Yogyakarta, Pendar Permata dari Tanah Jawa

Dari sekian banyak kota yang  kusinggahi, hanya satu kota yang selalu membuatku tersenyum menjelang pendaratan.

Yogyakarta.

Aku memang tidak dilahirkan di kota Yogyakarta. Hanya seorang perempuan Jawa, yang mencintai Jogja dengan berjuta ceritanya. Cerita yang terukir manis, yang selalu tersambung dikala aku memikirkan kota ini. Bagiku, Jogja punya chemistry tersendiri di hati. Seperti ada ikatan magis yang mengikat kita dalam jerat memori indahnya. Membuat perasaan membuncah setiap menginjakkan kaki di bumi Yogyakarta.

Kota dengan predikat “Kota Pelajar”. Kota budaya, kota seni, dan sekian banyak lagi julukan indah lainnya di mata dunia. Namun bukan hal itu semata yang memukauku dan jatuh cinta kepada Yogyakarta. Hayuning buwana-lah yang membuatnya selalu istimewa. Buatku, juga buat setiap insan yang menyambanginya.

Pesona Monumen Jogja Kembali tak sekedar ilusi di mataku. Tak pula simbol tanpa makna yang berdiri di tengah Jalanan Jogja. Kegagahannya, keanggunannya, dan setiap sudutnya selalu mengajak kita untuk berjuang, tapi tak ngoyo dalam berambisi. Memecut semangat untuk mengarungi luasnya dunia, tapi selalu mengingatkan untuk kembali pulang. Menyadarkan diri, darimana kita bermula.

Tentunya kita belum lupa, kala Jogja menjadi saksi bisu pertempuran sengit dengan bangsa asing yang hendak merebut dan mengoyak kedaulatan Republik Indonesia. Saat itu, Jogja dengan para pemudanya rela bersimbah darah dan menukar nyawa demi mempertahankan bumi pertiwi. Memukul mundur lawan dengan bermodalkan tekad dan bersenjatakan doa. Bertarung tanpa takut sambil berteriak “NKRI harga mati!” Tak pernah berhenti menggempur lawan hingga akhirnya sang saka merah putih dapat kembali berkibar gagah di bumi Yogyakarta. Membuktikan kalau Indonesia masih ada. Membuktikan pula pada dunia bahwa perjuangan sejati bukanlah diukur dari pasukan yang berlimpah, persenjataan yang canggih, ataupun adu domba. Melainkan dengan tekad sekeras baja serta doa seluas samudera.

Dikala negara diserang sekutu tahun 1946, Jogja berdiri gagah untuk menjadi ibukota sementara, menggantikan Jakarta. Manunggaling Kawula Gusti yang membuatnya mengajukan diri menjadi pelindung negeri yang saat itu usianya masih sangat belia. Kota dimana Raja dan Rakyatnya bersatu melindungi nusantara. Hingga semesta pun merestuinya. Anugerah Gusti Pangeran berupa benteng kokoh Gunung Merapi di sebelah utara dan Samudera Hindia di selatan, menjadikan Jogja sama sekali bukanlah kota yang mudah ditaklukkan oleh bangsa manapun di dunia.

Yogyakarta, the jewel of Java

Julukan ini bukanlah isapan jempol semata. Jogja tak perlu berdandan untuk dapat bersinar ke seantero dunia. Jogja tak perlu bergerak genit untuk dapat memikat siapapun yang memandangnya. Karena sejatinya, Jogja adalah permata tanah Jawa.

Tuhan menciptakannya demikian.

Gunung Merapi berdiri gagah merangkul Yogyakarta dari utara, samudera hindia merangkul dari sisi selatan. Ditengahnya, berdiri keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai titik temu antara air dan api. Menciptakan titik keseimbangan antara penguasa yang bijaksana dengan rakyatnya yang manut lan setyo.

Gunung Merapi
Gunung Merapi, Benteng Alam Yogyakarta. Photo by: Yudi Risdianto

Leluhur meninggalkan serakan permata yang tak ternilai harganya di Yogyakarta. Istana megah nan anggun berdiri di setiap tempat. Membuktikan kalau dahulu, nenek moyang negeri ini menjadikan Yogyakarta sebagai pusat peradaban, yang tak pernah bisa dilepaskan dari sejarah dan asal muasal nusantara. Membuat iri bangsa manapun dengan keindahan dan daya tarik magisnya, hingga mereka berbondong-bondong untuk menyaksikannya secara langsung.

Rakyatnya gemah ripah loh jinawi. Selalu tersenyum dan mengajarkan diri agar merasa cukup, nerimo, dan bersyukur atas segala anugerah yang telah diberikan Gusti Allah. Mereka bekerja keras, tapi tak dikekang ambisi. Alon-alon, weton kelakon.

Kala malam menyapa, musisi jalanan memamerkan kebolehannya di tepian jalan Malioboro yang tak pernah sepi. Suaranya bertalu-talu mengusik hati, merayu langkah kaki untuk menghampiri.

Tangan-tangan lentik melukis lincah dengan canting, mengabadikan filosofi dan makna budaya Jawa dalam selembar kain putih nan berharga. Membuatnya memesona, sehingga dengan halus dan tak terasa “memaksa” dunia untuk tahu tentang Jawa, Jogja, dan Indonesia.

Tak bisa kusebutkan satu persatu soal Yogyakarta. Takkan pernah cukup waktu untuk mengejawantahkannya dalam sebuah kumpulan aksara. Tak pernah cukup pula untaian kata untuk menggambarkan betapa istimewanya Yogyakarta. Betapa luhur budayanya, betapa kuat tradisinya, yang merangkum beragam tradisi Indonesia. Oleh karenanya, selalu ada jalan untuk menjadi Indonesia lewat Yogyakarta.

Santun dalam berbahasa, luwes dalam bergerak, dan sopan dalam perilaku.

Karena sesungguhnya,

Menjadi Jogja, Menjadi Indonesia.

#MenjadiJogjaMenjadiIndonesia

One Reply to “Yogyakarta, Pendar Permata dari Tanah Jawa”

Leave a Reply