Perempuan: Logika dan Perasaan. Mana Yang Duluan?

Cara berpikir perempuan memang unik. Cewek tuh mikir pake perasaan, pake hati. Nggak bisa sepenuhnya pake ilmu. Kayaknya ngga bisa ngelak deh akutuh kalo dibilang gitu. Sekeras apapun kita, sebagai perempuan berpikir dengan logika, ujung-ujungnya pasti ke perasaan juga. Ya nggak sih? Ngaku hayo…

Gini ceritanya…

Suatu malam bertahun-tahun lalu, aku dan Mbak Yanti ngobrol serius. Kami berencana pindah tempat tinggal.

Well. Akhirnya kami berdua mulai searching tempat tinggal. Kami menetapkan kriteria. Pertama, lokasinya harus aman dan bersih. Kedua, jarak tempuh dekat dengan kantor dan bandara. Ketiga, terjangkau transportasi umum dan akses 24 jam. Keempat, sesuai dengan budget. Kelima, airnya bagus.

Setelah sekitar 1 minggu proses pencarian, kami menemukan sekitar 4 lokasi yang memenuhi standar. *kalo ngga salah 4 atau 5 gitu deh. Lupa.

Malam selepas isya, Saya dan mbak Yanti rapat di kamar saya. Karena saya mahasiswa manajemen, maka mbak Yanti menyerahkan proses seleksi tempat tinggal ke saya.

Baca juga: Sosok Wanita Jawa, Seperti Apa Mereka Sebenarnya?

Cara berpikir perempuan
Perempuan

Perhitungan Ilmiah

Dengan sotoynya, saya mengeluarkan buku tulis. Setelahnya saya bikin diagram dengan 3 Metode Ilmiah Proses Pengambilan Keputusan. Analytical Hierarchy Process, Metode Boundary dalam pemilihan Lokasi, dannn…Metode Weighting factor versi consultant valuation.

Di kantor, saya tuh lumayan ahli loh dalam menggunakan 3 metode ini. Anak manajemeenn…*sambil nepuk dada sombong.

Maklum, waktu itu ilmu saya masih cetek bener. Makanya lebih banyak sombongnya daripada bermanfaatnya 🤣🤣🤣🤣

Terus mulai deh tuh kami berdua ngitung. Awal2 pede banget. Cepet dah ngitungnya, meskipun perhitungannya cukup rumit. Terutama versi weighting factor.

Dan, ketika hasil tiga metode disandingkan, ketiganya memberikan hasil yang sangat mirip. Saya menuliskan lokasi tempat tinggal, urut sesuai dengan skor yang didapat.

Baca Juga: Satu Januari, Ngobrol Bersama Bapak

Cara Berpikir Perempuan

Setelah itu, saya dan mbak Yanti terdiam lama. Kami sama2 menatap dan merenungi hasil perhitungan ilmiah tadi.

“Mba, gimana nih? Hasilnya gini.” 

“Tapi nih ya rum, yang urutan terakhir tuh ibunya baik loh.”

“Iya ya. Tetangganya juga baik.” Sambung saya. Ikut bingung.

“Tapi paling mahal ya.” Kata mba yanti.

“Iya paling mahal. Angkotnya ngga 24 jam pula. Cuma sampe jam 9 malem.”

“Iya.”

Terus mikir lagi. Kami menimbang tempat tinggal yang lain. Muter-muter menimbang baik buruknya, sesuai hasil perhitungan ilmiah yang bikin kami berdua tambah puyeng.

“Harusnya perhitungan ini ngga salah kan ya. Kan bapak suka pake di kantor.” Kata Mba Yanti. *Bapak is our boss.

“Iya. Ini hitungannya udah bener kok.” Sahutku. Ilmu manajemenku dipertaruhkan disini.

“Mba, tapi kok yang nomer terakhir daku sreg ya.” *mulai plin plan.

“Iya sama. Saya juga.”

“Apa gini aja, kita pulangnya jangan malem-malem. Kalaupun terpaksa pulang malem, kan bisa naik taksi.” Kataku.

“Iya ya. Naik Ojek juga bisa. Tapi ga apa-apa nih? Kan disitu paling mahal.” Kata mba Yanti.

Aku mikir. “Iya juga sih. Tapi ibunya baik. Tetangga juga baik.”

“Iya ya. Eh, Rejeki ntar dapet lagi kan ya. Apa kita ambil aja gitu?” Tanya Mba Yanti.

Daan…itulah keputusan kami!!!

Besoknya, kami datangi lokasi dengan skor paling rendah itu. Trus bayar DP .

Boro-boro ngikutin perhitungan dan pendekatan ilmiah yang sudah dibikin dengan diagram rumit. Ujungnya malah balik lagi ke hati. Balik lagi ke perasaan.

Itulah cewek. Nggak melulu logika. Dibaikin, dikasih nyaman, pasti lupa sama semua kekurangan. Makanya seringkali, cewek itu kalau disuruh menentukan pilihan lama, tapi kalau soal feeling kuat. Ya plus minus lah ya sama cowok. Saling melengkapi.

Gitu dulu deh. Nanti dilanjut, dalam cerita berikutnya.

Post Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *