Staycation, Pilihan Liburan Asyik Buat Traveler Sibuk dan Budget Terbatas

Staycation with friends

Banyak travel blogger dan lifestyle blogger yang mengulas soal Staycation. Tapi karena saya kurang memperhatikan, saya pun nggak ngerti apa itu staycation. Setelah baca sana-sini, ternyata  belakangan ini staycation banyak menjadi pilihan para kaum urban, bahkan sudah menjadi gaya hidup buat orang-orang sibuk yang nggak sempat “menjelajah” ke tempat yang jauh. Kalau sudah begitu, saya baru sadar kalau ternyata saya sering banget staycation. Pertama, karena nggak punya banyak waktu untuk holiday ke tempat yang jauh. Kedua, karena dananya terbatas tapi pengen kabur dari rutinitas. Nah, sebelum ngoceh panjang lebar mengenai staycation, ada baiknya juga kita tahu apa arti staycation itu sendiri. Continue reading “Staycation, Pilihan Liburan Asyik Buat Traveler Sibuk dan Budget Terbatas”

Keseruan Moment Grand Launching Rumah Cantik Ladies Beauty Club & Review Produk K-link

Rumah Cantik K-Link Ladies Beauty Club

Hari Minggu 27 Agustus 2017 saya diundang K-Link untuk mengikuti acara Grand Launching Rumah Cantik Ladies Beauty Club. Saya datang bukan buat promosi, tapi lebih karena tergoda rayuan dari MB Communication yang kece itu sih. Menyebarluaskan program K-Link tentang pemberdayaan wanita Indonesia. Duh siapa pula yang nggak seneng ada tempat yang bisa jadi wadah untuk memperkaya khasanah dan wawasan para wanita? Programnya beneran bagus dan biasanya kalau di tempat lain kita harus bayar mahal buat mengikutinya. Kalau di Rumah Cantik K-Link, kita hanya perlu membayar Rp20.000/kegiatan, buat bertiga. Artinya kalau dihitung, nggak nyampe Rp10.000/orang kan? Itu sih sama saja nggak bayar 😀

Continue reading “Keseruan Moment Grand Launching Rumah Cantik Ladies Beauty Club & Review Produk K-link”

Berkibarlah Merah Putihku

Masih ingat lagu itu?

Lagu yang membakar semangat, terutama buat kita para generasi muda Indonesia. Lagu ini diciptakan oleh Gombloh, dan pertama kali dinyanyikan oleh artis-artis musica pada tahun 1995. Tepat pada peringatan 50 tahun Kemerdekaan Indonesia. Saat itu saya masih kecil. Masih senang mainan petak umpet, petak jongkok, galahsin, egrang, dan muter-muter nyari sawah di Jakarta. Tapi setiap RCTI memutarkan video klip lagu itu, saya bakalan meninggalkan teman-teman sepermainan saya, dan cepat pulang kerumah. Saya tak peduli ketika seluruh teman SD mengolok-olok saya “sok cinta Indonesia”. Sungguh saya tak peduli. Karena saya sungguh-sungguh mencintai negeri ini.

Saking merasuknya lagu itu dalam hati, saya sampai berpedoman kalau sudah besar nanti, saya harus bisa mengamalkan isi syairnya. Demi merah putih, mari kita berusaha keras dalam bekerja. Karena menurut saya, satu generasi muda yang bekerja keras, jauh lebih baik daripada sepuluh senior yang pemalas dan suka mengeluh. Satu Guru tamatan SD di pedalaman jauh lebih berguna daripada SARJANA cumlaude yang pengangguran di kota Besar. Mari berusaha agar Jiwa dan Raga ini selaras dengan keanggunan khas Bangsa Indonesia. Bukan keanggunan dalam hal kecantikan diri, namun keanggunan dalam bersikap.

Kesantunan dan keramahan yang dibalut kejujuran dan integritas tentunya akan membuat bangsa lain segan pada kita.

Mari selalu berusaha agar jemari ini senantiasa menuliskan kharisma Indonesia tercinta dalam setiap kesempatan. Jika tak mampu melakukan sesuatu yang besar, minimal dengan tulisan kita bisa memberitahukan pada dunia tentang sisi Indonesia yang indah, yang unik budayanya, yang ramah masyarakatnya, yang eksotis alamnya, yang mengagumkan lautnya, yang memesona gunungnya, dan lepas dari segala sesuatu berbau politik di luar sana. Tak lupa, kita tampik segala pengaruh buruk dengan perisai IDEOLOGI PANCASILA.

Saya tak peduli dengan golongan yang mengecam buruknya pemerintahan negeri ini. Bukan karena saat ini saya bekerja untuk pemerintah, bukan sama sekali. Melainkan karena kebencian saya dengan TONG KOSONG NYARING BUNYINYA! Berkoar namun tak berbuat. Mencaci tapi ungkang-ungkang kaki. Mari kita konsisten agar kepal tangan ini menunaikan kewajiban sebagai putra dan putri bangsa. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. Kita lakukan yang terbaik. Kita bantu apa yang bisa kita bantu. Kita permudah urusan yang bisa kita mudahkan. Kita sebarkan ilmu yang kita punya. Walaupun ilmu ini tak banyak, namun demi Tuhan, saya yakin ilmu tersebut akan dapat memberikan sesuatu yang berarti kelak. Tidak hanya untuk kita, tapi demi persatuan dan kesatuan Indonesia. Seperti filosofi pasir. Jika mereka sendiri, maka tak berarti. Jika mereka bersatu, maka pondasi yang kokoh pun akan berdiri.

Selamat ulang tahun negeriku. Usiamu memang belum setua negara-negara adidaya. Namun hingga saat ini kau selalu kubanggakan. Karena aku tahu, dengan luasnya wilayahmu, maka butuh waktu untuk menjadikanmu terintegrasi satu sama lain. Terperhatikan satu sama lain.

Tak peduli bagaimana orang mencacimu, kau tetap Indonesiaku. Yang senantiasa akan kujaga, kulindungi, dan kupromosikan sekuat aku mampu. Aku percaya kharismamu akan kembali menyatukan seluruh rakyat dalam naungan Merah Putih.

Dirgayahu Republik Indonesia,

MERDEKA!

Gadget’s Block

Istilah ini saya bikin sendiri. Biasanya kan orang kena writer’s block tuh, suatu keadaan dimana seorang penulis kehilangan inspirasi, dan nggak bisa nulis apa-apa. Kalau saya jarang banget mengalami writer’s block. Saya bukan tipically orang yang bingung harus menuliskan apa. Karena setiap kejadian yang saya alami bisa jadi tulisan. Seperti halnya ngobrol yang bisa dilakukan dimana saja, saya pun bisa nulis dengan asyik di rumah, di jalan, di kantor, di mall, di emperan jalan, di kereta, di pesawat, di mobil, asalkan nggak lagi nyetir. Nah, kalau Gadget’s block, sering banget!!! sebagai orang yang bekerja dengan mengandalkan koneksi internet, keadaan ini memang tidak bagus. Namun seringkali, kita perlu “mengistirahatkan” gadget kita supaya kita punya waktu buat diri sendiri, dan buat keluarga tentunya. Setiap menit, bahkan setiap detik, selalu saja ada notifikasi email masuk. WhatsApp, Line, Instagram, Path, Facebook, Goodsreads, dan beberapa forum yang saya ikuti mengantarkan saya ke titik jenuh. Sehingga berujung pada keputusan blocking the gadget’s. Baik itu Tablet PC, maupun handphone. Ditambah lagi, komputer. Sebagai gantinya, saya menikmati menulis di atas kertas. Mengasah kemampuan menulis indah (banyak orang yang tulisannya jadi tambah jelek akibat keseringan ngetik di komputer, tab, atau HP). Membaca buku, menikmati setiap lembarnya, dan untuk memperoleh berita, saya baca majalah, surat kabar, dan tabloid dalam bentuk cetak. Saya sungguh-sungguh menikmatinya.
Saya sadar perbuatan saya merugikan orang lain. Bahkan bisa merugikan bisnis saya atau kerjaan saya. Tapi jika saya tidak melakukan blocking tersebut, saya seringkali terlena. Kejenuhan terus bertumpuk hingga mencapai titik kulminasi. Imbasnya, jadi wasting time dan produktivitas menurun. Bahayanya, kalau sampai kena writer’s block. Ya. Disadari maupun tidak, saking terbukanya komunikasi dan informasi justru bisa bikin kita nggak bisa nulis apa-apa. Nggak bisa mengeluarkan ide kreatif, dan nggak bisa beranjak dari depan meja komputer. Kita terpenjara dalam terali yang kita ciptakan sendiri. Bahkan jangan-jangan, saking seringnya berkomunikasi dengan media internet dan telepon, lama-lama kita kehilangan kepekaan terhadap bahasa tubuh seseorang. Semakin autis, nggak pedulian, dan nggak ambil pusing. Toh teman bisa dicari dari seluruh dunia, lewat media sosial tentunya. Padahal sejatinya, kita hidup dalam dunia Nyata. Kalau misalkan *amit-amit, anda sakit, tapi nggak ada orang selain komputer. Anda hanya bisa ngetik di whatsApp, line, atau pasang status di facebook dan twiter “Tolong, Gue sakit.”

Percayalah. Jawaban teman-teman anda pastilah, “Sakit apa?” –> Anda : lah malah balik nanya. Ngetik aja susah, suruh jawab pertanyaan lagi.
Atau kata-kata simpatik seperti, “Cepet sembuh yaa…” 

“Get well Soon..” 

atau yang parah, “Kenapa lo? Tumben bisa sakit.”

Iya kalau salah satu dari mereka datang dan langsung menolong. Kalau nggak? Kemanakah anda akan pergi?

Putih Langsat Putri Salju

Serbuan iklan dan gaya bintang-bintang luar negeri (baca : Korea, Jepang, China, Amerika) beberapa tahun belakangan ini memberi dampak besar buat perkembangan kehidupan dan pergaulan perempuan Indonesia. Betapa tidak, sekarang para cewek berlomba-lomba untuk jadi “putih”. Produk-produk pemutih pun bermunculan. Dari merek abal-abal sampai racikan dokter kulit ternama. Semua laris manis tanjung kimpul. Make-up, dari merek ece-ece sampai keluaran luar negeri kelas wahid, semua juga dirubung bak gula di tengah para semut. Mereka semua menjanjikan hasil yang *bervariasi pada setiap orang. Sengaja bintangnya ditaruh di paling bawah, dengan tulisan yang super kecil. Bahkan buat orang yang matanya awas pun, tulisannya susah kelihatan.

Sebagai orang marketing, saya sih cuma geleng-geleng kepala ketika melihat iklan-iklan itu. Bahkan ketawa ngakak waktu ada satu iklan kosmetik Indonesia yang mengusung slogan, “Putih langsat”. Demi membuktikan slogan tersebut, para wanita dari usia remaja, ibu-ibu, sampai nenek-nenek pun berlomba ingin kulitnya jadi putih langsat. Padahal namanya kulit asli wanita Indonesia kebanyakan adalah sawo matang. Kalaupun pingin putih, hasilnya nggak akan bisa seputih putri salju. Dan satu hal lagi yang BOHONG BESAR adalah…Mana ada putih langsat? Nih ya saya kasih tahu, Langsat adalah nama buah dari Asia Tenggara sebelah barat, yang warnanya kuning kecoklatan, hampir mirip dengan kulit orang Indonesia. Makanya, kalau orang yang agak “putih” versi Indonesia dibilang kuning langsat. Jadi, anda semestinya bisa menyimpulkan, istilah Putih langsat hanya buatan perusahaan semata. Demi mengecoh anda-anda sekalian wahai kaum wanita 😀 Nah, buah langsat sendiri memang bermanfaat untuk mencerahkan wajah. Mencerahkan lho ya…bukan memutihkan.

 

Buah Langsat
Selanjutnya…pakailah produk XXX, maka kulit anda akan seputih wanita Jepang. Ya ampuuun…mau-maunya dibohongin lagi. Harusnya ngeri dong, kulit wajah kayak wanita Jepang, sedangkan kulit badan full wanita Indonesia, alias sawo matang. Belang dong namanya??? Main logika aja deh, orang Jepang emang udah putih dari sononya. Mau dikasih apapun tetap putih kulitnya. Jadi nggak ngaruh dia mau pake produk XXX atau YYY, maka kulitnya bakal tetep putih. Berlaku juga buat orang Indonesia. Mau digosok kayak gimanapun, kulit Indonesia akan balik lagi ke warna aslinya. Bayangkan saja ya, Ada cewek yang kulit wajahnya putih mulus tuh…terus tiba-tiba ada nyamuk nemplok di pipinya. Karena gatel, diteplak lah si nyamuk. Nah, saat tangan “meneplak” si nyamuk di pipi, terbukalah kedoknya. Wajah putih mulus beradu sama punggung tangan yang dekil bin hideung. Jadi kelihatan kan kulit aslinya? *Maksa.

Oke-oke, saya balikin lagi ke topik. Bermake-up dan melakukan perawatan boleh-boleh saja, asalkan tepat porsinya dan nggak membahayakan diri sendiri. Tuhan itu indah, dan menyukai keindahan. Namun satu hal yang perlu diingat, Tuhan juga memerintahkan kita untuk menjaga amanah yang diberikanNya. Maka jangan rusak apa yang sudah diberikanNya secara free, dengan menorehkan aneka obat Kimia, suntikan, dan memasukkan benda asing ke dalam tubuh, hanya demi kecantikan “versi manusia” semata. Lebih baik sibukkan diri dengan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. Banyak belajar ilmu kehidupan. Banyak bergaul sama orang. Banyak melafadzkan doa, dan banyak berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Maka, meskipun kulit kamu nggak putih, InsyaAllah akan tetap bercahaya. Kecerahan hati nggak akan bisa dikalahkan oleh obat pencerah atau pemutih racikan dokter terhebat sekalipun di dunia ini. Nggak juga bisa dikalahkan oleh warna-warni make-up seharga jutaan bahkan ratusan juta rupiah. Karena kecerahan hati muncul dari jiwa-jiwa yang bersih. Jiwa yang senantiasa bersyukur dan tersenyum meskipun kesulitan menghimpit. Jiwa yang yakin bahwa sesungguhnya, setelah kesulitan, ada kemudahan.

 

KEPO

Siang itu saya lagi punya urusan pribadi yang nggak pengen orang lain tahu. Terus ada orang (ngakunya sih temen) padahal nggak deket-deket amat, tiba-tiba ybs nanya-nanya akan hal yang emang saya nggak pengen kasih tahu. Udah dikasih jawaban menghindar alias secara implisit saya sampaikan, “Ada lah…saya lagi nggak pengen cerita” ehh…dianya malah ngotot “Udahlah ceritain aja, siapa tahu nanti jadi plong kalo udah diceritain.” hiyyy…

Sudah jelas-jelas saya nggak pengen ngasih tahu. Dan sudah jelas-jelas saya tahu banget kalau saya mengumbar masalah sama orang yang nggak bisa dipercaya, bukannya meringankan beban, malah nambah masalah. Satu lagi, saya juga tahu, dia bakalan bikin gosip besar-besaran kalau sampai saya buka mulut. 

Nyebelinnya tipe orang kayak yang satu itu, pantang menyerah. Terus saja mepet saya supaya saya ngasih jawaban. Dikasih jawaban implisit yang tadinya berniat supaya nggak nyinggung ybs, kaga ngerti-ngerti. Dibilang eksplisit nggak mau ngasih tahu, maksa.

Gara-gara hal ini, saya sampe bikin resume tentang apa itu KEPO.

Menurut Kitab Gaul yang saya baca, Kepo berasal dari bahasa hokkian.
Ke = Bertanya, Po (Apo) = Nenek2. Jadi artinya nenek2 yg suka bertanya2. Pingin tau banget gitu.
Selanjutnya, kalau dalam bahasa Inggris, KEPO adalah akronim dari Knowing Every Particular Object. Yaitu sebutan untuk orang yang serba tahu detail dari sesuatu, apapun yang lewat di hadapannya selama itu terlihat oleh matanya walaupun hanya sekelebat. Dalam beberapa kasus orang kepo adalah orang yang serba ingin tahu, bisa jadi kayak semacam kecanduan untuk tahu segala hal yang sepele dan itu bisa dia unggulkan sebagai kekuatan orang tsb.
Mengerikan ya?
Itulah orang yang KEPO. Mau tauu aja urusan orang lain. Seneng banget mencampuri urusan yang bukan urusannya. Seolah urusan orang adalah konsumsi publik yang bisa ditelannya kapan saja, dimana saja, dan dia bagiin kemana saja. Padahal dalam berkomunikasi, semestinya kita lihat juga dong lawan bicara kita kayak gimana. Kalau dia mau cerita, ya dengerin. Kalau nggak mau cerita, ya hormati keputusannya. 
Listening, Understanding, and if you can, help him/her to Solving. 


JODOH?


Suatu waktu saya menghadiri sebuah majelis. Temanya tentang, JODOH. Hmm…kayaknya perlu didenger nih. Pikir saya. Yang menyampaikan kebetulan anak muda. Mungkin umurnya nggak jauh dari saya. Dia mau membedah buku karyanya, yang dia tulis bersama ustadz yang sudah saya kenal sejak lama. Buku tentang Jodoh. Dengan ekspektasi tinggi, saya turut mendengarkan. Awalnya, saya memaklumi gaya bicaranya yang terpatah-patah dan nggak enak didengar. Nggak apa-apa deh, pemula. Selalu ada pemakluman buat yang baru belajar. Tapi lama-lama, ucapannya malah bikin telinga saya gatel, hati saya kesel. Pasalnya, dia mengeluarkan statement yang sorry-sorry to say nih, jauh dari kata bijaksana bagi seorang muslim.
Dia bilang, “Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kalau kita nggak berusaha mengambilnya, maka akan tetap di tangan Tuhan.”
Udah gitu dengan menggebu-gebu dia bilang gini lagi, “Salah satunya, kita harus berusaha keras kalau mau dapet jodoh. Karena jodoh harus dicari. Berusaha aja lewat kenalan, bergaul, minta dicariin sama temen, sama orang tua,…” dan lain sebagainya. Yang buat saya hanya sebatas opini dan teori. Padahal katanya, dia mau menyangkal teori buku penulis lain soal “Menikahlah!”
Ckckckck…apapun maksudnya, saya hanya bisa tersenyum #sinis sekaligus sebel. Dari awalnya memaklumi malah sekarang saya ngejudge dia sok tahu. Buat saya, dalam komunikasi peran bahasa adalah segalanya. Setelah bahasa, ada cara penyampaian dan INTONASI. Sehingga audiens tertarik untuk mendengarkan, juga menangkap informasi secara jelas, gamblang, tidak menyinggung perasaan, dan karena ini majelis, harus ada unsur memotivasi audiens. Bukannya malah membuat orang yang mendengar jadi berkecil hati.
Oke, saya jelasin saja deh kritik saya :
Pertama soal statement, “Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kalau kita nggak berusaha mengambilnya, maka akan tetap di tangan Tuhan.”
Opini saya : Emangnya Tuhan sepelit itu sampai kekeuh megang jodoh kita di tanganNya?
Fakta : Tuhan itu maha pengasih lagi maha penyayang. Titik.
Dengan mengetahui dan meyakini bahwa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sebagai manusia tentunya kita nggak boleh ngomong gitu dong. Buat apa Tuhan ngumpetin jodoh kita? Buat apa pula menggenggam erat jodoh kita?
Kedua, statement bahwa “Kita harus berusaha keras kalau mau dapet jodoh. Karena jodoh harus dicari. Berusaha aja lewat kenalan, bergaul, minta dicariin sama temen, sama orang tua,…”
Itu opini dia. Meskipun saya lebih menyukai bahwa usaha yang dimaksud bukanlah usaha nyari-nyari jodoh. Yang saya percaya, jodoh memang sudah digariskan dan diatur oleh Tuhan yang maha kuasa. Sudah ditetapkan tuh tanggal ketemunya. Bahkan waktu, jam, menit, dan detiknya pun sudah ditetapkan. Jodoh memang merupakan takdir ikhtiari, artinya takdir yang bisa diikhtiarkan. Bisa diusahakan. Tapi dengan caranya masing-masing. Untuk statement “bergaul”, jika ada orang yang pergaulannya luas, sikapnya santun, sudah minta dikenalkan oleh teman, saudara, dan dicarikan pula oleh orang tua, tapi jodohnya nggak dateng juga gimana coba?
Nggak usahlah mendikte orang dengan nyari-nyari jodohnya lewat sini, situ, minta dicariin temen, kenalan, ajak nikah, dan lain sebagainya. Emangnya kita murahan?
Nggak. Sesuatu yang bagus, berkualitas dan mahal biasanya nggak diobral. Nggak dipajang saat SALE. Dia tersimpan manis, di tempat yang istimewa. Karena yang berani ngambil juga orang yang istimewa dan berkualitas juga. Agar pantas dan sekufu jika disandingkan. Serasi dan setimbang.
Usaha keras dalam pencarian jodoh?
Itu juga opini. Saya nggak setuju dengan kata, “mencari jodoh”. Nggak. Seperti yang sudah saya utarakan tadi, Jodoh sudah ditetapkan. Pasti datang sendiri, jika memang sudah saatnya. Mau jungkir balik usaha dan berdoa sekuat apapun, kalau memang Tuhan belum berkehendak, ya nggak bakalan terlaksana. Nggak bakalan ketemu. Faktanya, banyak orang yang nggak bergaul, nggak berusaha, bahkan kerjaannya ngumpet di labirin pun bisa dapat jodoh. Kalau bukan karena kuasa Tuhan, karena siapa coba?
Nah, untuk mengisi waktu dalam menunggu “saat yang ditetapkan Tuhan” tersebut, ikhtiar terbaik yang dilakukan adalah dengan terus memperbaiki diri. Meningkatkan kualitas dan performa anda dengan cara beribadah, bekerja, mengamalkan ilmu, menebar benih kebaikan, bermanfaat buat orang lain, tenggang rasa dan toleransi dengan sesama, dan amalan shaleh lainnya.
Kenapa?
Saya balikin lagi deh ke firman Allah, wanita yang baik diciptakan untuk laki-laki yang baik, begitupula sebaliknya.
Kalau mau dapet jodoh baik dan berkualitas, maka pantaskanlah diri anda untuk mendapatkannya. Baikkan dulu diri anda. Tingkatkan dulu kualitas anda. Supaya anda pantas bersanding dengannya. Analoginya sama saja kalau kita mau lulus ujian. Kita harus terus memperbaiki diri bukan? Mengasah kemampuan, banyak latihan, menebalkan iman dan memperkuat ibadah supaya kita pantas untuk diluluskan.
Lantas jika ada statement lagi yang membantah dan mengatakan,
“Pantesan nggak dapet-dapet jodoh. Pemilih sih.”
Opini saya : Ya iyalah pemilih. Siapa diantara manusia di muka bumi ini yang nggak memilih jodohnya? Apapun hasilnya, pasti itu merupakan sebuah pilihan. Lagian, jodoh kan ibaratnya aurat kita nantinya. Seperti baju yang akan kita kenakan seumur hidup. Beli baju buat dipakai kondangan sekali saja kita memilih, apalagi baju yang bakal dipakai seumur hidup?
Nggak lulus sidang? Kelulusan ditunda? Padahal usaha sudah dikerahkan sedemikian kuatnya. Mata lelah akibat keseringan begadang, malu juga pada teman, orang tua, dan handai taulan.

Nggak apa-apa dear…pasti Allah punya rencana lain.
Jangan hanya karena nggak lolos sidang tahun ini, lantas berpikir kiamat sudah dekat.

My dear para mahasiswa kebanggaan Indonesia, mau dengar cerita tentang koridor kehidupan?

Begini ya, konon 50 tahun sebelum kita dilahirkan, Allah sudah menuliskan garis hidup kita di kitab Lauhul mahfudz. Tentunya kalian yang muslim tahu itu. Bagi yang menganut kepercayaan lain, maka logika sederhana ini pun dapat kalian pahami. Nah, di kitab tersebut, Tuhan menuliskan semuanya. Ya my dear, semuanya. Nggak ada yang terlewat. Bahkan takdir seekor semut yang mati karena tak sengaja terinjak kaki kita pun sudah tertulis disana. Karena itu, kita harus meyakini bahwa skenario hidup sudah digariskan. Sudah ada yang mengatur, sudah ada sutradaranya. Kita hanya lakon, yang semestinya menjalani peran kita sebagai manusia, hamba Tuhan.

Well, saya jelaskan lewat sebuah analogi. Ada dua orang perantau, katakanlah si Ujang dan si Maman. Mereka hendak ke desa sebelah. Orang bilang itu Desa harapan. Karena di desa itu ada janji kehidupan lebih baik. Tentu saja, dengan semangat 45 Ujang dan Maman berbondong2 menuju desa itu. Nah, hanya tinggal selangkah untuk sampai di desa harapan tersebut, tiba-tiba di depan mereka ada tembok yang tinggiiiiiii sekali. Tak mudah mereka melaluinya. Sungguh tak mudah. Terlalu tinggi. Bahkan jikalau mereka punya tangga untuk memanjatnya, tetap saja tangga itu tak cukup.

Ujang adalah orang yang keras hati. Dia memutuskan akan tetap menerobos masuk lewat tembok itu. Apapun caranya, Ujang berpikir akan tetap melewati jalan pintas. Nggak peduli tuh seberapa tinggi maupun kokohnya tembok yang menghadang di depannya. Ujang punya cara jitu. Tembok itu akan dia hancurkan. Ya, dihancurkan dengan membuat lubang, sehingga dirinya bisa melewati tembok itu. Sedangkan Maman menggunakan pikiran dan hatinya. Dia merasa tak ada gunanya jika dia mengikuti cara Ujang. Tak mampu tenaganya. Maka dari itu dia melihat ke depan. Ternyata ada jalan setapak. Maman memilih mengikuti jalan itu. Diajaknya Ujang, tapi Ujang tak mau. akhirnya mereka berpisah. Setelah menelusuri jalan itu, perlahan tapi pasti jalan setapak tadi menjadi luas membentang. Maman bertemu banyak orang, mengenal mereka, bahkan beberapa menjadi seperti saudara, dan memberikan Maman perbekalan yang cukup untuk sampai ke desa harapan. Beberapa tahun kemudian Maman sampai. Ya. Maman sampai.

Tak berapa lama Maman sampai, Dia bertemu Ujang.
Dia temui sahabatnya dalam keadaan lusuh, tubuhnya banyak bekas luka, bungkuk, dan sorot matanya hampa. Dilihatnya Ujang seperti memikul beban yang berat. Maka dari itu Maman bertanya,

“Hai Ujang, kenapa kamu jadi seperti ini?”
Ujang menjawab, “Man, saya sangsi ini desa harapan. Buktinya saya sengsara bertahun-tahun. Nggak ada modal, nggak punya bekal, badan pun sakit semua karena saya lelah saat menghancurkan tembok itu. Kalau saja dulu saya tidak menerobos tembok itu, tidak menghancurkannya dan memilih mengikuti jalan seperti kamu, mungkin kejadiannya takkan seperti ini.” Tutur Ujang menyesal.

Maman menghela nafas, di satu sisi dia kasihan dengan sahabatnya, di sisi lain dia bersyukur karena sudah memilih untuk mengikuti saja alur jalan setapak yang ternyata, Koridor kehidupan.

My dear para mahasiswa kebanggaan Indonesia, apapun keadaannya, jika memang sudah jalannya, insyaAllah dimudahkan. Kalaupun memang hasilnya belum sesuai dengan apa yang diharapkan, Tuhan pasti punya jalan lain. Jalan yang meskipun jika kau tempuh akan lebih jauh untuk mencapai impianmu, tapi sejatinya jalan itu memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki diri, mempersiapkan bekal, dan memperluas jaringan. Sehingga kelak, jika sudah saatnya sampai pada apa yang kalian impikan, kalian sudah dalam kondisi siap. Siap lahir, mental, juga batin.

Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?

Setengah Wanita, Setengah Lelaki

Jaman kian berubah yaa…sekarang trend gaya hidup dan berbusana banyak yang bergeser. Wanita sibuk berpakaian seperti laki-laki, celana jeans, kemeja, dengan sepatu kets, rambut potong pendek, rancung pula. Well…nggak apa-apa sih, selama sisi wanitanya masih menonjol, is okay. Tapi yang mengganggu adalah jika sikapnya justru berubah menjadi kelaki-lakian. Alias macho.
Kalau saya sendiri sih agak-agak risih gimana…gitu kalau lihat cewek berpenampilan dan bergaya macho. Kayak yang menyalahi kodrat. Kalaupun mau tampil casual, sebagai cewek tetap bisa kok tampil feminim. Atau ada sisi feminimnya.
Tadi soal cewek. Nah, sekarang cowoknya. Hari gini, banyak cowok yang justru malah merasa “jiwanya” cewek. Atau kalau saya bilang, lelembut. Temen saya bilang lain lagi. Cowok Tomboy. Tampilan kaos Olga, celana pendek, sepatu crocs, rambut dicatok “Korea”, jalannya melenggak-lenggok kayak di atas catwalk. Terus ngomongya gini,
“Hai Ciiin…apa kabar?”
“Susah ya nek…”
“Eike tadi beli jengkol. Mehong bo…”
Ya gitu deh kira-kira.  Bahasa alay, parfum yang baunya bisa kecium dari jarak dua ratus meter, dan barang branded lainnya jadi trademark mereka. Aduh, jaman benar-benar sudah edan. Segitunya jumlah cowok di dunia ini lebih sedikit daripada jumlah cewek, masih juga dikurangi sama cowok tomboy, bencong, dan gay. Pagi jadi Agus, malem jadi Monik. Siang jadi Yono, malam jadi Yuni. Peran ganda.
Nggak usahlah dikaitkan dengan agama. Dari segi estetika saja sudah aneh. Kalau mau jujur, cewek macho dan cowok tomboy ini hanyalah korban dari pergaulan bebas. Perilaku menyimpang, dan salah kaprah dalam menyikapi perubahan jaman. Awalnya dianggap gaya-gayaan, selanjutnya ketularan, dan akhirnya kecanduan. Ujungnya, operasi kelamin. Mengubah apa yang sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Menentang takdir, menyalahi kodrat. Mereka punya masalah psikologis dan butuh pertolongan, tapi ngakunya justru panggilan hati. Panggilan jiwa, supaya bisa dianggap benar. Supaya bisa dimaklumi, dan akhirnya bisa diterima oleh masyarakat. Padahal sejatinya, hanya mencari pembenaran diri karena dirinya nggak mau mengembalikan masalah pada Yang maha kuasa. Nggak bisa menahan ujian dan hasratnya. Nggak kuat iman.
Sorry kalau kata-kata saya ada yang nyinggung kaum di atas.