Pagi terakhir di Belitung : Menilik birunya Danau Kaolin

Rangkaian Solo Traveling ke Belitung

Puas menikmati pagi, saya kembali ke penginapan. Mengepak barang-barang ke dalam koper mungil saya. Sebelumnya, saya sudah janjian dengan Pak Hasmin untuk mengantar saya ke Bandara sekitar jam 10. Namun sebelum ke Bandara, Pak Hasmin janji akan mengajak saya melihat Danau Kaolin yang letaknya searah dengan Bandara Sultan Hanandjoeddin. Continue reading “Pagi terakhir di Belitung : Menilik birunya Danau Kaolin”

Pagi terakhir di Belitung : Mengenal Gang Kim Ting, Kopi Legendaris Atet, dan Geliat Pagi di Tanjung Pandan

Panduan memilih paket Hopping Island Belitung

Solo Traveling ke Belitung
Pagi itu, pagi terakhir saya di Belitong. Karena rencananya, pukul 11.30 saya sudah harus terbang ke Jakarta. Kembali, saya diajak Pak Hasmin untuk menikmati pagi dengan minum kopi di warung kopi legendaris, Kopi Atet.

Continue reading “Pagi terakhir di Belitung : Mengenal Gang Kim Ting, Kopi Legendaris Atet, dan Geliat Pagi di Tanjung Pandan”

Jalani dengan senyum

Buat orang2 yang bekerja di dunia profesional, Senin identik menjadi hal yang sangat menyebalkan. Betapa setelah liburan, merilekskan pikiran dan mengistirahatkan badan, harus langsung berangkat ngantor subuh2. Nyampe kantor langsung “diseneni” pula sama bos (baca: briefing pagi untuk agenda kerja seminggu). Beres “diseneni” langsung banting pantat di kursi kerja masing2, sambil menghela nafas. Hhhhh….

Continue reading “Jalani dengan senyum”

Tanjung Batu, Dermaga Indah di Ujung Pulau Belitong

Rangkaian Solo Traveling ke Belitong

Masih di hari ke-3 jalan-jalan saya ke Belitong, setelah puas menyambangi Pantai Batu Berahu, Pantai Tanjung Kelayang, dan Pantai Tanjung Tinggi, saya kembali ke Penginapan Surya. Rencananya, Pak Hasmin akan menjemput saya jam 16.00, untuk melihat Dermaga yang baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Padahal Pelabuhan ini sudah selesai dibangun semenjak 11 tahun yang lalu.
Namanya Dermaga Tanjung Batu, atau nama resminya Pelabuhan Tanjung Batu. Pelabuhan ini berjarak sekitar 30km kali ya…jauh banget rasanya. Hampir 1 jam saya berkendara motor dengan Pak Hasmin. Bedanya juga dengan jalur pantai Tanjung Pandan, jalan yang dilalui menuju Pegantungan (Tanjung Batu) teramat-sangat sepi. Dan karena saya datang saat musim kemarau, maka saya menemukan banyak titik api di sepanjang perjalanan. Dedaunan kering menjadi mudah sekali terbakar ketika terkena sinar Matahari. Meskipun demikian, jalan aspalnya mulus tanpa lubang, sehingga menyebabkan banyak kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi.
Begitu saya memasuki Pelabuhan, saya disambut oleh Gerbang megah ini :
Gerbang Masuk Pelabuhan Tanjung Batu
Dermaganya luar biasa Panjang kalau menurut saya. Mungkin karena belum beroperasi penuh kali ya…dan juga belum banyak kapal bersandar. Saat saya menyusuri dermaga, banyak orang di sebelah kanan dan kiri kami. Mereka sedang memancing ikan.
Kata mereka, gampang dapat ikan jika memancing disini, karena sama dengan mancing di tengah laut. Cuma kalau menurut saya bahaya banget ya, apalagi pas musim hujan, karena licin banget kelihatannya.
Long way in Tanjung Batu Port
Kapal Ferry yang sedang mengisi BBM di Tanjung Batu
Sampai di ujung dermaga, saya merasakan angin bertiup sangat kencang, sampai rasanya badan saya mau ketiup gitu. Saya juga nggak bisa lihat tuh pangkal dermaga yang tadi saya lewatin, saking panjangnya dermaga ini. Dan baru terasa bahwa saya sedang berada di tengah laut, tempat kapal-kapal besar bersandar.
Kelihatan PLTPnya
Sunset di Tanjung Batu
Kurang lebih setengah jam saya foto-foto di Tanjung Batu. Menikmati udara segarnya, juga angin laut yang luar biasa kencang berhembusnya. Karena hari mulai gelap, saya pun diajak Pak Hasmin untuk segera kembali ke Tanjung Pandan.
Pelabuhan Tanjung Batu menawarkan panorama menarik yang tidak biasa. Koridornya membawa kita lebih dekat dengan tengah lautan tanpa harus menaiki kapal besar. Sensasi yang dirasakan juga jauh berbeda jika kita mengujungi pantai lainnya di Pulau Belitong. Enaknya lagi, masuknya nggak pakai bayar retribusi, alias gratisan. hehe…
Ikuti perjalanan saya selanjutnya di Pulau Belitong….

 

Welcome to Belitong

Rangkaian Solo Traveling ke Belitong

Welcome to Belitong, Tanjung Kelayang Beach

 

Welcome to Belitong!
Kalimat itu menyambut kedatangan saya di Pantai Tanjung Kelayang. Berjarak sekitar 27 km dari Tanjung Pandan, pantai ini menawarkan pesona kecantikan alami dengan bongkahan-bongkahan batu granit raksasa. Pasir putihnya membentang luas dengan perahu berjajar di dermaganya. Letak pantai yang strategis membuatnya menjadi tempat persinggahan Sail Belitong 2011 lalu, juga dermaga tempat bersauhnya perahu yang akan mengantarkan wisatawan untuk Hoping Islands.
Dari pulau ini kita bisa melihat Pulau Batu Garuda, karena bentuk batu granitnya menyerupai Burung Garuda. Selain itu, Pulau Babi juga terlihat jelas dari sudut pantai Tanjung Kelayang.
Pulau Batu Garuda
Bagi wisatawan yang ingin Hoping Islands, biasanya mereka diajak menyusuri lima pulau dalam satu hari, yaitu Pulau Batu Berlayar, Pulau Pasir, Pulau Burung, Pulau Babi, dan Pulau Lengkuas. Untuk hoping islands kita bisa menyewa perahu dengan biaya IDR 400.000/hari.
Namun kali ini, saya memilih untuk menikmati keindahan panorama pantainya saja. Menikmati aroma laut sambil bercengkrama dengan warga sekitar. Membahas hal remeh-temeh seperti kehidupan sehari-hari, kondisi pariwisatanya, dan budayanya.
Yuk, kita lihat foto-foto selanjutnya :
Bongkahan Batu Granit
Foot Selfie is a must for Solo Traveler

 

Batu Granit yang terserak di Pantai Tanjung Kelayang
Hamparan Pantai Tanjung Kelayang
Setelah puas menikmati Pantai Tanjung Kelayang, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Tinggi, tempat syuting utama yang menjadi Brand Laskar Pelangi. Nggak terlalu jauh, mungkin sekitar 15 menit, sudah sampai deh ke tempat tujuan.
Saat masuk ke Pantai Tanjung Tinggi, saya disambut tugu seperti ini :
Monumen Laskar Pelangi
Bukti bahwa tempat ini dijadikan tempat syuting film Laskar Pelangi. Untuk masuk ke tempat ini, kita nggak dikenakan biaya retribusi. Masuk saja dan nikmati panorama dan pesonanya.
Setelahnya, Pak Hasmin mengajak saya ke tempat indah ini….yang mungkin nggak bisa kita temui di seluruh pantai Indonesia. Karena memang Pantai Tanjung Tinggi ini khasnya adalah batu granit yang super besar dan indah. Saya nggak begitu oke mendeskripsikannya, jadi lihat foto-fotonya aja ya…
Dan…foto-foto yang saya pajang ini jauuuuh lebih indah kalau kita lihat aslinya. Maklum, keterbatasan keterampilan motret plus kameranya yang cuma kamera pocket.

 

 

 

 

 

 

Pantai Tanjung Tinggi siang itu hening, tak banyak pengunjung yang menyambanginya pada weekday. Menambah kesyahduan hamparan pasir putih dan ombak yang saling menyapa lembut.
Life is like walking in a long corridor. You can just follow the way, or you will cracks that corridor. Or…if you belief in God, you will see the lights from heaven that illuminates every step of you.
Masuk ke tempat ini nggak ditarik biaya retribusi sama sekali. Kita tinggal masuk saja, lalu nikmati keindahannya. Sayang, tempat ini belum dilengkapi fasilitas tempat bilas, atau toilet untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Mungkin kelak kalau saya balik lagi kesini fasilitasnya sudah dibenahi ya…
Tips Solo Traveling :
Nggak usah takut, insyaAllah Tuhan selalu bersama kita para musafir.
Terus katanya suka khawatir kalau jalan sendirian nanti foto selfienya gimana?
Pas membayangkan, saya juga agak ragu gimana caranya saya bisa foto-foto selfie mengingat saya sendirian. Tapi kenyataannya gampang banget. Kita bisa bawa tripod, itu kalau yang punya ya…tapi kalau nggak punya tripod atau tongsis, anda bisa berinteraksi dengan pengunjung lain, atau warga setempat. Sebagian besar foto selfie saya diambil oleh guide, warga setempat, bapak ojek, menggunakan fitur smile detection, bahkan beberapa kali juga foto saya diambil oleh fotografer beneran loh. Malah kalau menurut saya, traveling sendirian itu bisa lebih membumi. Karena kita melatih diri untuk nggak egois. Salah satu kekurangan wisata berkelompok adalah, kita suka lupa menyapa warga sekitar karena sibuk komentar ini itu dengan teman sendiri. But its up to you ya…kembali lagi ke pribadi masing-masing 😀
Di pantai Tanjung Tinggi, waktu saya lagi motret, ada fotografer yang lagi motret prewedding juga. Saat dia break, dia malah nawarin motret saya. Katanya buat kenang-kenangan di blog nanti hehe…
Bersambung : Dermaga Tanjung Batu

Resep Lemongrass, herbs and spices beverage, minuman tradisional yang menyehatkan

Resep minuman tradisional bikin langsing memang selalu diburu, khususnya untuk kaum wanita. Kali ini saya akan membuat lemongrass and herbs beverage, ramuan menyehatkan dan berkhasiat yang berbahan dasar rempah Indonesia. Saya membuat ini diilhami oleh negeri kita yang kaya akan rempah, sampai-sampai kalau sakit pun nggak perlu harus ke dokter. Cukup masuk dapur, dan lihat apa saja yang bisa dimanfaatkan.

Continue reading “Resep Lemongrass, herbs and spices beverage, minuman tradisional yang menyehatkan”