Arum Silviani

9 Maret 2016. Gerhana Matahari di Daratan Indonesia

Pagi ini, kumandang takbir menggema berbeda dengan hari biasa.
melantun syahdu, mengiringi pagi yang basah dan lembab
memanggil umat muslim untuk kembali bersujud kepada Allah SWT sebelum memasuki waktu dhuha

Takbir indah, yang hanya dikumandangkan ketika kami, kaum muslim menghadapi hari yang spesial.
Idul Fitri, Idul Adha, gerhana bulan, dan gerhana matahari
Hari dimana kekuasan dan kemuliaan Allah SWT nampak jelas seterang matahari, dan kilaunya lebih dari sinaran bintang gemintang.
Tanda-tanda itu sangatlah jelas, kawan…
baik untuk engkau yang mengakui, maupun tidak mengakuiNya.
Baik untuk yang mau membuka matanya, ataupun berpura-pura menutup mata
dan nampak sangat jelas, baik untuk yang terbuka hatinya, maupun yang saat ini belum mau membukanya.

Berkat ilmu pengetahuan, seluruh penjuru negeri bisa mengetahui kapan persisnya fenomena ini terjadi.
Menikmatinya sebagai sesuatu yang langka.
Namun sejatinya, peristiwa ini bukanlah sesuatu yang baru, bukan temuan para ilmuwan, juga bukan fenomena alam semata.

Jauh sebelum manusia dilahirkan, peristiwa ini sudah jelas tercatat di lauhul mahfudz
hanya saja karena saat pertama kali terjadi, manusia menyangka gerhana matahari maupun bulan merupakan suatu kutukan
sehingga Allah memberi tahu manusia, secara eksplisit dan terang-terangan dalam Al-Quran, mengenai bulan dan matahari
Tak hanya sekali, kawan….
Berkali-kali Allah SWT menyebutkan tentang peredaran matahari dan bulan dalam orbitnya
lalu menganjurkan umat manusia untuk shalat saat gerhana ini terjadi.
Bukan untuk bersujud pada bulan, matahari, atau apapun ciptaanNya.
Sungguh tak ada gunanya. Apalagi bersujud pada ciptaan manusia yang tak berdaya guna.
Kita diperintahkan shalat hanya dan hanya untuk menyembah Allah, sang maha pencipta.

Kenapa?
Logikanya mudah saja.
Bagaimana jika matahari tak bersinar lagi?
bagaimana jika Allah berkehendak bumi ini gelap gulita selamanya?
Bagaimana jika Allah mengumpulkan bulan dan matahari?
dan bagaimana jika, Allah berkehendak untuk melepaskan orbit di alam semesta?
membiarkan bumi, matahari, bulan, dan semua planet bertumbukan?
Padahal kita semua tahu, jangankan jika dibandingkan dengan besaran bumi,
dibandingkan dengan pohon pun kita kalah besar. Kalah kuat.
Tiada daya, yang ada hanya berserah pada kekuasaan Allah SWT.
Mempercayai takdirNya, memahami keputusanNya.

Wallahu’alam bisshawab

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.