Syukurku pada Tuhanku

Tuhan…aku memang jauh dari kata sempurna
Jauh dari kata baik
Jauh dari derajat yang tinggi di mata manusia
Namun Engkau menyempurnakan aku dengan Ke-Maha besaranMu. Kau berikan aku nyawa, kau berikan aku paru-paru yang sehat untuk bernafas, otak yang normal untuk berpikir, mulut yang fasih untuk bicara, mata yang jelas untuk melihat, jemari yang lengkap untuk menulis, kaki yang kuat untuk berjalan, dan hati yang selalu Kau lindungi dari kemaksiatan. Sungguh, itu jauh lebih dari cukup, Tuhan.
Namun Engkau Maha Pengasih. Sehingga Kau terus membaikkan aku dengan kuasaMu. Kau berikan aku petunjuk saat jalan di depanku penuh kelok. Kau beri cahaya terang nan tegas saat pandanganku kelabu.
Dan Engkau, berikan aku kenaikan derajat setiap aku membuka setitik demi setitik tabir ilmu pengetahuan yang Engkau ciptakan.
Tuhan, terima kasih Engkau tak selalu memudahkan aku untuk mendapatkan apapun yang kumau.
Karena dengan demikian, aku dapat mengerti bahwa segala sesuatu yang indah takkan bisa kuraih tanpa kerja keras. Karena dengan demikian pula, aku dapat menghargai betapa mahalnya sebuah anugerah dan indahnya penantian. JanjiMu selalu terbukti. Makin keras usahaku, makin sabar hatiku, maka semakin manis rasa yang kukecap.
Tuhan, Terima kasih Engkau pernah memberikan aku kesempatan untuk menjadi orang yang dihina dan dikucilkan. Dicaci, dimaki, bahkan terpinggirkan. Karena dengan demikian kini aku tahu, mana orang yang benar tulus, mana yang bermuka dua. Kusaksikan itu sekarang, Tuhan…
Tuhan, aku tak pernah menyesal kenapa aku tak berada di posisi puncak dengan kehidupan glamour yang bergelimang harta. Tidak sama sekali, Tuhan. Sebaliknya, Engkau memberikan aku kehidupan yang sederhana. Sebuah kehidupan dimana aku akrab dengan kerja keras. Kehidupan indah yang mengajarkan aku prinsip tahu diri.
Kehidupan yang mempertemukan aku dengan para insan yang meniti jalan di atas jembatan kejujuran. Orang-orang yang rela menempuh perjalanan jauh demi mencapai tempat untuk menuntut ilmu. Orang-orang yang rela mengorbankan waktu istirahatnya setelah seharian bekerja, demi mengikuti perkuliahan di malam hari. Orang-orang yang rela menahan laparnya, demi bisa menyisihkan rupiah demi rupiah untuk belajar.
Kau perkenalkan aku pada para ibu yang rela menahan sakit saat kehamilannya demi menuntut ilmu. Seorang ibu yang terpaksa kehilangan janinnya karena tak kuat saat harus membagi waktu antara menuntut ilmu dengan istirahat. Para ibu yang aku tahu, tiap malam menangis sendu di kamarnya karena harus terpisah sementara dengan buah hatinya. Lagi-lagi demi menuntut ilmu.
Kau mempertemukan aku pada orang-orang yang rela menembus gelapnya malam dan menghadapi marabahaya demi melayani sesamanya. Demi tugas yang diembannya, dan demi sepiring nasi dari rizki yang halal untuk keluarganya.
Engkau juga memperkenalkan aku pada orang-orang yang begitu mencintai negara ini, hingga rela bekerja sampai jauh malam, demi kehidupan bangsa yang lebih baik. Orang-orang yang hatinya mempercayai bahwa, setitik air tawar yang ditebar ke lautan luas mungkin takkan bisa membuat air laut menjadi tawar. Namun mampu mengubah struktur molekulnya.  
Kau tunjukkan semua itu di depanku. Kau berikan aku kesempatan untuk mengenal orang-orang luar biasa, pekerja keras yang tak kenal kata instan untuk mencapai keberhasilan.  Golongan orang-orang yang tak menyia-nyiakan waktu. Orang-orang terpilih dan bukan ECE-ECE.
Terima kasih Tuhan, untuk tidak mendekatkan aku pada orang-orang jahat, orang-orang ingkar, orang-orang pemalas, penyuap, koruptor, dan orang ECE-ECE lainnya.
Engkau memang tak memberiku uang yang banyak. Namun Kau mengizinkan aku untuk bersujud di berbagai belahan bumi Indonesia Raya. Yang mungkin takkan sanggup kulakukan hingga aku mati, jika aku menghitung rizkiMu  hanya dari apa yang kupegang. Terima kasih karena selalu membuatku bahagia, tanpa harus menari di atas penderitaan orang lain.
Tuhan, di atas segalanya, aku bersyukur padaMu. Telah memberiku kesempatan dilahirkan sebagai muslimah, dari ibu yang luar biasa dalam mengurus anak-anaknya, dan ayah yang membesarkan aku dengan rezeki yang halal.
Tentu saja nikmatMu tak hanya itu. Banyak hal yang pastinya tak dapat kutorehkan satu persatu. Persediaan tinta, kertas, dan seluruh hard disk yang kumiliki takkan pernah cukup untuk memuatnya.
Bandung, 2 April 2014
Arum Silviani



MOVE ON Itu….

 

 

Akhir-akhir ini kata-kata “move on” populer luar biasa. Nggak di TV, di radio, di majalah, di lingkungan sekitar, kita sering banget dengar kata-kata ini. Asal kata dari bahasa Inggris, yang menurut saya pribadi sih nggak ada serapan bahasa Indonesia yang pas, yang mampu mewakili makna “Move On”. 

This image took from austinmccann.com
Nah, kalau diperhatikan, “move on” biasanya diucapkan sama sahabat atau orang terdekat yang sudah geregetan melihat kamu yang mengalami gejala berikut :

 

  1. Patah hati akibat diputusin, atau ditinggal pacar selingkuh, atau ditinggal pacar kawin, atau ditinggal pergi selamanya.
  2. Nangis dimana-mana. Nggak di kamar, di WC, di angkot, di mobil, dimana-mana deh pokoknya. Nggak peduli kamu mau cowok atau cewek. Kelakuannya nggak jauh beda. 
  3. Curhat berlebihan, dan isi curhatannya yang itu-itu saja.
  4. Galau sampai kebanyakan ngelamun dan menyebabkan timbulnya syndrom ayam sakit bagi si penderita kegalauan tersebut. Lemah, letih, lesu, tak bergairah.
  5. Marah-marah terus, hingga semua kena efeknya. Siapapun dimarahin, tanpa pandang bulu.
  6. Nggak pedulian sama lingkungan sekitar. Merasa seolah dirinya adalah manusia paling menderita di muka bumi. Kalau ada orang lain yang lebih menderita, maka kamu hanya menganggap orang tersebut akting belaka.
  7. Ngehang. Nah…ini yang sudah kronis. Perlu masuk UGD. Unit Gangguan Djiwa 😀

 

Gejala di atas nggak berurut. Saya hanya mengejawantahkan saja hal-hal yang kebetulan berlarian di benak dan pikiran saya.
This Image took from lintas-terbaru.com
Dear, urusan putus cinta memang bisa dikatakan sebagai urusan paling berat dari segala urusan yang ada di dunia. Kenapa?
Karena disitu yang terlibat adalah hati. Dimana hati adalah sesuatu yang abstrak, namun bisa mengendalikan emosi, ego, superego, pikiran, perasaan hingga terinterkoneksi ke jiwa dan raga. Kalau hati sudah terganggu dan tidak nyaman, maka pikiran pun jadi melayang tak tentu arah.
Bisa jadi, akibat putus cinta kamu merasakan hati kamu teramat sangat sakit. Sialnya, hanya kamu yang bisa merasakan. Orang lain NGGAK. Sesimpatik-simpatiknya orang sama kamu, segimanapun perhatian orang lain ke kamu, tetap saja mereka nggak bisa merasakan secuil pun yang kamu rasakan. Meskipun kamu sudah membaginya dengan curhat penuh emosi dan berapi-api hingga mulutmu berbusa. Ketika menyadari hal ini, maka tanpa sadar perasaan sedih berkepanjangan atau bahkan dendam membara yang terus tersulut oleh panasnya hati mencuat ke permukaan.
Sebagai manusia, tentunya punya hasrat untuk membalas dendam. Manusiawi lah ya….minimal, nonjok orang yang sudah membuat hati sakit dan mempermainkan perasaan. Kalau tak pandai-pandai mengekangnya, maka bisa terjadi malapetaka. Contohnya seperti yang baru-baru ini gencar diberitakan di televisi. Ada remaja yang dengan kejam membunuh mantan pacarnya karena dirinya belum bisa move on.
Well…move on memang bukan perkara mudah guys. Karena otak dan hati manusia nggak bisa di reset secara otomatis. Manual aja susah apalagi otomatis coba? Maka klise banget kalau ada orang yang bilang, “Move on itu gampang kok.” Lantas belagak nggak peduli dengan mengatakan, “I’m okay.”. Hmm…Saya yakin orang yang ngomong gitu justru sedang menyembunyikan perasaannya sendiri.  He/she said that they don’t care, but deep inside, I’m sure it hurts.

This image took from untukseseorang.com
Meskipun sulit, Move on tetap wajib dicoba, sebelum kamu terkena galau syndrome makin parah, hingga akhirnya malah merusak diri kamu dan menyakiti orang-orang terdekat kamu. Mereka yang sebenernya sangat care sama kamu, tapi lama-lama enek menghadapi kelakuan  kamu yang “bak ayam sakit.” Siapa yang tahan?
Sedikit tips buat yang pengen move on dan yang sudah mencoba tapi belum berhasil move on:

 

  1. Yakini bahwa segala rasa kehilangan dan sakit hati itu bisa disembuhkan oleh waktu. Selama waktu masih berlalu dan bergulir, maka rasa sakit hati dan kehilangan pasti bisa terobati.
  2. Berhenti stalker-in facebook, twitter, instagram, path, atau media sosial lainnya hanya untuk memantau kelakuan mantan kamu. Karena makin kamu ulik, maka semakin kamu sakit.
  3. Hapus semua yang dapat mengingatkan kamu tentang masa lalu. Love letter, email rayuan gombal, history whatsapp/bbm/line/media chat lainnya, buang semua. Dan jangan sisakan. Tapi kalau mantan kamu pernah ngasih barang berharga, jangan dibuang. Jual saja, lebih bermanfaat dan menghasilkan. Hehehe…
  4. Ingat bahwa nggak satupun masa lalu yang bisa jadi pedoman hidup kamu di masa depan. Nggak satupun. Yang menentukan keberhasilan kamu adalah kamu yang sekarang. Masa lalu nggak lebih dari spion yang sesekali saja dilihat, supaya kamu nggak nabrak.
  5. Terus perbaiki diri. Sehingga akhirnya kamu sadari bahwa bukan kamu yang tak pantas untuknya, melainkan dia yang tak pantas untukmu.
  6. Percayai hal ini : Stoknya Tuhan tuh banyak. Nggak cuma satu dua. Kalau Tuhan mampu menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi, juga galaksi dengan sedemikian lengkap dan indahnya, masa iya Tuhan nggak mampu menciptakan stok yang indah dan menakjubkan untuk kamu?
Tapi….stok yang berkualitas seperti itu hanya bisa kamu dapatkan kalau kamunya juga berkualitas. Kalau kamunya nggak mau move-on, nggak memperbaiki diri, dan masih setia bertengger di kelas “ece-ece”, mana mungkin Tuhan kasih salah satu stok terbaiknya buat kamu? Inget lho…segala yang diciptakan di muka bumi ini berpasangan, dan semua pasangan tersebut sejatinya sekufu. Selaras, serasi, setimbang.
Dan satu lagi…hanya orang-orang sabarlah yang jadi juaranya.
So, mungkin statement saya ini bisa mewakili :

“MOVE ON itu (tidak) mudah, tapi (bisa) dilewati”

Sajak untuk sahabatku

Tak usah kau bermuram durja
memusingkan bau busuk tak berbangkai
mencaci pun tiada guna,
seperti kebanyakan halilintar kurang hujan

biarlah dia menepuk air di dulang
menjemur bangkai di atas bukit
membiarkanmu makan hati berulam jantung
makan tak enak, tidur tak nyenyak
gundah gulana, diam seribu bahasa

Sungguh tak perlu kau risaukan lagi
bersikaplah seperti air di dalam kolam
tenang tak beriak.
biarkan waktu yang menghapus arang di muka
karena lama kelamaan orang pun tahu dirinya…
yang di luar bagai madu, di dalam bagai empedu

*Sajak di atas bukan murni tulisan saya. Diambil dari kumpulan Peribahasa Indonesia, kemudian oleh saya diberikan kata sambung, imbuhan, dan beberapa kalimat sehingga tersusunlah sebuah sajak. Sayangnya, saya pun tidak tahu penulis asli masing-masing peribahasa tersebut. Yang pasti, bukan tulisan saya.

Hikayat Kehidupan

Kalau kau kecewa dengan kejadian yang menimpamu hari ini, boleh jadi besok, lusa, minggu depan, atau bertahun2 yang akan datang kau justru mensyukurinya. Karena seringkali, keputusan Tuhan tidaklah instan, kawan…

Pada hakikatnya rentetan kejadian yang telah kau alami merupakan sebab, asal muasal, buat kejadian di masa mendatang. Butuh pemahaman dan penerimaan yang baik dalam menjalani suratan yang ditulisNya. Dan sungguh, itu hanya dipahami oleh kaum2 yang berpikir.