Nongkrong di Warung Kopi Purnama

Awalnya suntuk tiga hari nggak keluar rumah karena flu berat. Banyak kerjaan tapi moodnya nggak ada. Mau nulis juga inspirasi melayang entah kemana. So, saya memutuskan cari udara segar (baca: shopping) di kawasan Pasar Baru, Jl. Otto Iskandar Dinata. Tadinya sih mau lihat-lihat bahan buat bikin kreasi fesyen yang centil-centil. Eehh…kaki berkata lain.

Karena laper, dari daerah pasar baru saya jalan kaki ke Jl. ABC, terus belok kanan ke Jl. Alkateri, dan akhirnya nongkrong di Warung Kopi Purnama. Sebuah warung kopi legendaris yang berdiri sejak tahun 1930an. Sudah empat generasi yang mewarisinya. Namun demikian, orang bilang rasa kopi di tempat ini masih sama dengan rasa saat pertama kali warung Kopi Purnama didirikan.

Lokasi Warung Kopi Purnama berada di Jalan Alkateri, suatu daerah pecinan lama di Kota Bandung. Daerah ini dulunya merupakan pusat bisnis yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Sekarang sih jadi pusat toko gorden atau permadani. Tapi uniknya, pertokoan di area Jalan Alkateri masih mempertahankan bangunan lama. Hanya sesekali, pemiliknya mengganti warna cat atau menambal tembok retak dan mengelupas.

Pede banget saya sendirian ngopi disitu. Saya pun memesan signature dish warung ini. Kopi susu dan roti selai srikaya. Kopi susu sengaja saya pesan yang dingin karena siang ini Bandung panas menyengat. Rasanya? Enak banget. Kopinya ringan, murah, hanya Rp18.000, tapi rasanya nggak murahan. Mungkin mirip-mirip kopi sanger Aceh ya. Kalau roti selai srikayanya memang khas sekali selainya. Harganya Rp18.000/porsi. Cuma kalau buat saya, tekstur rotinya masih kalah sama Roti Gempol (lain waktu saya bahas deh ya gimana enaknya roti gempol).

Es Kopi Susu dan Roti Selai Srikaya Warung Kopi Purnama
Es Kopi Susu dan Roti Selai Srikaya Warung Kopi Purnama

Lebih jelasnya, ini menu di Warung Kopi Purnama:

Menu dan Harga di Warung Kopi Purnama
Menu dan Harga di Warung Kopi Purnama

Tapi perhatian buat yang muslim ya guys, sebaiknya kalian nggak memesan menu yang dimasak karena ada menu babinya. Nama lainnya disitu ditulis sekba. Sekba sendiri adalah potongan daging dengkul babi yang dicincang untuk dicampurkan ke dalam bacang, nasi, telur dsb. Meskipun banyak pengunjung disini yang pakai jilbab, hati-hati tetep harus dong ya.

Btw meskipun rasanya ringan, segelas kopi susu di tempat ini sukses bikin saya nggak bisa tidur 3 malam berturut-turut. Mungkin karena saya pecinta kapal api sejati, atau bisa dibilang amatiran dalam hal minum kopi, efeknya nendang banget buat saya.

Mungkin banyak yang tanya, kayak gimana tampilan depan warung kopinya? Silakan anda cari sendiri di Jalan Alkateri ya. Ada keseruan tersendiri ketika menemukan tempat yang legendaris tapi ukurannya kecil dan sering terlewatkan ini.

Sampai jumpa di review berikutnya 😀

One Reply to “Nongkrong di Warung Kopi Purnama”

Leave a Reply