22 Desember


Hari ibu, dan aku sungguh lupa. Baru teringat saat aku sudah meninggalkan rumah, dan mobil tersendat macet di jalan tol.

Untungnya, subuh tadi aku tak lupa mengecup tanganmu, Mam…
Selamat hari ibu..ketahuilah, buatku, setiap hari adalah hari ibu.
ah tidak. Hari mama lebih tepat rasanya. karena aku memanggilnya demikian…

I love you more than everything in this world, Mama…

Diskon Besar-Besaran

Manjelang hari Natal dan tahun baru, banyak supermarket, bahkan hypermarket berebutan menyebarkan leaflet,

Gula Putih Rp. 12999/kg
Anggur Merah Rp. 2425/100gram
Telor ayam negeri Rp. 13.299/kg
Sirop dari Rp. 14500 diskon jadi Rp. 9.900

dan masih banyak lagi barang2 promo lainnya. Sejatinya, dalam trik marketing tingkat dasar hal tersebut dinamakan odd price. Harga yang mencolok mata, hampir mendekati bulat. Namun efeknya seringkali menipu mata konsumen. oh bukan seringkali. melainkan selalu. Padahal kalau mau ditilik, coba saja belanja ke supermarket, jangankan Rp. 12.999. Harga 12.900 saja, untuk kembalian kita selalu dikasih permen. Kembalian Rp. 50 tidak dianggap, alias relakan saja. Kalau permen2 kembalian kita kumpulkan, memangnya bisa ditukar pakai uang?
Tentu saja tidak sodara2…karena di bon ada tulisan, barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan.

Lain halnya di pasar tradisional.
Harga jelas tidak menggunakan trik. semua mengikuti hukum permintaan penawaran. empat belas ribu ya empat belas ribu. dua ribu delapan ratus, ya dua ribu delapan ratus. kalau kita kasih uang Rp. 3000, pasti kembalinya Rp.200. menurut pengalaman saya, kayaknya nggak pernah deh saya ditanya sm pedagang di pasar tradisional, “mbak, kembaliannya buat amal aja ya?” Bahkan, kita selalu bisa melakukan proses tawar menawar. Sampai terjadi kesepakatan harga.

Sekarang saya tanya, siapa tahu disini ada temen2 yang dari disperindag, pernah ngga nyoba bikin leaflet seperti yg dibuat oleh retailer besar, untuk promosi pasar tradisional?

Misal:

Pasar Antri Promo!
Cabe Rp. 11.999/kg
Daging Sapi Rp. 68.900/kg
Beras start from Rp. 4.499/kg.

Rasanya belum pernah, ya?

Seuntai Cerita untukmu yang disana


Sayang, aku dalam sebuah perjalanan lagi.
Banyak sekali peristiwa yang kulalui beberapa hari belakangan ini. Banyak pelajaran yang kupetik. Sayangnya kau tak berada di sampingku.
Sulitnya berkomunikasi denganmu, membuat waktu terasa begitu mahal. Kesibukanmu, kesibukanku, dan ketidaksiapan kita membuat kita belum dapat dipertemukan. Maka dari itu, tak apa lah kali ini kutampung ceritaku dalam sebuah goresan pena. Kuharap kau akan membacanya nanti.
Sayang…peristiwa demi peristiwa, kejadian demi kejadian, dan makin banyaknya menapaki sebuah perjalanan semakin meyakinkan aku, kalau hidup adalah sebuah skenario. Ada penulis, ada sutradara, ada produser, ada kru, dan ada artisnya.
Jika kita berada dalam dunia “skenario versi manusia”, maka seringkali antara penulis, sutradara dan produser adalah orang yang berbeda.
Karena apa?
kemampuan manusia berbeda, sayang…Kemampuan manusia terbatas. Manusia, punya kekurangan. Kalaupun ada yang sanggup memerankan ketiganya, tetap saja ada kurangnya. Tidak maksimal. itu bahasa yang sering digunakan oleh manusia. Bahkan ada peribahasa yang mengatakan, kalau kau duduk diantara dua kursi, niscaya kau akan terjatuh diantaranya.
Lain halnya pada skenario kehidupan. Penulis, Sutradara, dan produsernya bisa dipastikan, SATU.
Ya.
Hanya satu.
Dia, mempunyai kemampuan tak berbatas. Dia sanggup menjadi apapun, siapapun, dan bertindak apapun. Dia yang menjadikan tiada menjadi ada, yang ada menjadi tiada, yang tak mungkin jadi mungkin.
Dia sang penulis skenario, yang menceritakan semuanya. Semua, sayangku… tanpa ada satu hal pun yang tak tertulis atau terlewatkan. Termasuk cerita tentang kita. Dia tuangkan dalam sebuah buku. Buku  skenario yang isinya takkan dapat ditiru oleh makhluk manapun di dunia ini. Buku Skenario yang tak seorang pun dapat menebak, kemana arahnya. Karena tak seorangpun dapat membuka lembar berikutnya, sebelum tiba saatnya.
Buku skenario itu dinamakan, Kitab Lauhul Mahfudz.
Dia menciptakan setting lokasi, kostum, peralatan, perlengkapan, maupun segala yang diperlukan demi menjalankan skenario kehidupan.
Itulah Dunia dan segala isinya.
Dia sang sutradara. Bedanya, Dia tak melakukan proses casting untuk para aktor dan aktrisnya. Tetapi menciptakan sendiri aktor dan aktris yang dikehendakiNya. Dia tiupkan ruh,  Dia titipkan nyawa, Dia titipkan akal, pikiran, dan hati.
Kitalah yang berperan dalam skenario tersebut. kita aktor dan aktrisnya.
Dia punya Kru untuk mendampingi para aktor dan aktrisnya. Lagi-lagi, kru tersebut Dia ciptakan sendiri. Tanpa melalui proses rekrutmen. Dia ciptakan kru tersebut dengan zat yang berbeda dengan manusia. Zat yang tak kasat mata. Zat yang kita kenal sebagai cahaya.
Merekalah Para Malaikat.
Dia perintahkan kruNya untuk mencatat setiap  adegan. Sejak kita dilahirkan, sampai nanti di akhir cerita. Kuberitahu padamu, sayang…Manajemen kearsipan mereka jauh lebih canggih dari teknologi database tercanggih yang ada di dunia ini. Setiap adegan dicatat rapi. Tidak ada yang meleset, salah tulis, salah tanggal dan lain sebagainya. Semua tercatat rapi, berikut Tahun, Bulan, Minggu, Hari, tanggal, jam, menit, hingga detiknya. Jika akting mereka bagus, maka para kru yang berada di sebelah kanan mencatatnya satu kali. Dan Dia melipatgandakan bonus, dengan memberikan nilai antara 7 hingga 700 kali lipat kebaikan. Jika adegan yang dilakukan aktor dan aktris itu salah, maka kru mencatatnya satu kali. Disinilah kebijaksanaan sang sutradara. Dia hanya memerintahkan para kru untuk mencatatnya satu kali.
Adegan itulah yang dinamakan amalan dan dosa.
Sekali lagi kubilang disini, kitalah yang manjadi aktor dan aktrisnya. Kita…manusia.
Kita, yang menjalani skenario yang telah dibuatnya dengan amat sempurna. Skenario yang amat indah, adil, dan tak memihak. Kita bahkan diperkenankan mengubah nasib kita dalam skenario itu. Dengan sebuah usaha.
Kita juga bisa mengubah takdir yang Dia gariskan, dengan DOA.
Lantas, apa yang kurang dari Nya?
Kalaulah analogi itu bisa diterima oleh manusia dengan pemahaman dan keyakinan yang baik, tentunya tak ada lagi kegalauan dan keresahan yang menyelimuti hati. Tak ada lagi ketakutan akan masa depan. Tak ada kata tak menerima sebuah kehilangan.
Karena pada dasarnya, Dunia ini panggung sandiwara.
Sebuah sandiwara, pastilah ada endingnya.
Happy, hanging, or sad ending.
Bedanya, kalau dalam sebuah sandiwara dengan hanging end, kita sebagai penonton diperkenankan berimajinasi sendiri. Pada kasus selesainya pementasan skenario kehidupan, hanging end akan diselesaikan oleh sang penulis, sutradara, sekaligus produsernya.
Dia memastikan dalam firmanNya, kalau Dia menguasai hari pembalasan. Hari dimana amalan dan dosa selesai ditimbang. Barulah dengan keadilan langit, bumi, dan segala yang bernaung di dalam galaksi, Dia memutuskan balasan apa yang pantas untuk sang aktor dan aktris.
Buat aktor dan aktris yang sukses memainkan perannya, diberikanlah padanya Penghargaan berupa Piala surga. Sisanya, kau tebaklah sendiri. Kemana kiranya para aktor dan aktris yang tak sukses.
Sayang…sudah dulu yaa..
Kuceritakan lagi isi hati dan pikiranku di lain waktu. Namun kuminta, kau sabarlah menungguku. karena aku pun demikian.
Saat notes ini kutulis, kata Pilot aku sedang berada sekitar 39000 kaki di atas permukaan laut, Di atas langit, entah langit yang keberapa. Namun kurasa bukan langit ketujuh.
Salam Sayang,
Arum Silviani

Jogja with my beloved friends part 3


Inilah pemandangan dari situs Ratu Boko. Bagus yaa..sayangnya, foto ini tak seindah aslinya. Maklum, amatiran sihh 🙁 Meskipun nampak gersang, tapi udara disini sejuk lho…maklum, dataran tinggi. 

Aura misterius menyergap begitu melangkahkan kaki ke pintu masuk situs Ratu Boko. Mungkin karena saat kami berkunjung, nggak banyak wisatawan kali ya…suasananya sepi. Jadi berasa agak-agak gimanaa…gitu.




 Sampai di atas sini, baru ngeh, ternyata ini adalah lokasi syuting film Kala. Ya ampun…jadi dulu Mas Ario Bayu pernah syuting disini??? Secara gitu, si gue ngefans berat sama Ario Bayu. Hehehe…


Konon katanya, situs ini dulunya adalah istana sebuah kerajaan. Keraton Ratu Boko. Aku jadi berimajinasi, mungkin, ratusan tahun silam, saat disini masih ada kehidupan, dimana putri-putri kerajaan bebas berlalu lalang keliling keraton. Dan, melihat sisa-sisa situs Ratu Boko saat ini, aku jadi berimajinasi lagi, mungkin dulu istana ini begah banget kali yaa…

Menurut satu sumber yang aku baca, legenda Roro Jonggrang dengan Bandung Bondowoso juga memiliki kaitan dengan situs keraton ini. Konon, Roro Jonggrang adalah puteri dari Prabu Boko yang berkuasa di keraton tersebut. Walaupun begitu, banyak kisah tentang sejarah Keraton Ratu Boko masih terselubung oleh misteri.

Situs Ratu Boko terbagi ke dalam beberapa bagian, pertama kita akan disambut oleh gerbang utama yang berada tepat di tengah. Tidak jauh dari gerbang itu, di sebelah kiri kita akan menemukan satu situs berupa bangunan batu berundak, yang dulunya adalah tempat pembakaran mayat (kremasi). Di sebelah kiri bangunan tersebut terdapat jalan setapak menanjak yang akan mengantar kita pada satu bukit dimana kita bisa leluasa untuk melihat pemandangan kompleks Candi Prambanan dengan lebih jelas.




Situs yang dibawahnya Tiya, dulunya adalah tempat kremasi (pembakaran mayat) makanya, Tiya lagi sok berimajinasi, bagaimana dulunya tempat itu difungsikan. Hiiiii….


Kolam ini dulunya mungkin tempat para putri berenang kali ya (hehe..ngarang). but Anywaay…air di kolam itu bukan dialirkan lho, melainkan berasal dari air hujan. Nampak beberapa anak kecil sedang memancing di pinggiran kolam. Masa sih ada ikannya? Hmm…who knows? 

Oh iya…satu lagi yang aku suka. Selain bersih, di situs Ratu Boko ini tersedia tempat cuci tangan lho…Woooow….I’m very excited! Bukan apa-apa, kebayang nggak sih tangan kita habis berkelana kesana kemari, berapa banyak kuman-kuman dan bakteri yang ngumpul coba??? Soo…dengan adanya tempat cuci tangan ini, very-very helpfull.


Capek berkeliling, kami memutuskan untuk turun gunung. Sebenernya bukan karena kami bosen sih, melainkan waktu yang diberikan pak supir hampir habis. Ya ya…kami hanya diberi waktu satu jam untuk berkeliling di situs Ratu Boko ini. Karena haus, kami mampir ke Sunset lounge (kalo nggak salah itu namanya) atau Sunset Cafe yaa?? Pokoknya itu deh. Katanya dari sini bisa lihat sunset. Pemandangannya juga oke banget, Candi Prambanan kelihatan tuh dari sisi sini. Sayangnya…kami nggak bisa menunggu sampai Sunset. Mungkin lain waktu, InsyaAllah, kami balik lagi kesini. Harga makanan dan minuman disini juga cukup reasonable. Nggak tinggi2 amat. Terjangkau lah pokoknya.


Nggak nahan pengen ketawa liat tampangnya Tiya. Kasihan banget dia, tersiksa dengan behel barunya. Peace Tiya….Beauty is pain, right?

And here we go…Prambanan Temple  😀


Dan di bawah ini adalah tampilan candi yang Subhanallah…keren bangeettt..kebayang nggak sih, di jaman itu orang sudah bisa membuat candi semegah ini? meskipun konon bantuan jin ya…hehehe

Well…candi ini merupakan simbol pengorbanan cinta. Konon katanya, Mas Bandung Bondowoso rela berjuang semalaman dengan dibantu para lelembut (Hiii…serem amat ya) demi mendapatkan Nyi Roro Jongrang.

Saat aku dkk datang kesitu, suasananya ruameee buanget. Banyak turis asing yang lagi pada berkunjung. Kebanyakan sih dari Jepang dan Korea.

Aku dan Bhekti masuk ke candi yang ada prasasti  kuda (simbol Kuda, atau kerbau ya?) Sayang kupingnya hilang satu. Eh lucunya, sebelum aku masuk kesini, tidak ada satu turis pun yang berani memfotonya. Tapi begitu aku berpose, mereka langsung berebutan pingin foto disini juga. Hehehe…

Ada lagi prasasti wanita, tadinya nggak ada yang berani pose, terus pas Bhekti berpose, yang lain berebut ikutan pose juga. mungkin sebelumnya para turis takut kualat kali ya..atau takut kesambet? nggak tahu deh. Tapi menurut aku, kalau kita nggak bikin onar, nggak buang sampah sembarangan, dan nggak merusak prasasti sih nggak apa-apa. 


Jangan lihat Tiya nya. Lihat candinya aja. Bagus yaa…menjulang tinggi ke angkasa, dengan di puncaknya adalah patung Roro Jongrang yang dipasang Bandung Bondowoso buat melengkapi seribu tingkat Candi Prambanan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, kami berempat sama-sama ngos-ngosan, efek muter-muter Ratu Boko dan naik-naik Candi Prambanan. Semua kita tengok, kecuali candi utama yang saat itu sedang dalam masa pemugaran. Dan hampir di setiap sudut Candi kami berpose (maklum, banci foto semua). Pegeel…tapi seneng…

Ada cerita lucu waktu kami berempat istirahat di salah satu kursi panjang dekat sini. Sepasang kekasih menghampiri kami, tiba-tiba bertanya, apa diantara kami melihat cincin? Sontak kami berempat menggeleng. Kutanya bentuk cincinnya seperti apa, dan si cowok menjelaskan dengan rinci bentuk cincin itu. ya udah, kami berempat bantu deh mencari si cincin…dan taraa…aku yang menemukan cincin tersebut. Lagi ngumpet dengan manisnya di rerumputan. Hehehe..makanya mas, mbak, beli cincin jangan kegedean, sampe copot nggak kerasa 😀 (no offense lhooo…). tapi melihat reaksi keduanya yang “berterimakasih dengan sangat” kepada kami berempat, aku menebak, cincin itu berarti banget buat mereka berdua. Okelah, moga langgeng ya mas, mbak 😀

Well…selesai soal cincin, berganti ke perut. Bhekti dan Tiya ngomel-ngomel karena lapar. Haloo…padahal kami berempat udah makan jam 11 tadi lho…mungkin karena udaranya sejuk, ditambah sudah mengeluarkan tenaga ekstra keliling Ratu Boko & Prambanan, perut jadi keroncongan. Cuma Rita yang kalem sambil senyum-senyum. Saking terpesonanya dengan pemandangan Prambanan. Jadi kenyang dia.

Jangan khawatir, di sekitar candi Prambanan, fasilitasnya lengkap banget. Saung-saung ini bisa kita pergunakan untuk istirahat melepas lelah, atau makan siang (saat itu sih kami makan sore). Tempat sampah juga disediakan di dekat saung (jadi harap setelah makan jangan meninggalkan sisa di dalam saung ya). Selain itu, seperti halnya di Situs Ratu Boko, tempat cuci tangan banyak tersedia. Sehingga kita tidak perlu ke toilet untuk mencuci tangan. Liat deh ibu Rita, tadi memang terlihat paling kalem waktu diajak makan. Begitu lihat ransum yang kami bawa, semangat 45 deh menyantapnya.

Setelah mengisi perut, kenyaaang…Bye bye…kami akan kembali ke Jogja. Puaaaas banget pilih paket Candi Prambanan & Ratu Boko. Nggak nyesellll…Pokoknya, two thumbs up deh buat pengelola Candi Prambanan dan Situs Ratu Boko. Tempatnya enak, terjangkau, bersih, fasilitasnya lengkap, dan kami semua dilayani dengan ramah. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai sejarah Candi Prambanan, disini juga disediakan Guide yang mahir berbahasa Asing. Waktu itu sih aku dengernya yang berbahasa Inggris, Jepang, Mandarin, dan Korea. Nggak tahu juga mungkin ada Guide yang menguasai bahasa lain.


Tips ke Prambanan:
Lebih baik datang di pagi hari, supaya nggak kepanasan.

Biar lebih irit, nggak usah sewa mobil (kecuali kalau mau bawa mobil sendiri). Karena dari Jogjakarta, bisa naik Trans Jogja, dan jalan kaki ke Candi Prambanan. Pilih Paket Candi Prambanan & Ratu Boko.

Supaya lebih efisien waktunya, aku sarankan keliling Candi Prambanan dulu. Udah puas di Candi Prambanan, tunggu shuttle ke Ratu Boko. Bisa puas menikmati pemandangan dari Ratu Boko, makan siang disana juga lebih indah pemandangannya. Karena dari perbukitan tersebut bisa lihat Candi Prambanan dan pemandangan di sekelilingnya. Kalau udah puas, balik lagi pake shuttle Prambanan – Ratu Boko. Turun di pertigaan Prambanan, beli oleh-oleh salak pondoh banyak disini. Naah… pertigaan ini nggak jauh letaknya dari halte bus Trans Jogja. Jadi nggak perlu jalan jauh lagi.




















Jogja with my beloved friends part 2

Back to hotel jam 10.00 WIB.
Dengan keributan (pasang kerudung, sunblock, dll….) akhirnya kami berempat baru keluar hotel jam 11.00. setelah sebelumnya berpose di depan kamar dan di lift.
Demi kelancaran stamina, kami memutuskan makan Rawon di depan Hotel. Ibu penjualnya ramah banget. Makanannya juga murah-murah. Dengan harga rawon + nasi per porsinya hanya Rp.8.000 saja. Sedangkan minuman wajib kami adalah es teh manis dengan harga Rp. 1.500 saja. 
Yang paling lama makan adalah Tiya, karena dia baru pasang behel. Aduh Tiya…udah tahu mau ke Jogja, kok ya malah pasang behel siiihh…(sstt…jangan sampe Tiya tahu ngomong gini, pastinya dia ngomel-ngomel tuh) 
Acara selanjutnya, adalah ke Pasar Beringharjo. Kami sempat berkonsultasi sebentar dengan ibu-ibu penjual Rawon, katanya kami masih sempat kok kalau mau ke Beringharjo dulu sebelum ke Prambanan. Okay….Tancap Guys…
Aku dan Rita jalan duluan, sementara Tiya dan Bhekti, berada nun jauh di belakang kami. Ternyata eh ternyata….mereka lagi foto-foto di Tugu. Katanya sih belum ke Jogja kalau belum foto di Tugu. Dengan tampang cuek, mereka berdua berpose. Sementara aku dan Rita, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Karena panas, kami berjalan cepat. Sampai akhirnya Bhekti menghentikan kami untuk berpose di depan “prasasti” berisi petunjuk jalan kota Jogja.
Berkeliling sebentar di pasar Beringharjo, membeli batik buat keponakan-keponakan kami, selanjutnya membeli “ransum” buat perbekalan perjalanan kami.
Kami membeli dua porsi pecel + lontong, telur puyuh (tuh di gambar yang jadi sate), dan inilah yang unik. Kami menemukan ayam pitik (ayam kecil) yang dijual utuh satu ekor. Harganya @Rp. 10.000. karena penasaran, kami ambil dua ekor. Total ransum kami adalah Rp. 25.000. Oh iya, untuk minumnya, kami memilih “air putih” yang sehat.

Selesai belanja ransum di pasar Beringharjo, kami berencana melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan menggunakan Trans Jogja. Langsung tancap gas ke halte Trans Jogja yang letaknya tak jauh dari pasar Beringharjo. Disambut oleh mbak penjaga loket yang ramah dan bersedia memberikan kami petunjuk yang lengkap menuju Prambanan. Yaitu kami harus naik Bus rute 3B. Tiketnya Murah Meriah, hanya dengan Rp. 3.000, kami bisa sampai Prambanan tanpa transit.
Sayangnya, kondisi halte Trans Jogja tidaklah nyaman. Kursi-kursinya sudah mulai rusak, dengan tempat sampah yang annoying banget diletakkan disitu. Satu lagi, ruang tunggunya sempit, apalagi jika dibandingkan dengan ruang tunggu halte Bus Trans Jakarta.  
Kondisi Halte Trans Jogja
Saat berdebat dengan Tia, diputus Bhekti yang tiba-tiba menjepret kami
Oke-oke, karena diomelin Tiya, akhirnya aku berhenti protes soal kondisi Halte Trans Jogja. Meskipun dalam hati masih “nggrundel”.
Lihat tuh kursinya…aneh yaa..hehehe…
Semestinya halte Trans Jogja bisa dirawat dengan baik, karena menurutku, Trans Jogja adalah sarana transportasi yang nyaman untuk berjalan-jalan di Jogja. Murah Meriah. Bahkan, tak sedikit Turis asing yang menggunakan jasa Trans Jogja untuk mencapai tujuan wisata. Kan bisa jadi sarana promosi yang bagus tuhh…

Dengan dibantu penumpang lainnya, akhirnya kami bisa berpose berempat. Thanks ya mbak…(waduh..bahkan kami nggak berkenalan). Cuma saling lempar senyum saja. Begitu naik bus, beruntung, kami dapat tempat duduk. Bahkan Bhekti dan Tiya yang duduk bersebelahan sempat berpose di dalam bus Trans Jogja.

Perjalanan Jogja – Prambanan memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Jalan di Jogja jarang macet, tapi lumayan banyak lampu merah.
Sampai di Prambanan, jam menunjukkan pukul 13.00. saatnya menunaikan ibadah shalat Dzuhur. Tapi ternyata…jarak dari halte pemberhentian terakhir Bus Trans Jogja ke pintu masuk Candi Prambanan lumayan jauh lho…ada kayaknya sekitar satu kilo meter. Dan kami jalan kaki. Ya sudahlah, jalani saja dengan happy. Kami memutuskan shalat dzuhur qashar dengan Ashar di masjid Al-Muttaquun. Masjidnya megah, dan begitu masuk…cess…adeemm…sejuk seketika sampai ke hati.

Akhirnya….sampai juga di pintu masuk Candi. Dari kejauhan, sudah nampak candi Prambanan yang megah. Bangga lhoo jadi bangsa Indonesia…
Masuk Prambanan, Ternyata pintu masuknya dibedakan lho…buat wisatawan lokal dan internasional. Harganya juga beda. Oke, capcus…
Langsung lihat daftar harga tiket masuk. Ibu penjual tiketnya ramah bangettt…beliau menyarankan kami untuk memilih paket Prambanan & Ratu Boko. Hanya berbeda Rp. 10.000, kami bisa menikmati pemandangan Ratu Boko yang memukau. Sejenak berembug, dan akhirnya, kami berempat memutuskan untuk membeli tiket paket Prambanan & Ratu Boko, seharga Rp. 30.000/orang. Total berempat jadi Rp. 120.000.
Well, tiket udah di tangan, dan kami minta tolong bapak penjaga pintu buat menjepret kami berempat. Beliau bersedia memotret kami dengan senang hati. Eeh…lucunya bapak satunya ikut berpose juga (lihat tuh penampakan di belakang kami) hehe…buat kenang-kenangan kata si bapaknya. 

Ternyata untuk sampai ke Situs Ratu Boko, kami harus naik shuttle. Dan disinilah kami menunggu. tempat nunggunya nyamaaan banget. angin sepoi-sepoi, bersih pula. Nggak lama, shuttle yang kami tunggu datang. 
Daripada duduknya misah-misah di belakang, kami berempat memutuskan duduk barengan (maklumlah…langsing-langsing, jadi muat dehh…. 😉
Situs Ratu Boko berada di atas bukit, 3 km dari selatan kompleks Candi Prambanan. Sekitar sepuluh menit perjalanan dari Prambanan, sampailah kami di situs Ratu Boko. Dan selama sepuluh menit tersebut, kami disuguhi pemandangan yang indaaaah banget.

 

Jogja with my beloved friends

Sebenernya udah lama banget bercita-cita pingin ke Jogja bareng temen-temen geng-ku ini. Dari mulai jaman kuliah, sampai kita berempat kerja, baru kesampaian di tahun 2011. Kesibukan yang bikin kami berempat sussaaaaaaahhh banget ketemu. Paling saling bertukar kabar via sms, ym, email, telpon, di sela-sela kesibukan kami. Dann….layaknya doa yang delay dikabulkan, akhirnyaa…pada akhir tahun 2011 kami berempat memutuskan : Kabur ke Jogja hanya dengan rencana mendadak. Karena biasanya, rencana matang hanyalah tinggal rencana. Realisasinya…nol.
Berhubung aku ditugaskan ke Jogja di Jumat 30 Oktober 2011, kuhubungi Rita, Tiya, dan Bhekti, kemudian dengan semangat empat lima kuajak mereka ke Jogja. Dan gayungpun bersambut. Bhekti tidak ada agenda pada tanggal 1-2 Oktober. Rita juga libur kuliah (Miss yang satu ini mengambil kelas karyawan dengan kuliah di akhir minggu). Tapi…masalah muncul. Tiya, kebingungan. Karena dia ada UTS. Dengan bujuk rayu kami bertiga, dan mengatakan bahwa…Hallo…Tiya…UTS adalah Ujian Tidak Serius, kamu kan bisa ikut susulan. Dosenmu ada terus tiap minggunya, sedangkan kami, belum tentu available di waktu lain. Come on…
Tiya…dengan berat hati setengah pengen…akhirnya menurut. Deal!!!
Aku yang harus menunaikan tugas di Jogja berangkat lebih dulu by GA CGK-JOG-CGK dengan harga tiket Rp. 3.188.000. membuatku mengelus dada. Jauuuuh lebih mahal dibandingkan harga biasa. Katanya sih peak season, dan aku belinya mendadak. Sedangkan Rita, Tiya, dan Bhekti berencana menyusulku dengan bus malam. Tiya mengabariku, mereka sudah dapat tiket Bandung – Jogja @Rp. 90.000 by Bandung Express. Harga tsb udah termasuk ppn dan asuransi (apaan siiihh??)
Namun masalah lain timbul. Begitu mendarat, semua hotel di Jogja….Full!!!
Tapi dasar niat yang sudah diridhai Allah SWT, akhirnya selesai bertugas, aku dibantu oleh Pak Juwarman (Rekan kerja sekaligus seniorku dari Jakarta) dapet juga hotel. (makasih pak Ju…:))
Dan malam itu aku menginap di Hotel Abadi (Katanya dulunya Hotel Mendut. Setelah direnovasi, hotel tersebut berganti nama menjadi Hotel Abadi). Lokasinya di seberang Stasiun Tugu, dan dekat Sarkem (Pasar Kembang). Ow ow….agak geli deh denger lokasinya…
Tapi begitu sampai di hotel, ternyata bagus kok. Hotel Bintang 4 dengan fasilitas yang lumayan lengkap. Lobbynya dan restonya cukup keren. Meskipun jika dibandingkan dengan Hotel Santika, Quality, atau Inna Garuda, tempat biasa aku menginap, hotel ini masih kalah bagus.
Ratenya juga lumayan mahal. Dengan publish rate Rp. 675.000, tapi aku dapat potongan corporate jadi cukup bayar Rp. 350.000 saja per malamnya. Dan extra bed seharga Rp. 175.000/bed. But Anywaay….aku dapet kamar yang gedhe bangettt… sampe aku ngrasa serem sendirian di kamar. ranjangnya king size yang muat 4 orang. Fasilitasnya AC, ruang tamu, ruang rias, kamar mandi, lemari besar, dan televisi 24 inch. Sayangnya, meja rias, sofa, dan lemarinya agak kuno. Mungkin karena hotel ini dulunya adalah hotel mendut, yang sudah lama sekali.
Baru saja duduk di ranjang, leyeh-leyeh karena kecapekan pasca bertugas, Bhekti meneleponku sambil marah-marah. “Teteehh…please deh…temen-temen teteh pada belom dateng doongg…aku nungguin sendirian di terminal Cicaheum…”
“Whaattt???”
“Iya. Mana aku udah diomel-omelin nih sama supir bisnya…”
“Ya ampunn..kamu naik duluan aja bhek, nanti tiya sama Rita suruh tunggu dimana gitu…”
“Haloo teteh…kan tiketnya ada di teh Tiya…mana aku bisa naik tanpa tiket cobaaa??? Huaaa…”
Aku hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar jeritan Bhekti. Kucoba menelepon Rita dan Tiya, dan ternyata….Mereka masih di dalam taksi menuju terminal Cicaheum.
“Lokasi dimana?” tanyaku pada Tiya.
“Mmmm…di Gatsoe.”
“OMG Tiya..itu si Bhekti udah diomelin supir bis.”
“Hahh??? Duh gimana ini…maceeett…” Rintih Tiya kebingungan.
“Turun, naik ojek ajah.”
“OH gitu yahhh…okeh…”
Eng ing eeeeengg….entah bagaimana caranya, mereka bisa bertemu di terminal Cicaheum, meskipun (kata Bhekti) mereka dikasih tampang jutek sama supir dan kenek bis. Sementara aku, bisa menghela nafas lega di Jogja. Paling tidak mereka sudah aman di dalam bis menuju Jogja.
Sehingga kutelepon sohibku dari jaman SMA. Daniel, untuk menjemputku, dan jalan-jalan keliling Jogja. Rencananya sih mau cari kue tart, buat merayakan ulang tahun Rita. Tapinya…di Jogja susah banget cari bakery or semacamnya lah. Aku udah muter-muter kawasan malioboro, wijilan, keraton, stasiun tugu, sampai ke jalan yang aku nggak ngerti namanya (Thanks Daniel, udah sabar banget nganterin aku nyari-nyari kue tart) – Nggak dapet juga. Dan inilah tampilan setelah muter-muter area Wijilan dan keraton.

Duh…gimana yah, pasti aku diomelin nih sama si Tiya dan Bhekti. Akhirnya aku ke restaurant hotel, dan memesan cake pada kepala resto. Dan apa jawabannya??? “Mbak, kami nggak menjual tart.”
“Kalau gitu saya minta dibuatkan aja Pak.”
“Waduh mbak, koki kami nggak bisa mbuat tart eh…paling hidangan utama saja.”
Aku menepuk jidat. “Puding dan semacamnya?”
Dia menggeleng. “Paling semacam kue jajanan pasar, mbak.”
Haaaaahh…tambah pening aku. “Adanya dimana? Yang jual kue ulang tahun.”
“Disini jarang mbak, ada, tapi jauh.”
“Dimana ya pak?”
“Daerah Bantul.”
Huaaaa…paraaah…jauh bangettt….disini yang banyak jual bakpia, bukan kue tart, brownies, atau semacamnya seperti di Bandung. Kalau di Bandung, segala kue ada. Di setiap tikungan ada. Bahkan, banyak mobil yang menjajakan kue tart, brownies, bolen pisang, yang mudah sekali ditemui di jajaran jalan Dago, RE. Martadinata, Cihampelas, dll.
Akhirnya…malam ini aku tertidur tanpa kue di kamarku. Sorry Rita, kejutan buatmu gagal.
Jogjakarta – Days 2
Jam lima pagi, aku dibangunkan oleh SMS dari Tiya.
“Rumpi…udah shalat shubuh belum?”
Segera kubalas. “Baru bangun. Udah nyampe mana Tiya?”
“Semarang.”
Aku mengerutkan keningku. Haaahh Semarang? Kok bisa sih? Itu berarti mereka mengambil Rute memutar. Padahal seharusnya, jam lima pagi mereka sudah bisa sampai di Jogja.
07.00.
Aku sarapan dengan handphone di tanganku. Rita sms, masih di Magelang. Ya ampun…beneran piknik tuh anak-anak.
09.00
Pintu kamarku diketuk, daaaann…
“Haaaaaaiiii akhirnya kami sampe jugaaaaaaaaaaaaaaaa…..”
Alhamdulillah… mereka nyampe juga dengan selamat sentausa 😀
Segera mereka bertiga bergantian mandi. Bhekti beres lebih dulu, sehingga kami berdua keluar hotel membeli tiket pulang. Bhekti ke stasiun Tugu, sedangkan aku ke counter Garuda Indonesia yang bertempat di Hotel Inna Garuda, Malioboro. Tujuanku adalah, memundurkan waktu kepulangan dari yang semula Minggu jam 08.00, menjadi Minggu jam 17.00. tapi ternyata, jam keberangkatan tersebut sudah full. Yang kosong hanya tinggal jam 11.00. yah…nggak apa-apa deh, daripada yang jam 08.00.
Bhekti dkk dapat tiket kereta api Mutiara Selatan jam 22.00, dengan harga @Rp. 140.000. lumayan mahal kalau dibandingkan dengan harga tiket bis yang hanya @Rp. 90.000.

bersambung….

Teman yang Se-Hati

Pada setiap iringan langkah yang kita jalani, tentunya banyak sekali peristiwa dan kejadian yang kelak di kemudian hari kita putuskan untuk dikenang maupun berusaha untuk dilupakan. Dari setiap peristiwa dan kejadian itu, tak sedikit orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Lagi-lagi, dari sekumpulan orang tersebut, kita akan memilah, mana yang spesial di hati, mana yang biasa saja, dan mana yang berusaha kita lupakan. Istilah bekennya, seleksi alam.

Dalam teori evolusi, Seleksi alam adalah teori bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Dan sesama makhluk hidup akan saling bersaing untuk mempertahankan hidupnya. Seleksi alam sebenarnya adalah hal yang menjadikan dasar bahwa makhluk hidup pada dasarnya sudah beranekaragam jenis/spesies.

Pada manusia, seleksi alam ini terbentuk dari proses pergaulan, selanjutnya adaptasi, dan akhirnya bergabung ke dalam suatu kelompok. Meskipun pribadi yang satu dengan yang lainnya dilahirkan berbeda. Namun biasanya, faktor lingkungan, keluarga, hobby, dan berbagai hal spesifik lainnya memberikan cara pandang yang sama, sehingga menimbulkan kecocokan antarmanusia yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan yang memiliki cara pandang yang berbeda, mereka cenderung keluar dari kelompok tersebut, dan mulai mencari kelompok baru.

Anywaaay…ribet banget ya nulis pake bahasa baku. Intinya, kita bakalan nyaman kalau berteman dengan seseorang yang sejenis (sama2 manusia), se-species, dan yang paling penting, karena kita manusia adalah….se-hati.

Readers, percaya sama saya, kalau mencari teman yang se-hati, bisa diajak bertukar pikiran, memberikan masukan-masukan yang berharga, teman yang bisa mengkritik, namun bisa juga memberikan alternatif solusi buat kita, sama sekali bukan perkara gampang. Ngga usah jauh-jauh lah contohnya. Dari sekian ratus atau bahkan ribuan teman kita di jejaring sosial, berapa diantaranya selalu bersedia mendengar anda? berapa diantaranya yang bisa diajak sharing? dan berapa, diantara mereka yang se-hati dengan anda?

Kalau hanya sekedar komen sana-sini, ngomongin film, musik, buku, make-up, fashion, shopping, dsb, mungkin bejibun. Tapi sekarang coba deh ditilik, berapa orang yang anda anggap spesial di hati?

Hal yang perlu diresapi: Mencari teman itu biasa, namun mempertahankannya adalah hal yang luar biasa. Luangkan waktu anda untuk sekedar sms, bbm, ym, email, telepon, untuk sekedar mengingatkan, kalau anda sayang pada teman anda tersebut. Suatu bentuk perhatian yang sederhana, namun seringkali dilupakan.

Hal yang sebaiknya tidak dilakukan : Jika mendapat teman baru, teman lama dilupakan. Hati-hati soal hal ini. Ketika sedang sulit, anda menghubungi si A. Ngoceh kesana kemari minta diberi perhatian. Ketika sedang kesepian, anda menghubunginya untuk mengusir sepi. Dan ketika sedang berada jauh dari keluarga dan orang terdekat, anda selalu mencurahkan keluh kesah padanya. Namun ketika anda menemukan teman baru, si A dilupakan. Bahkan seolah tanpa bekas, dan anda mengalami amnesia kalau pernah berteman dengannya.

Ingatlah, kita hidup bukan hanya untuk hari ini. Bukan hanya untuk satu orang, dan bukan hanya di satu lingkungan saja. Selama teman anda bersikap baik, tidak melanggar norma agama dan masyarakat, bisa dipercaya, apalagi sesama muslim, bersikap adil lah padanya. Jangan anda menyakiti hatinya dengan melupakannya. Karena anda tak pernah tahu, kapan anda benar-benar merasa membutuhkannya kembali dalam kehidupan anda. Jangan sampai anda menyadari belakangan, kalau ternyata, anda menyesal telah melupakan seorang teman lama. Ketika anda membutuhkannya, justru dia yang amnesia terhadap anda. Anda tidak mau hal itu terjadi bukan?

Persahabatan Sejati, Kekal Sampai Mati

Betapa indahnya kalau di dunia ini kita memiliki sahabat. Seseorang yang menjadi tempat kita berbagi rasa, berbagi canda, berbagi cerita. Kehadirannya seperti oase di padang pasir. Menyejukkan, menyegarkan, dan memberikan gairah dalam kehidupan. Tapi dasar manusia, ada saja kurangnya. Sebaik-baik sahabat, kadang kita tidak bersyukur punya dia disamping kita.

Padahal kalau mau ditilik, diri kita juga pasti punya kekurangan. Dan kalau kita mau menempatkan diri di posisi sahabat kita, tentunya dia juga pernah merasakan hal yang sama dengan kita. Marah dengan tingkah laku kita, kesal dengan sikap kita, bahkan mungkin tersinggung dengan perkataan kita.

Hanya satu yang bikin persahabatan langgeng. Kemauan untuk menerima apa adanya.

Maka, tidaklah salah kalau saya mengatakan, jagalah sahabatmu, sayangilah dia, sebelum engkau benar-benar menyesal karena sudah kehilangannya. Kita tidak pernah tahu seberapa panjang umur kita. Kita juga tidak pernah tahu, seberapa lama lagi ajal akan menjemput. Kita juga tidak pernah tahu, apakah kita bisa mendapatkan sahabat sebaik sahabat yang kita punya sekarang. Karena persahabatan sejati, kekal sampai mati…

Kriteria Jodoh demi sebuah pernikahan yang sempurna?

Assalamualaikum ukhti…

Lagi iseng sambil introspeksi aje mpok2 sekalian…

Ngebayangin, pengen deket sm cowok “bos” dan punye kuase,
ternyata hati ini kaga tenang jadinye. Mau ketemu aje susahnye minta ampun
dimadu sama kerjaan, kesibukan, jarak, ruang, waktu, de el el

Pengen cowok yang nasabnya bagus,
hati malah deg-degan kalo ketemu sama keluarganya.

Apa nasab gue udah cukup bagus buat dia?

Pengen yang pinter..tapi belom tentu kepinterannya bisa bantu kita memecahkan masalah

Pengen yang ganteng, belom tentu bisa ngademin nih ati kalo lagi kalut
kaga tenang juga karena cowok ganteng, banyak cewek yang nguber

Makanye, skarang mah kaga pengen lagi nyari cowok yang berkuasa,
tapi minta aja sama yang Maha Kuasa supaya dikasih yang kita butuhkan buat ngademin ati, buat jadi pendamping yang setia seumur hidup.

Kaga pengen lagi nyari yang nasabnya bagus,
tapi lagi minta sama sang Pemilik nasab, supaya memilihkan buat kita cowok yang shaleh dan baik akhlaknya.

Kaga pengen nyari yang pinter lagi,
Mendingan minta sama yang Maha Pintar, supaya dikasih yang pintar, tapi porsinya pas buat kita.

Kaga akan nyari yang ganteng lagi, mendingan minta sama yang maha indah,
Pasti Dia bakal ngasih yang terindah buat kita…

nah ye..mpok2 skalian cukup dah masa lalu buat jadi pelajaran.
mendingan demen ke Allah daripada demen ke Makhluk.
Dia selalu dekat…selalu dekat…dan selalu dekat
Dia ada kapanpun kita butuh. Tapi belom tentu makhluk yang kita demen itu ada ketika kita butuh.
Allah kaga pernah ninggalin kita, tapi makhluk bisa aja sewaktu2 ninggalin kita
Tapi tetep…rasa demen ke makhluk harus tetep ada, biar hidup kaga hampa mpok2 skalian…
cuma..landasan “cinta” atau demennya yg diubah,
bukan lagi ku cinta kau karena apa yang ada pada dirimu….
tapi….aku mencintaimu karena Allah, dan atas izin Allah akan tetap demikian…

Jiahhh….that is only my quote’s about the “Perfect Marriage”
Tiap orang punya quote yang beda2, begitupun dengan kalian..
Yukkk mari ah. terusin kerjaannyaa…

bye bye…assalamualaikum ya ukti 🙂

First Day on my 26th

Tidak terasa, waktu terus berjalan. Usia terus bertambah, sedangkan umur makin berkurang.
Terbersit pertanyaan besar dalam hati…apa saja yang sudah kulakukan dalam hidupku selama ini?
Apa yang sudah kusumbangkan untuk orang tuaku, untuk agamaku, dan untuk bangsaku?
MasyaAllah…rasanya semua yang kulakukan belum apa-apa…

Bismillahirrahmannirrahim…Ya Allah, di sisa umurku, aku berlindung kepadamu dari rasa kecewa dan penyakit hati, dari doa yang tak terkabulkan, dari rizki yang tidak halal, dan dari orang-orang yang hendak membawa hamba jauh dari jalanMu. Berilah keberkahan atas hidupku, dan orang-orang di sekitarku…amin..