Tertambat hati di Muara Rancabuaya

Rasa penasaran ingin “menaklukkan” medan terjal dan menantang ke Rancabuaya di Kabupaten Garut membawa kami bertandang kesini. Jajaran pantai yang secara administratif berbatasan dengan Kabupaten Bandung.

Tapi, tunggu dulu.

Garut yang saya maksud bukanlah Kota Garut yang hanya berjarak tempuh sekitar 1,5-2 jam perjalanan dari kota Bandung. Bukan Garut yang itu. Melainkan Garut Selatan. Pesona perawan tanah Sunda yang belum banyak terjamah oleh tangan manusia. Tempat yang hanya bisa dicapai dengan penuh perjuangan, juga kewaspadaan tingkat tinggi. Betapa tidak, untuk menikmati kecantikannya kami harus melewati jalur Pangalengan di Selatan Bandung yang terkenal terjal. Kemudian berlanjut ke Talegong, menembus hutan dan perkebunan dataran tinggi berkabut tebal, berudara dingin, dan jalan berliku yang aduhai, tentu saja.

Kabut di Talegong
Kabut di Talegong

Namun sepanjang perjalanan, segala lelah hati dan pengorbanan kami selama perjalanan terbayarkan. Rancabuaya tak henti-hentinya memamerkan keindahan serta pesonanya. Disaat satu persatu pantainya kami susuri, semua memiliki keindahan tanpa cela. Masing-masing cantik dengan kekhasannya, meskipun hampir semua pantai itu melindungi dirinya dengan deburan ombak ganas.

Baca juga: Berkelana ke Rancabuaya

The Squad in the middle of somewhere
The Squad in the middle of somewhere
Pantai Rancabuaya
Pantai Rancabuaya

Sesampainya di Kawasan Pantai Garut Selatan, kami singgah hampir di setiap jembatan yang menghubungkan muara dengan daratan. Pemandangannya tak kalah indah dengan pemandangan pantai di sekitarnya. Kita bisa melihat laut, sungai, sekaligus lahan pertanian yang masih alami. Belum tersentuh modernisasi sama sekali. Kadang, jika sedang beruntung, anda akan bertemu dengan warga setempat untuk dapat sekedar saling menyapa atau menebarkan senyum. Jarang sekali melihat orang melintas di daerah ini.

Baca juga: Pantai Cidora, Sang Perawan disisi Rancabuaya

Jembatan Muara Rancabuaya
Hilir Muara Rancabuaya
Hulu Muara Rancabuaya
Squad in Action
Monokrom Ceritanya 😀

Si Manis Pantai Manalusu

Namanya seperti nama belakang orang Ambon. Kadang teman-teman saya, juga saya sering keliru menyebutnya dengan Monalisa. Pantai yang cantik dan masih dalam jajaran Pantai Rancabuaya.

Dibandingkan pantai lainnya, dapat dikatakan keberadaan pantai ini masih kalah populer dengan tetangga sebelah. Jalan masuknya kecil, tak pula terdapat tanda atau petunjuk jalan yang memadai. Hanya tulisan warga setempat di gapura masuk desa yang ditulis dengan cat merah “Pantai Manalusu”

Baca juga: Menjelang Senja di Pantai Santolo

Pantai ini menawarkan karang-karang yang terserak di sepanjang tepiannya. Kalau anda mau berjalan ke ujung pantai, anda akan menemukan hamparan pasir lembut yang menawan hati. Selain kecantikannya, pantai ini menawarkan ketenangan yang jarang bisa didapatkan di tempat wisata populer. Hembusan angin pantai dan deburan ombak seakan berkata kalau, semuanya akan baik-baik saja.

Bergaya ala ala Monalisa 😀
Jangan pernah ragu untuk bersauh

Tak jauh dari pantai ini, anda akan menemukan surga lainnya. Surga tersembunyi yang tak kalah menawan dengan pantai-pantai di Indonesia timur. Puncak Guha. Dinamakan Puncak Guha karena tempat ini memang berada di puncak tebing, sehingga kita dapat melihat lautan di bawah sana yang membiru, bagaikan bersatu dengan horizon. Orang juga sering menyebut tempat ini dengan lautan di atas awan. Saking indahnya.

Baca juga: Pesona Cakrawala di Pantai Sayang Heulang

Pemandangan dari Puncak Guha

Sedangkan “Guha” berasal dari kata Goa, yang berada di tengah tebing curam di bawah sana. Jika air laut surut, maka Gua tersebut akan terlihat jelas. Sepanjang perjalanan saya menyusuri Garut Selatan, boleh dibilang, Puncak Guha adalah tempat yang paling saya suka.

Akses menuju Puncak Guha

Akses menuju Puncak Guha boleh dibilang tak begitu baik. Kami hanya bisa mengira-ngira dimana tempatnya, berdasarkan deskripsi yang disampaikan penjual sate di Rancabuaya yang kami temui malam sebelumnya. Ternyata jalan masuknya belum beraspal, hanya tanah liat yang belum dikeraskan, sehingga rawan dilewati jika musim hujan.

Meskipun tak ada retribusi resmi, tapi pemuda setempat meminta uang kepada kami Rp30.000 atau Rp5.000/orang.

Tak banyak kata untuk mendeskripsikan betapa indahnya panorama di Puncak Guha. Bahkan jepretan kamera pun tak cukup untuk melukiskan keindahannya. Landscape menakjubkan nan alami ciptaan Sang Khalik.

Membelakangi horizon #tsaaahh
“Guha” di tengah tebing

Sungguh penciptaan langit dan bumi itu lebih besar dari penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak memahaminya. (QS. Ghafir [40]:  57). Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?(QS. Ar-Rahman).

Jangan ragu untuk menyusuri setiap rute, meskipun seringkali rute tersebut tak mudah untuk dilewati. Karena sesuatu yang indah, tak pernah mudah untuk didapat, bukan?

One Reply to “Tertambat hati di Muara Rancabuaya”

Leave a Reply