Cerita Perjalanan Bandung-Purwokerto bersama KA Serayu

Alun-alun Purwokerto

Purwokerto memang kampung halaman saya. Kota kecil yang berada  di kaki Gunung Slamet nan gagah dan melegenda itu. Suatu tempat yang punya segudang makanan enak, aneka oleh-oleh, juga kekhasan aksennya. Kota tempat saya menjalani masa remaja. Kota yang sayang, jarang dibahas oleh para traveler khususnya soal transportasi, wisata kuliner, rute, juga transportasi lokalnya sehingga kalah pamor dengan kota tetangganya seperti Pekalongan, Wonosobo, atau Cilacap.

Baca juga ini: 1001 Hal Tentang Purwokerto Kota Satria

Continue reading “Cerita Perjalanan Bandung-Purwokerto bersama KA Serayu”

Backpackeran Jilid 3 – Garut

Seperti biasa, kalau mau backpackeran pasti rencananya dadakan. Hari itu Jumat, 17 Oktober 2014. Hari tersebut merupakan hari terakhir kami UTS. Saya bersama dua orang teman kampus (Fitri dan Dian), berencana untuk refreshing di luar kota. Nggak sekedar refreshing lho ya, tapi backpackeran bertema. Kali ini tema yang diusung adalah “Entrepreneurship Tour”. Dari judulnya sudah bisa ditebak kan, kami mau ngapain. Refreshing sambil cari data buat tugas kuliah. Tujuan utama adalah : Kota Garut.
Alasannya : Kota Garut merupakan kota yang beberapa waktu belakangan pertumbuhannya melesat karena banyaknya UMKM yang bermunculan di kota ini. Tidak sedikit juga UMKM di kota ini yang produknya sudah menembus pasar global.

Continue reading “Backpackeran Jilid 3 – Garut”

Bertualang ke Gunung Kidul

Pantai Indrayanti

Pantai pertama yang kami singgahi adalah pantai Indrayanti. Tadinya mau nyari ketenangan disitu sambil minum es kelapa muda. Tapi….rame bangeeet…OMG!
Pantai Indrayanti
Suasana dan pemandangannya mirip-mirip Tanah Lot di Bali. Bedanya disini nggak adaS jampi-jampi ataupun mantra kalau kita mau menyusuri pantai 😀

 

Hanya bertahan 10 menit, kami lanjut lagi ke pantai berikutnya. Pantai Kukup. Tadinya sih mau ke Pantai Jogan. Tapi ternyata jauuuhh….jadi deh kami ngadem di Pantai Kukup saja.

 

 

 

Lumayan lah. Menikmati pantai sambil makan rambutan, manggis, dan cemilan yang dibeli Teh Iva dalam perjalanan tadi. Nunggu sunset yang sore ini ditutup awan kelabu. Bercengkrama sambil bercanda, melepas lelah juga rutinitas sehari-hari. Di Bandung nggak bakalan deh bisa begini (ya iyalah, nggak ada pantai di Bandung).

Adzan maghrib memanggil kami, dan mengingatkan untuk kembali ke Yogyakarta. Esok hari perjalanan dilanjutkan ke Pekalongan (acara utama kami). Sebelum pulang, kami menyempatkan diri makan Gudeg Ibu Widodo di Wijilan. Rasanya enak, dan porsinya gede banget buat saya. Terus mampir lagi ke Bakpia Pathuk 25 beli oleh-oleh.
Kami pakai mobil lebih dari 12 jam. Saya kira bakal kena charge lagi karena kelebihan jam. Tapi ternyata, sama Mas Agung dibebaskan aja. Silakan pakai sepuasnya. Gitu. Dihargain tetap Rp. 300ribu rupiah saja. Makanya highly recommended deh. Kondisi mobilnya baru, supirnya juga nyetirnya nyaman, nggak sradak sruduk. Mas Agung sebagai pemilik mobil juga ramah banget.
Nanti deh ya di postingan tips & trik saya masukin nomernya Mas Agung ini.
Satu Quotes dari saya :
Ketika kamu bepergian dengan sahabat yang menyenangkan, sesederhana apapun hal yang kau lihat, maka akan terasa hangat dan menakjubkan. Waktu pun berlalu tanpa terasa, hingga akhir perjalanan yang kau rasakan adalah rasa lega dalam dada. Tapi jika kau bepergian dengan orang yang moody dalam perjalanan, yang memilih meninggalkanmu karena dia merasa lelah juga mementingkan diri sendiri, maka seindah apapun bumi yang kau pijak, akan terasa hampa. Karena yang kau pikirkan bukan lagi perjalanan yang indah, melainkan perjalanan pulang yang seolah tak kunjung datang.

Ullen Sentalu dan Sepenggal Kisah Cinta dari Kaliurang

Hari kedua, rombongan Bhekti sudah sampai ke Yogyakarta. Tapi rute yang pengen kami tempuh terpisah. Rombongan saya, Mbak Deasy, Teh Ade, Teh Iva dan Mas Yudi pengen wisata budaya, sedangkan Rombongan Ibhek, Stef, Eza, sama temennya (duh lupa namanya) pengen eksplore gunung Purba di Gunung Kidul, sambil mandi di goa jomblang. Sebelumnya, kami sarapan dulu di Malioboro. Makan bubur ayam sambil ngopi-ngopi. Jam 09.00 baru deh berangkat menuju :
Museum Ulating Blencong Sejatine Tatarane Lumaku (Ullen Sentalu), Kaliurang

Sebuah Museum yang terletak di kawasan wisata Kaliurang, pada lereng pegunungan Merapi. Pertama kali lihat reviewnya temen yang pernah kesana. Kelihatannya seru. Dan ternyata…nggak salah pilihan deh kita. Bener-bener wisata budaya yang menghibur, menyenangkan, sekaligus mengedukasi dan nggak bikin bosen sama sekali. Kami diajak menyusuri lorong waktu, menguak sejarah kerajaan Surakarta dengan Kerajaan Yogyakarta yang dulunya sebenernya satu, yaitu kerajaan Mataram. Kami juga dipandu sambil diceritakan aneka macam dongeng yang melegenda, beserta tokoh-tokohnya yang kini terpajang pada lukisan-lukisan di dinding museum.
Kalau kita dengar kata Museum, pastinya ada kesan membosankan, kuno, dan angker. Tapi di museum ini, kami justru diberikan sentuhan yang Jawa banget tapi menyatu dengan era modern. Ditambah lagi pemandunya yang oke dalam menerangkan sejarah demi sejarah yang tak terkuak di buku manapun. Terutama soal keunikan kisah cinta para raja dan puteri di masa lalu.
Disini banyak dibahas kisah para raja dan ratu Jawa, tapi saya nggak ingat semuanya. Satu yang bener-bener nempel di ingatan hanyalah kisah cinta seorang putri, yang saat itu lagi pacaran sama kekasihnya. Sang puteri ini tinggal di Solo, sedangkan calonnya ada di Banten. Mereka saling surat menyurat. Tapi…setiap sang puteri menulis surat, Ayahandanya, sang Raja Mangkunegaran, selalu memeriksa isi surat tersebut. Semula saya kira karena ayahandanya ingin tahu puterinya ngomong apa saja ke sang kekasih. Namun ternyata, yang dilakukan sang raja adalah mengoreksi tata bahasa surat tersebut! Sang Raja khawatir, puterinya yang masih sangat muda bisa melakukan banyak kesalahan grammatical error dalam penulisannya. Jaman dulu, surat menyurat dilakukan menggunakan bahasa Belanda. Orang dianggap pintar dan cerdas jika menguasai bahasa Belanda dengan baik dan benar.Segitu banget ya mereka menjaga harga diri kerajaan.

Tiket masuknya 30 ribu rupiah per orang, sudah termasuk biaya pemandu. Sayangnya, selama proses menyusuri Museum, kami nggak diperbolehkan memotret, ataupun main gadget. Bagus sih, jadi fokus sama mbaknya yang lagi menerangkan sejarah. Lagipula, cuma satu jam kok muter-muter disitu. Setelahnya bebas mau ngapain aja.  

Dari gerbang keluar museum ini, kita juga bisa  menatap gagahnya Gunung Merapi. Dekaaat sekali kelihatannya. Pada perjalanan keluar kawasan Kaliurang, kami mampir ke Tepas. Sebuah lokasi untuk memandang Merapi dari dekat. Wuih, kereeen…kami bisa dapat foto ini :

Dari Gunung Merapi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul. Dari Asam ketemu garam, alias lautan. Nggak puas dong kalau ke Yogya nggak bertualang ke Gunung Kidul. Perjalanan dari Kaliurang ke Gunung Kidul kurang lebih ditempuh selama 2,5 jam. Sebelumnya, kami mampir makan siang dan shalat di sebuah restaurant yang menghadap persawahan. Sejuk dan bikin mata adem. Disini kebanyakan turis asing yang mampir. Rasa makanannya so so aja sih, tapi harganya sama kayak di Bandung. Sekitaran Rp. 25.000 ke atas. Beli suasana mungkin ya.

Bersambung…

Karena Jogja Selalu Punya Cerita – Part 2

Keraton Ratu Boko

Cerita sebelumnya, baca disini

Setelah ISHOMA, kami lanjut perjalanan ke Candi Ratu Boko. Candi ini ditempuh kurang lebih 2 jam perjalanan dari Magelang. 
Mau motret candinya, tapi apalah daya, pasangan ini udah mejeng di depan duluan
Sesampainya disana, langsung foto-foto sambil menikmati pemandangan indah dari ketinggian. Kami juga lihat banyak situs-situs yang baru ditemukan dan sedang digali. Jadi sebenernya, kondisi kompleks candi sore itu agak berantakan. Beda banget dengan keadaan terakhir kali saya ke Candi Ratu Boko.
Jepretan Mbak Deasy
Kami nunggu sunset disitu sambil foto dengan aneka gaya. Mbak Deasy pun atraktif banget dengan gaya “ngadapang” nya. Gara-gara gaya ini, ternyata ada anggota sahabat IDC yang ngenalin. Meilya dari Bangka. Nggak nyangka kan ketemu disini? Biasanya cuma rumpi-rumpi via whasapp aja. Ngenalinnya juga bukan karena wajah, melainkan karena gaya ngadapang alias tengkurep di rerumputan khas mba Deas (Biasanya kalo habis pose begini dia langsung garuk-garuk kegatelan. Tangannya juga bentol-bentol, mungkin digigitin binatang yang protes karena dia tindihin :D)
Meilya (Tengah)

 

 

 

Ketika matahari mulai tenggelam, kami pun segera keluar dari kawasan candi. Mau ditutup soalnya. Pose-pose dulu, sampai akhirnya kami yang terakhir keluar dari Candi Boko.
Lanjut lagi petualangan di Malioboro. Sambil jalan pulang ke Jalan Dagen, kami makan malam. Gelap-gelapan di angkringan untuk makan bakso.
Jogja ini memang unik ya. Tempat makannya cuma bermodalkan lentera. Itupun dari jarak jauh lenteranya, jadi tetap saja gelap gulita. Sendok sama garpu aja bisa ketuker karena nggak keliatan 😀
Jam 21.00 kami semua sudah di penginapan. Istirahat untuk lanjut petualangan esok hari.
Bersambung…

 

Karena Jogja selalu punya cerita

Gara-gara kondangan Februari lalu, tercetuslah trip dadakan ini. Tadinya kami mau ngadem di Baturraden, Purwokerto. Sebelum nantinya akan lanjut perjalanan ke Pekalongan menghadiri pernikahan Bagus. Setelah nelpon sana-sini ngecek penginapan di Baturraden juga transportasi di Purwokerto, hasil analsisis SWOT bikinan saya Purwokerto berada di Kuadran 3. Dimana Weaknessnya nya lebih gede daripada Opportunity nya. Sehingga strateginya harus diubah. Kenapa?
Tanpa saya duga, harga sewa mobil di Purwokerto ternyata mahal banget. Jauh jika dibandingkan sama harga sewa di Jakarta, Bandung, apalagi Yogyakarta. Bahkan harganya mendekati kata “nggak masuk sama akal saya yang seneng backpackeran.” Padahal I know Purwokerto so well ya…kemana-mana deket gitu loh…Terus kalau dikelilingin, Kota Purwokerto nggak nyampe 3 jam selesai kok. 
Pertimbangan lain adalah, Bandung – Purwokerto itu harus pake bus atau travel. Nggak bisa pakai kereta. Karena Kereta Api dari Bandung (Jalur selatan) cuma berhenti di stasiun Kroya, which is about 1,5 – 2 hours to reach Purwokerto. So far kan?
Akhirnya, saya tebarkan racun warna-warni semanis madu ke genggong Bandoengers. “Ayo kita ke Jogja aja!” dan jawaban mereka pun langsung “IYESS!!!”
Mulailah pesen tiket. Kami berniat naik kereta ekonomi Pasundan (ini asli ekonomi ya, berangkatnya dari Stasiun Kiaracondong Bandung). Karena terhitungnya hari itu lagi IMLEK, maka harga tiket pun lumayan. Kiaracondong – Lempuyangan per orangnya kena Rp. 120 ribu. Nggak apa-apa lah ya, yang penting Jogja 😀 
Meskipun konsekuensinya kata Teh Ade adalah : Naik Kereta Ekonomi ini, jangankan bobo cantik, bobo jelekpun susah….
Teh Ade (Kiri), Mbak Deasy (Kanan)
Kondisi kereta api juga penuh, baru agak lowong ketika kami sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.
Tapi tetep happy kok karena perginya bareng sahabat-sahabat tercinta. Bisa ngerumpi sambil melepas kangen (perlu diketahui, meskipun tempat kerja kami deketan, mau ketemuan tuh susahnya minta ampun karena kesibukan masing-masing). 
Stasiun Kiaracondong tempat kami meet-up sudah sangat ramai malam itu. Meskipun agak lebih kecil jika dibandingkan dengan Stasiun Bandung, tapi stasiun ini tetap bersih. Penumpang antri dengan tertib. Kereta Pasundan pun datang dan pergi tepat waktu. 
Sedikit insiden terjadi karena teh Ade salah masuk gerbang. Tapi akhirnya kami semua bisa duduk di kereta tepat waktu. Di kereta itu ada penumpang lucu-lucu yang bangga banget deh nyebut dirinya bencong. Tingkah mereka lumayan buat hiburan akibat terserang syndrome #BoboJelekAjaSusah. Apalagi moment disaat tengah malam, salah satu dari mereka kejatuhan tasnya sendiri pas kereta melewati tikungan. Di tengah keheningan tiba-tiba kedengaran bunyi “Aaaaaaaaaww…” yang lebai banget sehingga membuat kami terpingkal-pingkal.
Buat saya dan teman-teman, ini pertama kalinya kami mendarat di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Stasiun khusus untuk persinggahan kereta ekonomi yang melintasi jalur Yogyakarta. Shubuh itu, suasana yang tenang menyambut kami bersahabat. Menarik kami ke dalam kenangan dan makna yang dalam tentang sebuah rasa rindu. Kumandang adzan mengiringi langkah kami ke mushalla untuk bersimpuh, hingga akhirnya perlahan langit yang hitam kelam berubah menjadi jingga. Menerangi bumi Yogyakarta dengan sinar hangatnya. #mulai puitis ala-ala Kla Project.
Stasiun Kereta Api Lempuyangan, Yogyakarta
Damainya hati, sudah nyampe Jogja. Meskipun belum dapet penginapan. Hehehe…
Dari Stasiun Lempuyangan, kami nyewa mobil ke Malioboro dengan Tarif Rp. 30.000. Tarif tersebut dibagi 5, jadi jatuhnya per orang adalah 6000an. Kami nurutin Mas Yudi yang lagi pengen nostalgia makan pecel yang pagi-pagi suka mangkal di depan Malioboro Mall. Hanya butuh sekitar 10 menit, kami berhenti persis di depan pedagang pecel tersebut. Kami langsung pesan pecel, tapi kasihannya, teh Iva langsung melotot. “Mas Yudi nggak boleh makan pecel. Asem urat!” hahaha…jadi deh yang kepengen berat justru memilih makan nasi rames aja, sambil ngeliatin kami makan pecel dengan nikmat.
Makan Pecel di depan Malioboro Mall
Per orang, kami menghabiskan Rp. 13 ribu rupiah (nasi pecel + telur + teh manis hangat). 
Hal-hal sederhana kayak gini nih yang selalu bikin saya kangen sama Jogja. Bebas makan enak dan murah di pinggir jalan, menikmati suasana pagi Malioboro yang minim polusi (jika dibandingkan dengan pasar simpang dago ya), dan orang-orang yang berlalu lalang dengan santai. Nggak dikejar target kayak di kota tempat kami tinggal. Di Yogya, orang bebas hidup apa adanya dengan mengikuti alur, alon-alon asal kelakon. Ngangenin banget deh. 
Perjalanan dilanjutkan ke Jalan Dagen. Kami memutuskan untuk go show aja nyari penginapan. Beberapa penginapan yang kami singgahi ternyata penuh. 
Tapi kami nggak putus asa. Jalan saja terus menyusuri Jalan Dagen, sampai akhirnya ketemu bapak-bapak yang menawarkan ke kami, “mau nginep di rumah penduduk nggak? Biasa disewakan kalau peak season begini.” Tanpa banyak bicara, kami pun mengikuti bapak tersebut. Tapi ternyata jaringan kamar yang dikoordinir si bapak ini penuh semua. Jadi bapak tersebut ngoper kami ke Mas Agung, hingga akhirnya kami dapat penginapan di rumah ibu..siapa ya namanya…lupa 😀 rumahnya masuk gang sih, tapi cukup bersih dan kondisi kamarnya juga bersih. 
Ada 3 kamar yang disewakan. Satu kamar muat buat bertiga. Saya, Mbak Deasy dan Teh Ade gabung jadi satu kamar, teh Iva dan Mas Yudi satu kamar, dan satu kamar lagi buat Bhekti dan kawan-kawan yang masih dalam perjalanan dari Bandung menuju Jogja. Per kamarnya dibanderol Rp. 120 ribu. Bebas mau berapa orang yang masuk, asal dengan mahromnya. Untuk setiap penambahan orang dalam satu kamar, nggak ada tambahan biaya lagi. Fasilitas kamarnya cuma ada kipas angin sama kasur. Sederhana, tapi bersih.
Kamar mandinya ada 2, juga dalam kondisi bersih. Airnya juga bersih. Terus Mas Agung (yang nganterin kami ke penginapan) nawarin sewa mobil. Tadinya kami sudah disewakan mobil lewat Bagus dengan harga 450 ribu perhari, belum sama bahan bakar. Tapi karena kami nginepnya di penginapan jaringan Mas Agung (jaringan boo…) maka kami ditawari sewa mobil seharian 300ribu saja, sudah sama bensin dan supir. Asik kan? Murah-meriah. Langsung iyess deh. 
Candi Borobudur
Kami istirahat sebentar, ngopi-ngopi sambil gantian mandi. Hari pertama ini tujuan kami adalah Candi Borobudur di Magelang sono. Jam 09.00 teng, kami mulai perjalanan ke Magelang. Sampai di pelataran Candi Borobudur jam 10.30. Jajan-jajan topi dulu sebelum masuk gerbang (Mba Deas doang denk yang jajan topi. Kami-kami tugasnya ngomporin nyuruh beli)
Oh iya, tips ke Candi Borobudur : jangan lupa bawa payung sendiri dan kacamata hitam ya, karena kondisi Candi Borobudur tuh panasnya minta ampun. Pantulan matahari ke bebatuan candi itu loh, yang bikin panasnya spesial banget. Cukup mengoyak kulit kamu meskipun udah nempelin sunblock dengan SPF 30.
Shuttle Train (Baca : Odong-odong)
Harga tiket masuk untuk wisatawan lokal Rp 30 ribu/orang, anak-anak Rp 12.500/anak, wisatawan asing $ 20/orang. Terus kami juga memutuskan untuk naik odong-odong yang nganter sampai ke pintu gerbang candi. Bayar lagi Rp. 7500/orang, sudah dikasih air minum cap Candi Borobudur ukuran 130ml.
Candi Borobudur
Stupa Cantik yang menghadap ke Gunung Sindoro Sumbing 
Teh Ade, Saya, Mbak Deasy, Teh Iva, Mas Yudi
And this is it…Candi Borobudur! The biggest Buddha Temple in Indonesia (or in Asia?).  A long time ago, this temple is one of 7 world wonders. Sekarang sudah nggak lagi. Tapi buat saya, tempat ini masih ajaib kok. Masih keren, masih menyimpan pesonanya sendiri. Apalagi kalau kita perhatikan pahatan-pahatan pada setiap dindingnya. Penuh makna juga punya cerita yang saling berkaitan dan bersambung antara dinding yang satu dengan dinding lainnya. Bayangkan, jaman dulu manusia sudah sedemikian hebatnya memahat. Pahatannya begitu detil dan rapi. Tanpa mesin pastinya. Itu berarti, di masa lalu peradaban manusia sudah sangat tinggi.
Berpose dengan mengandalkan tripod
Hari sudah semakin panas, kami juga sudah selesai mengelilingi arca-arca di Candi Borobudur. Saatnya menunaikan ibadah shalat dzuhur dan ibadah ngisi perut. Kalau tadi berangkatnya ada odong-odong yang mengantar, sekarang kami harus kembali ke gerbang keluar dengan berjalan kaki. 
Cuaca luar biasa panas siang itu. Hingga akhirnya kami pun harus ngadem dulu di museum Candi Borobudur. Ngumpulin tenaga, baru deh lanjut lagi ke tempat mobil diparkir. 
Begitu masuk mobil, Mas Ragil (Supir kami) nganter kami ke Jejamuran. Sebuah tempat makan unik yang semua menunya terbuat dari aneka jamur. Disitu juga ada tempat penangkaran jamurnya. Restaurant ini penuh, dengan harga makanan yang sangat terjangkau. Sekitar Rp 7000 sampai belasan ribu saja. Sudah termasuk pajak. Disitu juga disediakan mushalla yang cukup besar dengan tempat wudhu yang bersih. Sampai-sampai bikin mbak Deasy terlena hingga kaos kakinya ketinggalan di mushalla.
Makanan di Jejamuran
Untuk rasa, makanan yang disajikan disini enak-enak semuanya, apalagi Tomyam jamurnya. Enak banget. Cuma untuk ukuran porsi, kecil-kecil. Jadi buat kamu yang hobby makan, kayaknya pesennya minimal 2 porsi deh setiap menunya. 
Untungnya, harga yang ditawarkan disini sangat ramah di kantong. Terus supir juga dapet ruang makan dan jatah makan khusus. Tadinya kami sempet bingung nyariin mas Ragil yang tiba-tiba ngilang. Ternyata dia langsung gabung sama temen-temennya.
Bersambung (Keraton Ratu Boko)

Ngekost Harian kala Backpackeran? Kenapa nggak?

Urusan penginapan merupakan hal yang paling penting kalau kita mau traveling. Saya kategori orang yang ribet dan memasang standar tinggi untuk sebuah penginapan. Harus bersih, nyaman, dan aman. Intinya, meskipun di kota orang dan lagi ngetrip, kenyamanan tetap terjaga lah ya. Memang sih penginapan fungsinya cuma buat tidur saja, karena kita bakal lebih sering keluar. Tapi menurut saya, kalau kita istirahat cukup dengan kualitas tidur yang baik maka traveling pun akan lebih menyenangkan.
Sebelumnya saya dan teman-teman berniat menginap di Kota Batu. Supaya dekat dengan tempat tujuan wisata yang memang rata-rata ada di Batu. Mulailah saya browsing-browsing penginapan di sekitar Kota Batu. Tapi apa yang saya temukan? Untuk homestay sederhana yang harga normalnya Rp. 400-500 ribu per malam, pada tahun baru dari tanggal 31 Des 2014 sampai tanggal 4 Jan 2015 harganya “menjelma” jadi Rp. 2 juta per malamnya. Sedangkan untuk yang harganya sekitar 700 ribu pada hari biasa, maka pada malam tahun baru harganya “disulap” jadi Rp. 3 juta per malamnya. Kalau menurut saya sih teramat sangat nggak mix sense ya harga segitu. Sudah gitu, dari semua kontak person homestay yang terpajang di website, nggak ada yang berhasil saya telepon. Memang ada kontak kayak line, bbm, whatsapp yang dipajang, tapi nggak direspon sama sekali.
Hanya satu yang respon, Mas Tiger Clan yang saya temukan kontaknya di kaskus. Tapi sayangnya, semua homestay yang dipegang dia penuh. Oke, saya nggak patah arang. Saya putuskan untuk menginap di Malang. Melihat rate kamar yang ditawarkan, ternyata hotel dan penginapan di Kota Malang tetap memasang harga normal dan masuk akal. Kenaikan harga karena peak season pun saya nilai wajar. Namun demikian, saya tetap masih cari yang termurah. Sehingga akhirnya terbersit ide, kenapa nggak ngekost saja? Sekarang kan banyak kost eksklusif yang murah meriah, juga nyaman dengan keamanan yang terjaga pula.
So…saya mulai browsing lagi tentang kost harian di Kota Malang. Pertama saya kontak Kost Harian Bunga Putri yang reviewnya lumayan bagus, namun ternyata penuh. Kemudian saya kontak Kost Harian Safa, yang terletak di Jalan Danau Tondano, Sawojajar. Ternyata ada kamar kosong! Harga sewa per malamnya hanya Rp. 150 ribu dengan fasilitas AC, Televisi 21 inch, meja, lemari, Kamar mandi dalam (Shower dan WC duduk), dan tempat tidur springbed ukuran double. Di harga normal biasanya antara Rp. 110 ribu sampai 120 ribu saja. Langsung saya sewa untuk 4 malam, 2 kamar. Mbak Adrina Mulyani, pemilik tempat kost juga ramah orangnya. Berikut adalah tampilan Safa Kost & Homestay (Semua gambar diambil dari Facebook Safa).
Gedung Safa Kost & Homestay Malang
Oh iya, di kost harian ini, ada fasilitas wifi, kulkas bersama, dan dispenser sehingga kita bisa membuat minuman sendiri. Keamanan lebih terjaga karena dilengkapi CCTV 24 jam. Sayangnya, kamar mandinya tidak dilengkapi fasilitas air panas. Tapi so far, kami nyaman kok nginep 4 hari disini. Terhitung sejak tanggal 31 Januari hingga 4 Januari. Tanpa batasan waktu check in dan check out seperti jika kita menginap di hotel/losmen. Pagi datang, bisa langsung masuk tanpa kena charge lagi.
Kamar Tidur
Kamar Mandi
Koridor
Ruang duduk
Buat yang pengen rental mobil, di daerah ini banyak. Tinggal pilih saja. Atau mau pakai punya mbak Adrina juga bisa. Tapi buat yang nggak pengen rental mobil, transportasinya mudah kok. Di depan Safa Kost & Homestay ini ada angkutan umum yang bisa mengantarkan kita ke pusat kota Malang. Atau kalau mau, bisa telepon taksi biar diantar keliling-keliling. Terus nggak usah khawatir soal makanan, di Jl. Sawojajar, Jl. Danau Kerinci, yang letaknya nggak jauh dari Homestay banyak terdapat rumah makan yang menyediakan menu makanan dengan rasa yang lezat, dengan harga super murah. Mini market juga dekat sekali dari Safa.
So, buat kalian yang mau menjelajah Indonesia tapi nggak punya uang lebih untuk akomodasi, atau yang ingin tetap nyaman meskipun lagi backpackeran, kost harian bisa menjadi pilihan yang tepat. Pastinya, kost harian ini lebih bersih dan terawat dibandingkan dengan motel, hostel, atau losmen kecil. Dan pastinya, lebih aman karena kost harian biasanya berada di tengah pemukiman warga, atau dekat dengan kampus sehingga risiko bahwa tempat tersebut merupakan “daerah mesum” sangatlah kecil.
Alamat dan CP Safa Kost & Homestay :
Jl. Danau Tondano Raya F4 A14 Sawojajar, Malang.
Adrina Mulyani (085796005757/081248064907)
Facebook : Safa Kost & Homestay
*Kalau dari stasiun, Bisa Naik Angkot MM, lalu sambung CKL. Ongkosnya per orang Rp. 4000 untuk masing-masing angkot. Atau bisa naik taksi dari depan stasiun untuk langsung diantar ke Safa dengan tarif Rp. 35.000.
*Kalau ke Bandara, perjalanan sekitar 20 menit saja. Ongkos taksi juga nggak jauh beda, kalau pakai argo (Ken Dedes Taxi) hanya sekitar 37 ribu. Tapi biasanya supir minta tips dan uang parkir Rp. 5000. Kalau pakai taksi bandara 70 ribu.
Kelebihan :
Bersih, fasilitas lumayan lengkap, daerah tidak terlalu jauh dari pusat kota, pusat kuliner, pusat oleh-oleh, stasiun, dan bandara.
Kekurangan :
Bagi yang tidak menyewa mobil dan menggunakan angkot sebagai sarana transportasi, angkot khusus kompleks (CKL) hanya sampai jam 6 sore. Lebih dari jam itu, jarang ada angkot yang melintas. Dan karena menggunakan angkot, rute yang ditempuh jadi berputar, sehingga seolah Safa ini jauh kemana-mana.
Meskipun bersih dan modern, ukuran kamar mandinya terlalu sempit.
Recommended : (Rate : 3,5/5)
Selamat bertualang!

Malang City, in my point of view

 

 

Tugu Malang

 

Udara di Kota Malang ini nggak jauh berbeda dari Kota Bandung. Itu pastinya yang bikin saya nagih datang kesini. Tapi yang utama adalah kulinernya yang memanjakan lidah. Keunggulannya bukan hanya kelezatan rasanya, tapi juga harganya yang murah dan nggak bikin kantong bolong. Selebihnya, Malang menawarkan nuansa sederhana dan belum terlalu padat seperti kota Bandung. Salah satu yang saya suka adalah ruas jalannya yang lebar, dengan sanitasi yang baik sehingga memberikan kesan tidak sumpek.
1. Well, pertama saya review dulu Tugu Malang. Tempat ini memang populer untuk hangout. Terletak persis di depan Balaikota Malang, dan sangat dekat dengan stasiun kota Malang. Tugu ini saya bilang nyaman untuk kita jalan-jalan atau sekedar duduk-duduk sambil bersantai menikmati sejuknya udara kota Malang. (Point : 5/5).
2. Ijen Boulevard menjadi salah satu jalan favorit saya di Malang. Karena dengan tampilannya yang cantik, bersih, dan juga bersejarah, jalan ini punya pesona tersendiri buat saya. (Point : 5/5).
3. Taman Pintar, di depan stasiun Kota Malang
Konsepnya cukup bagus sebenarnya, ada perpustakaan di tengah taman, patung singa, juga aneka tanaman yang bisa memberikan edukasi untuk anak-anak. Tapi…kalau saya lihat sih taman ini agak kumuh ya…nggak tau tuh. Mungkin karena banyak pedagang kaki lima mengitarinya, dan juga…banyak sampah di dalam taman itu. Padahal taman pintar selalu ramai dikunjungi karena letaknya yang strategis dan free of charge. (Point: 2/5).

4. Gajayana Stadium.

Stadion Kebanggaan Ngalamers, juga salah satu tempat latihannya Ongis Nade (Singo Edan), sebutan untuk tim sepak bola Malang. Ini juga jadi salah satu spot favorit saya kalau ke Malang. Udaranya sejuk, bersih, dan tentunya…banyak kuliner lezat di sekitarnya. Satu yang paling saya suka adalah Rujak Manis Semeru yang terletak di Utara Stadion Gajayana. Potongan buahnya itu lho…nggak nanggung-nanggung. Besar-besar, dan porsinya sangatlah banyak. Buat saya, satu porsi bisa untuk bertiga. Selain potongan buah-buahan segar seperti bengkuang, nanas, timun, kedondong, dan mangga, rujak ini juga dilengkapi potongan tahu petis yang menambah keunikan citarasanya. Tak lupa, bumbu kacangnya yang benar-benar menggoyang lidah. Satu porsi rujak manis Semeru dibanderol Rp. 16 ribu. Rasanya? Highly Recommended! (Point 5/5).

5. Pusat Kerajinan Keramik Dinoyo.

Meskipun cuma numpang lewat, pusat kerajinan keramik ini cukup menyita perhatian saya. Keramik Dinoyo tidak hanya terkenal indah, tapi juga murah. Murah nggak berarti murahan lho…Range harga dari 1.500 rupiah sampai 20.000 rupiah saja. Anda sudah bisa mendapatkan keramik dengan kualitas baik dan aneka bentuk yang cantik. (Point 4/5).

6. Sikap masyarakat Kota Malang sangatlah ramah, welcome, dan helpful. Tak usah segan tanya rute atau jalan. Dijamin anda nggak bakal disasarin deh. Baik itu pejalan kaki, supir angkot, supir taksi, warga sekitar, semuanya sangat helpful dan jujur. Kalau belanja, anda juga nggak akan ditipu soal harga.  

(Point : 5/5).

7. Tapi kekurangannyaa….

Hampir nggak ada toleransi buat para pejalan kaki! I hate this one. Contoh ya, Saya lagi mau menyebrang jalan. Saya tertib tuh menggunakan zebra cross. Tangan saya sudah melambai mengisyaratkan kalau saya mau menyebrang, tapi yang namanya pengendara motor dan mobil, enggan memberikan jalan. Terutama motor yang selalu cari celah untuk mendahului. Perbuatan yang tak jarang sangat membahayakan para pejalan kaki. Padahal apa yang mau dikejar coba? Toh di Malang hampir tidak ada tempat macet. Di Malang, ada fasilitas lampu merah untuk para penyebrang jalan. Kita bisa menekan tombolnya, dan traffic light pun akan menyala hijau untuk pejalan kaki, dan merah untuk kendaraan bermotor. Fasilitas ini juga dilengkapi sirine yang berbunyi nyaring saat lampu pejalan kaki menyala hijau. Tapi….entahlah. Lampu ini sepertinya dianggap formalitas buat para pengendara kendaraan bermotor di Malang. Jadi meskipun sudah nyala, jarang banget ada kendaraan yang berhenti sukarela buat nunggu kita menyebrang jalan. So, buat anda yang memutuskan jadi pelancong ke Malang dan jadi pejalan kaki, harus ekstra hati-hati. Fasilitas penyebrangan sudah sangat memadai, tapi sikap pengendara belum mampu mengimbangi fasilitas yang ada. Hal ini juga berlaku kalau anda ke Batu. Saat menyebrang, harus ekstra hati-hati meskipun kondisi jalannya sempit. Karena seringkali ada…saja pengendara yang nyelonong di depan kita. Ngebut pula. (Point : 0/5)

8. Alun-alun Kota Malang 

Mungkin Alun-alun ini sedang dibenahi saat saya bertandang. Tapi rasanya, dari tahun 2011 hingga terakhir Desember 2014, kok nggak beres juga. Hehehe…no offense ya…
Alun-alun Kota Malang adalah sebuah tempat yang terletak di jantung kota Malang, dengan tatanan yang indah sebenarnya, ada kolam air mancur di tengah alun-alun, banyak pepohonan dan tempat duduk untuk bersantai, udaranya sejuk, tapi….Super Duper kumuhnya. Pedagang kaki lima tumplek blek disitu. Sampah-sampah bertebaran meskipun tempat sampah tersedia dimana-mana. Terrible menurut saya. Sayang ya, Alun-alun kan sebagai icon penting suatu kota. Fasilitas publik yang seharusnya dijaga dengan baik. Semoga kelak kalau saya kembali lagi ke Malang, saya bisa duduk santai di tempat ini sambil menikmati suasana kota Malang yang menawan. (Point 1/5).

9. Masjid Agung Malang & Gereja Kayutangen Malang
Keduanya merupakan tempat ibadah yang saling berdampingan asri, dan berada di depan Alun-Alun Kota Malang. Berbeda dengan alun-alun Kota Malang yang semrawut, kedua tempat ibadah ini begitu syahdu. Bersih, dan menawarkan pesona masa lalu yang menghormati perbedaan. Masjid Agung dan Gereja ini mengingatkan saya pada Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta, yang letaknya juga berdampingan. (Point : 5/5).


10. Stasiun Kereta Api Kota Malang
Meskipun Stasiun ini sederhana dan fasilitasnya tak selengkap stasiun Bandung, tapi entah kenapa saya suka gaya bangunannya. Stasiun Kota Malang punya pesona tersendiri dan selalu indah dipandang di mata saya. Agak sempit sih, tapi bersih. (Point : 4/5).

11. Bandara Abdul Rachman Saleh
Sebenarnya Lanud, seperti Husein Sastranegara. Terletak di wilayah Angkatan Udara Malang, dan jarak tempuh dari gerbang ke dalam bandara lumayan jauh. Seingat saya, Lanud ini terbuka untuk penerbangan sipil sejak tahun 2011. Dan saat itu saya hanya bayar airport tax 6000 rupiah saja. Dulu belum ada yang namanya kafe-kafe di depan bandara. Sekarang di dalam bandara sudah ada kafe. Ruang tunggu juga sebenarnya sudah dibenahi jadi lebih representatif. Namun saat ini fasilitasnya kurang memadai untuk menampung jumlah penumpang yang melonjak tinggi. (Point 3/5).

 

Segitu dulu review dari saya tentang Kota Malang. Saya kasih point berdasarkan pendapat pribadi. Nggak ada alasan apapun, hanya untuk memberikan tips kepada anda yang ingin berkunjung ke Malang dengan aman dan nyaman. Suatu Kota nggak ada yang sempurna. Untuk menuju berkembang, pastilah butuh aneka pembenahan. Seperti Malang yang kini sedang berbenah. Sisanya, tempat-tempat wisata di sekitaran Kota Malang dan Batu akan saya review terpisah, supaya lebih detail dan jelas. So, jangan ragu untuk eksplore Malang.
Selamat berkunjung ke Malang!