Arum Silviani

Unggah-Ungguh?

Unggah-Ungguh

Judulnya kok nganggo Basa Jawa? Sesekali lah ya…karena adakalanya saya kangen sama bahasa yang satu ini. Bahasa yang semestinya dipakai semenjak saya lahir. Bahasa nenek moyang saya yang meskipun sudah campur-campur, tapi tetap satu jua.

Jawa 🙂

Kembali ke judul di atas, Unggah-Ungguh. Bagi orang Jawa, mungkin nggak asing lagi sama kalimat tersebut. Kalimat yang rasanya selalu diucapkan berulang-ulang oleh orangtua, sejak kita masih kecil. Hal pertama yang diajarkan orang tua pada anaknya.

Kalau jaman dulu, saat saya belajar Piwulang Basa Jawa tingkat Madya (Gaya benerr…tingkat madya. Padahal mah SMP), unggah-ungguh masuk ke dalam kata/tembung dwilingga salin swara. Maksudnya, kata yang diulang dua kali. Unggah-ungguh ini menyoal bagaimana berkomunikasi dan berinteraksi dalam tatanan masyarakat normal. Atau dengan kata lain, bagaimana kita bersikap terhadap orang lain berdasarkan pada tingkatan/levelnya.

Dalam bahasa Indonesia, unggah artinya naik. Sehingga dimaknai sebagai cara menaikkan derajat orang yang sedang diajak berinteraksi sesuai dengan status sosial/martabatnya. Boleh dikata, unggah-ungguh adalah menghargai orang lain sesuai dengan kedudukannya, dan siapa yang seharusnya diunggahke (dinaikkan), agar orang yang kita ajak berkomunikasi juga mengunggah kita kembali (melungguhke/menempatkan) diri kita.

Tapinya, saya kok nggak suka ya jika sebuah bahasa dibedakan antara ngomong sama Raja dengan yang bukan Raja. Yang ningrat dan bukan ningrat. Yang tinggi kedudukan dengan yang rendah kedudukannya. Sudah bukan zamannya lagi. Saya lebih suka mengatakan unggah-ungguh ini sebagai sikap dan bahasa yang diperuntukkan  bagi yang muda kepada yang lebih tua, juga sebaliknya.

Itulah yang namanya unggah-ungguh, atau sopan santun.

Orang Jawa memang terbilang lebih ribet kalau sudah ngomong tentang unggah-ungguh. Contohnya saja saya, waktu itu saya masih mbadung. Sering nggak pedulian sama orang lain. Saat itu, saya tinggal sama eyang kakung dan eyang putri di Purwokerto. Waktu saya pulang main dari rumah teman, ada seorang kakek yang berpapasan dengan saya, lalu beliau bertanya pada saya. Mungkin kakek tersebut mau ngajari soal unggah-ungguh ke saya, dengan bicara menggunakan bahasa kromo inggil (bahasa Jawa halus, dengan tingkatan tertinggi).

Tapinya….

Saya roaming. Meskipun saat itu sedang menempuh Piwulang Basa Jawa Jilid II. Wkwkwk…

Karena kakek yang unggah-ungguh tadi, ya saya jawab juga dengan unggah-ungguh, semampu saya. Habis itu, saya tinggalkan kakek tersebut, dengan rasa bangga dan membusungkan dada. Yes, akhirnya bisa juga praktek basa jawa. Pikir saya waktu itu. Lalu…pulanglah saya kerumah. Mendapati kakek saya sedang memandori beberapa tukang kebunnya. Menghitung hasil kebun mangga dan pisang yang melimpah tahun itu. Sibuk banget lah pokoknya kakek saya.

Kebetulan, Eyang putri sudah menyiapkan mangga harum manis kesukaan saya. Jadilah saya menggigiti potongan mangga itu.

Tak lama kemudian, kakek yang saya temui di jalan tadi datang kerumah. Kaget melihat saya.

Lalu…tiba-tiba sang kakek itu melayangkan protes pada kakek saya. Katanya, “Putumu sing siji iki, ora ngerti unggah-ungguh blas!” (Cucumu yang satu ini, nggak ngerti unggah-ungguh sama sekali). Sambil nunjuk ke arah saya.

Kakek saya balik protes dong. Nggak terima cucunya dibilang nggak ngerti unggah-ungguh. Secara, cucu kesayangannya ini tiap hari diajarin aneka sopan-santun dan menghargai orang lain. Nah, selagi kakek-kakek itu saling protes, eyang putri bertanya ke saya, pakai bahasa Jawa yang saya mengerti.

“Mbah kuwi ngomong apa mau, nduk?”

*Terjemahan: Kakek tadi ngomong apa sama kamu, nak?

“Oooh…Mbaeh takon, Panjenengan niku putune sinten?”

“Terus, kowe njawab apa?”

*Terjemahan: lalu, kamu jawab apa?

“Duko.” Sahut saya sambil makan mangga.

Eyang putri menepuk jidat, lalu tertawa terbahak-bahak.

Ternyata…kakek itu bertanya saya ini cucunya siapa, dan dengan bangganya saya jawab Duko. Ternyata, duko dalam bahasa Jawa artinya TIDAK TAHU.

“Wis njawab duko, langsung mlayu lungo!” Kata Kakek itu sebal.

*Terjemahan: Sudah jawab nggak tahu, langsung berlari pergi.

Dan si “duko” inilah yang bikin kakek-kakek itu ribut sampai pada manyun.

Sebenarnya, nggak sekali dua kali saja sih saya bikin insiden soal unggah-ungguh ini. Dulu, saya senengnya ngomong teriak-teriak. Karena ketiga kakak sepupu yang tinggal sama saya ini kalau nggak diteriakin pasti bakal godain saya terus seharian, sambil nguwil-nguwil rambut saya kalau tidur, sampai rambut saya berubah kayak sasakan gorong-gorong Sudirman ala Syahrini. Karena kebiasaan teriak ini, jadinya suka disangka nggak sopan. Hehe…

Terus lagi, kalau dirumah, saya ya semaunya saya ngomongnya. Karena didikan kakek saya cenderung moderat. Sangat moderat malah karena kakek saya itu dulu gaulnya sama Londo. Jadinya kebiasaan demokratis. I always say what I want to say. Sedangkan kalau orang Jawa, ngomong itu harus muter dulu pakai bahasa implisit. Kalau ngomongnya blak-blakan, sering dibilang nggak sopan, alias nggak ngerti unggah-ungguh.

Nah, kiranya itu lho unggah-ungguh versi Jawa. Yang pastinya berbeda-beda di setiap tempat. Kalau di daerahmu namanya apa?

Semarang, 4 Januari 2018

Arum Silviani

Baca juga:

Satu Januari, Ngobrol Bersama Bapak

The Untold Story: Sosok Wanita Jawa, Seperti apa mereka sebenarnya?

 

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.