Menguak Tragedi Gerbong Maut di Museum Brawijaya

 

Pintu Masuk Museum Brawijaya

 

Gagah. Itu kesan pertama saat saya menginjakkan kaki di pelataran Museum Brawijaya. Museum yang terletak di Jalan Ijen No. 25 Malang ini diresmikan tanggal 4 Mei 1968 oleh Kolonel Pur. Dr. Sewondo. Dengan mengusung semboyan “Citra Uthapana Cakra” yang artinya “sinar yang membangkitkan kekuatan”, saya rasa museum ini memang demikian adanya. Tepat di tengah pintu masuk, terpampang patung Sang Panglima besar yang terkenal gagah berani dengan strategi gerilyanya yang brilian, Jenderal Soedirman. Saya tersenyum sejenak. Bangga juga kalau saya satu kampung halaman dengan Sang Panglima ini.
Tanpa buang waktu, saya menaiki tangga, lalu masuk lewat pintu utama. Membeli tiket seharga 3 ribu rupiah saja. Tepat di atas meja resepsionis ini, saya melihat jajaran foto Para Pangdam Brawijaya dari periode ke periode. Selanjutnya, saya melangkah ke sisi kanan gedung, dimana terdapat sebuah mobil kuno berwarna hitam, serta deretan senjata laras panjang aneka tipe, granat, meriam hasil rampasan arek-arek Suroboyo dari musuh. Galeri foto dan lukisan juga menghiasi ruangan ini. Foto disusun berdasarkan urutan sejarah, yang menggambarkan betapa gagah beraninya Tentara Nasional Indonesia pada saat itu. Meskipun dengan keterbatasan, semangat mereka tetap berkobar demi mempertahankan ibu pertiwi.

 

Koleksi Senjata
Selanjutnya saya melangkah ke sayap kiri gedung. Disini terpajang aneka senjata, piagam penghargaan, juga foto-foto yang memuat operasi pemberantasan pemberontakan yang pernah ada di negara Indonesia. Entahlah, ketika saya melihat foto-foto itu, saya justru bertanya-tanya, apakah sungguh mereka pelakunya? Mungkin diantaranya ada yang benar-benar terlibat, terpancar dari sorot mata yang cerdas juga licik. Namun ada beberapa orang yang ekspresi wajah juga sorot matanya memancarkan ketidaktahuannya, ketakutan, kepasrahan yang mendalam, dan meminta pertolongan. Terus terang, untuk di bagian ini, saya agak kurang suka, terlebih ketika foto-foto tersebut menampilkan mayat “sang pemberontak” yang mengenaskan. Sungguh membuat nyali ciut. Sehingga saya pun buru-buru menyingkir dari tempat ini.
Saya melangkah ke taman belakang. Disitulah terdapat salah satu dari tiga gerbong maut yang melegenda. Yang kisahnya bisa membuat siapapun trenyuh, pilu, juga berpikir, betapa jahatnya manusia. Perbuatannya justru jauh lebih kejam dibandingkan dengan hantu-hantu yang katanya sih suka mengganggu. Gerbong ini merupakan saksi bisu sepenggal kisah sejarah para pejuang bangsa. Pada tanggal 23 September 1947 pukul 01.00 WIB para pejuang kemerdekaan yang ditawan di penjara Bondowoso (sekitar 100 orang) diangkut dengan menggunakan gerbong barang untuk dipindahkan ke Penjara Bubutan Surabaya. Kondisi yang berdesak-desakan dalam gerbong sempit, ditambah pintu dan jendela yang ditutup rapat selama perjalanan membuat udara dalam gerbong sangat panas. Sehingga ketika sampai di Stasiun Wonokromo Surabaya, 46 orang meninggal, 11 orang sakit parah, 31 orang sakit, dan yang sehat hanya 12 orang. Itulah awal mula kenapa gerbong ini disebut gerbong maut.
Gerbong Maut (Tampak Samping)

 

Gerbong Maut (Tampak Depan)
Puas melihat-lihat, saya pun naik ke rooftop gedung museum ini. Ternyata…pemandangan dari rooftop sangatlah menawan. Kita bisa melihat Jalan Ijen yang terkenal dan bersejarah terbentang cantik di bawah sana. Di kanan kirinya terdapat pohon Palem raksasa yang tinggi menjulang. Gedung-gedung kuno pun berjajar anggun, memberikan suasana hangat saat menatapnya.
Pemandangan dari Rooftop Museum Brawijaya
Penilaian saya, untuk harga tiket 3 ribu rupiah saja, worthed lah ya…kita bisa melihat benda-benda bersejarah yang dapat memberikan pengetahuan tambahan dan membuka cakrawala tentang dunia kemiliteran.
Recommended (3,5/5)

Mengulik Sejarah Masa Lampau di Museum Malang Tempoe Doeloe

 

 

Ceritanya memang lagi penasaran karena Museum ini pernah diliput di salah satu stasiun TV swasta. Nah, hari pertama saat bertandang ke Kota Malang, saya dan kawan-kawan langsung menuju tempat ini. Letaknya nggak terlalu jauh dari penginapan kami. Tepatnya di Jalan Gadjah Mada, belakang Balai Kota Malang. Harga tiketnya Rp. 15.000/orang.
Museum ini cukup unik buat saya, karena kita diajak menyusuri lorong sejarah. Sejak jaman purbakala, kemudian kejayaan kerajaan Majapahit, masa-masa penjajahan Portugis, Belanda, Jepang, hingga ke masa kini. Semuanya dilengkapi dengan koleksi benda-benda purbakala, arca-arca, artefak, benda seni, benda-benda bersejarah seperti Alu, alat-alat pertanian, kamera, blueprint gedung-gedung tempo dulu, sepeda, dan masih banyak lagi yang lainnya. Disini juga terdapat beberapa patung unik yang menarik mata. Diantaranya ada patung Brahmana yang melayang di udara dengan membawa kendi untuk pemberkatan, patung seorang laki-laki yang sedang duduk takzim dan bertapa, patung yang duduk di atas gubuk beratapkan jerami, dan yang paling unik, adalah patung tentara yang sedang berada dalam tahanan.
Kalau untuk saya, konsep yang dihadirkan museum ini cukup menarik. Kesan misterius juga terasa di beberapa spot. Nggak usah saya sebutkan lah ya spotnya dimana…kalau anda datang sendiri, anda bisa merasakannya secara langsung. Sekilas, dari depan tempat ini tidak begitu besar. Tapi begitu masuk, ternyata di dalamnya cukup luas, dengan penataan yang apik sehingga meskipun artifisial, kita tidak bosan dan seperti ditarik untuk menyusuri lorong sejarah di setiap bagiannya.
Notes : Recommended (4/5)

Kutho Solo #Day 2 – Rumah Batik Iwan Setiawan, Kampung Batik Kauman Surakarta & Pusat Grosir Solo

 

 

Bangun pagi-pagi, sarapan sebentar, terus dianterin sama Pak Wisnu ke Rumah Batik Iwan Setiawan. Mau kursus batik singkat. Bayar IDR 50ribu, tapi disuruh siapin pensil sendiri. Ya udah, kami beli dulu pensil deh. Eh…di tempat kursus dikasih pensil lagi. Meskipun kondisi pensilnya sudah nggak karuan.
Rumah batik Iwan Setiawan ini letaknya nggak jauh dari homestay. Jalan kaki lima menit saja, sampai deh…kami sudah ditunggu mbaknya disana. Satu buah kanvas berukuran 30x30cm diberikan pada kami. “Lho…ini mau diapain, mbak?” tanya saya bego. Kata si mbaknya suruh digambar pola batik. Hah? Gambar? Saya kan paling nggak bisa gambar. Apalagi gambar batik. *tepok jidat. Tapi kata mbaknya harus gambar sendiri. Maka mulailah kami berkreasi.
Ini pengalaman pertama saya membatik. Juga pertama buat kami bertiga. Berkali-kali malam dalam canting saya keluar seenaknya, memberikan titik-titik noda jelek di atas kanvas. Butuh kesabaran ekstra untuk membatik seperti ini. Kurang lebih satu jam kemudian…jadilah batik kami…
Masih sketsa yang ditorehkan malam. Selanjutnya proses pewarnaan. Kami menggunakan pewarna buatan. Ya sudah, saya pun mewarnai bebas. Terus saya kasih tanda tangan. Narsis banget ya? Biarin lah. Batik ciptaaan saya kok. Hihihi…
Eng ing eng….inilah salah satu batik narsis milik Bhekti :
Batik Narsis

 

Setelah membatik kami beli beberapa souvenir buat dibawa pulang. Di depan galeri juga kami membeli makanan khas buat oleh-oleh. Oh iya, untuk belajar membatik ini, kita dikenakan tarif IDR 50ribu/orang. Hasil batik juga bisa dibawa pulang. 
Balik lagi ke homestay, terus di tengah jalan ketemu penjual sate. Langsung lah kami beli sate 30 tusuk, kami bawa pulang ke homestay. Rasanya enaaak….

 

Pusat Grosir Solo
Semula setelah belajar batik kami hendak ke tawang mangu. Namun ternyata sewa mobil dari homestay mahal banget. IDR 400ribu hanya untuk sekitar empat jam. Langsung berhitung dong…supir yang biasa nganterin saya Bandung-Jakarta saja nggak segitu. Akhirnya kami nggak jadi. Memutuskan jalan-jalan keliling kota Solo saja. Apalagi kalau bukan shopping? Belanja di PGS! Batik tentunya…

 

Buat anda yang tidak pandai menawar, memang disarankan belanja di PGS daripada di Pasar Klewer. Pusat Grosir Solo ini terletak di tengah-tengah kota. Isinya lengkap. Mulai dari kain batik, kaos batik, tenun batik, dan lain sebagainya. Komplit. Namun yang saya kecewa, batik yang dijual disini jarang banget batik Solo. Kebanyakan justru batik Pekalongan. Dimana batiknya adalah jenis batik printing. Bukan kain batik, melainkan kain bermotif batik. Buat saya pecinta batik tulis dan batik cap, tentunya malas membelinya. Sedangkan batik asli Solo saya tidak tahu tempatnya di sebelah mana. Kami hanya membeli beberapa bahan kain dan kaos batik untuk keluarga dirumah. Kaki sudah pegel, akhirnya makan rujak deh di depan PGS. Sebrangnya tepatnya. Sambil menunggu taksi yang lewat. Murah lho rujaknya, cuma IDR 5ribu. Porsinya buanyak banget. Sepiring penuh. Bahkan kita bisa memesan rujak serut. Bumbunya disiram gitu diatas serutan buah-buahan. Pedas, menyegarkan.  
Rujak di Sebrang PGS

Museum Batik Danarhadi


Lumayan jauh juga lho kami jalan kaki. Efek kekenyangan, jalannya jadi gigi satu. Alias alon-alon asal kelakon. Melihat Pusat Grosir Solo, tergoda hati ingin belanja. Tapi kan kami kesini utamanya mau jalan-jalan. Akhirnya karena kaki pegel, kami naik becak. Tujuan berikutnya : Museum Batik Danarhadi. Lagi-lagi kami naik becak bertiga, dengan posisi saya dipangku. Terima saja lah kodrat orang kurus. Di jalan kami sampai dilihatin sama cowok ganteng. Asli ganteng! Si Bhekti sampai nggak berkedip tuh melihat mas-mas berbatik coklat, berkulit kuning langsat. #Jiahhh…saya juga denk. Kapan lagi coba ngeceng? Tapi kami harus berucap, Daddaa….
Sekitar lima belas menit, kami sampai di depan sebuah bangunan yang anggun, bercat putih nan megah. Ckckckck…kereeen…
Ternyata itu sebuah kafe. Sempat terbersit dalam hati, ingin mencicipi menu di kafe itu. Padahal si perut sudah kekenyangan hehehe…
Kami pun langsung masuk ke gerai batik Danarhadi. Museumnya dimana, ya??? Tanya ke resepsionis, kami diberikan tiket, dan disuruh bayar IDR 25ribu. Begitu masukk….wuihh kereeeen…aneka macam batik ada disitu. Lengkap. Super lengkap. Koleksi pribadi pemilik Danarhadi. Kami didampingi seorang pemandu yang baik hati dan tidak sombong. Namanya Mbak Erna. Halo mbak Erna…masih inget kami nggak?
Mbak Erna ini lulusan Sastra Inggris UNS. Darinya, kami tahu kalau seluruh pegawai dan staf Danarhadi yang bekerja di outlet Danarhadi Solo, minimal lulusan S1 dan mahir berbahasa Inggris. Hal ini memang sudah jadi syarat dan ketentuan wajib jika ingin menjadi pegawai di Danarhadi. Alasannya, supaya mereka bisa menerangkan tentang Batik ke wisatawan mancanegara. Demi batik yang mendunia. Disini Mbak Erna menerangkan asal-usul batik, satu persatu. Banyak banget deh pengetahuan soal batik yang didapat. Mulai dari filosofinya, kemudian motif-motifnya seperti batik parang, batik tiga nagari, batik encim, batik sogan, pokoknya semua batik deh. Harganya rata-rata puluhan sampai ratusan juta. Banyak diantaranya tergolong batik yang langka. Aduh…jadi makin cinta deh sama Indonesia. Kainnya luar biasa! Ini baru batik lho…belum songket, tenun ikat, tapis, ulos, dan lain sebagainya. Sayang, kami nggak boleh mengambil gambar di museum ini.
Pabrik Batik Danarhadi
Selesai di museum, kami diajak melihat proses pembuatan batik. Mungkin ini pertama kalinya saya melihat orang membatik. Saya tercengang. Kagum. Sungguh luar biasa. Saya jadi makin menghargai batik. Prosesnya panjang, memerlukan kesabaran dan ketelatenan tingkat tinggi. Ibu-ibu pembatik sangatlah ramah. Saya disuruh mencobanya, tapi baru sebentar sudah pusing duluan. Besok lah, saya les membatik. Coba-coba. 
Menggambar Pola Batik
Berpose dengan ibu-ibu pembatik
Diajari membatik

Sebelum melihat proses ini, saya kira membuat batik cap itu gampang. Memang sih, pembuatannya tak serumit batik tulis. Namun ternyata…batik cap tak kalah rumitnya. Rata-rata yang mengerjakan adalah para lelaki. Karena menurut Mbak Erna, cetakan batik yang terbuat dari tembaga itu berat. Saya mencoba mengangkat satu alat cetak batik yang sudah tidak terpakai. Oh my God! Beraaat!!! Berapa kilo nihhh??? Belum lagi menyatukan motifnya. Susah lho…
Para lelaki membuat batik cap
Proses membuat batik cap

Cetakan batik yang terbuat dari tembaga
Saya sempat mengobrol dengan salah seorang bapak pembuat batik cap. Beliau mengatakan, kalau satu helai batik dapat Ia selesaikan dalam tiga hari. Berbeda dengan batik tulis yang prosesnya bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya. Tiga hari cuma dapet selembar? Dengan waktu kerja 8-12 jam? Pantesan bapak itu berotot. Saya merekomendasi, buat anda yang suka ngegym, cobain deh bikin batik cetak. Selembaar…aja. Hihihi…
Bapak itu terlihat hati-hati sekali saat mencetak motif batik. Ya iyalah…kalau salah kan harus dibuang. Ulang dari awal. Subhanallah…Amazing! Bahkan hanya dari satu tempat saja, saya sudah terpesona sedemikian dalamnya dengan negeri ini.
Awalnya, berasa mahal banget masuk museum doang bayar 25ribu. Tapi begitu membandingkan dengan pengetahuan dan pengalaman yang didapat, Walaaah, 25ribu sih nggak ada apa-apanya. Puas bangeeeeettt!!! Highly recommended mengunjungi Museum Ini jika anda ke Solo. Terletak di pusat kota Solo, anda takkan sulit menemukannya. Tepatnya di Jl. Slamet Riyadi 261 Surakarta.
Berpose bareng Mbak Erna
Usut punya usut, ternyata pacarnya Mbak Erna tuh orang Cirebon. Kakak kelasnya si Bhekti waktu SMA. Makanya jadi reunian deh…
Pulang dari museum Danarhadi, kami berniat jalan kaki ke Homestay. Tapi apalah daya…begitu melihat warung bakso, dengan sendirinya kaki ini belok. Terus duduk disitu. “Mas! Bakso spesial tiga mangkok!”

Tapi…kali ini kami harus kecewa. Baksonya nggak enaaak!!! Mana mahal pula! Padahal ini di Solo lho…kenapa baksonya nggak enak? Apa mungkin para penjual bakso enak di Solo kabur semua ke Jakarta, Bandung, dan menyebar ke seluruh pelosok Indonesia? #Hanya mereka dan Tuhan yang tau. 
To be continue….

Sasando, Dawai Cinta dari Nusa Bunga

Replika Sasando di Lobby Hotel Sasando Kupang
Pertama kali saya ke Kupang tahun 2010, saya sudah mengagumi alat musik tradisional yang satu ini. Bentuknya unik, dan suara yang dihasilkan pun unik. Sasando adalah sebuah alat instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Instrumen ini berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur atau dijuluki sebagai Nusa Bunga. Dalam bahasa Rote, Sasando disebut Sasandu. Artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Bentuk Sasando mirip dengan gitar, biola, dan kecapi. Saya pribadi lebih setuju jika alat musik ini mirip harpa. Bagian utama Sasando berbentuk tabung yang terbuat dari bambu. Pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi penyangga atau dalam bahasa Rote disebut Senda, yang berfungsi untuk merentangkan dawai-dawai. Senda ini menghasilkan nada yang berbeda-beda pada setiap petikan dawai.
Setelah “tabung berdawai” jadi, selanjutnya diberikan wadah yang terbuat dari anyaman daun lontar atau siwalan yang dibuat menyerupai kipas. Wadah inilah yang berfungsi sebagai resonansi alat musik Sasando. Saat dimainkan, Sasando mengeluarkan bunyi mirip seperti gitar, namun lebih khas dan lebih bening.

Saat ini Sasando justru populer sebagai alat musik khas Kupang. Pada Sail Komodo yang berlangsung pada Juli 2013, Sasando turut diperkenalkan pada dunia. Salah satu desa pembuat alat musik Sasando terletak di Desa Oebelo, Kupang. Desa ini hanya berjarak kurang lebih 10 km dari pusat Kota Kupang. Jadi, jika sahabat pecinta Indonesia berkunjung ke Kupang, anda bisa mendatangi tempat ini untuk sekedar melihat pembuatan alat musik Sasando, atau membelinya sebagai buah tangan. Jika anda menginginkan untuk dapat memainkan alat musik ini, maka anda pun dapat mengikuti kursus singkat yang diberikan oleh para pembuat Sasando. Menarik bukan?

“Maimo Kumolintang”, Alunan Merdu Tong Ting Tang dari Minahasa

Kolintang Minahasa
Pada episode sebelumnya saya menuliskan keindahan Minahasa dan Tomohon dalam balutan panoramanya, kali ini saya ingin bercerita tentang keindahan alunan musiknya. Sebut Saja Kolintang. Alat musik tradisional yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Jangan keliru menyebutkannya sebagai Kulintang. Karena beda sebutan, beda alat musiknya. Berdasarkan sejarah tentang alat musik Kolintang yang saya peroleh dari berbagai sumber, Kolintang Minahasa terbuat dari kayu yang jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah. Jenis kayu yang dipilih adalah kayu yang agak ringan, namun padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar. Antara lain kayu kakinik, kayu telur, wenang, bandaran, atau sejenisnya. 
Kata Kolintang sendiri berasal dari bunyi : Tong (Nada Rendah), Ting (Nada Tinggi) dan Tang (Nada Tengah). Orang Minahasa biasa bilang “Maimo Kumolintang” yang artinya mengajak orang lain bermain Kolintang. Jika dimainkan satu nada, bunyinya bening, hampir mirip piano. Namun jika dimainkan satu set secara lengkap, harmonisasi Kolintang ini mirip-mirip Angklung. Bahkan kini, Kolintang sudah banyak dikolaborasikan dengan alat musik modern dan mengiringi lagu-lagu hits kontemporer. Percayalah, musik Indonesia memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Karena bahasa musik adalah universal, maka tentunya tidak salah jika kita berbangga, musik tradisional Indonesia, memang juaranya.

Saung Angklung Udjo, Melodi Indah dari Ranah Sunda

Konser Pembukaan

 

 

Kalau bicara soal alat musik tradisional, Indonesia juaranya. Meskipun belum ada yang menyatakan secara pasti berapa jumlah alat musik tradisional di bumi Merah Putih, namun kita pantaslah bangga dengan keragaman musikalitas negeri sendiri. Salah satunya Angklung, alat musik tradisional dari Jawa Barat yang mendunia. Pada tahun 2010, UNESCO mengukuhkan Angklung sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia. Salah satu tempat yang menjadi pusat pengembangan dan pelestarian Angklung adalah Saung Angklung Udjo, yang terletak di Jl. Padasuka No. 118 Bandung. Tempatnya sangat khas dengan ornamen serba bambu, juga hutan bambu yang sangat terawat. Sejuk. Itu kesan pertama yang saya tangkap dari Saung ini. Deretan Angklung tertata rapi, bahkan ada toko souvenir khusus yang menjual cenderamata khas Jawa Barat.

Angklung adalah alat musik yang terbuat dari bambu yang dapat mengeluarkan suara dan irama yang khas. Angklung merupakan gabungan dari beberapa instrumen yang terdiri dari pipa bambu dengan ukuran yang berbeda-beda dan ditempatkan di suatu bingkai yang kecil. Untuk memainkannya, cukup Angklung tersebut diguncangkan hingga mengeluarkan bunyi. Di Saung Angklung Udjo, sahabat pecinta Indonesia dapat menyaksikan pertunjukan Angklung yang tak biasa. Disini Angklung disajikan secara modern, meskipun tetap menonjolkan sisi tradisionalnya. Salah satu contohnya adalah menggabungkan Angklung dengan musik Jazz. Awalnya saya sempat ragu apakah akan tercipta melodi yang bagus. Namun ternyata, setelah dipentaskan oleh para “musisi”, terciptalah harmonisasi yang menakjubkan. Uniknya, hal itu tercipta dari batang bambu!

 

Pementasan anak-anak binaan Saung Angklung Udjo

 

Setelah menikmati suguhan musik Angklung modern, saya dikejutkan dengan puluhan anak kecil yang memasuki panggung pementasan. Saya kira mereka hanya ingin menyambut kedatangan kami, mengingat usia mereka berkisar antara empat sampai sepuluh tahun. Namun ternyata, tangan-tangan mungil itu mahir memainkan angklung tersebut, bahkan sambil melenggak-lenggokkan badannya. Saat MC menjelaskan, barulah saya ketahui bahwa anak-anak di depan saya adalah penduduk setempat binaan Saung Angklung Udjo untuk melestarikan budaya Angklung. Selain pertunjukan Angklung, pengunjung juga disuguhi wayang golek singkat, tari topeng, dan praktik memainkan Angklung. Hal ini yang paling seru. Masing-masing pengunjung diberikan satu buah Angklung yang ditandai dengan nomor. Nomor ini adalah tangga nada. Kebetulan saya pegang nomor 4. Sehingga jika MC memberikan tanda angka 4, maka saya dan semua pemegang Angklung nomor 4 harus membunyikan Angklung tersebut. Sungguh bangga rasanya, ketika sekitar dua ratus orang pengunjung yang memainkan Angklung secara bersamaan, dapat membentuk harmonisasi sehingga terdengar lagu Bunda, ciptaan Melly Goeslow. Meskipun harmonisasi kami masih belepotan, tapi kami bahagia. Saya jadi menghubungkan Angklung dengan perjuangan bangsa Indonesia demi mencapai kemerdekaan. Dulu, para penjuang kita pun bersatu sehingga bisa berpadu menjadi kekuatan yang tak terkalahkan. Sama seperti Angklung. Jika dibunyikan sendiri akan terasa biasa saja. Namun jika dibunyikan bersama-sama, maka yang tercipta adalah melodi indah dari ranah Sunda.

Tips :

  1. Jangan lupa booking terlebih dahulu untuk dapat menyaksikan pementasan Angklung Udjo. Anda dapat menghubungi Nomor Telepon : +62 22 727 1714, +62 22 710 1736.
  2. Jika anda ingin mencapai Saung Angklung Udjo dari Arah Jakarta, Setelah Tol Pasteur anda bisa lurus ke Jalan Surapati. Sebelum terminal Cicaheum perhatikan sebelah kiri jalan dan petunjuk masuk Jalan Padasuka. Dari Jalan utama menuju Saung Angklung Udjo kurang lebih 500 meter, sebelah kanan jalan.
  3. Jangan lupa request ke MC untuk menyampaikan penjelasan dalam Bahasa Inggris jika anda datang bersama turis asing.