Kupang dan Warna-Warni Nusa Cendana

Kupang dan Warna-Warni Nusa Cendana

Ini kali keenam saya menginjakkan kaki di Kupang, bumi Nusa Cendana. Ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur yang menyimpan pesona keindahan pantai, terumbu karang, langit yang bersih, juga sunsetnya yang menawan. Suasana malamnya pun bertambah syahdu manakala sekelompok warga memamerkan merdunya denting dawai Sasando. Alat musik asli Nusa Cendana. Sedangkan makanannya, kita dapat menikmati Ikan Kuah Asam, Sei Sapi dan Ikan yang lezat, juga aneka hidangan seafood yang segar.

Baca juga:

Sasando, Dawai Cinta dari Nusa Bunga

Masak Sei, Daging Lezat Khas Kupang

Sei Ikan Saus Tiram Khas NTT

Kalau bagi saya, Kupang ini spesial karena disana ada my soulmate, Ati Pamuji Prilani. Sahabat saya sejak saya kuliah S1 di Bandung dulu. Dia yang anak kota banget, ternyata bisa eksis di kota Kupang yang bisa dibilang, jauh dari hiruk pikuk keramaian ibukota di Jawa. Berhawa panas dan kering, juga nggak banyak butik atau mall yang up to date soal fashion maupun make-up.

Nah, meskipun sudah enam kali saya berkunjung ke Kupang, tapi rasanya tak satupun ada tulisan saya yang membahas soal keindahan Kupang. Kali ini, bolehlah saya memamerkan pesona Kupang. Mulai dari pantainya, kulinernya, juga kebaikan hati orang-orangnya.

Saya menumpang pesawat Garuda Indonesia dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Jam 6.20 saya bertolak ke Denpasar, transit selama dua jam di Bandara Ngurah Rai, lalu ganti pesawat menuju Bandara El-Tari, Kupang. Total perjalanan saya dari Bandung ke Kupang sekitar 6 jam, termasuk transit. Oh iya, saya harus posting foto di Instagram supaya nggak dibilang hoax sama sohib saya yang ceriwis itu. Karena kalau sampai saya nggak jadi kesana, dia pasti bakalan ngomel sepanjang masa hahaha…

So, pendaratan di Kupang seperti biasa, berangin. Pesawat selalu berayun-ayun sebelum turun. Untung Pilotnya menyenangkan, sehingga dalam perjalanan nggak bosan. Pendaratan juga tepat waktu. Jam 12.50 waktu setempat saya sudah sampai di El-Tari. Langsung ke rumah makan Tanjung di Jl. Timor Raya No. 126. Makanannya enak, tapi nyaris nggak ada ciri khas Kupang. Malah cenderung menyediakan masakan Jawa.

Pantai Kelapa Lima, Kupang
Pantai Kelapa Lima, Kupang

Selanjutnya, saya ke hotel untuk menaruh barang. Saya menginap di On The Rock Hotel di Daerah Kelapa lima, Kupang. Hotel ini adalah hotel berbintang 4 yang terletak di dekat pantai. Sudah dua kali saya menginap di hotel ini. Pertama tahun 2013, lalu bulan Oktober 2017. Hotelnya bagus, juga memiliki view yang indah. Kolam renang menghadap pantai, bersih, dan juga dilengkapi dengan fasilitas handuk, ruang ganti, dan bilas. Untuk kamarnya juga cukup nyaman. Kurang lebih seperti ini.

Kamar Hotel On The Rock Kupang
Kamar Hotel On The Rock Kupang

Review lengkap On The Rock Hotel bakal saya tulis di postingan terpisah ya.

So, lanjut. Setelah sampai hotel dan berbagai tetek bengeknya, saya pesan Gogo Taksi. Buat anda yang bertandang ke Kupang, taksi ini recommended banget untuk keliling kota. Tarifnya murah, hanya Rp4.500 per kilometer. Jenis mobilnya rata-rata Avanza atau Xenia gitu. Atau bentuk mobil minibus, sehingga bisa muat banyak. 6 orang masuk lah. Untuk ordernya gampang, tinggal telepon saja ke (0380) 8585000. Pesan taksinya, lalu sebutkan dimana alamat anda hendak dijemput. Sistem taksinya Argo dan driver nggak bakalan nawarin tarif borongan.

Gogo Taksi Kupang
Gogo Taksi Kupang, Sumber: TribunKupang.com

Karena jumlah armadanya terbatas, jadi anda musti sabar menunggu. Saya pernah malah saat hendak ke bandara harus nunggu sampai 40 menit. Di satu sisi, saya yang mengikuti perkembangan bagaimana Kupang dahulu dan sekarang, terasa sekali kemajuannya. Termasuk adanya transportasi yang mudah dan murah ini. Tapi di sisi lain, saya yang terbiasa dengan aplikasi untuk segala transportasi, harus siap kembali beberapa langkah ke belakang.

Biasanya, saya pesan segala moda transportasi by online. Mau taksi argo ataupun taksi konvensional. Tapi disini, serasa kembali ke 5 tahun belakangan saat saya masih nelpon-nelpon minta dijemput. Ngeluarin pulsa telepon hanya untuk order taksi. Nah, terasa kan, ada ketimpangan teknologi antara Indonesia Bagian Barat, dengan Indonesia Bagian Tengah? Apalagi bagian timur coba?

So, setelah dapat taksi, saya langsung meluncur ke kantornya Mpok Ati di daerah Oebobo. Kami makan siang ronde kedua, karena sohib saya ini sudah menyiapkan ayam bakar dan ikan kuah asam di kedai sebelah kantornya. Rasa makanannya enak semua kalau menurut saya. Otentiknya dapat. Nggak lama setelah makan, saya ketemu Shakti. Anak Mpok Ati yang sipit yang selalu bikin kangen ini. Rencananya kami akan menghabiskan sore di hotel, menunggu sunset sambil ngerumpi, sementara Shakti main air di kolam renang.

Oh iya, saya juga sempat mencoba angkutan umum Kupang saat hendak menuju Rumah Teh Dewi, kakaknya Ati. Berbeda dengan angkutan umum di Jawa, di Kupang Angkutan umum rata-rata berbentuk elf dan berbahan bakar solar. Di seluruh bagian luar mobil ditempeli aneka sticker dan tulisan-tulisan yang seringkali membuat kita tertawa geli.

Angkutan Kota di Kupang
Angkutan Kota di Kupang, Sumber: bali.bisnis.com

Meskipun mobilnya terlihat besar, namun ternyata dalamnya sempit. Di bawah kursi penumpang terdapat speaker dan ditutup jeruji besi. Sepanjang perjalanan, musik bergenre pop dan rock berdentam-dentam memekakkan telinga. Jadi, ketika naik angkot di Kupang, jangan harap anda bisa ngerumpi di dalam angkot, seperti yang bisa anda lakukan di Jawa.

Untuk tarif juga tak menentu. Paling mahal adalah Rp3000/orang jauh dekat. Kata Mpok Ati, tergantung besarnya badan. Kalau kira-kira masih muda dan langsing dihargai Rp2000/orang. Namun jika anda ibu-ibu atau bapak-bapak, maka anda disuruh bayar Rp3000/orang. Unik, bukan?

So, this is it. Sunset di tepi Kolam Renang On The Rock Hotel, Kupang.

Waiting for Sunset
Waiting for Sunset with my bestfriend, Ati
Sunset di On The Rock Hotel, Kupang
Sunset di On The Rock Hotel, Kupang

Setelah bermain-main di Kolam Renang, kami istirahat sebentar di Kamar. Selanjutnya, bertualang ke Pasar Ikan Kelapa Lima yang terletak tak jauh dari On The Rock Hotel, atau tepat berada di seberang Hotel Aston Kupang. Pasar ikan ini terletak di tepi pantai, dan para pedagangnya menjajakan ikan laut seperti baronang, kakap merah, ikan ekor kuning, ikan kue, dan lain sebagainya. Ukuran ikannya pun beragam, dari ikan yang kecil, hingga ikan ukuran super besar. Harganya sekitar Rp30.000 hingga Rp100.000, tergantung ukuran ikan. Namun sepertinya, untuk ikan ukuran besar harus tanya langsung dengan penjualnya.

Warna-Warni Ikan di Pasar Ikan Kelapa Lima, Kupang
Warna-Warni Ikan di Pasar Ikan Kelapa Lima, Kupang
Pedagang Menawarkan Ikan
Pedagang menawarkan Ikan segar kepada pengunjung
Shakti yang sedang memilih ikan
Shakti yang sedang memilih ikan

Nah, di pasar ikan ini anda juga dapat minta tolong penjualnya untuk membakar ikan tersebut lho. Sudah dibumbui pula. Tarif membakar ikan hanya Rp10.000/ikan. Saya sendiri membeli ikan kue seharga Rp30.000 rupiah satu ekor, ditambah ongkos bakar Rp10.000.

Ikan Kue Pesanan Saya
Ikan Kue Pesanan Saya, Siap untuk dibakar

Kalau pada foto di atas anda melihat ukuran ikan seolah-olah kecil, itu karena keterbatasan kamera. Aslinya, jika dibandingkan dengan tangan saya, maka ukuran ikan di Pasar Ikan Kelapa Lima Kupang rata-rata segini:

Ikan Kue
Ikan Kue

Kelihatan kan, bedanya?

Kalau anda tak suka ikan bakar, anda bisa juga menikmati lezatnya ikan kuah asam di kedai yang terletak di tengah-tengah penjual ikan. Rasa ikan kuah asamnya sangat lezat. Satu porsi ikan kuah asam dihargai Rp15.000. Selain ikan kuah asam, anda juga bisa membeli ikan di penjual ikan, lalu minta diolah di kedai ini. Mereka melengkapinya dengan sambal dabu-dabu rica yang pedas dan menyegarkan. Bedanya, harganya akan jauh lebih mahal jika dibandingkan anda mengolah ikan di penjual ikan.

Ikan Kuah Asam di Kedai Kelapa Lima
Ikan Kuah Asam di Kedai Kelapa Lima
Ikan Bakar di Kedai Kelapa Lima
Ikan Bakar di Kedai Kelapa Lima

Dua menu di atas misalnya, dihargai Rp110.000. Sehingga kira-kira, seekor ikan dengan ukuran lebih kecil dari yang saya beli di penjual Rp40ribu, disini dijual Rp70.000.

Suasana Kedai di Kelapa Lima
Suasana Kedai di Kelapa Lima

Buat anda yang nggak suka makan ala-ala kedai, di sebelah On The Rock Hotel juga terdapat restaurant Taman Laut yang menyediakan menu seafood.

Restaurant Taman Laut
Restaurant Taman Laut

Kalau mau beli oleh-oleh, ada namanya toko Ibu Soekiran yang menjual Sei Sapi, Sei Ikan, dan oleh-oleh Kupang lainnya. InsyaAllah halal dan sudah ada label halal MUI nya. Kalau saya sih seringnya diajak Ati ke Aldia, di Jl. Ahmad Yani No. 79, Kupang. Disitu juga lumayan bagus dan enak dagingnya. Untuk Sei Sapi ukuran 500 gram dihargai Rp80.000-Rp90.000, tergantung kualitas dan bagian daging. Sedangkan ukuran 1kg dihargai Rp160ribuan.

Lalu ada oleh-oleh yang selalu saya bawa, yaitu kopi flores. Ini nih bentuknya.

Kopi Flores NTC
Kopi Flores NTC

Kalau di sebelah Percetakannya Ati, harganya hanya sekitar 17 ribu hingga 30 ribuan saja untuk ukuran yang lebih besar. Tapi kalau di toko online, bisa mencapai 45 ribuan. Rasanya enak banget, meskipun cukup keras kalau buat saya.

Goodbye Kupang
Goodbye Kupang

Kiranya segitu dulu perjalanan saya ke Kupang. Selanjutnya, saya akan share pengalaman saya saat melakukan perjalanan darat dari Kupang ke Kefamenanu, Timor Tengah Utara.

Baca juga: Semanis Madu dari Desa Loli Timor Tengah Selatan

Sampai jumpa… 🙂

2 Replies to “Kupang dan Warna-Warni Nusa Cendana”

  1. Rasanya ada yg nyebut2 namaku y… panas juga telingaku. Oh ya sbg info tambahan ya bagi yg mau ke kupang. Sekarang udh ada kok transportasi berbasis online dan udh bisa di download di playstore, namanya beta antar. Tp sepertinya msh kalah populer ya sama gogo taksi dan aku pun blm pernah nyoba order lewat aplikasinya. Nah satu lg untuk angkot disini biasanya disebut bemo, bahan bakar tidak bersolar yaa alias premium. Tarif utk anak sekolah/ mahasiswa diistimewakan. Jadi bukan soal kecil ato gedenya badan. Klo badannya gede tp anak sekolah ya tetep aja tarifnya paling murah, rata2 1500 rupiah sj.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *