Cerita tentang Purwokerto dan Pencarian Bakso Pekih

Memang bakso Pekih nggak asing lagi di telinga orang Purwokerto. Banyak pula blog kuliner yang mengulasnya. Makanya saya pun pengen ngobati kangen dengan menikmatinya selagi sempat mengunjungi kampung halaman. Melongok masa lalu, mengenang nostalgia. Nostalgia saya memang, meskipun demikian, boleh dong ya saya ulas sedikit tentangnya. Tentang kamu juga (Purwokerto maksudnya 🙂 ).

Continue reading “Cerita tentang Purwokerto dan Pencarian Bakso Pekih”

The Untold Story : Sosok Wanita Jawa. Seperti apa mereka sebenarnya?

Sosok Wanita Jawa. Topik ini terilhami dari curhatan saya dan Bhekti, beberapa hari lalu. Dilatar belakangi suasana sejuk Kota Bandung, hujan rintik-rintik, dan kesunyian di Dago Timur sore itu. Mengalirlah pembicaraan serius ini. Sebuah pembicaraan dari hati ke hati, lalu merasuk hingga kalbu.

a couple years ago

Bhekti adalah sahabat yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri sejak kami sama-sama kuliah di Politeknik Negeri Bandung. Oleh karenanya, kami pun biasanya bebas bercengkrama, baca: Rumpi tentang apapun topiknya. Tanpa tedeng aling-aling. Tanpa takut menyinggung satu sama lain.

Continue reading “The Untold Story : Sosok Wanita Jawa. Seperti apa mereka sebenarnya?”

25 Februari 2015 : Sebuah Keputusan

Hari ini, jam ini, dari meja kerja saya…
saya belajar satu hal besar dari seorang dosen senior.
Satu hal, yang mungkin pada saat saya jadi mahasiswa dulu…saya merasa hal ini berartikan bahwa,
dosen membunuh mimpi mahasiswa.
Namun ketika keadaan berbalik, dimana saya tak lagi jadi mahasiswa dan duduk di kursi ini…
saya melihat keputusan tersebut dari sudut pandang yang berbeda
sebuah keputusan yang pastilah amat menyakitkan bagi mereka untuk saat ini.
pasti juga membuat mereka down, malu pada teman, tetangga, saudara, sekaligus merasa bersalah pada orang tua.
Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan tersebut benar adanya.
sebuah keputusan yang sangat konsisten, idealis, dan tegas.
keputusan yang tidak populer, bahkan bisa mengakibatkan “dianggap aneh” oleh sivitas akademika,
meskipun keputusan tersebut sudah sangat diperhitungkan dengan matang dan dinilai dari berbagai aspek.

DROP OUT.

Dari sudut pandang yang berbeda saat ini, meskipun dengan sedih hati…
saya pun mendukung keputusan tersebut.
saya tak lagi menganggap bahwa keputusan ini menghancurkan mimpi mahasiswa yang bersangkutan,
tetapi justru mempersiapkannya untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Jalan mereka masih panjang, tak harus salah jalan lebih lama…yang justru akan membuat mereka sakit di kemudian hari. Menyesal di masa depan.
Keputusan ini sebetulnya bukanlah sebuah penalti, melainkan sebuah kesempatan besar yang akan membuat mental dan hati mereka lebih kuat nantinya. Membuat mereka sadar bahwa tempat mereka bukanlah disini. Ada tempat yang jauuuh….lebih baik di tempat lain.

Sungguh jauh lebih baik.

DROP OUT tak berarti mereka bodoh karena tak bisa mengikuti sistem perkuliahan. Bukan sama sekali.
Saya tak percaya ada orang bodoh yang masuk kampus ini. Hanya saja…mereka mungkin tak tahu apa yang mereka mau, tak mengerti apa yang mereka butuh, dan tak sadar…apa yang mereka bisa.

Saya berharap, kelak ketika saya bertemu dengan mereka lagi…
mereka sudah menjadi orang besar dan berhasil. Berjalan dengan bahu tegak dan tatapan percaya diri.
Punya kehidupan yang sukses dan menjanjikan.

Good luck Dear.
Jangan pernah berkecil hati,
Tuhan bersama kalian.

Malang City, in my point of view

 

 

Tugu Malang

 

Udara di Kota Malang ini nggak jauh berbeda dari Kota Bandung. Itu pastinya yang bikin saya nagih datang kesini. Tapi yang utama adalah kulinernya yang memanjakan lidah. Keunggulannya bukan hanya kelezatan rasanya, tapi juga harganya yang murah dan nggak bikin kantong bolong. Selebihnya, Malang menawarkan nuansa sederhana dan belum terlalu padat seperti kota Bandung. Salah satu yang saya suka adalah ruas jalannya yang lebar, dengan sanitasi yang baik sehingga memberikan kesan tidak sumpek.
1. Well, pertama saya review dulu Tugu Malang. Tempat ini memang populer untuk hangout. Terletak persis di depan Balaikota Malang, dan sangat dekat dengan stasiun kota Malang. Tugu ini saya bilang nyaman untuk kita jalan-jalan atau sekedar duduk-duduk sambil bersantai menikmati sejuknya udara kota Malang. (Point : 5/5).
2. Ijen Boulevard menjadi salah satu jalan favorit saya di Malang. Karena dengan tampilannya yang cantik, bersih, dan juga bersejarah, jalan ini punya pesona tersendiri buat saya. (Point : 5/5).
3. Taman Pintar, di depan stasiun Kota Malang
Konsepnya cukup bagus sebenarnya, ada perpustakaan di tengah taman, patung singa, juga aneka tanaman yang bisa memberikan edukasi untuk anak-anak. Tapi…kalau saya lihat sih taman ini agak kumuh ya…nggak tau tuh. Mungkin karena banyak pedagang kaki lima mengitarinya, dan juga…banyak sampah di dalam taman itu. Padahal taman pintar selalu ramai dikunjungi karena letaknya yang strategis dan free of charge. (Point: 2/5).

4. Gajayana Stadium.

Stadion Kebanggaan Ngalamers, juga salah satu tempat latihannya Ongis Nade (Singo Edan), sebutan untuk tim sepak bola Malang. Ini juga jadi salah satu spot favorit saya kalau ke Malang. Udaranya sejuk, bersih, dan tentunya…banyak kuliner lezat di sekitarnya. Satu yang paling saya suka adalah Rujak Manis Semeru yang terletak di Utara Stadion Gajayana. Potongan buahnya itu lho…nggak nanggung-nanggung. Besar-besar, dan porsinya sangatlah banyak. Buat saya, satu porsi bisa untuk bertiga. Selain potongan buah-buahan segar seperti bengkuang, nanas, timun, kedondong, dan mangga, rujak ini juga dilengkapi potongan tahu petis yang menambah keunikan citarasanya. Tak lupa, bumbu kacangnya yang benar-benar menggoyang lidah. Satu porsi rujak manis Semeru dibanderol Rp. 16 ribu. Rasanya? Highly Recommended! (Point 5/5).

5. Pusat Kerajinan Keramik Dinoyo.

Meskipun cuma numpang lewat, pusat kerajinan keramik ini cukup menyita perhatian saya. Keramik Dinoyo tidak hanya terkenal indah, tapi juga murah. Murah nggak berarti murahan lho…Range harga dari 1.500 rupiah sampai 20.000 rupiah saja. Anda sudah bisa mendapatkan keramik dengan kualitas baik dan aneka bentuk yang cantik. (Point 4/5).

6. Sikap masyarakat Kota Malang sangatlah ramah, welcome, dan helpful. Tak usah segan tanya rute atau jalan. Dijamin anda nggak bakal disasarin deh. Baik itu pejalan kaki, supir angkot, supir taksi, warga sekitar, semuanya sangat helpful dan jujur. Kalau belanja, anda juga nggak akan ditipu soal harga.  

(Point : 5/5).

7. Tapi kekurangannyaa….

Hampir nggak ada toleransi buat para pejalan kaki! I hate this one. Contoh ya, Saya lagi mau menyebrang jalan. Saya tertib tuh menggunakan zebra cross. Tangan saya sudah melambai mengisyaratkan kalau saya mau menyebrang, tapi yang namanya pengendara motor dan mobil, enggan memberikan jalan. Terutama motor yang selalu cari celah untuk mendahului. Perbuatan yang tak jarang sangat membahayakan para pejalan kaki. Padahal apa yang mau dikejar coba? Toh di Malang hampir tidak ada tempat macet. Di Malang, ada fasilitas lampu merah untuk para penyebrang jalan. Kita bisa menekan tombolnya, dan traffic light pun akan menyala hijau untuk pejalan kaki, dan merah untuk kendaraan bermotor. Fasilitas ini juga dilengkapi sirine yang berbunyi nyaring saat lampu pejalan kaki menyala hijau. Tapi….entahlah. Lampu ini sepertinya dianggap formalitas buat para pengendara kendaraan bermotor di Malang. Jadi meskipun sudah nyala, jarang banget ada kendaraan yang berhenti sukarela buat nunggu kita menyebrang jalan. So, buat anda yang memutuskan jadi pelancong ke Malang dan jadi pejalan kaki, harus ekstra hati-hati. Fasilitas penyebrangan sudah sangat memadai, tapi sikap pengendara belum mampu mengimbangi fasilitas yang ada. Hal ini juga berlaku kalau anda ke Batu. Saat menyebrang, harus ekstra hati-hati meskipun kondisi jalannya sempit. Karena seringkali ada…saja pengendara yang nyelonong di depan kita. Ngebut pula. (Point : 0/5)

8. Alun-alun Kota Malang 

Mungkin Alun-alun ini sedang dibenahi saat saya bertandang. Tapi rasanya, dari tahun 2011 hingga terakhir Desember 2014, kok nggak beres juga. Hehehe…no offense ya…
Alun-alun Kota Malang adalah sebuah tempat yang terletak di jantung kota Malang, dengan tatanan yang indah sebenarnya, ada kolam air mancur di tengah alun-alun, banyak pepohonan dan tempat duduk untuk bersantai, udaranya sejuk, tapi….Super Duper kumuhnya. Pedagang kaki lima tumplek blek disitu. Sampah-sampah bertebaran meskipun tempat sampah tersedia dimana-mana. Terrible menurut saya. Sayang ya, Alun-alun kan sebagai icon penting suatu kota. Fasilitas publik yang seharusnya dijaga dengan baik. Semoga kelak kalau saya kembali lagi ke Malang, saya bisa duduk santai di tempat ini sambil menikmati suasana kota Malang yang menawan. (Point 1/5).

9. Masjid Agung Malang & Gereja Kayutangen Malang
Keduanya merupakan tempat ibadah yang saling berdampingan asri, dan berada di depan Alun-Alun Kota Malang. Berbeda dengan alun-alun Kota Malang yang semrawut, kedua tempat ibadah ini begitu syahdu. Bersih, dan menawarkan pesona masa lalu yang menghormati perbedaan. Masjid Agung dan Gereja ini mengingatkan saya pada Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta, yang letaknya juga berdampingan. (Point : 5/5).


10. Stasiun Kereta Api Kota Malang
Meskipun Stasiun ini sederhana dan fasilitasnya tak selengkap stasiun Bandung, tapi entah kenapa saya suka gaya bangunannya. Stasiun Kota Malang punya pesona tersendiri dan selalu indah dipandang di mata saya. Agak sempit sih, tapi bersih. (Point : 4/5).

11. Bandara Abdul Rachman Saleh
Sebenarnya Lanud, seperti Husein Sastranegara. Terletak di wilayah Angkatan Udara Malang, dan jarak tempuh dari gerbang ke dalam bandara lumayan jauh. Seingat saya, Lanud ini terbuka untuk penerbangan sipil sejak tahun 2011. Dan saat itu saya hanya bayar airport tax 6000 rupiah saja. Dulu belum ada yang namanya kafe-kafe di depan bandara. Sekarang di dalam bandara sudah ada kafe. Ruang tunggu juga sebenarnya sudah dibenahi jadi lebih representatif. Namun saat ini fasilitasnya kurang memadai untuk menampung jumlah penumpang yang melonjak tinggi. (Point 3/5).

 

Segitu dulu review dari saya tentang Kota Malang. Saya kasih point berdasarkan pendapat pribadi. Nggak ada alasan apapun, hanya untuk memberikan tips kepada anda yang ingin berkunjung ke Malang dengan aman dan nyaman. Suatu Kota nggak ada yang sempurna. Untuk menuju berkembang, pastilah butuh aneka pembenahan. Seperti Malang yang kini sedang berbenah. Sisanya, tempat-tempat wisata di sekitaran Kota Malang dan Batu akan saya review terpisah, supaya lebih detail dan jelas. So, jangan ragu untuk eksplore Malang.
Selamat berkunjung ke Malang!

 

Sekelumit Kisah Perjalanan


Hampir satu tahun saya merencanakan perjalanan ini. Perjalanan panjang yang tak diselingi agenda pekerjaan. Meskipun agak ragu di awalnya, namun pada saat tiba masanya, saya pun mendapatkan hal ajaib itu. Saya bisa “menyingkirkan diri” dari kesibukan saya yang super padat, selama satu minggu penuh. Di bulan Mei, dimana bulan tersebut selalu menjadi bulan-bulan tersibuk dalam kehidupan karir saya selama 8 tahun belakangan.
Anywaaay…perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Praya International Airport, Lombok. Boleh dibilang, ini perjalanan paling menantang, paling penuh cobaan, dan paling bikin hati deg-degan. Betapa tidak, di Hari-1 penerbangan saya, tiba-tiba saya dapat telepon dari Garuda Indonesia kalau jam penerbangan saya dimajukan. Dari yang semula jam 20.00 menjadi jam 17.30. Padahal saya harus bertugas di daerah Jagakarsa hingga jam 15.00. Kebayang kan bingungnya saya?
Saya siasati dengan menyelesaikan seluruh tugas saya malam itu juga. Nggak boleh ada yang terlewat supaya saya bisa cepat kabur dari lokasi penugasan ke Bandara. Dari Bandung berangkat jam 5 subuh, sudah packing segala macem. Siap berangkat. Bahkan saya juga sudah mengenakan sepatu kets demi kenyamanan liburan 😀
Sampai di Jakarta jam 09.00, dan ternyata pertemuannya diundur jadi jam 10.00. Waaa…mau selesai jam berapa? Pikir saya saat itu. Akhirnya saya “memaksa” untuk cepat selesai. Dokumen yang saya buat digarap lebih dulu, dikoreksi, dan dilengkapi sehingga jam 12.30 saya bisa keluar dari kantor tersebut dan siap cuss ke stasiun kereta di Universitas Pancasila. Itupun saya masih harus bawa sebundel kertas hasil ujian mahasiswa untuk dikoreksi. Niat saya ke BSD dulu adalah…saya mau naruh laptop dirumah karena nggak mungkin saya bawa-bawa laptop saat liburan. Daaan…disinilah saya mulai diuji. Tiba-tiba Commuter line Tujuan Depok-Tanah Abang telat 1,5 jam. Padahal biasanya lancar jaya. Saat itu, saya bilang sama diri saya sendiri, kalau saya salah ambil keputusan. Maksud hati naik kereta dari UP ke BSD biar nggak kena macet, malah jadi kacau begini. Satu-satunya commuter line yang lewat sudah berjejal penumpang. Untung saja ada satpam kereta yang bantuin saya. Akhirnya saya bisa masuk tuh ke kereta, dapet tempat duduk pula (Biasanya saya masuk gerbong khusus wanita, tapi kali ini tidak. Hampir semua penumpangnya cowok, dan akhirnya salah satu dari mereka berbaik hati untuk memberikan tempat duduk buat saya). Sebenernya agak nggak enak juga, cuma kalau menolak tawaran orang itu lebih nggak enak lagi.
Sampai di Tanah Abang 40 menit kemudian, dan langsung dapat berita buruk. Kereta dari Serpong ke Tanah Abang telat lagi satu jam. Dari yang semula jam 13.50 jadi jam 14.50. Akibatnya, penumpang sudah tumplek blek di stasiun Tanah Abang. Aishhh…rasanya udah pengen menendang sesuatu. Kesel banget. Apalagi kalau ingat penerbangan saya adalah jam 17.30, dan saya sudah pesan shuttle travel ke Bandara jam 15.00. Sudah nggak mungkin lagi mengejar shuttle. Di otak saya saat itu, kalaulah selamat sampai BSD jam 15.45, naik taksi pun teramat sangat riskan. Mengingat hari itu adalah hari Jumat, dan jam 16.00 adalah jam pulang kantor. Pastinya macet total!
Ah, saya sudah pasrah. Saya bahkan sudah mulai ngecek penerbangan berikutnya ke Lombok. In case of emergency kalau saya nggak berhasil ngejar penerbangan saya.
Namun saat itu, seorang ibu bertubuh gempal, berwajah tulus dan menyenangkan menghampiri saya. Sepertinya beliau mengerti kegundahan saya. Beliau mengajak saya duduk di sebelahnya, kemudian bertanya saya mau kemana. Saya pun menjelaskan kalau saya mau ke BSD karena harus mengejar pesawat jam 17.30. ibu itu berkata pada saya penuh simpati. “Tenang, masih ada waktu. Kalau memang rejekinya neng, nggak akan kemana.”
Degg…
Seketika saya merasa tertohok.
Iya juga ya…kalau memang rejeki saya nggak akan kemana. Kalau Tuhan mengizinkan saya pergi pasti semua akan dimudahkan. Waktu yang dihitung nggak mungkin bagi manusia, bisa memungkinkan buat Tuhan. Astaghfirullah…
Setelah itu saya melayangkan pandangan ke sekitar. Betapa makin membuat saya malu. Di sekitar saya ada ibu-ibu penjaja nasi bungkus yang bakul dagangannya masih setengah penuh, mungkin kurang laku hari ini, justru sedang sibuk membantu orang lain. Kemudian ibu berwajah tulus disamping saya, dia bercerita kalau dia tinggal di Parung Panjang. Tempat yang sangat jauh dari Stasiun Tanah Abang. Dia berjualan baju. Menjualkan dagangan orang lain tepatnya. Setiap hari dia harus berangkat dari Parung Panjang menuju Manggarai untuk berjualan baju. Hasilnya tidak seberapa tentunya, tapi menurutnya, paling tidak Ia tetap bisa membuat dapur ngebul. Dan wajahnya masih ceria, seolah tanpa beban. Padahal kalau mau ditilik, melambungnya harga sembako dan kebutuhan pokok saat ini pasti menyulitkannya. Apalagi dia punya banyak anak yang harus dinafkahi.
Kembali lagi ke penjaja nasi bungkus. Saya lihat dia sedang menghitung uang hasil dagangannya. Lembar demi lembar uang dua ribu rupiah dia hitung dengan sangat hati-hati. Wajahnya agak berkerut ketika ia selesai menghitung uangnya. Namun itu hanya sejenak. Selanjutnya Ia kembali ceria dan berceloteh dengan teman-temannya, sesama pedagang nasi bungkus.
Maafkan saya Tuhan…
Di dompet saya saat itu, satu lembar uang saya bahkan bernilai lebih besar daripada seluruh lembaran uang dua ribuan milik ibu pedagang nasi bungkus. Tapi apa yang saya lakukan? Saya justru bermuram durja, dan memikirkan diri sendiri. Mereka hendak pulang kerumah, tentunya harus berpikir untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan untuk modal dagang esok hari. Sedangkan saya, tidak harus berpikir besok mau makan apa. Bahkan saya terburu-buru karena saya akan mengejar pesawat, untuk kemudian liburan. Mereka? Jangankan untuk liburan, untuk makan pun sulit.
Tapi mereka menghadapinya dengan senyum, sedangkan saya menghadapinya dengan cemberut. Sungguh mengingkari nikmat Tuhan yang sudah diberikan pada saya.
Tertohok. Malu. Itu yang saya rasakan. Rasa malu yang sungguh besar, hingga saya pun tak sanggup menatap mereka. Sepertinya ibu di sebelah saya memperhatikan saya, karena kemudian dia berkata, “Kita udah biasa hidup susah neng…jadi pasrah aja. Toh sampai sekarang kita masih bisa makan. Syukur alhamdulillah.”
Saya pun hanya bisa mengangguk. Mengiyakan.
Tak terasa, satu jam berlalu. Ibu itu mengajak saya untuk menunggu di peron paling ujung, karena gerbong wanita nanti sampai disitu. Saya menurut saja. Mengikuti ibu itu. Dia yang sedang kerepotan dengan barang bawaannya, masih saja menawarkan diri untuk membantu barang bawaan saya. Tentu saja saya menolaknya.
Ternyata kami satu gerbong dengan ibu-ibu pedagang nasi bungkus tadi. Mereka hendak pulang ke Parung Panjang. Mereka tak segan menginformasikan pada penumpang yang membawa barang banyak dan hendak turun di stasiun kebayoran, untuk segera pindah ke gerbong depan. Karena peron di stasiun tersebut pendek dan tidak menjangkau kereta commuter line jenis ini (Kereta yang saya naiki saat itu adalah kereta yang baru saja dibeli dari Pemerintah Jepang. Ukuran keretanya sedikit lebih besar dengan jumlah gerbong lebih banyak dari kereta biasanya). Ibu pedagang nasi bungkus itu juga membantu salah seorang ibu keturunan Tionghoa berpenampilan necis yang kesulitan membawa barang dagangannya. Ia membantu mengikatkan dengan tali rafia, lalu mengangkutnya ke tempat di ujung kereta untuk memudahkan saat menurunkan barang. Sang ibu keturunan Tionghoa itu tersenyum lebar, dan dengan senyum lebar dia berterima kasih pada sang pedagang nasi bungkus. “Semoga Tuhan membalas kebaikan ibu.” Ujarnya tulus. Sudah tidak lagi terasa perbedaan disini. Yang terasa hanya perasaan sesama manusia, saudara setanah air yang sudah semestinya saling membantu, saling menolong. Mungkin karena kecapekan, ibu-ibu pedagang nasi tadi duduk di lantai commuter line.
Hingga mencapai stasiun Palmerah, ada seorang wanita masuk, dan menginjak kaki ibu pedagang nasi dengan sepatu high heelsnya. Namun yang mengejutkan, bukannya minta maaf, wanita itu malah marah-marah!
Yang lebih mengejutkan lagi, dia malah seolah sengaja menginjak kaki ibu-ibu pedagang yang tak mengenakan alas kaki tersebut. Si ibu pedagang nasi pun mengaduh kesakitan.
“Kenapa? Masalah buat lo? Kaki-kaki gue, sepatu-sepatu gue, bebas dong mau apa aja!”
Saya pun melongo melihat cara wanita itu memaki.
“Kalo ngga mau diinjek, jangan naik kereta!” Maki wanita itu lagi.
Akhirnya si pedagang membalas, “Iya saya tahu ibu orang kaya. Saya orang miskin.” Katanya penuh sindiran.
“Iya. Gue emang orang kaya. Terus kenapa, masalah buat lo?”
Saya tambah melongo karenanya. Kayak adegan di Sinetron. Dalam hati saya berpikir, ini yang nggak berpendidikan siapa coba? Apa salahnya sih minta maaf, lalu menyingkirkan kakinya dari kaki ibu pedagang tadi. Toh sama-sama penumpang, sama-sama bayar.
Dia mengibaskan rambutnya dengan angkuh. Astaga! Baru kali ini saya ketemu dengan orang seperti ini. Sepanjang hidup, saya tak pernah punya teman seperti dia. Dan takkan pernah mau punya teman seperti itu. Meskipun tak sedikit latar belakang teman-teman saya adalah kalangan orang berada, nggak ada tuh yang sikapnya suka melecehkan orang lain.
Selanjutnya, dia pun tak berhenti memaki. Menuduh ibu-ibu pedagang tadi sedang berjualan di kereta. Ibu pedagang pun menjelaskan, kalau Ia hendak pulang ke Parung Panjang. Bukan hendak berdagang di kereta. Tapi si wanita angkuh ini tak peduli. Ia kembali mengibaskan rambutnya yang dicat semi blonde itu.
Saya pun akhirnya memperhatikan wanita itu. Dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sorry to say, saya yang dasarnya adalah seorang pemerhati, otomatis melakukan “analisis”. Sepatu sandal high heelsnya yang menurutnya mahal, adalah sepatu yang sudah bocel-bocel disana-sini. Belum lagi heelsnya yang juga bocel-bocel. Kebayang sakitnya ketika ibu pedagang tadi diinjak oleh sepatu bocel begitu. Selanjutnya saya lihat kuku kakinya. Seperti sepatunya, Cat kukunya pun sudah mengelupas disana-sini. Begitu pula cat kuku tangannya yang sudah banyak mengelupas dan tak terawat. Bajunya juga bukan keluaran ternama. Malah golongan baju tanah abang. Begitu pula tasnya yang tergolong bukan tas mahal. Kelihatan kan dari jenis bahan dan tampilannya. Rambutnya pun tipis dan pecah-pecah. Make-upnya tebal, tapi sudah luntur. Kalau make-up mahal, luntur pun takkan seperti itu bentuknya. Saya menggelengkan kepala berkali-kali. Hanya dengan memperhatikan seperti ini saya menyimpulkan kalau dia bukanlah orang kaya. Hanya karyawan biasa yang ngaku-ngaku orang kaya. Sekilas, saya pun melihat tanda pengenalnya. Dia bekerja di perusahaan milik negara orang. Mungkin itu yang bikin dia sombong tak terkira.
Ups…
Bukannya saya menghina tampilan, ya. Saya hanya menganalisis dari ujung rambut hingga ujung kaki. Efek keranjingan nonton UK Series Sherlock Holmes. Hehe…
Sedangkan ibu pedagang nasi, meskipun penampilannya lusuh dan bicaranya kasar, namun dia tulus menolong orang. Dari mulai di stasiun Tanah abang sampai di dalam Kereta. Beberapa ibu yang hampir jatuh ditolongnya. Belum lagi orang-orang yang dia bantu bawakan barangnya. Semua dia lakukan tanpa pamrih.
Saya hanya mengamati, karena kejadian tersebut tepat di depan saya. Yang lebih mengesalkan lagi adalah ketika ada seorang wanita, mungkin seumuran saya. Sepertinya dia juga pegawai kantoran, mengernyit sinis dan dengan sengaja memotret ibu-ibu berpenampilan lusuh yang sedang memegang bakul dagangannya. Saya tahu, pastinya dia mau aplod. Dan benar ternyata. Dia aplod di sosial media. Makin membuat saya geleng-geleng kepala. Hal seperti ini nampaknya lucu dan bisa buat jadi bahan lelucon buat dia dan teman-temannya di sosial media nanti.
Ibu berwajah tulus di sebelah saya berkata pada saya, “Neng, yang kayak gini ini biasa kok. Ibu sering ngalamin. Orang miskin mah sudah kebal dibeginikan, neng.”
“Tapi kan nggak boleh begitu, bu. Kita sama-sama kok naik kereta ini. Sama-sama bayar juga. Kita punya hak yang sama.” Kata saya tak setuju.
Ibu itu hanya tersenyum. “Ini Jakarta, neng. Semua bukan masalah nggak bisa apa nggak boleh. Tapi siapa yang kaya, siapa yang miskin.”
Saya terdiam, tapi dalam hati menggeram. Bisa ya seorang manusia bersikap seperti itu pada sesamanya? Nalurinya seolah mati. Atau terpental jauh dari hatinya. Saya sangat kesal saat itu, hingga ingin menangis rasanya.
Ibu itu mengusap bahu saya. “Semoga neng nanti jadi orang berhasil, bisa belain kita-kita yang miskin.” Kata ibu itu.
Saya memang tak pandai menyembunyikan perasaan marah dan tak suka. Pastinya tergambar jelas di wajah saya sehingga saya tak heran tidak hanya ibu itu yang bisa membaca pikiran saya. Duh kok jadi emosional begini, ya?
Sampai di Stasiun Rawa Buntu BSD, saya mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman seperjalanan. Mereka tersenyum lebar. Sampai ketemu lagi, kata saya pada ibu berwajah tulus yang menemani saya sejak tadi. Dia pun tersenyum. “Semoga nggak telat sampai bandara, neng.”
Saya mengangguk, mengaminkan lalu turun dari kereta. Jam menunjukkan pukul 15.45. Adik saya sudah menunggu di depan stasiun, dan kami pun bertukar tas. Dia mengambil tas laptop saya, dan saya mengambil tas berisi pakaian renang yang dia bawakan dari rumah. Lima menit untuk keluar dari stasiun Rawa Buntu. Saya langsung menyetop taksi, dan bilang pada supir untuk ngebut karena harus terbang jam 17.30.
Supir taksi pun menjawab “Siaap!!!”
Duh…padahal macet. Supir berusaha mencari jalan tembus yang tidak macet. Kalau perjalanan normal dan pintu M1 tidak ditutup, BSD-Bandara dapat ditempuh selama 30 menit, maksimal 45 menit. Namun kali ini perjalanan tidak normal karena jam pulang kantor, dan pintu M1 ditutup karena proyek MRT. Untungnya, saya sudah dicheck-in kan oleh teman. Dan setelah macet juga menempuh jalur yang berputar-putar, akhirnya tepat jam 17.00 saya merapat di terminal 2F. Bersamaan dengan supir taksi, kami pun mengucapkan Alhamdulillah…
Ini perjalanan paling melelahkan yang pernah saya lalui. Bukan dari segi jaraknya. Tapi menguras hatinya itu lho…
Saya yang tadinya berpikir bahwa saya salah ambil keputusan naik kereta, akhirnya dikasih kesadaran oleh Tuhan bahwa semua hal, sudah diaturNya dengan sangat indah. Cuma seringkali kita saja yang nggak sabar, berburuk sangka pada Tuhan, dan merasa kepentingan kita diatas segalanya. Dari perjalanan ini saya belajar kalau ternyata tidak semua orang itu baik. Tidak semua orang pengertian. Tapi sayalah yang beruntung karena saya dikelilingi oleh orang-orang baik. Saya dianugerahi Tuhan teman-teman yang tulus dan baik hatinya. Teman-teman yang pengertian pada saya dan pada sesama manusia. Teman-teman yang InsyaAllah selalu membawa saya ke jalan yang baik. Mereka dipilihkan langsung oleh Tuhan buat saya, dan saya buat mereka. Diatas segalanya, saya dilahirkan dari keluarga yang menjunjung tinggi kejujuran. Itulah sejatinya kebahagiaan saya. Karena tanpa kehadiran mereka, saya sungguhlah bukan apa-apa.

Surat Ar-Rum

My Love and Life, Quran
Q.S Ar-rum, salah satu surat dalam Al-Qur’an yang menjadi vavorit saya. Apalagi kalau bukan karena kesamaan nama? 
Tapi utamanya bukan itu. Melainkan karena kandungan dari Al-Qur’an surat Ar-rum sangatlah indah. Bukti bahwa Allah menjanjikan kemenangan setelah kekalahan. Allah tempat kita meminta, dan Allah menolong siapa saja yang dikehendakiNya. Dia Maha perkasa, lagi Maha Penyayang. Dalam Ar-rum tertulis jelas firman Allah bahwa islam adalah agama yang fitrah, Dia yang menghidupkan orang mati pada hari kiamat, Dia yang menjanjikan taman surga bagi orang beriman, Dia mengatur waktu siang untukmu bekerja dan waktu malam untukmu beristirahat, menciptakan perbedaan bahasa dan warna kulit manusia agar kita saling mengenal, memperlihatkan kilat pada kita untuk menimbulkan ketakutan dan harapan agar kita senantiasa berserah, Dia menurunkan hujan sehingga menghidupkan bumi, Dia…dengan segala kebesaranNya, mengejawantahkan pada manusia apa arti cinta dan pasangan sejati.
Sungguh, pada yang demikian terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir dan mengerti.
Semoga kita termasuk di dalamnya.
Bandung, 21 Ramadhan 1435H.

Mahasiswa Mental Tahu


Saya nggak ngerti, makin kesini, kualitas mahasiswa semakin menurun. Adanya smartphone dan kemajuan teknologi justru ditanggapi salah. Bukannya memaksimalkan teknologi, tapi malah menyalahgunakannya. Kebetulan saya masih ngajar. Dan kalau boleh saya ngomong, semester genap tahun ini merupakan kelas dengan kualitas terburuk sepanjang saya mengajar di sebuah kampus. 
Cukup bikin saya ilfil dalam mengajar. Selama ini, kalau saya ngajar tuh saya nggak peduli anak itu pinter atau tidak.  Saya juga nggak pernah peduli dia anak siapa. Lulusan SMA mana, dan latar belakang keluarganya bagaimana. Tapi saya melihat dari sisi usahanya. Keras nggak usahanya? Tinggi nggak daya juangnya? Kuat nggak semangat belajarnya? Kalau semua itu positif, maka sekuat tenaga, pikiran, kemampuan dan hati saya curahkan buat mereka. Saya akan support mereka dalam mencapai cita-cita dengan cara membangun karakter mereka sendiri. Memupuk kepercayaan diri mereka hingga mereka berani maju menghadapi segala aral melintang.
Selama saya ngajar dari tahun 2010, sebandel-bandelnya mahasiswa yang saya ajar tuh pasti ada nilai lebihnya. Ada usahanya. Ada sopan santunnya. Paling nggak, ada keinginan untuk maju.
Namun baru kali ini, rasanya mahasiswa yang saya ajar nggak punya rasa itu. Rasa tanggung jawab sebagai mahasiswa, tanggung jawab ke orang tuanya, apalagi tanggung jawab ke bangsanya. Semua dijalani dengan prinsip “Sa’karepe.” Masuk kuliah Sa’karepe, belajar sa’karepe, ngerjain tugas sa’karepe, ujian pun nyontek dengan memanfaatkan kepintaran “Smartphone” sehingga tanpa sadar mereka miminimalisir fungsi otak, bukan mengasahnya. Ujungnya, jangankan tajam. Ini sudah masuk ke tahap kedul akibat korosi yang kronis.  
Memprihatinkan. Itu yang bisa saya katakan.
Ketika usaha dan sopan santun sudah nyaris tidak ada. Okelah, beberapa anak masih punya sopan meskipun sedikit. Tapi banyaknya ya itu. Semaunya sendiri, bahkan mengatur dosennya. Waktu Ujian dosennya diatur supaya menyesuaikan dengan mereka. Mau konsultasi dosennya diatur. Belum lagi bahasa sms dan email yang teramat-sangat tidak sopan karena bunyinya memerintah.
Saya jadi mikir, yang butuh itu siapa? Dosen atau mahasiswa? 
Disaat dosen menyediakan waktu buat bimbingan, hanya satu dua yang datang. Sisanya, alasan mengerjakan skripsi. Tapi ternyata, skripsi pun masih kacau balau. Giliran saatnya mengumpulkan tugas besar, banyaaaak banget excusenya. Dari yang mulai sakit lah, urusan keluarga lah, sibuk ngerjain yang lain lah. Kalau sudah begini, bagaimana coba? Diingatkan nggak mempan. Ditegur patah arang. Melempem. Bagaimana dengan generasi penerus bangsa ini? Bukannya semakin kuat dan kokoh malah kini bermental tahu. Ditekan langsung hancur.
Dikala bangsa lain bermentalkan baja, berperisai tekad, bersenjatakan kerja keras, berkarakter kuat dan saling menghargai, generasi penerus bangsa kita malah bermental tahu, berperisai loyo, dan bersenjatakan sa’karepe. Ditambah lagi, karakter dan attitude yang buruk. Semangatnya hanya untuk membully adik-adik kelasnya dengan OSPEK yang nonsense. 
Hasilnya? 
Aku ra’ po po.
Apakah masih ra’ po po kalau akhirnya jadi terseok-seok, diinjak, dan jadi melarat di negeri sendiri?
Saya hanya berharap, pemuda-pemudi yang saya sebutkan tadi segera sadar dan mau mencambuk dirinya sendiri untuk dapat berpikir jernih. Kalaupun tidak, mudah-mudahan, di luar sana masih banyak mahasiswa yang kuat keinginannya, kuat usahanya, dan selalu berusaha membangun karakter juga attitudenya.