Penjelasan sederhana mengapa muslim berpuasa buat rekan non muslim (Bagian dua)

Metabolisme Glukosa

Tulisan ini menyambung dari tulisan sebelumnya yang saya share disini

Kalau di tulisan tersebut masih dalam kerangka membuka logika, kali ini, saya akan mencoba menjelaskan berdasarkan landasan ilmiah. Referensinya saya tulis di bagian paling bawah tulisan nanti, supaya teman-teman bisa merujuk langsung kesana.

Continue reading “Penjelasan sederhana mengapa muslim berpuasa buat rekan non muslim (Bagian dua)”

Sebuah Definisi mengenai “the peace religion” di Indonesia

Melihat pemberitaan media, terutama selama bulan ramadhan ini, mau tidak mau membuat tak sedikit orang yang salah paham ketika mendengar kata “Islam”. Sungguh tidak sedikit. Bahkan tak sedikit pula diantaranya yang jadi membenci Islam, tanpa tahu arti sebenar-benarnya islam itu seperti apa. Tanpa mau mengenalinya, tanpa mau membuka telinganya, dan tanpa mau mengkonfirmasi kebenarannya. Hanya bermodalkan “Katanya.” Namun setelahnya, orang tersebut mengklaim sudah tahu segalanya soal islam. Lewat “katanya”. “Katanya” yang katanya fakta.

Continue reading “Sebuah Definisi mengenai “the peace religion” di Indonesia”

Cerita tentang sebuah buku petunjuk

Andaikata Al-Quran ditulis oleh manusia, pastinya akan ada Al-Quran edisi 1, edisi 2, edisi 3, edisi ke 100, dan seterusnya. Karena kodrat manusia adalah selalu ada kesalahan, sehingga memerlukan pembaharuan dan perbaikan sesuai perkembangan jaman.
Andaikata Al-Quran adalah kitab biasa, tentunya engkau takkan menemukan kalimat yang mengandung fakta, yang bahkan baru sanggup dibuktikan oleh para ilmuwan terbaik dunia, ribuan tahun setelah Al-Quran diturunkan.
Andaikata Al-Quran hanyalah sebatas dokumen dari masa lampau, tentunya kau takkan menemukan jawaban atas segala pertanyaanmu hari ini, apalagi hari esok.

Dan masih banyak andaikata lainnya, dari pandangan seorang manusia. Continue reading “Cerita tentang sebuah buku petunjuk”

9 Maret 2016. Gerhana Matahari di Daratan Indonesia

Pagi ini, kumandang takbir menggema berbeda dengan hari biasa.
melantun syahdu, mengiringi pagi yang basah dan lembab
memanggil umat muslim untuk kembali bersujud kepada Allah SWT sebelum memasuki waktu dhuha

Takbir indah, yang hanya dikumandangkan ketika kami, kaum muslim menghadapi hari yang spesial.
Idul Fitri, Idul Adha, gerhana bulan, dan gerhana matahari
Hari dimana kekuasan dan kemuliaan Allah SWT nampak jelas seterang matahari, dan kilaunya lebih dari sinaran bintang gemintang.
Tanda-tanda itu sangatlah jelas, kawan…
baik untuk engkau yang mengakui, maupun tidak mengakuiNya.
Baik untuk yang mau membuka matanya, ataupun berpura-pura menutup mata
dan nampak sangat jelas, baik untuk yang terbuka hatinya, maupun yang saat ini belum mau membukanya. Continue reading “9 Maret 2016. Gerhana Matahari di Daratan Indonesia”

The First Day in 2016

Selamat Tahun Baru readers….
Semoga tahun ini, segala cita-cita yang tertunda bisa tercapai. Bisa tetep jalan-jalan, kerjaan bagus, juga private live yang oke 😀
Tahun lalu saya habiskan masa-masa liburan tahun baru di Malang. Kota Indah dengan segala kekhasannya. Tahun ini, moment tahun baru saya habiskan dengan kumpul bersama keluarga di Serpong. Sekedar ngerumpi bareng sambil barbeque party. Bakar Jagung, bakar seafood, bakar bebek di loteng rumah.
Salah satu menu Seafood sedikit gosong karya bokap 😀

Sederhana, tapi seru. Itulah kalau kita ngumpul sama keluarga. Nggak perlu jalan kemana-mana, nggak perlu berkutat dengan macet dan huru-hara jalanan di tahun baru, nggak perlu juga ngeluarin uang banyak-banyak.

Semoga tahun ini berjalan lancar dan lebih baik dari tahun 2015.
Salam….

Jalani dengan senyum

Buat orang2 yang bekerja di dunia profesional, Senin identik menjadi hal yang sangat menyebalkan. Betapa setelah liburan, merilekskan pikiran dan mengistirahatkan badan, harus langsung berangkat ngantor subuh2. Nyampe kantor langsung “diseneni” pula sama bos (baca: briefing pagi untuk agenda kerja seminggu). Beres “diseneni” langsung banting pantat di kursi kerja masing2, sambil menghela nafas. Hhhhh….
Mungkin banyak yang nggak sadar, perbuatan barusan adalah yang paling menghabiskan energi. Belum apa2 sudah menghela nafas, sudah pula pasang wajah mengkerut. Walhasil kreatifitas dan semangat kerja pun bakal terbang bersama burung-burung di angkasa (hiperbola versi lebay).
Efeknya lagi, karena ngga ikhlas, kerjaan pun nggak beres2 dan nggak ada habisnya. Hanya mendatangkan keriput di wajah dan uban di kepala sebelum waktunya. Ditambah lagi wajah bersengut yang bikin orang lain nggak betah ngeliatnya. Bikin atasan nambahin beban kerjaan lagi karena dia males liat karyawannya bersengut di depan dia, sehingga dia berpikir, lebih baik tuh orang bersengut di depan komputer daripada di hadapan gue.
Coba deh kita liat dari persepsi yang beda….
Bahwa kerja adalah bukti cinta kita sama Tuhan. Namanya juga cinta, pake senyum kan ya…masakan aja kalau dibuatnya pakai cinta jadi enak rasanya. Gitu juga sama kerjaan. Ketika dijalani dengan senyum, insyaAllah jadi ringan ngerjainnya. Bagus pula hasilnya.
Terus gimana kalo nggak bisa cinta sama kerjaannya?
Ada hadist sahih mengatakan, “jangan berlama-lama dalam keadaan tidak baik” Kalau nggak bisa cinta dan jatuh cinta sama kerjaannya, ya tinggalin aja. Cari kerjaan yang kamu cintai. Yang bisa bikin kamu ikhlas.
Tapi…usia udah segini, mana ada perusahaan yang mau nerima?
Ah sayang, jabatan udah tinggi.
Duh, udah terlanjur jadi PNS. Mau gimana lagi?
Maaf-maaf kata ya, kalimat diatas biasanya tercetus dari mulut orang2 yang pengeluh. Yups, hanya pengeluh yang nggak punya kapabilitas apa2. Nggak punya keberanian, dan hanya berani ngomong di belakang. Omdo istilahnya. Makanya dia khawatir nggak ada perusahaan lain yg mau terima. Makanya dia nggak ikhlas kerjanya. Makanya juga dia nggak percaya sama kemampuan dirinya yang sudah dianugerahkan oleh Tuhannya. Kategori ini juga selalu lupa caranya bersyukur, sehingga seolah semua jalan buntu. Padahal mah dibuntu-buntuin supaya punya alasan buat selalu mengeluh.
Yuk ah, kita coba untuk mengawali hari dengan tersenyum. Bahasa universal yang santun dan indah, juga paling mudah untuk dilakukan, oleh bayi yang baru lahir sekalipun. Kalau beban kerja terasa menghimpit, inget2 aja Tuhan selalu berkata, “Maka nikmatKu yang mana yang bisa kau dustakan?”
Masa nggak percaya?
Udah dikasih nafas, dikasih udara gratis, masih aja ngeluh. Malu dong sama kembang. Nggak bisa jalan aja dia selalu mekar demi membuat orang lain tersenyum melihat keindahannya. Bukti tasbihnya sama Yang Maha Kuasa.
Sekarang balik lagi ke laptop deh. Tarik nafas panjang, terus senyum.
Bilang, terima kasih Tuhan, sudah Engkau mudahkan aku sampai ke posisi yang sekarang ini. Maka mudahkanlah selalu langkahku untuk menapak ke posisi terbaik menurutMu, hingga aku kembali ke sisiMu.
Have a nice work

Kuliah Umum bersama SBY dan Taman Keanekaragaman Hayati Kiara Payung

 

 

Jumat, 11 September 2015 saya menghadiri kuliah umum dalam rangka Dies Natalis Universitas Padjadjaran ke – 58. Pematerinya adalah Presiden Republik Indonesia ke-6, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dengan Judul “Trilogi Pembangunan Abad 21”. Dalam kuliah umum yang berlangsung kurang lebih satu jam tersebut, Pak SBY menekankan berkali-kali pada pelestarian lingkungan, demi kehidupan lebih baik. Kalimat yang tak lagi asing di telinga kita, tentu saja. Saking nggak asingnya, seringkali kalimat tersebut masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Alias, bosen. Namun kali ini berbeda. Saya, yang gampang bosen ini justru bisa meresapi betul apa arti kata-kata Pak SBY.
Tepat seminggu sebelum saya menghadiri kuliah umum Pak SBY tersebut, Jumat 5 September 2015, Allah mengizinkan saya untuk melihat dari dekat bagaimana usaha pelestarian lingkungan itu. Tim kami dikasih kesempatan untuk mengunjungi Blok 5 Taman Keanekaragaman Hayati di Desa Cikeyeup, Kiara Payung – Jatinangor. Taman kehati tersebut adalah hasil kerjasama Pertamina Bandung Group dengan BPLHD Jabar (Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah). Dari situ, kami berkenalan dengan Pak Didin, seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang merupakan aktifis LSM Peduli Citarum. Beliau inilah yang tanpa lelah mengurus program reboisasi hutan gundul.
Taman Keanekaragaman Hayati Kiara Payung sendiri mulai dirintis tahun 2010. Saat itu Pertamina menanam kurang lebih 800 pohon di Blok 5. Setelah 5 tahun, kurang lebih tampilannya jadi seperti ini:
Taman Keanekaragaman Hayati Kiara Payung, Jatinangor
Pasokan Oksigen yang baik membuat langit pun membiru (no edit)
“Dulunya, tempat ini merupakan lahan gundul bekas perkebunan Teh di jaman penjajahan Jepang.” Tutur Pak Udin, sang ketua kelompok pemeliharaan Taman Kehati Kiara Payung. Selanjutnya beliau juga menyatakan, “Setelah ditanami, lingkungan mulai teduh. Debit air meningkat, langit membiru, dan satwa mulai datang. Mulai dari burung-burung unik, Elang Jawa, juga spesies lainnya.”

Namun seiring datangnya satwa dan lebatnya hutan tersebut, pemburu dan pembalak liar juga mulai berdatangan. Tak sedikit pula warga yang mengambil daun-daun pohon tersebut untuk dijadikan pakan ternak. Pak Udin bahkan pernah diikat di pohon gara-gara melindungi hutan agar tanamannya tidak ditebangi sembarangan dan satwanya tidak diburu.

Pohon Sonokeling, Kayunya dijadikan bahan baku untuk membuat Gitar
Proses Pelabelan pun tidak mudah. Butuh keahlian dan konsistensi tersendiri
Sudah seperti cerita di sinetron ya? Tapi itulah kejahatan manusia. Nggak usahlah kita mikir jauh-jauh para “pembakar” hutan di belantara Sumatera. Di Jatinangor saja kelakuan manusia sudah anarkis begitu. Padahal kalau hutan lebat, cadangan air pun meningkat. Udara lebih segar, suhu juga menurun. Nggak terlalu panas. Karena apa? alam sudah menyediakan oksigen sedemikian banyak, air sedemikian melimpah, persediaan kayu yang cukup, asalkan kita sebagai manusia nggak serakah. Ambil seperlunya, di saat yang tepat, dan jangan lupa, tanam kembali. Satu pohon butuh waktu bertahun-tahun buat dia tumbuh. Bahkan ada yang hingga puluhan tahun. Tapi menebangnya hanya butuh sepersekian menit. Alam jadi nggak seimbang karenanya.

Contoh saja, Pak Udin bukanlah seorang akademisi. Bukan juga orang yang memiliki latar belakang pendidikan formal bidang lingkungan maupun Biologi. Pak Udin adalah orang desa yang sejak kecil akrab dengan alam. Beliau memahami alam dan segala perilakunya melalui pengalaman. Melalui pengamatan langsung serta berbekal kearifan manusia.

Bersama Para Volunteer Pelestari Lingkungan
Usaha pemerintah sudah oke kok. Buktinya sekarang perusahaan sudah menggiatkan usaha pelestarian keanekaragaman hayati karena hal tersebut menjadi wajib, dengan adanya Undang-undang yang mengatur. Tinggal kita saja sebagai masyarakat turut membantu program tersebut. Kalau nggak bantu pun nggak apa-apa. Tapi, jangan rusak lingkungan kita. Minimal, jangan buang sampah sembarangan. Nggak usah juga selalu mencibir pemerintah. Nanti percuma mulut monyong tapi nggak ngefek apa-apa tanpa disertai partisipasi. Ayo mulai dari diri kita sendiri. Mulai dari yang kecil.
Karena hukum alam itu pasti. Ketika kita bersahabat dengannya, Ia pun akan bersikap jauh lebih bersahabat dengan kita. Siapa menebar benih, dia yang akan menuainya.

Selamat Ulang Tahun ke-70 Negeriku

Apapun kata orang tentang engkau, bagaimanapun sinisnya segelintir rakyatmu menghujat, menganggap engkau negeri yang terpuruk, juga mencemooh pemimpin bangsa ini, buatku engkau tetap yang terhebat, Indonesiaku. Negeri indah dan luar biasa, tempat aku dilahirkan, dibesarkan, dan akan selalu kubela dengan segenap jiwa dan raga hingga ajal menjemput.
Karena kau Indonesiaku, negeriku yang bersanding di hatiku, setelah Tuhan dan Agamaku.

Dari Belakang Tamansari Water Castle

 

Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Bandung