jeruk kunci IDR 10.000, dan satu porsi Kangkung Terasi IDR 18.000, Total semuanya IDR 115.000. Sebenarnya porsi segitu banyak bisa buat berempat, supaya nggak kekenyangan seperti kami 😀

Oh iya, saya juga sempat mampir ke Rumah Ahok, atau Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI saat ini. Rumah Ahok ini terletak di Manggar, dan di depannya terdapat bangunan yang dinamakan Kampung Ahok. Di rumah Ahok ini disediakan batik khas Belitung beserta cara pembuatannya. Saya nggak mampir, karena memang lebih tertarik untuk berkeliling Manggar daripada melihat batiknya.

Rumah Ahok yang menyediakan Batik Khas Belitung
Bersambung….
Manggar, kota seribu warung kopi

Day 2 – Ketika berkata-kata tak harus bersuara, Museum Kata Andrea Hirata

Itulah tepatnya yang ada di benak saya ketika berkunjung ke Museum Kata Andrea Hirata. Dibangun atas prakarsa Andrea Hirata, penulis buku-buku seri Laskar Pelangi, Padang Bulan, dan lain sebagainya. Museum ini merupakan museum kata pertama di Indonesia yang di setiap dindingnya bercerita perjalanan kisah sang penulis serta karya-karyanya yang fenomenal. Banyak hal malah baru saya ketahui ketika saya membaca rangkaian kata demi kata di dinding museum.
Museum Kata Andrea Hirata, Tampak Depan

Sulit untuk menggambarkan museum yang tertata sangat apik ini. Persis seperti imajinasi saya, dimana dunia penuh warna, dinding yang diisi dengan aneka memori, juga kebebasan berkata-kata tanpa bersuara. Karena dengan begitulah pemikiran kita bisa menembus batas dunia. Tanpa terikat oleh segala aturan berbahasa dan koridor baku yang biasa dijalani. Kurang lebih itulah filosofi yang saya tangkap dari pendirian Museum Kata Andrea Hirata.


Laskar Pelangi International Editions
Semula saya kira museum ini kecil, tapi ternyata panjang sekali ke belakang. Dengan aneka warna yang berbeda-beda, namun semuanya benar-benar memenuhi harapan saya akan sebuah perpaduan antara karya sastra dengan sentuhan grafis yang menawan. Foto-foto artistik, kantor pos mini, bahkan panggung kecil pun tersedia di tempat ini. namun tak habis sampai disitu, kalau kita mau berjalan terus ke belakang bangunan, disitu ada replika SD Muhammadiyah Gantong. Di dalamnya terdapat kata-kata mutiara dari Albert Einstein yang sangat melekat di benak saya. Imagination is more important than knowledge.
Another side of Andrea Hirata Literary Museum
Kata Mutiara oleh Albert Einstein

Ada cerita lucu disini. Waktu saya berkunjung itu bertepatan dengan syuting acara weekend list, salah satu program yang meliput tempat-tempat wisata yang tayang di televisi swasta. Nah si artisnya tiba-tiba nanya gitu ke Mas Arie, seolah sudah kenal dekat. Ternyata…tuh artis salah lihat, dikiranya Mas Ari itu Tulus, si penyanyi yang terkenal dengan album Gajahnya. Coba deh lihat, mirip nggak? 

 
Mas Arie – Tige Sekawan
Untuk bisa mengeksplore museum ini, kita nggak perlu mengeluarkan banyak biaya. Hanya sumbangan kebersihan saja Rp 2.000. Highly recommended untuk dikunjungi, karena selain tempatnya indah, kita juga bisa mendapatkan banyak sekali pengetahuan, juga membaca karya sastra yang indah. Letaknya juga tidak jauh dari Replika SD Muhammadiyah Gantong. Hanya sekitar 5 menit perjalanan naik mobil. 
 
Oh iya, disini memang ngak ada angkutan umum. Jadi kalau mau eksplore Belitung Timur kita harus sewa kendaraan, baik itu sewa mobil atau motor. Informasi mengenai biaya akan saya jelaskan di bagian terakhir rangkaian solo traveling Belitung ya…
 
Sebentar, lanjut kuliah dulu. Setelahnya saya bakal posting napak tilas laskar pelangi, juga wisata keliling Manggar.

Day 2 – Menyapa Belitung Timur, SD Muhammadiyah Gantong

Rangkaian Solo Traveling ke Belitung
Nah, ini dia yang saya nantikan. Menyusuri jejak langkah Laskar Pelangi. Saya memang fans berat Laskar Pelangi dan penulisnya, Andrea Hirata. Novel itu banyak banget menginspirasi saya hingga saya rela jalan-jalan sendirian ke Belitung.
Pagi hari, pagi pertama saya di Kota Tanjung Pandan, saya dibangunkan oleh suara adzan yang begitu merdu. Burung walet pun sudah mulai berkicau menyanyi, menyapa pagi yang masih gelap. Saya langsung mandi, lalu shalat shubuh. Nggak lama setelah selesai shalat, terdengar suara tembang kenangan menggema keras, yang belakangan baru saya tahu kalau suara itu berasal dari warung kopi di belakang penginapan.
Jam setengah 6 pagi, kamar saya diketuk petugas penginapan yang memberikan sarapan. Jadi pagi itu saya menghabiskan waktu dengan membaca, sambil minum teh dan sarapan yang ada. Saya janjian dengan Mas Ari, guide yang bakal nganterin saya keliling Belitung Timur jam 08.00 WIB. Jadi saya masih punya cukup waktu untuk mencoba kuliner yang banyak direkomendasikan oleh para pelancong yang pernah datang ke Belitung.
Warung Soto Mak Jannah. Terletak di kawasan Kv. Senang, tempat saya menghabiskan waktu siang kemarin. Jam 7 pagi, warung Mak Jannah baru saja buka. Dan saya menjadi pelanggan pertamanya. Mak Jannah sendiri yang melayani saya pagi itu. Saya memesan seporsi Soto Belitung, satu gelas es jeruk kunci, dan segelas kopi Belitung. Perpaduan sarapan yang aneh tentunya, tapi yang penting rasa penasaran saya terpenuhi.
Soto Mak Jannah
Warung ini sudah berdiri sejak tahun 1970an, dan ternyata Mak Jannah pernah tinggal di Bandung. Sambil meracik soto, beliau bercerita saat beliau di Bandung dulu. Dan beliau mengatakan pada saya kalau Belitung sangat aman untuk para traveler, baik yang berkelompok maupun solo traveling seperti saya. Tak lama, Menu pesanan saya sudah tersedia di meja :
Kopi Belitung dan Segelas Es Jeruk Kunci
Saya lupa harga per porsinya berapa, tapi rasanya, untuk pesanan saya, tak sampai Rp. 20.000. Relatif murah memang. Dan sepertinya, warung Mak Jannah ini terkenal. Karena baru beberapa saat saya duduk sebagai pelanggan pertama, tak lama kemudian pelanggan lain sudah berdatangan. Rata-rata mereka adalah para pegawai kantoran yang mau sarapan dan minum kopi disini.
Review : Sotonya enak, dengan es jeruk kunci yang lebih enak dengan yang saya nikmati di Warung Mie Atep sehari sebelumnya. Kopi Belitungnya juga enak sekali. Ringan dengan citarasa yang otentik.
Tepat jam 08.00 WIB, Mas Ari menjemput saya di Kv. Senang. Berkenalan sejenak, lalu kami memulai perjalanan ke Belitung Timur. Menurut Mas Ari, perjalanan bisa ditempuh kurang lebih satu setengah jam, atau sekitar 90 kilometer. Di Jalan, Mas Ari banyak cerita tentang Belitung Timur, adat dan kebiasaannya, juga objek wisatanya yang agak kurang terawat jika dibandingkan dengan Kota Tanjung Pandan. Daya tarik utama Belitung Timur masih replika SD Laskar Pelangi dan Museum Kata Andrea Hirata.
Selain itu, Mas Ari cerita kalau di Belitung, potensi oleh-oleh yang belum banyak orang tahu adalah Merica, atau ladanya. Merica tersebut bercitarasa khas dan memiliki rasa yang lebih kuat dari merica yang berasal dari daerah lain. Warnanya putih bersih, dengan butiran-butiran halus tanpa cacat. Jika digunakan dalam jumlah banyak, tidak akan menimbulkan rasa pahit, tetapi rasa pedas khas merica yang menyegarkan.
Saya pun mencatatnya sebagai list yang harus dibeli.
Mas Ari juga banyak cerita soal Belitung. Tentang setiap objek wisatanya, waktu terbaik mengunjunginya, dan hotel yang bagus maupun yang sebaiknya tidak dipilih. Wah…jadi punya masukan nih kalau pengen balik lagi kesini.
Jalan menuju Manggar melalui banyak perkebunan kelapa sawit, juga bekas-bekas tambang timah yang masih menganga. Seperti biasa, saya jarang sekali melihat rumah warga disini. Tidak banyak pemandangan bagus yang bisa dilihat sepanjang perjalanan menuju Manggar. Untungnya, kondisi jalan sangatlah mulus. Dari kota Tanjung Pandan hingga Manggar, saya tak menemukan sedikitpun jalan yang berlubang. Mobil kami pun jadi satu-satunya mobil yang melintas.
Satu setengah jam perjalanan, saya sampai di Replika SD Laskar Pelangi yang terletak di Gantong, Manggar, Belitung Timur. Rasanya seneeng banget sampai di tempat ini. bangunan SD dikelilingi pasir putih yang tebal, juga pemandangan yang indah. SD ini memang dibangun untuk keperluan syuting film Laskar Pelangi. Jadi kondisinya sama seperti yang ditampakkan di film tersebut. Lokasi asli SD Muhammadiyah Gantong bukan berada disini. Masuknya kami nggak dikenakan retribusi. Biaya parkir juga nggak. Bebas saja. Kata Mas Ari, mungkin karena masih pagi, dan lagi-lagi, saya adalah pengunjung pertama. hehehe…
Replika SD Muhammadiyah Gantong
Semua pemandangannya memuaskan keingintahuan dan rasa penasaran saya tentang Laskar Pelangi. Pokoknya, tercapai sudah salah satu cita-cita saya menyusuri jejak para pelaku di buku vavorit saya. Terngiang-ngiang syarir lagunya, “Mimpi, adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia. berlarilah, tanpa lelah, sampai engkau meraihnya…”
Gerbang SD Muhammadiyah Gantong
Pohon tempat Mahar bergelantungan sambil mendengarkan Radio Kesayangannya
Kenapa saya segitunya? Karena waktu saya SD, saya sering banget dianggap sebagai Gadis pemimpi sama teman-teman sekelas saya. Dulu, impian sederhana saya hanyalah mengunjungi pegunungan Dieng dan keliling Pulau Jawa. Tapi mimpi saya tersebut dicibir oleh teman-teman saya. Mereka bilang saya ngelantur. Namun bukan saya namanya kalau saya terima cibiran tersebut. Sejak saat itu, di usia saya yang 8 tahun, saya berjanji kalau saya akan mengelilingi Indonesia, bagaimanapun caranya. Dan dua belas tahun kemudian, saya mulai menapaki bumi Indonesia satu persatu.
Dan disinilah saya sekarang. di salah satu tempat impian saya.
Oh Iya, di Replika SD Muhammadiyah Gantong ini, kita bisa kasih kata-kata mutiara, atau sekedar tanda tangan loh untuk mengenang perjalanan kita ke Gantong. Pemerintah setempat menyediakan kain putih di dinding sekolah yang bisa kita corat-coret. Tapi jangan corat-coret di tempat lain yaa…
Nulis Bandung Juara dan Salam dari Bandung
Nyobain duduk sambil menulis pengalaman hari itu di SD Muhammadiyah Gantong
Nah, setelah puas menikmati suasana dan pemandangan di SD Muhammadiyah Gantong, saya diajak Mas Ari untuk mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata, yang letaknya tak jauh dari SD ini. Juga bersebelahan dengan rumah sang penulis, Andrea Hirata. Museum ini memang berdiri atas Prakarsa Andrea Hirata, untuk mendokumentasikan perjalanan setiap tulisannya. Simak perjalanan saya selanjutnya ya…
Day 2, Bagian 2
Ketika berkata-kata tak harus bersuara, Museum Kata Andrea Hirata

 

Solo Traveling ke Belitung? Siapa takut???

Sebuah catatan perjalanan jalan-jalan sendirian di Belitung.
Day – 1
Ini adalah kali ketiga saya ber-Solo traveling. Pertama keliling Ternate, kemudian Manado, dan setelah tiga tahun vakum ber-solo Trip, di bulan Agustus 2015 kesampean juga jalan-jalan sendirian ke Negeri Laskar Pelangi. Sebuah tempat cantik dan eksotis yang nongkrong dalam “my travel list” selama setahun.

Continue reading “Solo Traveling ke Belitung? Siapa takut???”