Arum Silviani
Bahasa Indonesia yang kehilangan jati diri

Bahasa Indonesia yang Kehilangan Jati diri dan Sebuah Cerita tentang Penulis Baper

Beberapa tahun lalu, salah satu penulis novel yang saya punya banyak bukunya, seringkali saya temukan typo di novelnya. Tak hanya satu, tapi banyak. Bahkan dia juga sering salah menuliskan nama tokoh yang diceritakan di dalam tubuh novel. Disini saya mau bercerita tentang bahasa Indonesia yang kehilangan jati diri.

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya, Salah Kaprah, Bener Keblinger dalam berbahasa Indonesia.

Typo yang dianggap biasa, dan salah sebut nama tokoh yang dianggap kesalahan manusiawi

Salah penulisan nama atau tertukarnya nama tokoh dalam tubuh novel sangat fatal menurut saya. Karena bisa menyebabkan pembaca salah dalam menginterpretasi alur cerita. Apalagi jika berulangkali ditemukan.

Karena saya salah satu penggemar penulis tersebut, maka saya memutuskan untuk mengirimkan email padanya. Saya harap, jika nanti novelnya dicetak ulang, kesalahan-kesalahan yang mengganggu seperti ini tidak terulang kembali.

Namun ternyata sebelum saya mengirimkan email padanya, sudah ada pembaca yang mengirimkannya terlebih dulu.

Saya tahu darimana? Tahu dari media sosial sang penulis.

Ternyata penulisnya baperan dan tidak begitu legowo dalam menerima kritik.

Penulis yang Tak Menerima Kritik, ada lho!

Ketika diingatkan oleh pembaca, bukannya berterima kasih, malah berkoar di media sosial. Kurang lebihnya begini,

“Saya tidak mengerti dengan para pembaca yang komplain soal typo. Masa typo saja dipermasalahkan? Fokuslah kepada jalan cerita.” Demikian katanya.

Menurut saya itu nyinyir sekali.

Tahukah anda hai “Penulis terhebat tanpa cela,” semenjak saat itu, saya tak pernah lagi membeli buku anda. Saya hilang respek pada anda yang tak mau menerima masukan.

Bagaimanapun, seorang penulis harus siap dikritik dan diingatkan, demi menghasilkan karya yang lebih baik di masa yang akan datang. Kalau banyak typo saja anda anggap wajar? Lantas apa fungsinya editor? Kerjaan dia ngapain aja?

Pengalaman Menjadi Editor Selama Lebih dari 14 tahun membuat mata saya jeli

Selama lebih dari 14 tahun, saya telah menjadi editor proposal, laporan kegiatan, laporan tahunan dan aneka dokumen penting di kantor. Ribuan halaman setiap harinya saya baca. Kata per kata, kalimat per kalimat saya baca detail. Saya memastikan tidak ada typo dan kesalahan bahasa saat naik cetak dan disampaikan kepada klien.

Bahasa Indonesia yang kehilangan jati diri
Editor work. Picture by Ron Lach

Selama 14 tahun tersebut, sebagai manusia, tentunya saya pun pernah membuat kesalahan. Sekali waktu saya typo saat menuliskan nama institusi. Satu kesalahan yang tidak saya sadari diantara 5000an sekian halaman dalam sebuah dokumen penting.

Dokumennya terlanjur saya cetak, dan harus segera dikirimkan pada klien. Sialnya, atasan saya sangat jeli matanya, sehingga saya diomeli lumayan panjang. Saya mengaku salah.

Akhirnya saya memutuskan untuk merombak seluruh dokumen, dengan keterbatasan waktu yang saya punya. Untungnya, ada percetakan yang mau membantu saya. Meskipun saya harus bayar extra charge karena dokumen saya dikerjakan oleh lebih dari 3 orang supaya cepat selesai.

Mungkin buat orang lain, mereka akan berpikir, “Cuma satu kesalahan typo, wajar lah.”

Atau, “Lebay, gitu aja kok repot!”

Tapi buat saya, itu namanya profesional dan tanggung jawab. Saya tak memaklumi diri saya sendiri dengan berkata, “Maklum lah salah, kan ada 5000 halaman lebih. Mata pasti lelah. Lagipula waktunya kan terbatas.”

Tidak.

Karena bagi saya, sekali pemakluman pada suatu kesalahan dalam dunia profesional, maka akan ada maklum-maklum yang berikutnya.

Arum Silviani

Penulis Senior justru Menyajikan Diksi dalam Fiksi yang Indah

Kembali lagi ke penulis baperan yang saya ceritakan tadi, soal typo di novelnya. Sungguh sangat tidak elok disaat sebuah buku yang diluncurkan ke pembaca setia, yang dibeli dengan uang, lalu pembaca tersebut diberikan karya yang banyak typonya.

Ngapain gue bayar kalau begitu?

Sementara itu, ada seorang penulis yang jauh lebih senior, pengalamannya lebih luas, juga lebih keren sepak terjangnya dengan penulis baperan yang saya ceritakan tadi. Ketika meluncurkan sebuah karya, tak pernah sekalipun saya temukan typo dalam novel-novelnya. Tidak pernah satu kalipun, satu kata pun. Tidak juga satupun kesalahan tanda baca. Apalagi tertukarnya nama tokoh antagonis dan protagonis di tubuh novel. Tak pernah sekalipun terjadi.

Saya membacanya dengan bahagia. Membaca diksi yang indah, frasa yang memikat, dan juga ejaan Bahasa Indonesia yang sempurna. Saya membaca karyanya tanpa ada yang mengganjal di hati, gara-gara typo dan kesalahan menyebalkan yang dianggap minor.

Baca juga: Menulis Artikel untuk Pemula

Bahasa Indonesia yang Kehilangan Jati Diri, Apakah akan lestari?

Jika kebiasaan “meringankan” bahasa Indonesia ini berlangsung terus-menerus dan dibiarkan, bukan tidak mungkin nanti bahasa Indonesia kehilangan jati dirinya. Akan sulit sekali bagi penutur asing yang hendak belajar dan bicara bahasa Indonesia. Saking kacaunya Bahasa Indonesia yang tercampur dengan bahasa “gaul” bahasa “anak jaksel” dll.

Bagaimana nasib mother language kita di kemudian hari? Apakah ia akan tetap lestari?

By: Arum Silviani, founder of antasena edu projects

Post Terkait:

Arum Silviani

Lecturer, Travel Blogger and Founder of Antasena Projects

Add comment

AdBlocker Message

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

AdBlocker Message

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.