Arum Silviani

Lulus S1: Kerja dulu, atau lanjut kuliah S2?

Postponing Reality

Halo pembaca setia Rumah Arum. Khususnya buat kalian yang baru atau akan lulus jenjang S1 atau D4. Tulisan ini terilhami dari seorang mahasiswa yang akan lulus. Kebeneran bertanya ke saya soal, lulus S1, baiknya kerja dulu atau lanjut kuliah S2?

Anyway, penjelasan ini saya buat berdasarkan pandangan dan pengalaman saya bekerja profesional selama 14 tahun. Kalau kalian baru masuk ke website ini dan pengen tahu cerita kerjaan saya, bisa dilihat di postingan ini ya.

baca juga: My Job

baca juga: Suka Duka Jadi Tenaga Ahli Kemenristekdikti

baca juga: 13 tahun berkarya

Saya copas dulu pertanyaan yang masuk ke DM saya:

Mbak, aku lagi galau banget mau kerja dulu atau lanjut S2. Sebenernya aku lebih pro buat S2 dulu karena aku ngerasa belum cukup belajar di S1. Aku udah banyak searching tapi kok kebanyakan pada pro kerja dulu baru S2 ya. Mau minta pendapat mbak Arum. Terus perusahaan bakal memandang sama atau beda ya sama lulusan S1 dan S2, secara mba arum lebih berpengalaman kan soal bidang ini. Saya tanya ke orang tua juga mereka bilangnya terserah saya. Mohon info ya mbak, terima kasih sebelumnya. –anonymous-

Saya rasa pertanyaan di atas mewakili kegalauan dan kegundahan kalian semua menjelang hari kelulusan program Strata 1 atau Diploma 4. Biasanya kalau sudah ada pertanyaan masuk seperti ini, saya bakal tanya balik mereka. Mau jawaban saya jujur sebagai profesional, atau jawaban yang bikin hati kalian senang?

Jawaban Profesional vs Postponing Reality

Kalau secara profesional, jelas saran saya ya harus kerja dulu. Mengamalkan dan mempraktikkan ilmu yang kalian dapat di bangku S1. Baik itu dengan bekerja di sebuah perusahaan, atau wirausaha.

Ketika lulus dari S1 langsung lanjut S2, sebenarnya kalian sudah masuk dalam keadaan postponing reality. Menunda menghadapi kenyataan. Kebanyakan dari anak muda melanjutkan S2 karena setelah lulus jadi sarjana, mereka nggak tahu mau ngapain. Daripada nganggur, lebih baik langsung lanjut sekolah lagi.

Padahal kenyataan di lapangan yang harus dihadapi oleh para lulusan ini adalah,

Makin tinggi pendidikan kamu, maka peluang kerja semakin sempit.

Kenapa? Karena pendidikan tinggi ya harus diimbangi dengan experience yang banyak juga. Sanggup menyusun strategi.  Menjadi pemikir, bukan lagi menjadi karyawan level middle low management.

baca juga: Satu Oktober dan Sebuah Nostalgia Lama

Kenali Perbedaan Kapasitas dan Kapabilitas

Dalam perkuliahan kita belajar tentang kapasitas otak. Seberapa sanggup kita menerima mata kuliah dan aneka pelajaran yang disampaikan oleh Dosen. Sedangkan dalam pekerjaan, yang dibutuhkan adalah kapabilitas. Nah kapabilitas ini terbangun dan terbentuk dari praktek. Bagaimana seseorang bekerja, bagaimana dia memecahkan masalah, bagaimana dia menghadapi segala persoalan dalam dunia profesional. Welcome to the real world, welcome to the jungle!

Postponing Reality
Lulus S1 mau kemana?

Dalam dunia kerja, yang bisa survive adalah mereka yang mempunyai etos kerja yang baik, sanggup bekerja dalam tekanan, dan punya kapabilitas mumpuni sesuai bidangnya.

baca juga: Berbakat di era revolusi industri 4.0

Bisa Nggak Mbak Kalau Kerja Sambil Kuliah S2?

Nggak ada yang nggak bisa sebenarnya. Tapi masalahnya, fokus nggak?

Kalau kalian sudah terlatih bekerja setelah S1, lalu saat sekolah S2 nyambi (sambil) kerja, maka kalian punya bekal soal kapasitas dan kapabilitas untuk menjalankan keduanya. Sehingga tidak saling bertubrukan. Kalian sudah paham arti prioritas dari pengalaman yang didapat saat bekerja.

Tapi masalahnya, kalau kalian baru terjun ke dunia nyata, masuk dunia kerja, lalu nyambi sekolah S2, dikhawatirkan kalian tidak fokus dalam menjalani keduanya. Sekolah S2 memang terlihat santai, tapi karena jenjangnya lebih tinggi, maka kalian dituntut untuk bekerja mandiri. Banyak sekali tugas yang diberikan para profesor. Banyak penelitian yang harus kalian lakukan. Ada konferensi ilmiah yang harus kalian hadiri, tentu saja untuk dapat menghadirinya kalian harus melakukan penelitian terlebih dahulu.

Postponing Reality
Konferensi Ilmiah di Yogyakarta

Oleh karenanya, sanggupkah kalian melakukan hal tersebut? Jika sanggup, silakan. Tapi jangan sampai berhenti di tengah jalan karena amunisi kalian nggak cukup untuk bertahan.

Beranikan Diri untuk Terjun ke Dunia Nyata

Berdasarkan pengalaman, saya sendiri menyarankan buat para fresh graduate, beranikan diri untuk terjun di dunia nyata dulu. Buktikan dulu kalau anda punya kemampuan. Setelahnya, ambil program S2 untuk meningkatkan kapasitas anda, karena kapabilitas dalam bekerjanya sudah terbangun.

Postponing Reality
Menjadi Tenaga Ahli Tekno Ekonomi Pertamina Pondok Tengah, Tambun
Postponing Reality
When in PT. LAPI ITB

baca juga: Aplikasi Meeting Online Penunjang Work From Home

IPK Penting Nggak Sih?

Di dunia industri dan bisnis, gelar dan IPK tidak terlalu penting. Yang penting adalah skill dan kemampuan memecahkan masalah. Jujur-jujuran deh ya, di dunia profesional, experience jauh lebih diutamakan. Gelar hanya digunakan sebagai penunjang.

Postponing Reality
Saat memberikan pelatihan Community Development, PT. Pertamina (Persero) TBBM Cikampek

Kalaupun mau jadi dosen misalnya. Dari S1 langsung lanjut S2. Pertanyaan saya adalah, kok tega anda ngajar mahasiswa, padahal anda belum pernah melihat dunia nyata? Belum pernah terjun ke dalamnya? Belum ada pengalaman kerja atau mroyek sama sekali?

Yo mahasiswamu nyemplung rek. Bisa tenggelam mereka. Jadi dosen itu tagihan di akhiratnya berat lho. Kalau salah ngajar, dan kesalahan ini dilanjutkan oleh anak didik kita, maka mudharatnya kita bawa sampai liang lahat. Ditagih di akhirat.

baca juga: Pengalaman pertama mengajar mahasiswa

Makanya, mahasiswa yang hanya dijejali teori akhirnya menghasilkan pengangguran baru. Belajar di S1 seakan tak pernah cukup. Tapi aku tanya lagi ya, bagaimana kalian bisa tahu di S1 nggak cukup belajarnya sehingga harus langsung S2,  kalau kamu belum pernah amalkan ilmunya di dunia nyata?

Minimal kerja berapa tahun mbak, untuk bisa kembali S2?

Saran saya 2 tahun. Itu minimal sekali. Oleh karenanya, kalau kalian perhatikan persyaratan beasiswa bergengsi, biasanya mereka meminta syarat minimal harus pernah bekerja di dunia profesional selama 2 tahun.

Kalau kemampuan dan skill kita asah saat S2, juga salah ya mbak?

Bukan salah, tapi nggak semestinya begitu. Nggak tepat sasarannya. Urutan kualifikasi sudah jelas aturannya dari pemerintah, yang ditetapkan oleh standar KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Bahwa lulusan S1 berada di level 6.

Sedangkan lulusan S2 masuk ke level kualifikasi nomor 8. Dimana lulusannya akan menjadi Spesialis, atau dalam dunia profesional dianggap ahli.

Nah sekarang saya balik bertanya, bagaimana anda bisa dianggap ahli, jika yang anda tahu hanya teori? Lalu bagaimana bisa anda menjadi spesialis, jika anda belum pernah praktek profesional? Apa yang bisa anda tawarkan ke dunia nyata dan industri saat ini, jika anda melewati fase profesional ini?

Teori dan ijazah bisa dikejar. Tapi yang namanya kemampuan dan kapabilitas kerja, nggak bisa dilewati begitu saja. Semuanya berproses. Dijalani dulu, dihadapi dulu. Baru kemudian kapabilitas anda akan terbangun. Skill anda akan terasah.

Orang tua pengennya saya S2 dulu, gimana ya mbak?

Wajar banget kalau orang tua nyuruh kamu langsung S2. Karena mungkin mereka nggak tega lihat anaknya kocar kacir, lari sana-sini cari kerja, atau banting tulang buka usaha. Apalagi buat golongan orang tua yang mampu membiayai anaknya sampai kuliah ke jenjang tertinggi.

Padahal kembali lagi, ini adalah postponing reality. Menunda menghadapi kenyataan.

Kalau baru lulus S1 langsung lanjut S2, setelah lulus S2 apakah kalian yakin, nggak lebih lari sana-sini cari pekerjaan yang sesuai, dan menemukan perusahaan yang mampu menggaji sesuai dengan jenjang pendidikan kalian? Apalagi saat ini jarang sekali perusahaan mau nampung karyawan lulusan S2 yang fresh graduate dan belum berpengalaman. Jangan sampai kalian di – under qualification. S2 dibayar sama dengan S1, atau malah sama dengan lulusan D3. Pride mu ambyar loh rek.

baca juga: Hijrah dan Sepotong hati yang baru

Lalu saya harus gimana?

Beranikan diri saja terjun ke profesional. Lihat dan alami dunia nyata. Supaya nggak terlalu banyak menara gading di sekitar kita. Mahasiswa kerjanya kuliah terus. Jumlah perguruan tinggi nambah terus. Tapi masyarakat tetap susah, sengsara, nggak bisa memecahkan masalah. Di sisi lain, mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya bisa kasih jalan keluar atas kesulitan yang dialami masyarakat.

Inget lho ya, kita ini kuliah mengemban tridharma perguruan tinggi. Pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Belajar sudah, meneliti sudah. Tinggal mengabdi. Lek ngabdi ya berarti memberikan sumbangsih ke masyarakat, atas ilmu yang kamu terima di bangku kuliah. Meskipun ilmunya sedikit, ya kembalikan saja ke masyarakat, supaya ada gunanya. Daripada pusing mikirin hanya sedikit ilmu yang saya punya.

Sedikit tapi berguna sungguh jauh lebih mulia, daripada banyak tapi disimpan sendiri saja.

Lesson Learn:

Demikian dari saya, panjang lebar memang. Oleh karenanya makasih ya sudah meluangkan waktu membaca dari awal sampai akhir. Semoga dapat memberi pencerahan kepada kalian yang lagi galau. Meskipun sedikit, tapi paling tidak, memberikan gambaran bahwa dunia nyata tak mudah, tapi juga tidak sesulit itu untuk dijalankan.

Post Terkait:

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.