Sebuah Cerita Manis dari Kelas Inspirasi Bandung 6

Sebuah Cerita Manis dari Kelas Inspirasi Bandung 6

“Pagiku cerahku, matahari bersinar

Kugendong tas merahku, di pundak

Selamat pagi semua, kunantikan dirimu

Di depan kelasmu menantikan kami….”

Disambut dengan Lagu dan Drumband

Kedatangan kami tim kelas inspirasi Bandung 6 disambut dengan lagu Guruku tersayang. Pukul 07.00 pagi, saat mentari sedang naik ke atas langit, anak-anak siswa Sekolah Dasar Bojongkoneng 114 Kota Bandung berbaris menghadap tiang bendera.

Sekolah mereka juga baru memenangkan kompetisi drumband, sehingga mereka memamerkan kebolehannya. Tidak canggung sama sekali kelihatannya. Justru mereka lihai saat memainkan alat musik.

Kelas Inspirasi Bandung
Penampilan Drumband Siswa Siswi SDN Bojongkoneng 114 Bandung

Semua antusias melihat beberapa orang asing yang berdiri di depan mereka. Mata mereka menatap kami dengan tatapan ingin tahu. Beberapa diantaranya berani bertanya, “teteh darimana?” namun sebagian besar dari mereka hanya berbisik-bisik, tertawa, sambil tak lepas mata mereka mengamati kami satu persatu.

Kami datang ke sekolah ini menggunakan pakaian yang berbeda dari yang biasa dikenakan oleh guru mereka. Beberapa diantara tim kelas inspirasi bahkan mengenakan seragam bekerja, jas dokter, helm engineer, baju khusus lapangan, yang tentunya mampu membuat anak-anak terkesima. Penasaran siapakah kami, darimana asal kami, dan mau apa kami di sekolah mereka.

Ini adalah kali pertama dalam hidup, saya menghadapi anak-anak Sekolah Dasar dalam pendidikan formal. Biasanya saya menghadapi orang-orang di dunia profesional. Memberikan pelatihan, atau mengajar di depan mahasiswa. Lebih mudah tentunya, karena orang dewasa pasti sudah terkondisikan. Sedangkan anak-anak?

Sukses membuat saya kelimpungan.

Kelas Inspirasi Bandung
Berdoa sebelum memulai kelas

Apa sih Kelas Inspirasi?

Kelas inspirasi sendiri merupakan program sebuah komunitas yang menggagas pendidikan anak sekolah dasar. Tujuannya adalah memperkenalkan profesi yang ada di dunia kerja, menginspirasi anak-anak, sehingga mereka berani menanamkan mimpi sejak dini. Mereka juga dapat berpikir lebih terbuka, bahwa profesi yang ada saat ini tidak hanya yang mereka kenal seperti dokter, polisi, guru, pilot atau profesi populer lainnya. Tetapi ada banyak sekali profesi yang belum mereka kenal.

Saya sendiri agak sulit sebenarnya di awal. Saya berpikir keras sejak malam sebelumnya, bagaimana caranya menerangkan profesi dosen kepada anak-anak sekolah dasar. Saya sampai searching di google, berpikir mungkin ada relawan kelas inspirasi sebelumnya yang berbagi cerita. Dengan bahasa yang sederhana tentunya. Namun setelah lelah saya mengubek-ubek mesin pencari, tak juga saya temukan penjelasan yang tepat. Akhirnya saya percayakan saja dengan naluri saya. Bagaimana nanti saja di depan kelas. Biasanya ide sering terlintas saat kita sedang berhadapan langsung dengan audience.

Menyiapkan alat peraga pendidikan

Sehari sebelum hari H, saya siapkan apa yang sanggup saya siapkan. Saya mencoba membuat alat peraga pendidikan. Karena tak mahir menggambar, saya mendownload gambar kartun tentang profesi. Saya print, lalu saya gunting satu persatu. Di belakangnya, saya tempelkan double tape supaya anak-anak bisa memilih, lalu menempelkannya ke papan yang sudah saya siapkan. Saya juga menyiapkan post-it supaya mereka bisa menuliskan cita-citanya yang tak terwakilkan oleh sticker yang saya berikan. Selain itu, dalam semalam saya juga belajar beberapa lagu anak.

Kelas Inspirasi Bandung
Saya dan alat peraga pendidikan

Jujur, karena saya belum punya anak dan jarang bergaul dengan anak-anak, saya pun nol besar dalam hal ini. Saya yang biasa semaunya dalam mengajar, kali ini tidak boleh. Saya belajar bahasa sederhana yang bisa disampaikan kepada anak-anak, juga mudah diterima oleh mereka. Saya menantang diri saya sendiri untuk bisa membuat mereka antusias dan tidak bosan pada saat saya mengajar di kelas.

Memperkenalkan diri dengan profesi dosen

Alhamdulillah, usaha saya tak sia-sia. Senang sekali rasanya ketika mereka menyambut saya dengan gembira di depan kelas. Saya perkenalkan diri saya, juga profesi saya.

“Selamat Pagi anak-anak…”

“Selamat Paagiii…”

“Nama Ibu Arum Silviani, panggil Ibu Arum ya.”

“Iyaaa….” Sahut mereka bersemangat.

“Nah, kalau dilihat dari penampilan, kira-kira pekerjaan Ibu apa?”

“Dokter!”

“Kerja di Bank!”

“Orang kantoran!”

“Dosen!”

Ternyata ada seorang anak yang menjawab benar.

“Iya betul Dosen. Terus…ada yang tahu nggak pekerjaan dosen itu apa?”

Hening seketika. Mereka nampak berpikir.

“Ngajar!” sahut salah satu anak lelaki yang duduk di dua meja di depan saya.

“Iya pintar! Mengajar.”

“Mengajar siapa kalau boleh tahu?” tanya saya lagi.

Mereka semua meringis, nyengir.

“Kalau kalian disini, yang ngajar siapa?”

“Ibu Guruuu!”

“Nah, kalau kakak-kakak yang sekolah di perguruan tinggi, yang ngajar itu namanya Dosen.”

“Ooh…dosen itu yang ngajar mahasiswa ya, teh?”

Saya tersenyum. Mereka kembali memanggil saya teteh. “Iya, betul. Dosen itu yang mengajar mahasiswa.”

Alhamdulillah mereka mengerti. Karena mungkin letak sekolah mereka berdekatan dengan beberapa perguruan tinggi, sehingga mereka tak asing lagi saat mendengarnya. Bisa berbeda ceritanya jika saya kebagian sekolah dasar yang letaknya di pelosok. Boleh jadi akan lebih rumit penjelasannya.

Kelas Inspirasi Bandung
Berebut memilih gambar cita-cita
Kelas Inspirasi Bandung
Kelas 5 yang sopan memilih cita-cita

Saya bersyukur telah menyiapkan alat peraga. Karena ini sangat membantu sekali. Anak-anak antusias memilih cita-cita, tekun saat mendengarkan saya bercerita bagaimana jika dosen itu bekerja, juga mereka berani mengutarakan keinginan mereka jika sudah dewasa nanti. Suasana kelas juga terkondisikan dengan baik. Boleh jadi karena mereka sudah kelas 5.

Berdiri di kelas 3: 30 menit serasa 12 sks

Lain halnya dengan anak-anak kelas 5 yang cenderung mudah dikondisikan, di jam berikutnya saya kebagian kelas 3. Sungguh bikin saya kewalahan dengan tingkah anak-anak ini. Mereka berlarian, memanjat dinding kelas, bergelantungan di jendela, bahkan ada yang sibuk menyanyi dan berjoget dangdut di depan kelas. Tak mau saat diminta kembali ke tempat duduknya.

Kelas Inspirasi Bandung
Kelas 3 yang imut dan manja

Karena usianya yang lebih kecil, mereka juga memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi kepada gurunya. Mulai dari kancing baju copot, kerudung melorot, dan minta dipasangkan tanda pengenal. Jika saya lengah sedikit, maka akan ada anak perempuan yang menangis atau menjerit karena dijahili oleh temannya yang laki-laki.

Sungguh, 30 menit yang setara dengan mengajar 12 sks full. Sangat melelahkan. Tak terbayangkan oleh saya bagaimana ibu guru mereka bertahan mengajar. Sangat sulit dan menantang tentu saja. Selain dibutuhkan fisik dan stamina yang prima, suara juga tak boleh kalah dengan mereka. Jika tidak, jangan harap bisa menyampaikan mata pelajaran dengan baik.

Tapi untunglah, saat saya menghela nafas panjang, saya mengumpulkan energi dan aura (ini memang biasa saya lakukan untuk mengendalikan kelas). Setelah itu, saya bicara pada anak yang paling bandel.

“Ibu punya hal seru. Tapi rahasia.” Kata saya dengan mimik yang sangat serius. Sekaligus menantang.

“Kenapa rahasia?” tanya anak itu antusias.

“Kalau dikasih tahu sekarang nggak seru.”

“Ayolah teh, kasih tahu…” pintanya penasaran.

Anak-anak selalu suka dengan rahasia, bukan? Apalagi jika ia menjadi pemegang rahasia itu.

“Kalau mau tahu, duduk dulu. Ibu mau kasih tahu nih di depan kelas.”

“Oke!!!”

Dan ia pun menghentikan goyang dangdutnya, lalu kembali duduk di bangkunya. Mulailah saya mengeluarkan alat peraga. Dengan syarat, mereka maju dengan tertib. Meskipun tak mudah, ajaibnya cara ini berhasil di kelas saya.

“Teteeeehhh aku mau ke depaan!!!”

“Panggilnya Ibu ya, sayang.” Saya menjelaskan pelan.

“Nggak mau! Teteh aja.” Kata anak tersebut. Dia kembali sibuk dengan alat peraga yang saya bawa.

Kelas Inspirasi Bandung
Semangat menunjuk cita dan asa

Saya pun tak meneruskan. Kali ini memang saya ingin mereka bebas di kelas. Bebas mengutarakan pendapat dan cita-citanya. Saya bebaskan mereka bermimpi. Saya bebaskan mereka berekspresi sesuai dengan kehendak hati. Asalkan satu. Mereka tetap dalam koridor sopan santun dan attitude yang baik.

Kelas Inspirasi Bandung
Sibuk memilih cita-cita

Tadinya saya pikir akan sulit sekali mengarahkan anak-anak. Tapi ternyata, mereka membantu banyak. Mereka seolah mengerti saya tak biasa menghadapi anak-anak, sehingga mereka tak menuntut banyak hal dari saya. Kedatangan saya di depan mereka sudah menjadikan mereka bahagia.

Sebuah Cerita Manis dari Kelas Inspirasi Bandung 6

“Abi bade jadi polisi, teh.”
“Aku mau jadi dokter!”
“Aku Masinis!”
“Aku Pilot!”

Ditengah keramaian mereka, saya menyapu isi ruangan dengan mata saya. Lalu saya lihat, ada seorang anak perempuan yang duduk di ujung ruangan, seolah tak peduli dengan kericuhan teman-temannya. Ia menunduk, sibuk dengan hal lain.

Saya tersenyum menatapnya saat itu. Saya tahu pasti, dia bukan tak peduli. Melainkan takut mengutarakan pendapatnya. Takut dibully dan disoraki teman-temannya saat dia ikut kerumunan itu. Buat kita disoraki adalah hal biasa. Tapi buat anak seusianya, disoraki sanggup mengikis percaya dirinya hingga habis tak bersisa.

Saya juga lihat, ia berbeda dari yang lainnya.

Gadis kecil ini tertunduk, memilih untuk berpikir sendiri apa yang dia mau. Itupun sambil berharap, semoga ibu guru di depan sana, mau menghampirinya, lalu bertanya padanya.

Saya berjalan menghampirinya, lalu saya duduk tepat di depannya. Gadis kecil itu mendongak. Menatap saya dengan setengah kaget.

“Hey cantik, kalau sudah besar nanti, cita-cita kamu apa?”

Ia hanya menatap saya beberapa saat lamanya sebelum menjawab,

“Aku mau jadi Dosen.” Jawabnya lirih. Nyaris tak terdengar.

“Boleh diulangi sayang?” Tanya saya lagi.

“Aku mau jadi dosen.” Jawabnya mantap. Meskipun masih lirih.

Setelahnya, dia kembali tertunduk malu.

Saya tersenyum lebar karenanya.

Kenapa saya bisa tahu perasaannya?

Because she is the little of me.

Saya tahu itu dari cara matanya menatap.

Jauh dari saya yang sekarang, dulu saya adalah gadis kecil sepertinya, yang takut dengan lingkungan.

Kenapa?

Karena suara saya terlampau pelan, sehingga nyaris tak terdengar. Tubuh saya kecil, sehingga kerap kali saya dianggap tak ada oleh teman2 sekelas saya. Mimpi saya tinggi, sehingga saya sering dibully. Dibilang tukang mengkhayal.

Sayangnya, dulu tidak ada seorang guru pun yang menghampiri saya, untuk sekedar bertanya.

Kamu mau jadi apa?

Kelas Inspirasi Bandung
memasang nametag
Kelas Inspirasi Bandung
Bahagia senyum siswa SDN Bojongkoneng 114 Bandung

Life lesson:

Let’s encourage our student and our children. Let them talk to us. If they can’t talk, be patient. Wait until they brave enough to express their will.

Sungguh tidak masalah mereka ingin jadi apa. Cukup kita dengarkan, lalu kita puji. Karena dengan pujian, saya yakin seorang anak akan lebih percaya diri. Tidak gamang saat mengambil keputusan, dan ia bisa lebih bertanggungjawab atas pilihannya.

Kelas Inspirasi Bandung
Balon cita-cita

Terima kasih saya ucapkan kepada:

Panitia Kelas Inspirasi Bandung 6 yang telah memberikan saya kesempatan untuk bergabung. Terima kasih pula pada tim SDN Bojongkoneng 114 Bandung, atas pertemanannya, kerjasamanya, juga sharingnya dengan saya.

Terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan pada tim dokumentasi KIB-6:

Enjang Nurdiansyah, Putri Ayu Rahma, dan Candra (Fotografer yang mengabadiakan setiap moment).

dan Hadi Rijani (Videografer Kelas Inspirasi Bandung 6)

yang tak kenal lelah mendokumentasikan kegiatan kami relawan inspirasi. Tanpa kalian, tentunya moment indah ini tak dapat kami lihat dan kami kenang dengan mata kepala.

Kelas Inspirasi Bandung
Kelas Inspirasi SDN 114 Bojongkoneng

Post Terkait:

Pengalaman pertama mengajar mahasiswa

Sebuah Keputusan – Drop Out Mahasiswa

My Job

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *