Arum Silviani
WFH dari Malang

WFH dari Malang, Berapa sih kisaran biayanya?

Assalamualaikum pengunjung rumah Arum. Apa kabar? Semoga baik-baik saja ya semuanya. Kali ini saya mau sharing tentang WFH dari Malang selama pandemi. Sebenarnya niatan ini sudah terbersit sejak lama. Mungkin sejak awal tahun 2021. Tapi ternyata jumlah kasus covid-19 terus meningkat, hingga saat varian Delta menyerang bumi pertiwi. Akhirnya semua terpaksa diundur. Baru bulan Oktober 2021, saya dan teman saya Gita, bisa “mencicipi” WFH dari Malang.

Cerita keberangkatan kami ke Malang sudah saya ungkapkan disini: Perjalanan ke Blitar dengan KA Malabar

baca juga: Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang

Tempat Menginap

Pada saat WFH, tentu saja hal terpenting yang harus kita pastikan terlebih dulu adalah tempat menginap. Saya dan Gita memutuskan untuk tinggal di “rumah”. Bukan hotel besar, apalagi bangunan yang modern. Karena saya dan Gita memang sama-sama suka dengan nuansa homy dan tenang. Nah, karena diantara kami berdua saya yang paling ribet dalam memilih tempat tinggal, maka Gita sepenuhnya menyerahkan soal tempat tinggal kepada saya.

Intinya sih kalau saya suka, dia pasti suka.

Berikut adalah pertimbangan dan keinginan saya dalam memilih tempat tinggal di Malang:

  1. Harus homy. Karena kami bakal tinggal lama di Malang, maka tempat tinggal harus serasa rumah sendiri. Oleh karena itu jelas saya mencoret pilihan hotel, apalagi yang modern. That’s a big no for me. Saya suka nuansa vintage, jadul, dan bangunan Belanda.
  2. Akses internet. Harus ada wifi yang kecepatannya mumpuni. Atau minimal, sinyal operator kami kuat. Sehingga jika wifi ada gangguan, kami bisa dengan cepat menggantinya ke kuota internet dari tethering handphone.
  3. Akses jalan. Ini lebih ke saya sih, karena saya suka lari pagi, jadi saya maunya tinggal di kawasan yang memang ramah bagi pejalan kaki. Saya nggak suka tempat yang semrawut dan kendaraan berseliweran tidak teratur.
  4. Ini menjadi kriteria saya juga. Saya maunya tinggal di kawasan sekitar Idjen Boulevard. Dengan demikian saya bisa kerja sambil refreshing, karena bisa lihat bangunan tua setiap hari. Gita? Dia sih nurut saja keputusan saya. Baik ya anak itu? Hahaha…
  5. Kawasan perumahan yang tenang, tapi dekat tempat makan. Dekat dengan indomaret atau alfamart. Supaya kalau mau beli barang kebutuhan, mau jajan, atau mau makan, tinggal melangkah nggak usah jauh-jauh.
  6. Harus ada AC dan water heater! Itu adalah hal penting banget buat kami berdua. Saya nggak tahan panas, dan Gita nggak tahan dingin.
  7. Harga terjangkau dan masuk di akal. Itu poin terakhir, sekaligus penentu diantara semua kriteria.

Banyak ya keinginan saya? Kalau kata teman-teman saya, mencari tempat tinggal sebenarnya nggak sesusah itu. Tetapi kalau tempat tinggal yang sesuai dengan keinginan Arum, wuihh susahnya setengah mati!

Hahaha…

Sebenarnya, saat saya membuat list pertimbangan dan keinginan ini, saya sudah punya bayangan bakal tinggal dimana. Sebuah Kawasan yang letaknya sepelemparan batu dari Idjen Boulevard. Tempat yang sangat homy bagi saya. Tempat saya bermalam dua tahun lalu, sebelum naik ke Semeru. Lokasinya di daerah Gading Kasri. Diapit dengan Jl. Wilis dan Jl. Ijen. Sebuah kompleks perumahan bergaya Belanda yang masih asri dan terawat cantik sekali.

Akhirnya saya pilih kembali rumah itu. Lalu saat Gita melihat rumahnya, dia loncat-loncat kegirangan. Sesuai dengan ekspektasinya Gita juga. Homy, tenang, dan asri.

WFH dari Malang
Home
WFH dari Malang
Gita yang senang dengan rumah di Malang
Halaman rumah di Malang

Biaya Hidup WFH dari Malang

Gaji Jakarta, makan dan tinggal di Malang. Itu adalah surga dunia. Pengen gitu terus…mungkin nanti saat saya sudah settle full, saya bakal melakukan hal itu. Hahaha…niat banget sih saya…

Sekitar 2 minggu saya dan Gita di Malang, kami masing-masing menghabiskan sekitar Rp3,5 jutaan. Sudah termasuk makan, menginap, dan ongkos KAI pp lho ya. Di Malang, saya sama sekali nggak pernah berniat untuk ngirit. Rasanya hampir setiap hari saya main sambil kerja, ngafe di tempat mewah (untuk ukuran Malang), dan juga jajan ini itu yang saya suka. Sekian lama hibernate dan nggak bisa kemana-mana, tentu saja saya menyambangi hampir semua tempat yang saya kangenin. Seperti Rawon Brintik, Rawon Rampal, Depot Hoklay, Madam Wang Secret Garden, Loe Min Toe café, Pecel Tumpang, Soto Ambengan, dll.

WFH dari Malang
Saat Listrik Padam, Pindah ke Rumah Sebelah

Biaya hidup tersebut tentu saja akan berbeda tergantung kebutuhan dan standar masing-masing. Kalau anda memilih untuk kost, harga sewa kost di Malang berkisar dari Rp450.000 untuk fasilitas sederhana, hingga Rp2.500.000 untuk fasilitas lengkap. Harga tersebut juga bervariasi, tergantung lokasi.

Pengalaman buruk dengan Laundry di Malang

Kalau cucian, saya laundry. Harga laundry kiloan normalnya Rp4000-Rp5000/kg (ini dimana-mana seginian kalo di sekitar Malang). Kalau mau ekspress (4 jam jadi) harganya kisaran Rp6000-7000/kg. Tapinya nihh…saya punya cerita ya. Awalnya saya lihat ada banner gitu di dekat rumah saya menginap. “Laundry ekspress Rp6000/kg 2 jam beress!” Tapinya, saya ditipu gais!

Nanti lah saya cerita di postingan berikutnya. Kalau disini kepanjangan.

Biaya Makan di Malang

Penginapan sudah, laundry sudah, sekarang biaya makan. Biaya untuk dua kali makan normal (saya pakai shopee food biasanya) kurang lebih berkisar antara Rp13.000-22.000 saja. Snack (di Malang saya suka banget ngemil bubur kacang hijau) sekitar Rp13.000 an untuk 3 porsi. Nasi pecel berkisar antara Rp8000-12.000 per porsi. Hanya saja kalau ke café atau tempat makan legendaris lainnya, agak lebih mahal. Sekitar Rp30.000-Rp45.000 per porsi (Nasi Rawon, lauk pauk, dan es teh manis). Tapi jika dibandingkan dengan harga di Bandung apalagi Jakarta, duh…jauuuuh….

WFH dari Malang
Nasi Pecel Tumpang

Jika jenuh melanda, atau ingin nongkrong di café, sekali ke café saya menghabiskan antara Rp30ribu-74 ribu rupiah. Itu sudah makan berat, ngemil, dan minum. Selama saya tinggal di Malang, café paling mahal yang saya sambangi adalah Café Litchie. Disitu saya menghabiskan sekitar Rp74.000,- untuk menu ikan dori dan lemonade. Sama dengan harga café di Bandung. Kayak gini nih cafenya, ala-ala Santorini.

WFH dari Malang
Cafe Litchie, Malang

baca juga: Menyambangi Warung Rawon Brintik, Rawon Tertua di Malang

Kuliner Jadul Malang: Depot Hoklay

Review tempat makan enak di Malang

Akses Internet di Malang

Nah ini dia yang suka bikin deg deg serrr gimanaa gitu. Provider saya payah banget di Malang. Saat itu saya hanya pakai indosat yang katanya sinyal kuat. Tapi nyatanya mble-e. Jadi saya seringnya nongkrong di café buat mengerjakan hal-hal penting yang butuh koneksi internet tinggi. Lain halnya kalau pakai XL Live on seperti Gita, kenceng sinyalnya.

Sebenarnya di rumah yang kami sewa di Malang, sinyal wifi cukup bagus, tapi itu hanya di ruang makan dan di lantai 1. Tapi sayangnya di lantai 1 nggak ada AC, sehingga saya ngga betah dan memilih ngadem di kamar saya di lantai 2. *penting ngga sih guee?

Iya gengs, buat orang yang terbiasa tinggal di Bandung seperti saya, Malang itu puanas rek!

Jadi buat pertimbangan teman-teman juga saat memutuskan WFH di Malang, coba siapkan kuota internet yang mumpuni, dan juga provider yang bener ya gengs. Di Malang yang kenceng itu sinyalnya XL dan Simpati. Indosat? Dudududu…

Lesson Learned WFH dari Malang

Charger full!!! Saya happy banget. Setelah sekian lama kerja, kerja, kerja, tanpa bisa kemana-mana, di Malang rasanya adem, ayem, dan perasaan tenang yang tak bisa dijelaskan. Disini saya serasa pulang ke kampung halaman. Bicara dengan Bahasa Jawa, berinteraksi dengan orang Jawa, dan menggunakan Bahasa Ibu saya. Bahasa Jawa. Meskipun di awal lidah sempat kaku, saking lamanya nggak pakai Bahasa Jawa, tapi lama kelamaan, DNA saya kembali terbiasa.

Badan juga lebih sehat. Saya yang biasanya olahraga seminggu dua kali saja, di Malang saya selalu lari pagi setiap hari. Tanpa absen. Nggak ada rasa capek sama sekali, karena saya berada di daerah yang saya suka. Perumahan bergaya Belanda yang cantik sekali. Sempat saya berpikir, saya pengin punya rumah yang ada di sekitar sini. Kebetulan banyak yang dijual. Tapi saat saya buka website rumah 123, satu rumah seperti yang kami tempati, harganya mencapai 30 Miliar! Yo opoo rekk…

WFH dari Malang
Rumah Impian, Ijen Boulevard

Eh tapi, kata-kata adalah doa kan ya? Siapa tahu malaikat mengamini, dan Allah memberinya buat kita.

Segitu dulu cerita saya tentang WFH dari Malang gengs. Terima kasih sudah setia membaca ocehan saya sampai selesai. Nanti saya cerita lebih detail tentang tempat-tempat di Malang yang asik buat WFH ke teman-teman semua. Termasuk tempat persembunyian saya di pinggir Sungai Brantas!

Dimanakah itu? Simak terus ya…

Wassalamu’alaikum….

Post Terkait:

Bakso Malang Presiden, Sensasi Makan di Pinggir Jalan Kereta

Aplikasi meeting online penunjang work from home

Arum Silviani

Lecturer, Travel Blogger and Founder of Antasena Projects

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.