Aku dan Kisah Perjalanan Zhafira Boutique

Aku dan Kisah Perjalanan Zhafira Boutique

Biasanya, saya posting soal traveling kan ya. Rasanya belum pernah sekalipun saya menuliskan kisah perjalanan bisnis saya, terutama saat membangun Zhafira Boutique. Atau mungkin banyak sekali diantara kalian yang tidak tahu kalau saya pernah buka butik di Bandung. Kali ini, izinkanlah saya bercerita tentang aku dan kisah perjalanan Zhafira Boutique.

Awal Berdiri Zhafira Boutique

30 April 2011, saya dan seorang teman mendirikan sebuah butik. Saya menamainya, Zhafira Boutique. Dalam bahasa Arab, Zhafira artinya “Beruntung”. Berlokasi di areal wisata Lembang, Bandung.

Saya memetiknya dari peribahasa Arab, “Man Shabara, Zhafira.” Barangsiapa bersabar, maka Ia akan beruntung.

Zhafira Boutique
Zhafira Boutique, 2011.

Butik yang kami dirikan mendapat respon sangat positif kala itu. Keuntungannya boleh dikata lumayan. Tapi ternyata Allah menguji kesabaran kami.

Ketika kesabaran diuji

Satu minggu setelah kami membuka Zhafira Boutique, musibah itu datang. Butik kami dirampok, isi brankas dikuras habis. Bahkan si perampok tak menyisakan satu rupiah pun di brankas kami.

Saat kejadian, saya sedang bertugas di luar kota. Saya dapat telepon dari partner saya, namun yang saya dengar hanya isak tangisnya. Sehingga telepon diambil alih oleh karyawan kami.

“Teh, butik kerampokan. Uang di brankas habis. Mereka hipnotis kami sehingga kami sendiri yang buka brankasnya, terus ngasihin semua uang ke mereka.”

Setelah memastikan partner dan karyawan kami selamat, saya tanya. “Sudah lapor polisi?”

“Sudah, teh. Tapi kata pak polisinya suruh diikhlasin aja, karena susah nyari perampoknya.”

Saat itu, saya kecewa berat dengan aparat. Saya tahu nyari perampok nggak gampang. Tapi kami sebagai warganegara, bayar pajak untuk gaji kalian hai pihak yang berwajib. Ketika dapat laporan, setidaknya kalian melakukan olah TKP. Tidakkah kalian bisa menenangkan kami sedikit?

Sesak tentu saja. Cukup membuat mental down setelah usaha keras kami. Sulit sekali untuk ikhlas.

Namun ternyata, Allah membukakan jalan lain. Kami mendapatkan supplier yang mau bekerjasama dengan kami, untuk memasok barangnya di butik. Pembayarannya bisa dilakukan setelah barang terjual.

Mulai menata kembali

Pelan-pelan, saya dan partner belajar untuk memproduksi barang sendiri. Kami menyusuri lorong-lorong pasar untuk mencari bahan berkualitas. Hawa panas, berdebu, kaki letih tiada tara, sampai gangguan pencopet pun kami jalani. Semua itu tak sedikitpun menyurutkan langkah kami untuk maju.

Hingga akhirnya, kami berhasil membeli bahan yang berkualitas, lalu menyiapkan desainnya.

Selanjutnya, kami taruh di konveksi, tempat kami bekerjasama.

Ujian belum selesai

Setelah hampir dua bulan berlalu, barang-barang kami tak kunjung selesai dikerjakan oleh pihak konveksi.

Saat kami datangi untuk yang kesekian kali, ternyata desain pakaian dan bahan kami sudah selesai, tapi dijual ke orang lain.

Ya. Kami ditipu. Hanya sedikit bahan yang tersisa, ditambah produk-produk yang gagal. Itu yang dikembalikan kepada kami. Konveksinya menyalahi kesepakatan. Tapi kami nggak bisa berbuat apa-apa saat itu. Newbie dalam dunia bisnis.

Jujur, saat itu saya membenak. Kayaknya gue salah deh berbisnis sama orang Sunda. Bawaannya males, nggak profesional dan menipu sana-sini.

Sorry, saya nggak bermaksud rasis. Tapi saat itu saya sedang kecewa berat.

Tentu saja tak semua orang Sunda penipu. Toh sekarang saya juga berbisnis dibantu oleh orang-orang Sunda yang rajin dan baik hatinya.

Tak lama setelahnya, kami ditipu lagi. Kali ini oleh orang Padang yang sudah sangat kami percaya. Dia baik mulutnya, baik pula ibadahnya. Tapi ternyata di balik itu mereka memanfaatkan kami.

Mereka memark-up harga dan memberikan kami produk yang tidak berkualitas. I feel so angry and down back then. Harus dengan siapa kami berbisnis supaya tidak ditipu?

Dari kejadian ini saya belajar, kalau modal bisnis sesungguhnya adalah kepercayaan. Ketika kita bisa dipercaya, pasti bisnis akan berlangsung lama. Tidak peduli kita ini Jawa, Sunda, Padang, atau suku lain.

Bukan salah sukunya, tapi salah pribadinya. Itu yang penting diterapkan dalam prinsip kita.

Man Shabara, Zhafira

Saat saya sangat down dalam berbisnis, saya dipertemukan dengan seorang wanita tua pemilik toko bahan di Bandung. Dia keturunan Tionghoa.

Saya masih ingat betul ketika beliau berkata pada saya sambil menunjukkan gudang rahasia miliknya.

“Lu orang jangan kapok bisnis. Lu maju terus, ngga semua orang penipu. Banyak pebisnis yang jujur. Cuma lu harus tetap waspada. Jangan terlalu percaya sama orang.”

“Terus kenapa cici percaya sama saya?” 

“Karena lu orang jujur, dan muka lu bawa hoki.”

Saya pun bisa membawa pulang bahan french lace yang langka dan mahal itu, dengan harga sangat terjangkau. Karena ternyata, si cici lah pemilik pabrik lace di Bandung.

Salah satu bahan cantik itu akhirnya menjadi kebaya saya saat wisuda S2.

Aku dan Kisah Perjalanan Zhafira Boutique
Family Photo Arum Silviani

Sejak saat itu, saya meneruskan bisnis hanya dengan orang Tionghoa yang saya percaya. Bukan saya tak percaya pada pribumi. Bukan demikian. Tapi saya meminimalisir risiko. Saya memilih supplier yang profesional. Nggak baperan. Dan nggak bohong soal kualitas. Kebetulan, yang saya kenal rata-rata orang Tionghoa. Mungkin suatu saat nanti, akan ada orang dari suku lain yang saya percaya.

Menjaga Kualitas dan Direndahkan Teman Sendiri

Buat saya, kualitas itu nomor satu. Meskipun sulit dan berat di awal, tapi kalau kita menjaga kualitas produk dan layanan saat berbisnis, maka kita punya value yang tinggi di mata pelanggan. Mereka akan menjadi pelanggan setia. Karena mereka percaya, setiap barang yang keluar dari tempat kita, adalah yang terbaik.

Zhafira Boutique
Salah satu kerudung produk Zhafira Boutique, Hijab by Arum

Marketing itu bukan tentang apa yang bisa kita jual saat ini. Melainkan apa yang bisa menjadikan bisnis kita langgeng hingga ke masa depan.

Ada tantangannya nggak menjual barang berkualitas?

Tentu saja ada. Karena ada saja pelanggan, yang bahkan mereka itu teman saya. Bilang begini, “Ini kok mahal banget sihh. Diskon dong, di tanah abang aja harganya dibawah ini.”

Padahal saya tahu betul takkan mungkin sama. Barang yang saya jual selalu limited edition. Hanya saya buat beberapa pcs saja untuk menjaga rasa spesial saat dipakai pelanggan. Akhirnya saya kasih diskon untuknya. Saya kasih gratis pula biar nggak banyak cingcong. Tapi jangan salah, setelah kejadian itu, saya tak pernah mau menjual produk saya kepadanya. Meskipun ia berkata,

“Eh ternyata bahan yang kamu pakai tuh bagus ya. Beda sama yang di tanah abang. Aku nyari dimana-mana nggak ada. Aku mau lagi dong.”

Dengan santai saya jawab, “Barangnya nggak saya jual lagi.” Padahal saat itu saya baru restock. Saya jual ke orang yang lebih menghargai.

Sungguh, kalau bukan teman sendiri, mungkin saya akan biasa saja ketika dia menyamai produk saya dengan bahan murahan yang dijual di pasar. Hanya demi mendapatkan diskon. Tapi ini, teman sendiri, sudah menghina, bikin susah pula. Selesai sudah. Hingga saat ini, saya tak pernah mau menjual produk saya padanya.

Dendam?

Tidak. Saya hanya akan menghargai, orang yang menghargai orang lain.

Gantilah “Harga Teman” Menjadi “Hargailah Teman”

Nah, dari sini kalian tahu kan ya betapa berbisnis itu (tidak) mudah. Banyak aral melintang sebelum kita mencapai keberhasilan. Makanya, saya hanya mau mengingatkan, ketika ada seorang teman membuka bisnis baru, lalu mereka menawarkan ke kita,

Please jangan bilang,

“Kurangin dong harganya, kan kita teman.”

Believe me. It hurts.

Please jangan minta Harga Teman. Tapi Hargailah Teman.

Karena kelak ketika teman kita berhasil dalam bisnisnya, Ia takkan lupa dengan kita. Bahwa kita lah golongan orang pertama yang percaya akan produknya.

Meminjam model bisnisnya orang Tionghoa, mereka akan membuat kongsi bisnis. Bikin circle bisnis sendiri, yang saling menopang satu sama lain. Kalaupun ada yang lebih murah, tapi itu di luar circle kongsi mereka, maka mereka tetap memilih kongsi. Sekalipun harganya lebih mahal.

Kenapa?

Karena prinsip bisnis adalah saling percaya, saling mendukung, saling memajukan. Jika kongsinya maju, maka bisnisnya akan turut maju. Pun demikian sebaliknya.

Kembali lagi ke Aku dan Kisah Perjalanan Zhafira Boutique

Setelah melalui cobaan ditipu sana sini, akhirnya Allah menguji kami kembali. Partner saya menjalankan butik, jatuh sakit. Cukup parah penyakitnya sehingga tak bisa menjalankan butik kami.

Disaat yang bersamaan, saya pun dikirim kantor untuk bertugas di pedalaman Kalimantan Selatan, selama dua bulan lamanya. Tidak ada listrik, apalagi sinyal disana. Sehingga sulit untuk mengontrol bisnis dari jauh.

Kisah Zhafira Boutique
Bersama warga di Pedalaman Kalimantan Selatan

Bisnis fashion adalah soal taste. Jadi kita sebagai owner harus turun tangan secara langsung. Mulai dari pembuatan desain, pemilihan bahan, warna, hingga penjahit yang akan menangani. Semua harus dibawah kontrol kita. Kami berdua sama-sama tidak bisa fokus mengontrol bisnis kami.

Hanya seorang karyawan yang masih setia, menunggu butik dan menjalankan business as usual. 

Saya tahu betul, hanya tunggu waktu semuanya akan berakhir. Tapi keadaan tak bisa saya elakkan. Saya dihadapkan untuk memilih, antara kepentingan negara, atau bisnis pribadi saya.

Dan kalian semua pasti tahu jawabnya, saya memilih yang mana.

Saat ini, Zhafira boutique mati suri. Tapi saya berniat membangunnya kembali suatu saat nanti dengan brand saya sendiri, Hijab by Arum. Meskipun pernah gagal dalam membangun bisnis, saya banyak belajar tentang bahan, tentang style. Tentang pola jahit, tentang kepribadian orang, secara otodidak.

Zhafira Boutique Mengajarkan Saya Tentang Kehidupan

Perlahan tapi pasti, karakter saya pun berubah. Saya yang dulu sangat melankolis, cengeng dan gampang sekali menangis, kini menjadi sangat realistis. Pahit manis berbisnis menempa saya hingga menjadi pribadi yang tegas. Sekali saya mengambil keputusan, maka saya pegang keputusan itu baik-baik. Takkan pernah berubah.

Karena sebelum saya mengambil keputusan, saya mempertimbangkan dengan sangat matang dari segala aspek. Fleksibilitas dan kompromi ada di dalam proses pertimbangan ini.

Maka tercetuslah, Yes is Yes. No is No.

No compromise.

Tips Tampil Stylish Dengan Hijab
Padu Padan Sweater Binong Jati Dengan Jaket Kulit Lokal

Saya nggak peduli ketika orang menilai saya pribadi yang nggak fleksibel. Terlalu Strict. Terlalu kaku. Kalau sudah kecewa nggak kasih kesempatan kedua.

Hellow…Lu tau apa ketika gue mikir panjang? Ngga tau apa-apa kaan? Jadi nggak usah asbun deh.

Sorry, saya hanya mengungkapkan isi hati. Semoga postingan ini bisa diambil hikmah dan bermanfaat buat kalian pembaca blog ini, kalian yang mau mulai berbisnis, atau kalian, yang mencintai traveling dan Indonesia.

Salam hangat dari saya,

Arum Silviani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *