Sasando, Dawai Cinta dari Nusa Bunga

Replika Sasando di Lobby Hotel Sasando Kupang
Pertama kali saya ke Kupang tahun 2010, saya sudah mengagumi alat musik tradisional yang satu ini. Bentuknya unik, dan suara yang dihasilkan pun unik. Sasando adalah sebuah alat instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Instrumen ini berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur atau dijuluki sebagai Nusa Bunga. Dalam bahasa Rote, Sasando disebut Sasandu. Artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Bentuk Sasando mirip dengan gitar, biola, dan kecapi. Saya pribadi lebih setuju jika alat musik ini mirip harpa. Bagian utama Sasando berbentuk tabung yang terbuat dari bambu. Pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi penyangga atau dalam bahasa Rote disebut Senda, yang berfungsi untuk merentangkan dawai-dawai. Senda ini menghasilkan nada yang berbeda-beda pada setiap petikan dawai.
Setelah “tabung berdawai” jadi, selanjutnya diberikan wadah yang terbuat dari anyaman daun lontar atau siwalan yang dibuat menyerupai kipas. Wadah inilah yang berfungsi sebagai resonansi alat musik Sasando. Saat dimainkan, Sasando mengeluarkan bunyi mirip seperti gitar, namun lebih khas dan lebih bening.

Saat ini Sasando justru populer sebagai alat musik khas Kupang. Pada Sail Komodo yang berlangsung pada Juli 2013, Sasando turut diperkenalkan pada dunia. Salah satu desa pembuat alat musik Sasando terletak di Desa Oebelo, Kupang. Desa ini hanya berjarak kurang lebih 10 km dari pusat Kota Kupang. Jadi, jika sahabat pecinta Indonesia berkunjung ke Kupang, anda bisa mendatangi tempat ini untuk sekedar melihat pembuatan alat musik Sasando, atau membelinya sebagai buah tangan. Jika anda menginginkan untuk dapat memainkan alat musik ini, maka anda pun dapat mengikuti kursus singkat yang diberikan oleh para pembuat Sasando. Menarik bukan?

“Maimo Kumolintang”, Alunan Merdu Tong Ting Tang dari Minahasa

Kolintang Minahasa
Pada episode sebelumnya saya menuliskan keindahan Minahasa dan Tomohon dalam balutan panoramanya, kali ini saya ingin bercerita tentang keindahan alunan musiknya. Sebut Saja Kolintang. Alat musik tradisional yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Jangan keliru menyebutkannya sebagai Kulintang. Karena beda sebutan, beda alat musiknya. Berdasarkan sejarah tentang alat musik Kolintang yang saya peroleh dari berbagai sumber, Kolintang Minahasa terbuat dari kayu yang jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah. Jenis kayu yang dipilih adalah kayu yang agak ringan, namun padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar. Antara lain kayu kakinik, kayu telur, wenang, bandaran, atau sejenisnya. 
Kata Kolintang sendiri berasal dari bunyi : Tong (Nada Rendah), Ting (Nada Tinggi) dan Tang (Nada Tengah). Orang Minahasa biasa bilang “Maimo Kumolintang” yang artinya mengajak orang lain bermain Kolintang. Jika dimainkan satu nada, bunyinya bening, hampir mirip piano. Namun jika dimainkan satu set secara lengkap, harmonisasi Kolintang ini mirip-mirip Angklung. Bahkan kini, Kolintang sudah banyak dikolaborasikan dengan alat musik modern dan mengiringi lagu-lagu hits kontemporer. Percayalah, musik Indonesia memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Karena bahasa musik adalah universal, maka tentunya tidak salah jika kita berbangga, musik tradisional Indonesia, memang juaranya.

Saung Angklung Udjo, Melodi Indah dari Ranah Sunda

Konser Pembukaan

 

 

Kalau bicara soal alat musik tradisional, Indonesia juaranya. Meskipun belum ada yang menyatakan secara pasti berapa jumlah alat musik tradisional di bumi Merah Putih, namun kita pantaslah bangga dengan keragaman musikalitas negeri sendiri. Salah satunya Angklung, alat musik tradisional dari Jawa Barat yang mendunia. Pada tahun 2010, UNESCO mengukuhkan Angklung sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia. Salah satu tempat yang menjadi pusat pengembangan dan pelestarian Angklung adalah Saung Angklung Udjo, yang terletak di Jl. Padasuka No. 118 Bandung. Tempatnya sangat khas dengan ornamen serba bambu, juga hutan bambu yang sangat terawat. Sejuk. Itu kesan pertama yang saya tangkap dari Saung ini. Deretan Angklung tertata rapi, bahkan ada toko souvenir khusus yang menjual cenderamata khas Jawa Barat.

Angklung adalah alat musik yang terbuat dari bambu yang dapat mengeluarkan suara dan irama yang khas. Angklung merupakan gabungan dari beberapa instrumen yang terdiri dari pipa bambu dengan ukuran yang berbeda-beda dan ditempatkan di suatu bingkai yang kecil. Untuk memainkannya, cukup Angklung tersebut diguncangkan hingga mengeluarkan bunyi. Di Saung Angklung Udjo, sahabat pecinta Indonesia dapat menyaksikan pertunjukan Angklung yang tak biasa. Disini Angklung disajikan secara modern, meskipun tetap menonjolkan sisi tradisionalnya. Salah satu contohnya adalah menggabungkan Angklung dengan musik Jazz. Awalnya saya sempat ragu apakah akan tercipta melodi yang bagus. Namun ternyata, setelah dipentaskan oleh para “musisi”, terciptalah harmonisasi yang menakjubkan. Uniknya, hal itu tercipta dari batang bambu!

 

Pementasan anak-anak binaan Saung Angklung Udjo

 

Setelah menikmati suguhan musik Angklung modern, saya dikejutkan dengan puluhan anak kecil yang memasuki panggung pementasan. Saya kira mereka hanya ingin menyambut kedatangan kami, mengingat usia mereka berkisar antara empat sampai sepuluh tahun. Namun ternyata, tangan-tangan mungil itu mahir memainkan angklung tersebut, bahkan sambil melenggak-lenggokkan badannya. Saat MC menjelaskan, barulah saya ketahui bahwa anak-anak di depan saya adalah penduduk setempat binaan Saung Angklung Udjo untuk melestarikan budaya Angklung. Selain pertunjukan Angklung, pengunjung juga disuguhi wayang golek singkat, tari topeng, dan praktik memainkan Angklung. Hal ini yang paling seru. Masing-masing pengunjung diberikan satu buah Angklung yang ditandai dengan nomor. Nomor ini adalah tangga nada. Kebetulan saya pegang nomor 4. Sehingga jika MC memberikan tanda angka 4, maka saya dan semua pemegang Angklung nomor 4 harus membunyikan Angklung tersebut. Sungguh bangga rasanya, ketika sekitar dua ratus orang pengunjung yang memainkan Angklung secara bersamaan, dapat membentuk harmonisasi sehingga terdengar lagu Bunda, ciptaan Melly Goeslow. Meskipun harmonisasi kami masih belepotan, tapi kami bahagia. Saya jadi menghubungkan Angklung dengan perjuangan bangsa Indonesia demi mencapai kemerdekaan. Dulu, para penjuang kita pun bersatu sehingga bisa berpadu menjadi kekuatan yang tak terkalahkan. Sama seperti Angklung. Jika dibunyikan sendiri akan terasa biasa saja. Namun jika dibunyikan bersama-sama, maka yang tercipta adalah melodi indah dari ranah Sunda.

Tips :

  1. Jangan lupa booking terlebih dahulu untuk dapat menyaksikan pementasan Angklung Udjo. Anda dapat menghubungi Nomor Telepon : +62 22 727 1714, +62 22 710 1736.
  2. Jika anda ingin mencapai Saung Angklung Udjo dari Arah Jakarta, Setelah Tol Pasteur anda bisa lurus ke Jalan Surapati. Sebelum terminal Cicaheum perhatikan sebelah kiri jalan dan petunjuk masuk Jalan Padasuka. Dari Jalan utama menuju Saung Angklung Udjo kurang lebih 500 meter, sebelah kanan jalan.
  3. Jangan lupa request ke MC untuk menyampaikan penjelasan dalam Bahasa Inggris jika anda datang bersama turis asing.