22 Desember

Hari ibu, dan aku sungguh lupa. Baru teringat saat aku sudah meninggalkan rumah, dan mobil tersendat macet di jalan tol.

Untungnya, subuh tadi aku tak lupa mengecup tanganmu, Mam…
Selamat hari ibu..ketahuilah, buatku, setiap hari adalah hari ibu.
ah tidak. Hari mama lebih tepat rasanya. karena aku memanggilnya demikian…

I love you more than everything in this world, Mama…

Diskon Besar-Besaran

Manjelang hari Natal dan tahun baru, banyak supermarket, bahkan hypermarket berebutan menyebarkan leaflet,

Gula Putih Rp. 12999/kg
Anggur Merah Rp. 2425/100gram
Telor ayam negeri Rp. 13.299/kg
Sirop dari Rp. 14500 diskon jadi Rp. 9.900

dan masih banyak lagi barang2 promo lainnya. Sejatinya, dalam trik marketing tingkat dasar hal tersebut dinamakan odd price. Harga yang mencolok mata, hampir mendekati bulat. Namun efeknya seringkali menipu mata konsumen. oh bukan seringkali. melainkan selalu. Padahal kalau mau ditilik, coba saja belanja ke supermarket, jangankan Rp. 12.999. Harga 12.900 saja, untuk kembalian kita selalu dikasih permen. Kembalian Rp. 50 tidak dianggap, alias relakan saja. Kalau permen2 kembalian kita kumpulkan, memangnya bisa ditukar pakai uang?
Tentu saja tidak sodara2…karena di bon ada tulisan, barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar/dikembalikan.

Lain halnya di pasar tradisional.
Harga jelas tidak menggunakan trik. semua mengikuti hukum permintaan penawaran. empat belas ribu ya empat belas ribu. dua ribu delapan ratus, ya dua ribu delapan ratus. kalau kita kasih uang Rp. 3000, pasti kembalinya Rp.200. menurut pengalaman saya, kayaknya nggak pernah deh saya ditanya sm pedagang di pasar tradisional, “mbak, kembaliannya buat amal aja ya?” Bahkan, kita selalu bisa melakukan proses tawar menawar. Sampai terjadi kesepakatan harga.

Sekarang saya tanya, siapa tahu disini ada temen2 yang dari disperindag, pernah ngga nyoba bikin leaflet seperti yg dibuat oleh retailer besar, untuk promosi pasar tradisional?

Misal:

Pasar Antri Promo!
Cabe Rp. 11.999/kg
Daging Sapi Rp. 68.900/kg
Beras start from Rp. 4.499/kg.

Rasanya belum pernah, ya?

Seuntai Cerita untukmu yang disana

 

 

Sayang, aku dalam sebuah perjalanan lagi.
Banyak sekali peristiwa yang kulalui beberapa hari belakangan ini. Banyak pelajaran yang kupetik. Sayangnya kau tak berada di sampingku.
Sulitnya berkomunikasi denganmu, membuat waktu terasa begitu mahal. Kesibukanmu, kesibukanku, dan ketidaksiapan kita membuat kita belum dapat dipertemukan. Maka dari itu, tak apa lah kali ini kutampung ceritaku dalam sebuah goresan pena. Kuharap kau akan membacanya nanti.
Sayang…peristiwa demi peristiwa, kejadian demi kejadian, dan makin banyaknya menapaki sebuah perjalanan semakin meyakinkan aku, kalau hidup adalah sebuah skenario. Ada penulis, ada sutradara, ada produser, ada kru, dan ada artisnya.
Jika kita berada dalam dunia “skenario versi manusia”, maka seringkali antara penulis, sutradara dan produser adalah orang yang berbeda.
Karena apa?
kemampuan manusia berbeda, sayang…Kemampuan manusia terbatas. Manusia, punya kekurangan. Kalaupun ada yang sanggup memerankan ketiganya, tetap saja ada kurangnya. Tidak maksimal. itu bahasa yang sering digunakan oleh manusia. Bahkan ada peribahasa yang mengatakan, kalau kau duduk diantara dua kursi, niscaya kau akan terjatuh diantaranya.
Lain halnya pada skenario kehidupan. Penulis, Sutradara, dan produsernya bisa dipastikan, SATU.
Ya.
Hanya satu.
Dia, mempunyai kemampuan tak berbatas. Dia sanggup menjadi apapun, siapapun, dan bertindak apapun. Dia yang menjadikan tiada menjadi ada, yang ada menjadi tiada, yang tak mungkin jadi mungkin.
Dia sang penulis skenario, yang menceritakan semuanya. Semua, sayangku… tanpa ada satu hal pun yang tak tertulis atau terlewatkan. Termasuk cerita tentang kita. Dia tuangkan dalam sebuah buku. Buku  skenario yang isinya takkan dapat ditiru oleh makhluk manapun di dunia ini. Buku Skenario yang tak seorang pun dapat menebak, kemana arahnya. Karena tak seorangpun dapat membuka lembar berikutnya, sebelum tiba saatnya.
Buku skenario itu dinamakan, Kitab Lauhul Mahfudz.
Dia menciptakan setting lokasi, kostum, peralatan, perlengkapan, maupun segala yang diperlukan demi menjalankan skenario kehidupan.
Itulah Dunia dan segala isinya.
Dia sang sutradara. Bedanya, Dia tak melakukan proses casting untuk para aktor dan aktrisnya. Tetapi menciptakan sendiri aktor dan aktris yang dikehendakiNya. Dia tiupkan ruh,  Dia titipkan nyawa, Dia titipkan akal, pikiran, dan hati.
Kitalah yang berperan dalam skenario tersebut. kita aktor dan aktrisnya.
Dia punya Kru untuk mendampingi para aktor dan aktrisnya. Lagi-lagi, kru tersebut Dia ciptakan sendiri. Tanpa melalui proses rekrutmen. Dia ciptakan kru tersebut dengan zat yang berbeda dengan manusia. Zat yang tak kasat mata. Zat yang kita kenal sebagai cahaya.
Merekalah Para Malaikat.
Dia perintahkan kruNya untuk mencatat setiap  adegan. Sejak kita dilahirkan, sampai nanti di akhir cerita. Kuberitahu padamu, sayang…Manajemen kearsipan mereka jauh lebih canggih dari teknologi database tercanggih yang ada di dunia ini. Setiap adegan dicatat rapi. Tidak ada yang meleset, salah tulis, salah tanggal dan lain sebagainya. Semua tercatat rapi, berikut Tahun, Bulan, Minggu, Hari, tanggal, jam, menit, hingga detiknya. Jika akting mereka bagus, maka para kru yang berada di sebelah kanan mencatatnya satu kali. Dan Dia melipatgandakan bonus, dengan memberikan nilai antara 7 hingga 700 kali lipat kebaikan. Jika adegan yang dilakukan aktor dan aktris itu salah, maka kru mencatatnya satu kali. Disinilah kebijaksanaan sang sutradara. Dia hanya memerintahkan para kru untuk mencatatnya satu kali.
Adegan itulah yang dinamakan amalan dan dosa.
Sekali lagi kubilang disini, kitalah yang manjadi aktor dan aktrisnya. Kita…manusia.
Kita, yang menjalani skenario yang telah dibuatnya dengan amat sempurna. Skenario yang amat indah, adil, dan tak memihak. Kita bahkan diperkenankan mengubah nasib kita dalam skenario itu. Dengan sebuah usaha.
Kita juga bisa mengubah takdir yang Dia gariskan, dengan DOA.
Lantas, apa yang kurang dari Nya?
Kalaulah analogi itu bisa diterima oleh manusia dengan pemahaman dan keyakinan yang baik, tentunya tak ada lagi kegalauan dan keresahan yang menyelimuti hati. Tak ada lagi ketakutan akan masa depan. Tak ada kata tak menerima sebuah kehilangan.
Karena pada dasarnya, Dunia ini panggung sandiwara.
Sebuah sandiwara, pastilah ada endingnya.
Happy, hanging, or sad ending.
Bedanya, kalau dalam sebuah sandiwara dengan hanging end, kita sebagai penonton diperkenankan berimajinasi sendiri. Pada kasus selesainya pementasan skenario kehidupan, hanging end akan diselesaikan oleh sang penulis, sutradara, sekaligus produsernya.
Dia memastikan dalam firmanNya, kalau Dia menguasai hari pembalasan. Hari dimana amalan dan dosa selesai ditimbang. Barulah dengan keadilan langit, bumi, dan segala yang bernaung di dalam galaksi, Dia memutuskan balasan apa yang pantas untuk sang aktor dan aktris.
Buat aktor dan aktris yang sukses memainkan perannya, diberikanlah padanya Penghargaan berupa Piala surga. Sisanya, kau tebaklah sendiri. Kemana kiranya para aktor dan aktris yang tak sukses.
Sayang…sudah dulu yaa..
Kuceritakan lagi isi hati dan pikiranku di lain waktu. Namun kuminta, kau sabarlah menungguku. karena aku pun demikian.
Saat notes ini kutulis, kata Pilot aku sedang berada sekitar 39000 kaki di atas permukaan laut, Di atas langit, entah langit yang keberapa. Namun kurasa bukan langit ketujuh.
Salam Sayang,
Arum Silviani

Jogja with my beloved friends part 3

Candi Prambanan
Misteri Candi Prambanan dan Ratu Boko

Pemandangan Indah di Situs Ratu Boko

Kali ini saya bakal bercerita tentang keindahan juga Misteri Candi Prambanan dan Ratu Boko. Tapi sebelumnya, inilah pemandangan dari situs Ratu Boko. Bagus yaa..sayangnya, foto ini tak seindah aslinya. Maklum, amatiran sihh 🙁
Meskipun nampak gersang, tapi udara disini sejuk lho…maklum, dataran tinggi. Kali ini saya bakal bercerita tentang keindahan juga Misteri Candi Prambanan dan Ratu Boko.

Continue reading “Jogja with my beloved friends part 3”

Jogja with my beloved friends

Sebenernya udah lama banget bercita-cita pingin ke Jogja bareng temen-temen geng-ku ini. Dari mulai jaman kuliah, sampai kita berempat kerja, baru kesampaian di tahun 2011. Kesibukan yang bikin kami berempat sussaaaaaaahhh banget ketemu. Paling saling bertukar kabar via sms, ym, email, telpon, di sela-sela kesibukan kami. Dann….layaknya doa yang delay dikabulkan, akhirnyaa…pada akhir tahun 2011 kami berempat memutuskan : Kabur ke Jogja hanya dengan rencana mendadak. Karena biasanya, rencana matang hanyalah tinggal rencana. Realisasinya…nol.
Berhubung aku ditugaskan ke Jogja di Jumat 30 Oktober 2011, kuhubungi Rita, Tiya, dan Bhekti, kemudian dengan semangat empat lima kuajak mereka ke Jogja. Dan gayungpun bersambut. Bhekti tidak ada agenda pada tanggal 1-2 Oktober. Rita juga libur kuliah (Miss yang satu ini mengambil kelas karyawan dengan kuliah di akhir minggu). Tapi…masalah muncul. Tiya, kebingungan. Karena dia ada UTS. Dengan bujuk rayu kami bertiga, dan mengatakan bahwa…Hallo…Tiya…UTS adalah Ujian Tidak Serius, kamu kan bisa ikut susulan. Dosenmu ada terus tiap minggunya, sedangkan kami, belum tentu available di waktu lain. Come on…
Tiya…dengan berat hati setengah pengen…akhirnya menurut. Deal!!!
Aku yang harus menunaikan tugas di Jogja berangkat lebih dulu by GA CGK-JOG-CGK dengan harga tiket Rp. 3.188.000. membuatku mengelus dada. Jauuuuh lebih mahal dibandingkan harga biasa. Katanya sih peak season, dan aku belinya mendadak. Sedangkan Rita, Tiya, dan Bhekti berencana menyusulku dengan bus malam. Tiya mengabariku, mereka sudah dapat tiket Bandung – Jogja @Rp. 90.000 by Bandung Express. Harga tsb udah termasuk ppn dan asuransi (apaan siiihh??)
Namun masalah lain timbul. Begitu mendarat, semua hotel di Jogja….Full!!!
Tapi dasar niat yang sudah diridhai Allah SWT, akhirnya selesai bertugas, aku dibantu oleh Pak Juwarman (Rekan kerja sekaligus seniorku dari Jakarta) dapet juga hotel. (makasih pak Ju…:))
Dan malam itu aku menginap di Hotel Abadi (Katanya dulunya Hotel Mendut. Setelah direnovasi, hotel tersebut berganti nama menjadi Hotel Abadi). Lokasinya di seberang Stasiun Tugu, dan dekat Sarkem (Pasar Kembang). Ow ow….agak geli deh denger lokasinya…
Tapi begitu sampai di hotel, ternyata bagus kok. Hotel Bintang 4 dengan fasilitas yang lumayan lengkap. Lobbynya dan restonya cukup keren. Meskipun jika dibandingkan dengan Hotel Santika, Quality, atau Inna Garuda, tempat biasa aku menginap, hotel ini masih kalah bagus.
Ratenya juga lumayan mahal. Dengan publish rate Rp. 675.000, tapi aku dapat potongan corporate jadi cukup bayar Rp. 350.000 saja per malamnya. Dan extra bed seharga Rp. 175.000/bed. But Anywaay….aku dapet kamar yang gedhe bangettt… sampe aku ngrasa serem sendirian di kamar. ranjangnya king size yang muat 4 orang. Fasilitasnya AC, ruang tamu, ruang rias, kamar mandi, lemari besar, dan televisi 24 inch. Sayangnya, meja rias, sofa, dan lemarinya agak kuno. Mungkin karena hotel ini dulunya adalah hotel mendut, yang sudah lama sekali.
Baru saja duduk di ranjang, leyeh-leyeh karena kecapekan pasca bertugas, Bhekti meneleponku sambil marah-marah. “Teteehh…please deh…temen-temen teteh pada belom dateng doongg…aku nungguin sendirian di terminal Cicaheum…”
“Whaattt???”
“Iya. Mana aku udah diomel-omelin nih sama supir bisnya…”
“Ya ampunn..kamu naik duluan aja bhek, nanti tiya sama Rita suruh tunggu dimana gitu…”
“Haloo teteh…kan tiketnya ada di teh Tiya…mana aku bisa naik tanpa tiket cobaaa??? Huaaa…”
Aku hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar jeritan Bhekti. Kucoba menelepon Rita dan Tiya, dan ternyata….Mereka masih di dalam taksi menuju terminal Cicaheum.
“Lokasi dimana?” tanyaku pada Tiya.
“Mmmm…di Gatsoe.”
“OMG Tiya..itu si Bhekti udah diomelin supir bis.”
“Hahh??? Duh gimana ini…maceeett…” Rintih Tiya kebingungan.
“Turun, naik ojek ajah.”
“OH gitu yahhh…okeh…”
Eng ing eeeeengg….entah bagaimana caranya, mereka bisa bertemu di terminal Cicaheum, meskipun (kata Bhekti) mereka dikasih tampang jutek sama supir dan kenek bis. Sementara aku, bisa menghela nafas lega di Jogja. Paling tidak mereka sudah aman di dalam bis menuju Jogja.
Sehingga kutelepon sohibku dari jaman SMA. Daniel, untuk menjemputku, dan jalan-jalan keliling Jogja. Rencananya sih mau cari kue tart, buat merayakan ulang tahun Rita. Tapinya…di Jogja susah banget cari bakery or semacamnya lah. Aku udah muter-muter kawasan malioboro, wijilan, keraton, stasiun tugu, sampai ke jalan yang aku nggak ngerti namanya (Thanks Daniel, udah sabar banget nganterin aku nyari-nyari kue tart) – Nggak dapet juga. Dan inilah tampilan setelah muter-muter area Wijilan dan keraton.

Duh…gimana yah, pasti aku diomelin nih sama si Tiya dan Bhekti. Akhirnya aku ke restaurant hotel, dan memesan cake pada kepala resto. Dan apa jawabannya??? “Mbak, kami nggak menjual tart.”
“Kalau gitu saya minta dibuatkan aja Pak.”
“Waduh mbak, koki kami nggak bisa mbuat tart eh…paling hidangan utama saja.”
Aku menepuk jidat. “Puding dan semacamnya?”
Dia menggeleng. “Paling semacam kue jajanan pasar, mbak.”
Haaaaahh…tambah pening aku. “Adanya dimana? Yang jual kue ulang tahun.”
“Disini jarang mbak, ada, tapi jauh.”
“Dimana ya pak?”
“Daerah Bantul.”
Huaaaa…paraaah…jauh bangettt….disini yang banyak jual bakpia, bukan kue tart, brownies, atau semacamnya seperti di Bandung. Kalau di Bandung, segala kue ada. Di setiap tikungan ada. Bahkan, banyak mobil yang menjajakan kue tart, brownies, bolen pisang, yang mudah sekali ditemui di jajaran jalan Dago, RE. Martadinata, Cihampelas, dll.
Akhirnya…malam ini aku tertidur tanpa kue di kamarku. Sorry Rita, kejutan buatmu gagal.
Jogjakarta – Days 2
Jam lima pagi, aku dibangunkan oleh SMS dari Tiya.
“Rumpi…udah shalat shubuh belum?”
Segera kubalas. “Baru bangun. Udah nyampe mana Tiya?”
“Semarang.”
Aku mengerutkan keningku. Haaahh Semarang? Kok bisa sih? Itu berarti mereka mengambil Rute memutar. Padahal seharusnya, jam lima pagi mereka sudah bisa sampai di Jogja.
07.00.
Aku sarapan dengan handphone di tanganku. Rita sms, masih di Magelang. Ya ampun…beneran piknik tuh anak-anak.
09.00
Pintu kamarku diketuk, daaaann…
“Haaaaaaiiii akhirnya kami sampe jugaaaaaaaaaaaaaaaa…..”
Alhamdulillah… mereka nyampe juga dengan selamat sentausa 😀
Segera mereka bertiga bergantian mandi. Bhekti beres lebih dulu, sehingga kami berdua keluar hotel membeli tiket pulang. Bhekti ke stasiun Tugu, sedangkan aku ke counter Garuda Indonesia yang bertempat di Hotel Inna Garuda, Malioboro. Tujuanku adalah, memundurkan waktu kepulangan dari yang semula Minggu jam 08.00, menjadi Minggu jam 17.00. tapi ternyata, jam keberangkatan tersebut sudah full. Yang kosong hanya tinggal jam 11.00. yah…nggak apa-apa deh, daripada yang jam 08.00.
Bhekti dkk dapat tiket kereta api Mutiara Selatan jam 22.00, dengan harga @Rp. 140.000. lumayan mahal kalau dibandingkan dengan harga tiket bis yang hanya @Rp. 90.000.

bersambung….

Teman yang Se-Hati

The Squad. Photo by: Yudi Risdianto

Arti sebuah persahabatan

Pada setiap iringan langkah yang kita jalani, tentunya banyak sekali peristiwa dan kejadian yang kelak di kemudian hari kita putuskan untuk dikenang maupun berusaha untuk dilupakan. Di setiap peristiwa dan kejadian itu, tak sedikit orang yang berinteraksi dengan kita. Dari sekumpulan orang tersebut, kita akan memilah, mana yang spesial di hati, mana yang biasa saja, dan mana yang berusaha kita lupakan. Istilah bekennya, seleksi alam. Continue reading “Teman yang Se-Hati”

Persahabatan Sejati, Kekal Sampai Mati

Betapa indahnya kalau di dunia ini kita memiliki sahabat. Seseorang yang menjadi tempat kita berbagi rasa, berbagi canda, berbagi cerita. Kehadirannya seperti oase di padang pasir. Menyejukkan, menyegarkan, dan memberikan gairah dalam kehidupan. Tapi dasar manusia, ada saja kurangnya. Sebaik-baik sahabat, kadang kita tidak bersyukur punya dia disamping kita.

Padahal kalau mau ditilik, diri kita juga pasti punya kekurangan. Dan kalau kita mau menempatkan diri di posisi sahabat kita, tentunya dia juga pernah merasakan hal yang sama dengan kita. Marah dengan tingkah laku kita, kesal dengan sikap kita, bahkan mungkin tersinggung dengan perkataan kita.

Hanya satu yang bikin persahabatan langgeng. Kemauan untuk menerima apa adanya.

Maka, tidaklah salah kalau saya mengatakan, jagalah sahabatmu, sayangilah dia, sebelum engkau benar-benar menyesal karena sudah kehilangannya. Kita tidak pernah tahu seberapa panjang umur kita. Kita juga tidak pernah tahu, seberapa lama lagi ajal akan menjemput. Kita juga tidak pernah tahu, apakah kita bisa mendapatkan sahabat sebaik sahabat yang kita punya sekarang. Karena persahabatan sejati, kekal sampai mati…

Kriteria Jodoh demi sebuah pernikahan yang sempurna?

Assalamualaikum ukhti…

Lagi iseng sambil introspeksi aje mpok2 sekalian…

Ngebayangin, pengen deket sm cowok “bos” dan punye kuase,
ternyata hati ini kaga tenang jadinye. Mau ketemu aje susahnye minta ampun
dimadu sama kerjaan, kesibukan, jarak, ruang, waktu, de el el

Pengen cowok yang nasabnya bagus,
hati malah deg-degan kalo ketemu sama keluarganya.

Apa nasab gue udah cukup bagus buat dia?

Pengen yang pinter..tapi belom tentu kepinterannya bisa bantu kita memecahkan masalah

Pengen yang ganteng, belom tentu bisa ngademin nih ati kalo lagi kalut
kaga tenang juga karena cowok ganteng, banyak cewek yang nguber

Makanye, skarang mah kaga pengen lagi nyari cowok yang berkuasa,
tapi minta aja sama yang Maha Kuasa supaya dikasih yang kita butuhkan buat ngademin ati, buat jadi pendamping yang setia seumur hidup.

Kaga pengen lagi nyari yang nasabnya bagus,
tapi lagi minta sama sang Pemilik nasab, supaya memilihkan buat kita cowok yang shaleh dan baik akhlaknya.

Kaga pengen nyari yang pinter lagi,
Mendingan minta sama yang Maha Pintar, supaya dikasih yang pintar, tapi porsinya pas buat kita.

Kaga akan nyari yang ganteng lagi, mendingan minta sama yang maha indah,
Pasti Dia bakal ngasih yang terindah buat kita…

nah ye..mpok2 skalian cukup dah masa lalu buat jadi pelajaran.
mendingan demen ke Allah daripada demen ke Makhluk.
Dia selalu dekat…selalu dekat…dan selalu dekat
Dia ada kapanpun kita butuh. Tapi belom tentu makhluk yang kita demen itu ada ketika kita butuh.
Allah kaga pernah ninggalin kita, tapi makhluk bisa aja sewaktu2 ninggalin kita
Tapi tetep…rasa demen ke makhluk harus tetep ada, biar hidup kaga hampa mpok2 skalian…
cuma..landasan “cinta” atau demennya yg diubah,
bukan lagi ku cinta kau karena apa yang ada pada dirimu….
tapi….aku mencintaimu karena Allah, dan atas izin Allah akan tetap demikian…

Jiahhh….that is only my quote’s about the “Perfect Marriage”
Tiap orang punya quote yang beda2, begitupun dengan kalian..
Yukkk mari ah. terusin kerjaannyaa…

bye bye…assalamualaikum ya ukti 🙂

First Day on my 26th

Tidak terasa, waktu terus berjalan. Usia terus bertambah, sedangkan umur makin berkurang.
Terbersit pertanyaan besar dalam hati…apa saja yang sudah kulakukan dalam hidupku selama ini?
Apa yang sudah kusumbangkan untuk orang tuaku, untuk agamaku, dan untuk bangsaku?
MasyaAllah…rasanya semua yang kulakukan belum apa-apa…

Bismillahirrahmannirrahim…Ya Allah, di sisa umurku, aku berlindung kepadamu dari rasa kecewa dan penyakit hati, dari doa yang tak terkabulkan, dari rizki yang tidak halal, dan dari orang-orang yang hendak membawa hamba jauh dari jalanMu. Berilah keberkahan atas hidupku, dan orang-orang di sekitarku…amin..