Arum Silviani

Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang, kok nggak ada Restorasinya?

Assalamualaikum pengunjung Rumah Arum, sudah lama tak bersua. Iya, sayanya lagi banyak ngurus mahasiswa. Ngajar, membimbing magang dan skripsi, menguji, dan ada proyek masa depan yang nanti insyaAllah saya ceritakan ke teman-teman semua. Anyway, di tulisan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya naik kereta api Malabar tujuan Bandung-Malang, kelas eksekutif. Sebuah bagian cerita WFH dari Blitar dan Malang beberapa waktu lalu.

Baca juga: Bandung-Blitar dengan KA Malabar

Harga Tiket Kereta Api Malabar Bandung-Malang Kelas Eksekutif

Saya beli tiket kereta api Malabar kelas eksekutif di BCA Lifestyle. Harga tiket Bandung-Malang dengan Kereta Api Malabar Rp360.000 + biaya layanan Rp7500,- sehingga total harga RP367.500. Pada saat membeli tiket, disitu tertera bahwa bagi penumpang kereta api jarak jauh, harus melampirkan hasil tes antigen maksimal 24 jam sebelum keberangkatan. Karena saya nggak tahu gimana prosedurnya, akhirnya saya datang lebih awal. Keberangkatan kereta jam 17.00, saya sudah standby di stasiun pukul 13.30.

Kepagian!

Tapi nggak apa-apa, daripada buru-buru malah nggak enak yakan…

Baca juga: Review Stasiun Banjar

Prosedur dan Biaya Test Antigen di Stasiun Bandung

Begitu masuk stasiun Bandung, saya cari pos untuk tes antigen. Saat saya berangkat, pos ini terletak di stasiun utara Bandung, di parkiran mobil. Namun 2 minggu lalu, pos ini berpindah menjadi di depan masjid stasiun Bandung.

Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang
Tempat Test Antigen Stasiun Bandung

Prosedurnya yaitu pertama kita diminta scan barcode, lalu nanti kita diarahkan ke formulir pendaftaran. Setelah itu, kita tinggal isi nama, NIK, alamat, dan no. handphone. Ketika sudah selesai, nanti kita tinggal menunjukkan kepada petugas, dan membayar Rp45.000,- di loket untuk mengikuti test antigen. Hanya ada metode pembayaran cash ya gengs. E-wallet atau gesek kartu apapun nggak bisa.

Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang
Tempat Pendaftaran Test Antigen Stasiun Bandung

Tak sampai 5 menit setelah membayar, saya sudah dipanggil untuk masuk ke bilik tes. Petugasnya cukup cekatan, dan prosesnya sangat cepat. Setelah di tes, saya duduk di ruang tunggu kurang lebih 10 menitan, lalu hasil saya keluar. Alhamdulillah negative!

Baca juga: Review Kereta Api Pangandaran Bandung-Banjar

Bunyi sirine kereta yang bikin kangen

Iya, saking saya nggak pernah bepergian dengan kereta api hampir 2 tahun lamanya, bunyi sirine ini serasa magic gitu. Mengembalikan ingatan yang tercecer. Halahh…apaaa coba. Ditambah Stasiun Bandung yang kini kian berbenah. Nanti lah ya saya pamerin seperti apa cantiknya Stasiun Bandung.

Baca juga: Barang Ketinggalan di Kereta Api, kemana carinya?

Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, gerbong yang saya naiki adalah gerbong eksekutif KA Malabar. Keberangkatan jam 17.00 dari Stasiun Bandung. Saya kira, saya akan mendapatkan gerbong baru seperti KA Lodaya. Ternyata, ini adalah gerbong lama. Belum ada fasilitas wifi seperti yang dipublish di Instagram KAI.

Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang
Kursi KA Malabar
Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang
kabin KA Malabar

Saya pun sempat komplain ke 121 dan chat WA resmi KAI. Saya dapat jawaban bahwa memang belum semua kereta eksekutif mendapatkan fasilitas wifi. Sempat saya tanya juga tuh, kenapa? Kok mau kasih layanan nanggung? Kan semestinya, kita berhak mendapatkan layanan yang sama, karena kelasnya sama. Setelah lama menunggu (baca: lamaaaaaaaa bangetttt), akhirnya saya dapat jawaban bahwa manajemen KAI sedang mencicil layanan yang diberikan. Sementara ini fasilitas wifi di kelas eksekutif baru dapat dinikmati penumpang di kereta Argo.

Baca juga: Review Kereta Api Argo Parahyangan Premium

Kabin Kelas Eksekutif KA Malabar

Kurang lebih begini tampilan kabin kelas eksekutif Malabar. Sandaran kakinya nggak nyaman sih menurut saya. Lalu suspensinya juga nggak empuk. Malah lebih empuk Lodaya jadul kelas eksekutif. Nggak ngerti deh kenapa. Kursi lumayan empuk, tapi belum bisa dibilang nyaman banget.

Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang
sandaran kaki KA Malabar

Kursi ini dilengkapi dengan meja lipat yang terletak di sandaran kursi, dan juga reclining seat (bisa diatur supaya kita bisa setengah rebahan).

AC nya dingin bangeet…atau mungkin saya yang salah pakai jaket ya? Dan mungkin karena pandemi, kita nggak dikasih bantal dan selimut. Nggak ngerti deh. Tapi, saya lihat ada orang yang sewa selimut dan bantal. Lho, gimana? Jadi sekarang diuangkan lagi nih fasilitas yang dulu kita dapat?

Ah kalau kayak gini, jujur saya kecewa banget dengan KAI. Bukannya layanannya makin bagus, malah semakin nggak asik. Bukannya layanannya ditambahkan seiring dengan perkembangan moda transportasi, kok malah dikurangi. ANEH.

Baca juga: Review lengkap Argo Parahyangan Kelas Ekonomi

Kok Nggak ada Restorasinya?

Nah ini lagi yang bikin saya kecewa berlipat-lipat. Gerbong restorasi nggak ada doong…padahal diumumkan di pengeras suara, bahwa KA Malabar ada kereta makannya. Dulu saya pernah naik Malabar dan itu ada gerbong restorasinya. Pernah jajan disitu. Namun di 2021, saya sama temen saya Gita, sudah jalan jauh-jauh dari Gerbong eksekutif 2 ke kereta makan yang letaknya di belakang gerbong eksekutif 4, ZONK!

Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang
kereta makan KA Malabar 2

Hanya ada dapur dan tempat makanan yang nggak ada mas mbak pramugarinya. Hanya ada seorang cleaning service (maaf mas lupa namanya) yang helpful banget sihh…masnya baik mau kasih kita kertas dan ballpoint untuk mencatat pesanan kami. Lalu ada Pak Kondektur yang juga ramah banget. Akhirnya beliau menjelaskan kepada kami, bahwa ini adalah gerbong KA lama. Karena menyatu dengan kereta ekonomi, maka tidak ada gerbang restorasinya. Sudah berkali-kali karyawan minta gerbong ini diganti dengan yang baru, namun pihak manajemen belum mendengarkan.

Saya nyeletuk, belum atau nggak mau pak? Sayang banget kan kalau image yang sudah dibangun sekian lama, sudah bagus, eeh malah turun kualitasnya. Maaf KAI, saya harus jujur.

Review Kereta Api Malabar Bandung-Malang
kereta makan KA Malabar

Menurut saya, dengan bergabung atau tidaknya kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi dalam satu kereta, tidak lantas fasilitas restorasi dihilangkan. Setiap kalangan berhak dapat pelayanan yang setara di kelasnya. Kalau di Argo parahyangan yang terdapat kelas eksekutif dan premium saja ada restorasinya, lalu kenapa Malabar tidak ada?

Tanya KEN APA KAI?

Baca juga: Bandung ke Bogor naik Kereta Api, gimana caranya?

Pelayanan Kru On Board KAI

Kalau keramahan dan pelayanan dari kru sih oke ya menurut saya. Mereka ramah, helpful, friendly, juga cukup cekatan saat dimintai bantuan. Jadi nyaman kalau sama kru nya. Sayang sekali fasilitasnya payah. Saya yakin, kru on board ini nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak bisa mengambil keputusan apapun tentang fasilitas untuk penumpang. Hanya menjalankan tugas yang diberikan atasan. Dan mereka sudah melakukannya dengan baik.

Harapan buat KAI

Semoga pelayanan KAI makin ditingkatkan. Fasilitas yang dulu ada dan pernah ada, jangan dihilangkan hanya karena pandemi. Jangan karena penumpang tak punya pilihan lain (tidak ada penyedia jasa KA jarak jauh selain KAI) maka perusahaan jadi seadanya saja dalam melayani penumpang. Hanya mengingatkan, betapa kehadiran tol Cipularang di 2004, shuttle travel, dan moda transportasi pesawat sempat menghempaskan KAI di titik terendah. Jangan sampai kembali lagi ke titik itu karena penumpang kecewa. Jadilah Kereta Api Indonesia yang dicintai dan dibanggakan oleh rakyatnya. Tentu saja dengan pelayanan prima. Sehingga cinta kami ke KAI tahan lama.

Sekian dulu review dari saya. Wassalamualaikum,

Arum.

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.