Berpikir di luar Kota Besar

Memilih hidup di kota besar memang ada dua sisi. Satu sisi yang menarik adalah, apapun tersedia di kota besar. Namun sisi sebaliknya menyodorkan fakta bahwa, kehidupan di kota besar begitu menyesakkan dada, otak sama pikiran. Bukan semata karena biaya hidupnya, melainkan masalah terbuangnya waktu dan tenaga untuk hal yang namanya transportasi. Jarak yang semestinya bisa ditempuh setengah jam, jadi tiga jam. Kalau normalnya satu jam, bisa empat jam. Mau jalan kaki, udara full polusi. Bawa kendaraan sendiri, ilfil. Naik moda transportasi umum, lebih bikin ilfil lagi. Sampai di kantor sudah lelah, penat, stress. Maka sebenarnya tak usah dipertanyakan lagi sebab musabab menurunnya produktivitas masyarakatnya.

Coba bandingkan jika hidup di kota kecil, waktu segitu bisa bermanfaat banyaaaak sekali. Tak hanya bisa produktif, tapi juga ekonomis dan efisien. Apalagi kalau kita adalah kaum terdidik. Manfaatnya jauh lebih banyak lagi. Permasalahannya hanyalah pola pikir. Banyak orang masih beranggapan bahwa, Kalau mau sukses ya ke Kota besar. Yang tinggal di kota kecil dianggap cupu dan katro. Hmm…persepsi salah kaprah bener keblinger berjalan dengan mulusnya.

Let’s think out of the box, dear… Peluang kehidupan yang jauh lebih baik membentang seluas mata memandang. Asal…ulet dan kreatif. Satu lagi, open minded. Terbuka akan hal-hal baru bikin mimpi makin mudah tercapai. Apapun kalau mau sukses ada syaratnya, kan?

Sekali lagi, sungguh, banyak peluang2 besar berceceran di luar sana. Namun hanya orang2 “berani” yang memungutnya dan menjadikannya roket menuju langit mimpi.

Sit in my class

Jam 07.27. Kelas masih kosong. Baru segelintir mahasiswa yang duduk dan membuka laptopnya. Sisanya, katanya sih mau menyambut Seminar Tugas Akhir. Kenapa ya, Tugas Akhir selalu jadi momok yang mengerikan? Kalau bisa memilih, mungkin para mahasiswa nggak mau melewati apa yang dinamakan tugas akhir, skripsi, atau apapun yang sejenis.

Padahal hakikatnya, tugas akhir kan berisi seluruh materi yang telah didapatkan selama menempuh perkuliahan. Yang bikin kita. Yang tahu kita. Yang paham kita. Dosen hanya sebagai perantara. Meluruskan jika terjadi kekeliruan.

Masalah yang terjadi adalah, banyaknya media sosial, juga terbukanya sistem informasi yang tanpa batas. Hal itu bikin orang jadi malas. Dan…menunda. Nanti ah. Ya…bahan tinggal googling. Atau, jurnal tinggal download gratis. Tinggal ngetik, tinggal bikin resume, yang parah, kalau sampai bilang, tinggal mikir. Dan tinggal2 lainnya sampai akhirnya ketinggalan segala-galanya.

Pepatah mengatakan, menunda itu masalah. Dan memang menunda akan benar2 jadi masalah. Giliran sudah mepet waktunya, maka kegalauan tingkat dewa pun melanda. Sebelum hal itu terjadi, bereskanlah, pikirkanlah. Lalu, hadapi. Badai pasti berlalu, kan?

My dear yang mau sidang tugas akhir, seminar, dan yang masih sekolah, kunci dari semuanya adalah banyak membaca. Dari situ akan ada turunannya yaitu memahami. Setelahnya ada turunan lagi yaitu mengamalkan. Maka berjuanglah. Kekuatan tekad dan hati yang teguh pasti bisa kok mengalahkan semua ketakutan berikut tantangannya.

Percayalah.

The injury time theory

Ini dikhususkan buat orang2 yang suka menunda. Termasuk saya sendiri tentunya. Padahal saya tahu pasti, bahwa menunda itu masalah. Bahkan lagi, dosen pembimbing saya pun jelas2 menuliskan saya selalu menunda tugas di surat rekomendasinya. Tapi untuuuung dia juga nulis tingkat intelegensia dan pemikiran saya nggak tertunda. Dulu saya selalu berpikir, setiap mau mengerjakan sesuatu harus nunggu mood. Akhirnya muncullah mata kuliah baru.

The injury time theory.

Dimana cara menanganinya adalah dengan the power of kepepet. Seru sih ngerjain sesuatu saat kepepet. Dikejar deadline ceritanya. Ide dan inspirasi muncul sedemikian derasnya. Tapi yaa…dasar kepepet, akhirnya nggak bisa maksimal. Adaa aja yang kurang. Capek pula. Ditambah ngos-ngosan. Tangan pegel, kaki pegel, jantung olahraga.

Sampai disini, hanya bisa garuk2 kepala. Mengingat lagi kalau my injury time theory sesungguhnya teramat sangat berbahaya. Dengan tingkat risiko diatas 50:50 antara keberhasilan dan kehancuran. Ihh amit-amiit…

Makanya, semestinya hidup itu penuh perencanaan dan pertimbangan yang matang. Jangan hanya mengandalkan rumus kepepet.

Kalau bisa diusahakan, kenapa harus menunda?

night, night.

Keraguan itu…

Keraguan memang seringkali muncul. Awalnya dari alam bawah sadar, lalu mencuat, tumbuh bak penyakit yang menjamur dalam benak. Menggerogoti kalbu, menyelipkan resah, membisikkan kata “jika”.

Jika begini maka begitu. Jika kesana maka kesitu. Padahal semuanya belum tentu. Semua masih kelabu.

Lalu siapa sih yang pingin ragu?
Siapa pula yang senang memelihara keraguannya?
Membiarkannya menelikung tubuh, menghimpit nafas, menyulitkan tidur, dan menyesakkan dada.
Sungguh tidak ada, kawan.

Baiknya, lemparkanlah jauh-jauh keraguan itu.
Pasang tembok keyakinan setinggi-tingginya untuk menghalangi kembalinya si keraguan.
Cari kepastian dalam janjiNya.
Lakukan, apa yang seharusnya kau lakukan,
sambil berucap,

Hasbunallah wa ni’mal wakiil, Ni’mal mawla wa ni’man nashir.

Kenapa Tuhan ciptakan cinta?

Kalau ada kenapa, biasanya dengan cepat kita menjawab dengan awalan KARENA. Untuk menunjukkan sebuah atau beberapa alasan penciptaan cinta.

Padahal sesungguhnya, cinta sejati justru cinta tanpa karena.
Mengalir tulus tanpa syarat, tak mengharap pujian, apalagi sekedar ucapan “terima kasih”.

Demikianlah, Tuhan mengatur manusia agar bisa mencapai titik ekuilibrium dalam hidupnya. Dia perintahkan manusia yang berlainan suku, agama, budaya, dan bahasa untuk dapat saling mengenal, untuk saling mendalami karakter, sehingga timbul rasa toleransi, saling menyayangi, dan selanjutnya mencintai.

Dengan cinta yang sejati.

Langkah pertama di Banjarbaru

Kalau tulisan sebelumnya membahas tentang Indonesia Timur, kali ini saya akan menorehkan catatan perjalanan saya mengelilingi Kalimantan Selatan. Ya. Kalimantan Selatan, Provinsi penghasil emas hitam, Emas, Intan, Permata, dan batu-batu berharga lainnya.

Berawal dari sebuah pekerjaan mengenai Listrik Pedesaan dari PT. Surveyor Indonesia yang bekerjasama dengan PT. PLN Persero Wilayah Kalselteng, maka saya menginjakkan kaki kemari. Kalau perjalanan sebelumnya saya selalu “ala Koper” kali ini semua perjalanan saya adalah “ala Ransel”. Kalau biasanya saya selalu menikmati fasilitas serba ada dan terbaik, kali ini saya full dengan keterbatasan. Saya benar-benar merasakan harus turun ke hutan, mengarungi sungai Barito, bahkan bertarung dengan maut di pedalaman Kalimantan Selatan.

Baiklah, awal mula perjalanan saya adalah ke Banjarbaru. Sebuah Kota di Kalimantan Selatan, yang sebentar lagi akan menggantikan Banjarmasin sebagai ibukota Kalimantan Selatan. Di Banjarbaru ini suasananya hampir mirip dengan di Bandung. Suasana lho ya, bukan iklim. Kenapa? Karena disini banyak sekali orang Sunda. Jajaran pedagang Siomay, Batagor, Bakso, Mie Ayam, sampai yang punya laundry dan tukang pulsa, semuanya orang Sunda. Rata-rata berasal dari Garut, Tasikmalaya, Bandung, Lembang, Cianjur, Purwakarta, dan tanah Sunda lainnya. Seru kan? Jauh-jauh saya ke Kalimantan, saya masih bisa menggunakan bahasa Sunda untuk berkomunikasi. 

Saya menggunakan penerbangan langsung dari Bandung ke Banjarmasin dengan Lion Air. Pesawatnya baru, sehingga masih sangat nyaman. Meskipun tidak mendapatkan pelayanan sekelas Garuda Indonesia, tapi menurut saya pesawat ini memenuhi standar pelayanan minimal. Kabinnya nyaman, dengan interior yang menawan dan jarak antar kursi yang luas. Cukup leluasa untuk saya selonjoran. Kursinya juga empuk, jadi berasa di pesawat. Berbeda dengan pesawat Lion Air yang pernah saya naiki sebelumnya. Kursinya keras banget. Jadi seperti naik metromini jurusan Blok-M Tanah Abang 😀
Pesawat mendarat jam 19.30 WITA di Bandara Syamsudin Noor. Sedikit terlambat dari jadwal semula gara-gara ada penumpang yang salah naik pesawat. Harusnya ke Banjarmasin, dia malah nangkring di pesawat tujuan Surabaya. Maklum sih…di Bandara Husein Sastranegara nggak jelas gitu petunjuknya. Nggak ada plang yang jelas kayak di Soekarno Hatta. Jam penerbangan pesawat berdekatan, tapi gate cuma satu. Kebayang kan, penuhnya kayak apa? Baru dua bulan nggak terbang lewat Bandung, eh…tau-tau boarding roomnya sudah kayak ikan sarden.  Satu-satunya yang harus kita dengarkan adalah Mas dan Mbak pengarah jalan. Dia akan berteriak, “Banjarmasin!” “Surabaya!” Tapi namanya orang teriak di landasan tanpa pengeras suara, sekeras apapun dia berteriak kan hilang terbawa angin suaranya. Pokoknya saya sampai kasihan sama mas-mas dan mbaknya. Mana penumpangnya bandel-bandel lagi. 

Saya dijemput Mas Ote dan Zhed (Seorang pria narsis, iconnya PT. Surveyor Indonesia Banjarbaru). Aduh kalau sudah ngobrol sama Zhed, nggak nahan deh. Adaaa aja celetukannya yang bikin kita ngakak. Kami makan malam di Rumah Makan Padang Sederhana. Karena rasanya itu yang masih buka dan menunya masih lengkap. Setelah itu kami diantar ke Riyadh Guesthouse yang beralamat di Komp. Citra Megah Raya blok B 34-35. Kalau ke Banjarbaru, gampang kok menemukan alamat Riyadh. Guesthouse ini nyaman banget. Meskipun pemiliknya mengatakan Riyadh adalah sebuah Guesthouse, Tapi fasilitas kamarnya kayak hotel bintang 3. Lebih rapi malah. Pelayanannya bagus, Bersih, dan desain interiornya keren. Usut punya usut, ternyata adiknya yang punya adalah seorang arsitek. Hmm…pantesan…untuk ukuran sebuah Guesthouse desainnya jauh berbeda dari Guesthouse yang pernah saya singgahi di Solo dulu. Sayang saya lupa nggak ngambil gambar Guesthouse ini. Oh iya, rate per malamnya saya kena IDR 320 ribu.
Simpang 4 Banjarbaru

Setelah istirahat satu malam di Riyadh, pagi hari saya dan tim menuju ke kantor pusat PT. PLN (Persero) Wilayah Kalselteng. Hanya berjarak tak kurang dari 1 km dari Riyadh Guesthouse. Waah..Enaknya di Banjarbaru tuh nggak ada macet. Hal itu yang selalu saya rindukan. Tata kotanya teratur, bersih, dan udaranya juga belum kena polusi seperti di Banjarmasin. Menurut saya, Banjarbaru adalah Kota yang nyaman untuk tempat tinggal. 

Di kantor PLN saya berkenalan dengan anggota tim lainnya, dan diputuskan bahwa saya akan terjun langsung untuk melihat keadaan di lapangan. Khususnya desa belum berlistrik, dan desa yang rasio elektrifikasinya masih kecil. Saya nggak kaget, karena sebelumnya saya pernah ke Cianjur Selatan untuk pekerjaan yang tak jauh berbeda. Medan yang berat sudah terbayangkan oleh saya. Paling berat lainnya adalah saya nggak ngerti apa-apa soal listrik. Padahal saya harus berkutat dengan jaringan. Hahaha…parah ya? 
Tapi saya dilatih langsung sama Pak Nesyandri Kahar. Biasanya beliau yang kasih pelatihan buat orang-orang PLN. Dan saya, dikasih penataran singkat soal Single Line Diagram, Grid and isolated system, tiang Tegangan Rendah, Tegangan Menengah, Tegangan Tinggi, Trafo, dan lain sebagainya. Lumayan, bikin saya pede kalau saya lagi ngobrol sama orang PLN 😀 (Padahal belajarnya juga baru-san).

Selesai meeting dengan tim PLN, Pak Nes nyariin saya tempat Kost. Karena saya akan bertugas selama kurang lebih satu bulan full. Dan…ketemulah satu tempat kost yang nyaman. Fasilitas lengkap, dan bapak dan ibunya baikkk banget. Pak Lazuardi namanya. Nah, ini penampakan kosan saya :
Dengan harga sewa kamar IDR 1,250 juta/bulan, saya dapat fasilitas lumayan lengkap. Ada kamar mandi dalam, AC, kasur spring bed, lemari, meja belajar, washtafel dan lobby (Bahasa keren buat ruang tamu). Jadi berasa kayak di rumah sendiri. Asyik lah buat istirahat. Cari makan juga gampang. Banyak penjual makanan di dekat tempat kost. Minimarket juga tinggal jalan sedikit ke depan. Tempat kost saya berada di Jalan Taruna Praja No. 11 (Kalau nggak salah) lupa-lupa inget soalnya. Tau nyampe aja :D. Salah satu makanan favorit saya di sekitar Taruna Praja: PENTOL. Namanya unik, ya? Sebenarnya Pentol adalah makanan khas Malang, Jawa Timur. Dibawa ke Kalsel juga sama orang Jatim. Saking banyak penggemarnya, akhirnya jadi makanan khas daerah Kalsel dehh…
Pentol
Pentol ini amat digemari di daerah Banjarbaru, Banjarmasin, bahkan sampai ke Marabahan. Kayaknya seluruh Kalsel kenal deh makanan ini. Kepopulerannya layak disamakan dengan Cilok di Bandung. Pentol sebenarnya adalah bakso. Namun orang Kalsel biasanya makan pentol dengan dicocol saus sambal dan sambal cabe. Kalau saya, memilih dikasih kuah. Harga satu porsi pentol ini IDR 7 ribu saja. Dijamin kenyang deh. Penampakan gambar di atas adalah versi sudah dimakan sama saya 😀 Saking seringnya saya beli pentol disini, Masnya sampai hafal sama saya. Dan kami biasanya ngomong pake bahasa Jawa. Menurut saya yang sudah mencoba pentol di Kalsel, saya menobatkan kalau Pentol Taruna Praja paling enak se-Kalsel. Hehehe…

Hari berikutnya, masih dalam rangka wisata kuliner (Kerjaan belum dimulai), saya bertiga dengan Pak Nes dan Mas Ote ke Banjarmasin. Saya lupa nama restaurantnya, tapi rasanya berada di Jalan Gatot Subroto. Menunya seafood dan beberapa makanan khas Banjar. Kami memesan 2 Es jeruk, juice alpukat, cah kangkung, dan 3 porsi ikan baronang bakar. Plus nasi putih tentu saja. Total harga makanan IDR 170 ribu saja.
Baronang Bakar
Cah Kangkung
Juice Alpukat

Soal rasa, dari skala 1-10, saya kasih nilai 7. Satu yang nyebelin, pesennya lamaaa…padahal perut sudah lapar berat. Mungkin karena kami pesannya bakar-bakar.

To be Continue, “Banjarmasin Second” with my team.







Menikmati Keindahan Benteng Tolukko dan Bella International Hotel Ternate

Benteng Tolukko

Menikmati Keindahan Benteng Tolukko dan Bella International Hotel Ternate

Sebelum masuk ke Benteng Tolukko, saya sempat ngobrol sama Zul tentang asal mula Benteng ini. Dia malah bilang, “Ini lho mbak, yang buat syuting sama Bambang Pamungkas waktu iklan Kuku Bima Energi. Hehe…saya juga baru “ngeh”. Wajar sih, Benteng ini berdiri di atas bukit batuan beku yang memanjang ke arah barat laut tenggara. Letaknya menjorok ke laut dalam. Biru tua laut berpadu dengan birunya langit Ternate yang bersih. Hmm…nggak heran kenapa dulu Portugis bikin Benteng disini. Letaknya sangat strategis.

Continue reading “Menikmati Keindahan Benteng Tolukko dan Bella International Hotel Ternate”

Batu Hangus, Lava indah dari Gamalama

Batu Hangus, Lava indah dari Gamalama
Tulisan ini merupakan lanjutan dari perjalanan saya ke Ternate. Kalau pada tulisan sebelumnya saya membahas tentang Danau Tolire dan misterinya, kali ini saya akan mengajak anda untuk menyusuri Batu Hangus. Satu lokasi di batas kota Ternate yang dipenuhi bongkahan indah bebatuan berwarna hitam. Batu Hangus sebenarnya merupakan bekas muntahan lava Gunung Gamalama ratusan tahun lalu. Lava tersebut mengeras, menjadi batu, dan berwarna hitam pekat. Sehingga oleh masyarakat setempat disebut sebagai Batu Hangus. Namun lokasi Batu Hangus yang saya susuri adalah bekas letusan Gunung Gamalama tahun 1980an. Karena lokasi tersebut berada di pinggir jalan, dan gampang parkirnya.
 

Continue reading “Batu Hangus, Lava indah dari Gamalama”

Misteri Danau Tolire

Misteri Danau Tolire

Baca perjalanan sebelumnya: Get Lost in Ternate
Setelah memastikan nama saya tertera di daftar reservasi Bella International Hotel, juga saran dari petugas hotel, saya pun memutuskan untuk berkeliling Pulau Ternate. Demi menjaga stamina, maka saya putuskan untuk makan siang terlebih dulu. Saya minta tolong Zul untuk memilih restaurant yang makanannya enak dan pemandangannya bagus.
Sekitar lima belas menit keluar dari Hotel, akhirnya kami sampai ke restaurant Floridas. Dari namanya, kukira restaurant ini menyajikan menu western. Tapi kata Zul, disini isinya masakan Indonesia. Waktu saya tanya kenapa tidak ke restaurant yang menyajikan masakan Ternate saja? Zul bilang disini masakannya diadaptasi dari masakan Sulawesi. Jadi paling adanya ikan bakar, gulai, dan menu umum lainnya. Baiklah…nggak masalah. 
Begitu saya masuk, langsung terlihat kalau restaurant ini besar. Meja dan kursi makannya banyak. Meskipun saat saya kesitu, restaurant dalam kondisi sepi. Baru bubaran makan siang. Padahal jam baru menunjukkan pukul 11.30 WIB. Hei…saya lupa sesuatu. Ternate masuk kawasan Waktu Indonesia Timur. Berarti beda dua jam. Dan sekarang jam 13.30. Pantesan sepi.
Sungguh saya kagum ketika waitress mengantarkan saya ke balkon restaurant. Kami menghadap langsung ke Pulau Tidore dan Murotai. Selama ini hanya kudengar dan kubaca dari liputan wisata. Hari ini, saya melihat ciptaanNya yang indah dengan mata kepala saya sendiri.
 Keindahan Pulau Tidore dan Maitara
Melihat indahnya kayak gitu, nggak disia-siakan dong momentnya…apalagi kalau bukan buat berpose 😀 Dengan Zul sebagai fotografer dadakan.
Itu saya lagi pilih-pilih menu. Pilihan dijatuhkan pada gulai ikan baronang, cah kangkung udang, dan sayur pahit (bunga pepaya), dan nasi putih. Minumnya Juice alpukat untuk Zul, dan Es kelapa muda gula merah untuk saya. Total makanan dan minumannya IDR 72ribu. Soal rasa, biasa saja. Kalau dalam skala 1 sampai 5, nilainya 2,5 lah. Ini penampakan minuman saya :
 
 
Nah, kalau minumannya, enak banget. Es kelapa muda gula merah yang saya pesan rasanya nikmat dan menyegarkan. Dari skala 1-5, saya kasih nilai 5. Makanya saya abadikan dengan kamera saya. Lihat tuh, eksotis kan fotonya? Kayak lagi menyemburkan uap, dan uap dari gelas saya sampai ke gunung. Maksa 😀

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan. Saya kasih uang parkir ke Zul. Malah diketawain. “Disini nggak ada yang mau jadi tukang parkir, mbak.” gitu katanya. Hehe…beda budaya. Baiklah…lanjutt…

Kekaguman saya kembali mencuat ketika mobil kami melewati perkebunan pala dan cengkih. Sebuah harta karun yang dimiliki pulau Ternate, yang justru membawa malapetaka buat masyarakatnya di masa lalu. Bangsa portugis yang semula membeli bijinya, kemudian membeli buahnya, daunnya, hingga seterusnya justru menginginkan pulau Ternate dan Tidore untuk mereka kuasai. Memang manusia yang serakah. Keramahan masyarakat Indonesia timur disalahgunakan. Pohon cengkih dibabat habis, sehingga hanya satu pohon yang tersisa saat itu. Hingga saat ini, pohon tersebut masih berdiri tegak, meskipun usianya sudah tiga setengah abad. Sayangnya saya nggak sempat melihat pohon yang menurut Zul, besarnya bisa sepuluh kali pelukan orang dewasa. Kebayang kan, besarnya?
Kami menuju Danau Tolire. Sebuah danau yang terletak di kaki Gunung Gamalama. Danau ini jauh berada di bawah lereng, airnya berwarna hijau tua. Konon katanya, danau tersebut sangat dalam, berkilo-kilometer dalamnya dan berakhir di lautan. Meskipun hingga saat ini tak seorangpun pernah mengukur kedalaman Danau Tolire. Konon juga, danau ini banyak ikannya. Tapi tidak pernah ada yang berani turun ke danau selain juru kunci, karena masyarakat yakin dan percaya kalau di bawah danau sana banyak buaya silumannya.

 

Waktu baru sampai sini, Zul bilang danau ini memiliki kisah mistis. Setiap kita melempar sesuatu ke danau, bagaimanapun kuatnya lemparan kita dengan menggunakan batu atau benda apapun, maka tidak akan pernah menyentuh air danau. Benda yang kita lemparkan akan menghilang, sebelum menyentuh permukaan air danau. Saya nggak percaya sebelumnya. Terus Zul ngambil satu batu, dan melemparnya ke danau itu. Wusss!!!
 
Tiba-tiba hilang! Batunya hilang!
 
Wahh…amazing! Setengah hati saya bilang amazing, setengah sisanya bilang nonsense. Masa iya, sih? Saya coba deh melempar batu. Saya lempar sekeras-kerasnya. Eehhh hilang! Batunya hilang tak berbekas sebelum menyentuh permukaan air. Saya melongo beberapa saat. Saya jalan ke tubir tebing, hendak melihat apa yang terjadi. Tapi Zul keburu memperingatkan saya, jangan sampai terlalu dekat dengan tebing karena tebing itu rapuh. Kalau terperosok nggak ada yang mau nolongin, selorohnya. Zul cerita, waktu itu pernah ada turis asing penasaran, mencoba membidik air danau dengan senapan. Dan hasilnya, peluru itu juga tidak sampai menyentuh permukaan air Danau Tolire.
 
Melempar batu ini nggak gratis lho…satu batunya dihargai IDR 2 ribu. Karena melempar 3 batu, maka kami harusnya bayar IDR 6 ribu. Tapi Zul korupsi, jadinya kita suruh bayar IDR 4 ribu saja ke bapak-bapak yang di bawah ini :
Para penunggu batu 😀
Usut punya usut, Danau Tolire ada dua lho…Danau Tolire Besar, dan Danau Tolire kecil. Nah yang saya kunjungi ini adalah Danau Tolire Besar. Menurut sumber yang saya baca dari Wikipedia, ceritanya begini: 

Danau Tolire Besar dan Tolire Kecil, menurut cerita masyarakat setempat, dulunya adalah sebuah kampung yang masyarakatnya hidup sejahtera. Kampung ini kemudian dikutuk menjadi danau oleh penguasa alam semesta, karena salah seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri.

Saat ayah dan anak gadisnya yang dihamilinya itu akan melarikan diri ke luar kampung, tiba-tiba tanah tempat mereka berdiri anjlok dan berubah menjadi danau. Danau Tolire Besar dipercaya sebagai tempat si ayah. Sedangkan Danau Tolire Kecil diyakini sebagai tempat si gadis.

 
Dihubungkan dengan cerita saat ini, begitu banyak ayah yang tega menghamili anak gadisnya. Kalau mereka dikutuk seperti cerita Danau Tolire, berapa danau yang akan terbentuk di Indonesia ini? Hiyyyy nggak kebayang deh. Nggak dikutuk saja sering banjir. Terlepas dari misteri Danau Tolire, tentu saja saya lebih menikmati suasana sejuk dan asri di sekeliling danau. Zul membantu saya mengabadikan moment tersebut. *Makasih Zul…
Karena saya berdiri dengan dilatarbelakangi Gunung Gamalama, maka saya namai foto ini sebagai “Arum Gamalama” 😀 jangan dikaitkan sama Dorce Gamalama, ya. Jelas-jelas nggak sodaraan. Di sekitar danau Tolire besar, ada pepohonan yang rimbun. Setelah saya perhatikan, pohon itu adalah pohon cermai. Buah kecil-kecil khas Indonesia. Rasanya manis kalau sudah merah, namun kalau masih hijau rasanya asam dan sepet. Begini nih pohonnya :
 
Lanjut perjalanan lagi. Kami keluar dari lokasi Danau Tolire besar. Hanya bayar IDR 5 ribu untuk biaya parkir. Sayangnya disini nggak ada pedagang yang berjualan es kelapa muda atau apa gitu, supaya bisa betah duduk sambil menikmati pemandangan lereng Gunung Gamalama dan hijaunya air danau yang eksotis. Satu-satunya tempat duduk ya seperti foto bapak penunggu batu tadi. 
 
Zul membawa saya menyusuri jalanan sepi. Di sepanjang perjalanan mengitari pulau, saya melihat banyak motor terparkir di pinggir jalan. Okelah kalau jalanan yang ramai, saya bisa mengerti. Tapi di jalan menuju hutan? Saat saya tanya Zul, dia hanya tersenyum. Akhirnya cerita deh…kalau yang punya motor itu biasanya adalah pemuda-pemudi yang lagi pacaran. Masuk ke dalam hutan. Ckckck…aneh-aneh saja. Ngapain coba? Mau sowan sama sodaranya kali ya? Hehe…
 
Zul nanya ke saya, “Mbak kok percaya sama saya sih? Kita kan belum kenal betul. Di daerah yang nggak dikenal, sepi, kok berani hanya jalan berdua dengan supir?”
Saya jawab, “Saya berani karena selalu ada yang jaga saya. Di pundak kanan, pundak kiri, depan, dan belakang. Selain penjagaan itu, masih ada kekuatan Maha besar yang menjaga saya. Saya sudah minta izin sama si pemilik kekuatan besar itu, kalau saya mau menginjakkan kaki ke belahan bumiNya yang lain. Jadi, apa yang harus saya takutkan?”
 
“Tapi kenapa mbak percaya sama saya? Kalau saya bukan orang baik bagaimana?” tanya Zul lagi. Saya sampai ketawa lihat mimiknya Zul. Wajah baik hati yang selalu menebarkan senyum. Halus tutur katanya, dan menganggap saya sebagai teman barunya yang perlu dia antarkan kemana-mana. Siapa yang bakal bilang kalau dia orang nggak bener? Tapi saya jawab,
 
“Feeling saya yang bilang kalau kamu orang baik. Lain halnya kalau feeling ini bilang kamu orang nggak bener. Mana mau saya minta kamu nganterin saya keliling Ternate?”
 
Zul menyeringai. Nyeletuk. “Kirain mbak jago silat. Jadi berani. Tadi aja pas di Bandara, tampangnya pede banget. Mana barengan rombongan polisi. Ternyata orang nyasar lagi jaga gengsi.” 
 
Hahahaha…si Zul kurang ajar juga. Dia sejak awal sudah lihat saya mendarat, tapi nggak berani menawarkan taksi karena dikiranya saya ini anggota Brimob. Tepuk jidat deh. Nggak ketampangan kali…
 
Tak jauh dari Danau Tolire, kami melewati pantai Sulamadaha. Kata Zul itu pantai berpasir putih. Tapi saya lagi nggak berminat. Kondisinya ramai begitu. Saya lebih suka pantai yang sepi, tapi eksotis. Daan…saya menemukan ini:
Masyarakat Ternate bisa menikmati hiburan gratis di pantai tersebut. Saya hanya berhenti sebentar untuk mengambil gambar. Lanjut perjalanan lagi, melewati hutan-hutan, dan ketemu lagi pantai tersembunyi.

 

 

Di pantai tersembunyi ini nampak beberapa bapak-bapak sedang berkumpul. Bersembunyi kali yaa…segelintir dari mereka punya kebiasaan buruk mengkonsumsi minuman beralkohol yang mereka sebut sebagai minuman cap tikus. Yaitu sebuah minuman yang dihasilkan dari nira kelapa yang dimasak sebelum menjadi gula merah. Uap nira inilah yang mengandung alkohol. Para kaum lelaki meminumnya ketika mentari bersinar terik, di tepi pantai. Saya sempat terheran-heran, bukankah orang minum alkohol untuk menghangatkan badan? Kalau suhu udara sudah terik untuk apa pula mereka minum? Ah sudahlah. Lanjut lagi perjalanan saya. Eh…ketemu lagi sama si Cantik Gamalama.
 

 

Di balik pepohonan itu ada Danau Tolire kecil.
 
Bersambung…
 
 
 

 

Get Lost in Ternate

 

Judulnya lebay. Sengaja.
Biar gimanaa gitu kesannya. Padahal, selain di Bandung, jarang banget saya nyasar. Baiklah, saya mau cerita perjalanan saya ke Ternate. Sebuah pulau kecil yang terletak di kawasan Maluku utara. Perjalanan tersebut saya lakukan tanggal 19 Juni 2012. Hampir setahun lalu yaa? Tapi baru di share sekarang.
Menurut orang-orang yang sudah pernah ke Ternate, katanya pemandangannya luar biasa indah. Saya mau bandingkan, lebih bagus mana dengan Manado?
Lagi-lagi, saya memilih terbang dengan Garuda Indonesia. Pokoknya selagi masih ada Garuda yang terbang, saya pasti pilih maskapai itu. Meskipun yaa…karena lagi peak season, harga tiketnya naudzubillah! Nyaris IDR 7 juta CGK-TTE-CGK! Fantastis dan bombastis banget dah tuh tiket. Tapi pas dibandingin sama temen-temen yang naik maskapai lain, saya menganggukkan kepala. Nggak beda jauh harganya.
Selidik punya selidik, kata mbak pramugari…lagi ada festival Sail Murotai, di Pulau Murotai. Sebuah pulau yang terletak di sekeliling pulau Ternate. Pantesaaan muahal. Wisatawan domestik dan asing, terutama penggemar diving lagi tumplek blek disitu. Saya ambil penerbangan pagi. Jam 06.40. Pesawat ini akan terbang ke Ternate dengan singgah di Manado. Tiga jam terbang, saya melihat daratan sudah kelihatan. Sepertinya pesawat ini akan segera mendarat di bandara international Sam Ratulangi. Pas waktu transit di Manado, saya ditelepon pusat. Katanya terpaksa saya harus sendiri dulu (atau sendiri lagi???)
Pengalaman pertama ke Ternate …. I’m alone…
Tapi dari kesendirian ini…saya banyak belajar kalau sebenarnya kita tak pernah sendiri. Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung. Itu tips dan undang-undang dasar yang harus dipatuhi. Nggak perlu takut, karena Allah selalu bersama hambaNya yang berserah. Di tempat paling asing sekalipun, kalau kita bersikap sopan dan menghargai orang lain…Pastinya orang lain pun akan menghargai dan menyayangi kita.
Waktu akan mendarat di Ternate, pesawat yang saya tumpangi berputar-putar mengelilingi gunung. Terbang di atas laut yang airnya membiru. Pertanda laut dalam. Agak sedikit mengkeret, karena runawaynya nggak kelihatan. Bahkan saya nggak tahu, bandaranya tuh disebelah mana. Gunung semua. Nggak gunung, laut deh. Masa iya pendaratannya di laut? Hiiiyy..amit-amiiit!! Knock-knock on the window!!!

 

 

 

Gambar di atas saya ambil meskipun suasana hati lagi deg-degan. Baguuus banget. Sayangnya pas diambil dari jendela pesawat jadi gelap. Lagi kabut siih. Juga efek kamera yang berfitur pas-pasan, dengan kemampuan motret yang pas-pasan pula.
Makin lama, pesawat terbang semakin rendah. Wah, nambah nggak enak perasaan nih. Runaway masih belum terlihat sama sekali! Haloo…bahkan saya masih nggak tahu pesawat ini mau turun dimana! *mulai melongok-longok. Bahkan kamera di tangan sudah siap dan saya sudah menekan tombol “recording.”
Daaaaan….sodara-sodara! Saat yang dinantikan akhirnya datang juga. Pilot bilang sebentar lagi kami akan mendarat di Bandara Sultan Baabullah Ternate. Terus bilang “Flight attendant, landing position.” Tapii…baru bilang begitu kami sudah menembus awan, dan runaway langsung keliatan! Haah…biasanya kalau bilang gitu pendaratan sekitar lima menitan lagi. Lha ini! hanya beberapa detik, tiba-tiba Wusssshhhh!!! Pesawat dibanting sekerasnya ke landasan pacu, lalu tiba-tiba ngerem! Sampai kamera di tangan saya hampir nggelinding ke lantai pesawat. Saya terusin merekam kejadian tadi. Buat kenang-kenangan.
Supaya kelak, kalau saya punya anak, terus anak saya mau ke Ternate, saya udah punya kisi-kisi. Paling enggak, dia udah bisa pasang kuda-kuda sebelum landing. Hehehe…lebay.
Waktu mendarat dan pesawat sudah dalam keadaan baik-baik saja, saya mulai melanjutkan aksi. Memotret pemandangan di luar sana. Beruntung, cuaca cerah ceria, Langit pun seolah merestui saya untuk menikmati bumi yang baru akan saya pijak untuk pertama kalinya dalam hidup. Bumi Ternate. Yang dulu bahkan hanya bisa saya lihat di lembaran uang seribu rupiah dan kisahnya saya baca di buku PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa). Mungkin yang seangkatan dengan saya masih ingat pelajaran itu.
Beginilah penampakan di Bandara Sultan Baabullah Ternate.
Ternyata, terminalnya naik gitu. Di atas bukit. Pas saya turun, langsung dijemput bus airport, dan bus itu nggak ada ACnya. Ya ampun, panas banget. Saya memandang sekeliling, dan menyadari kalau landasannya pendek. Terkuaklah penyebab rem mendadak tadi. Namun di tengah kepanasan cuaca, saya dapet telepon dari Jakarta, kalau hotel sudah oke. Saya akan menginap di Hotel Bella International. Baiklah, tinggal cari taksi di depan.
Dengan pedenya, saya keluar terminal. Saya barengan tuh turunnya sama serombongan perwira polisi. Banyak pula pengawalnya.
Namun satu hal lagi yang mengejutkan, ternyata tidak ada counter taksi di bandara ini. Saya menepuk jidat. Adanya hanya angkot. Walahh…kalau naik angkot pastinya saya bingung. Meskipun kata temen saya Ternate itu kecil, tapi kalau nggak ngerti jalan ya males juga kali. Akhirnya saya melayangkan pandangan ke sekeliling terminal. Nggak ada yang nawarin taksi, meskipun itu taksi gelap. Hhh…kayaknya gara-gara saya dikira rombongan perwira polisi deh. Di tengah kebingungan, tetap doong saya pasang tampang kalau “Saya sudah teramat sangat mengenal wilayah Ternate.” Meskipun pada kenyataannya nggak banget. Hehe…tampang ini supaya saya nggak ditipu orang. Biasanya sih manjur. 
 
Mata saya tertuju pada serombongan ibu-ibu berjilbab yang sedang menunggu di sebuah loket (Belakangan saya baru tahu itu adalah terminal keberangkatan). Pintunya terpisah hanya beberapa meter dari pintu terminal kedatangan. Saya hampiri para ibu-ibu itu, terus saya tanya salah satu dari mereka. Berharap kalau saya dapat dengan mudah memahami Bahasa Indonesia mereka (Orang Indonesia Timur punya aksen yang khas setiap berbahasa Indonesia, dan biasanya sulit dipahami oleh orang Indonesia Barat). Saya tanya dengan sopan,
 
“Ibu, kalau saya mau ke hotel Bella International, saya harus naik apa, ya?” 
Seorang ibu melihat saya dari atas ke bawah. “Oh…adek bukan orang sini?” Dia balas bertanya.
Saya menggeleng. Dalam hati, perasaan wajah saya jawa banget deh. Tapi nggak apa-apa. Kayaknya ibu ini baik. Pikir saya. 
“Oh saya kira orang sini, sepertinya paham daerah.”
Walahhh…pasti ini gara-gara tampang saya yang sok tahu dan sok kenal lokasi tadi.
Saya lemparkan senyum terbaik saya doong ke ibu itu. Saya jelaskan kalau saya baru saja mendarat dari Jakarta. Teman-teman ibu itu mengerubungi saya. Salah satu dari mereka bilang saya harus naik taksi. Kalau sendirian, kena IDR 150 ribu. Tapi kalau mau nunggu penumpang lain, bisa IDR 50 ribu. Saya nggak ngerti taksinya dimana. Tiba-tiba ibu itu menjerit, memanggil salah seorang temannya. Bapak-bapak setengah baya. Bapak itu, langsung mencarikan taksi untuk saya. Trenyuh hati saya waktu si ibu bilang, “Carikan supir yang baik pak untuk adek ini. Kasihan, perempuan sendirian.”
Waa…baik banget…jadi terharu…
 
Nggak lama, seorang laki-laki, seumuran saya kayaknya, menghampiri. Wajahnya ramah. Tapi saya tebak dia bukan orang asli Ternate. Dia tersenyum ramah, menawarkan pada saya hendak menunggu penumpang lain atau mau taksi pribadi. Saya jawab taksi pribadi saja…saya nggak mau dengan penumpang lain. Secara…saya sendirian. Maka saya berusaha meminimalisir risiko. Supir taksi langsung membawa koper saya ke sebuah mobil Avanza hitam. Tak lupa saya berterima kasih pada ibu-ibu yang sudah membantu saya. Saya ucapkan salam, dan mereka membalasnya dengan ramah. Sungguh indah rasanya kalau kita bertemu dengan saudara sesama muslim di tanah yang tidak kita kenal.
 
Meluncurlah kami meninggalkan bandara Sultan Baabullah Ternate. Melihat rumah-rumah penduduk yang beratapkan seng dan padat sekali. Di jalan menuju hotel, saya berkenalan dengan supir. Namanya Zul. Dari Makassar. Benar ternyata perkiraan saya. Dia bukan asli dari Ternate. Sudah lima tahun di Ternate. Katanya sih mencari uang di Ternate jauh lebih mudah daripada di Makassar. Saya setuju. Jarak tak kurang dari 5km saja dari bandara ke hotel tarif taksinya IDR 150 ribu. Padahal kalau di Bandung paling banter IDR 30 ribu.
Nggak rapi ya kelihatannya? Memang semrawut bangunan rumahnya. Kontur tanah yang berundak-undak membuat penduduk berkumpul di tempat yang datar. Tapi jangan salah, menurut Zul, harga kontrakan disini mahal lho. Dia saja, kontrakan beratapkan seng, berlantai kayu, berukuran 2×3 meter persegi dan tidak ada fasilitas apapun, harga sewanya IDR 500 ribu. Kamar mandi juga seadanya. Di luar pula. Kalau mau ada fasilitas tempat tidur dan kipas angin, harganya IDR 1juta per bulan. Dan kalau mau ber-AC dengan fasilitas lengkap (tetap saja beratapkan seng dan berlantai kayu), harganya mencapai IDR 2juta per bulannya. Haaahh??? Kalau di Bandung, harga segitu sudah dapet kamar gede, AC, kamar mandi dalam dengan hot and cold water, fasilitas lengkap berikut cuci setrika gratis. Ada akses wifi pula. Di Ternate, jangankan wifi. Sinyal handphone saja nyaris nggak ada!
Benar-benar membuat saya mengelus dada. Biaya hidupnya tinggi sekali. Pendapatannya juga tinggi siih…daerah kaya. Selanjutnya, saya tanya-tanya ke Zul. Mau nggak dia nemenin saya keliling Ternate. Dari siang sampai malem. Zul mau. Dia memberikan potongan harga hampir 50%. Hahaha…kayaknya dia ambil harga pertemanan. Biasanya kalau sewa mobil setengah hari sekitar IDR 400 ribu. Tapi saya cukup IDR 250 ribu saja. Padahal kalau mau ditilik, jarak 5 km Bandara-Hotel saja sudah IDR 150 ribu. 
 
Satu hal yang menyenangkan, jalanan di Ternate tidak padat dengan kondisi jalan yang sangat mulus. Jadi nyaman banget. Tidak terguncang-guncang di kendaraan. Jauuuuh berbeda dengan kondisi jalan di Bandung, apalagi rute menuju Ciwaruga 😀
 
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, sampailah saya di Bella International Hotel. Katanya sih ini hotel terbesar di Ternate. Sangat megah, dan pemandangannya itu lho…disini menghadap langsung ke Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Dengan bangganya, replika uang Rp1000,00 dipajang di lobby hotel ini.
Replika uang Rp. 1000,00 kebanggaan masyarakat Ternate
 
Coba yaa saya bandingkan dengan hasil jepretan saya :

 

Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Taken from Floridas Restaurant. No Edit, hanya menggunakan kamera Sony Steady Shot DSC-W310. My pocket camera yang setia menemani saya keliling Indonesia.

Saat saya mencoba check in hotel, ternyata hotel masih penuh. Kamar baru ready jam 14.00. Ya sudah, tidak apa. yang penting saya sudah tahu hotelnya. Jadi saya langsung panggil Zul. Dan meluncurlah saya keliling Ternate. Kata petugas hotel, luas pulau Ternate hanya 5.795,4 km persegi. “Cukup 45 menit, sudah bisa keliling pulau.” Katanya dengan bangga.

Ok, Check this out…