Asal Usul Jembatan Cinta Situ Cileunca Pangalengan

Postingan sebelumnya bercerita soal Saya, Iin, Inda, dan Wina yang menyusuri Cukul Pangalengan. Setelah puas menikmati pemandangan Cukul Pangalengan, kami menuju tempat berikutnya, Situ Cileunca. Situ atau danau ini merupakan danau buatan yang berlokasi di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Situ Cileunca memiliki luas sekitar 1.400 hektar, dipeluk oleh perbukitan dan pegunungan yang menawan.

Baca juga: September Ceria di Cukul Pangalengan

Perahu Bersandar di Situ Cileunca
Perahu Bersandar di Situ Cileunca

Baca juga: Berkelana ke Rancabuaya

Menurut Wina yang asli Pangalengan, kalau hari masih pagi, kita dapat mendaki gunung tersebut. Gunung Nini namanya. Sebenarnya bukan termasuk kategori gunung sih, bukit lebih tepat rasanya. Bukit Nini terletak di tengah Perkebunan Teh Malabar. Kalau baca sejarahnya, konon Gunung Nini merupakan tempat yang dijadikan Bosscha untuk mengawasi kebun teh miliknya. Wina juga bilang kalau dari atas Gunung Nini, kita dapat melihat perkebunan teh yang menakjubkan sejauh mata memandang. Duh…jadi kepingin kan kesana…Gambarnya dulu deh ya…pinjam dari google.

Baca juga: Senyum Harapan dari Desa Murung Raya

Bukit Gunung Nini
Bukit Gunung Nini. Sumber: Wisatalova.com

Balik lagi ke Situ Cileunca, cuaca berbeda total dengan cuaca di Cukul Pangalengan yang berkabut. Situ Cileunca sore itu bermandikan sinar matahari. Sudah tidak terlalu terik, tapi tetap saja kalau terlalu lama terpapar, wajah kita panas juga.

Baca juga: Rinai Hujan Mendayu di Cukul Pangalengan

Dibalik Jembatan Cinta Situ Cileunca
Dibalik Jembatan Cinta Situ Cileunca

By the way, Situ Cileunca yang kami kunjungi bukan tempat yang biasanya didatangi wisatawan. Melainkan sisi lain Situ Cileunca, dimana terdapat jembatan yang menghubungkan Desa Pulosari dan Desa Wanasari. Jembatan tersebut dinamakan Jembatan Cinta Situ Cileunca. Menurut Wina lagi, sejarah Jembatan Cinta ini berawal dari kisah warga Desa Pulosari dan Desa Wanasari yang letaknya terpisahkan oleh Situ Cileunca. Karena luasnya Situ Cileunca, jika mereka ingin saling bertemu atau bertandang ke desa lainnya mereka harus mengelilingi tepian danau. Tentunya waktu tempuhnya lama karena harus mengambil jalan memutar. Oleh karena itu, warga membangun jembatan yang dapat menghubungkan kedua desa, sehingga akses menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien. Efek dominonya mungkin, warga kedua desa ini menjadi lebih mudah untuk saling jatuh cinta kali ya. Nggak terhalang danau. Cintaku terhalang danau? #Eeeaaaa baper.

Baca juga: Batu Hangus, Lava Indah dari Gamalama

Jembatan Cinta Situ Cileunca
Jembatan Cinta Situ Cileunca. Sumber: Wisatapangalengan.com

Di tempat ini, anda juga bisa menyewa perahu untuk mengelilingi Situ Cileunca dengan membayar sekitar Rp100.000/perahu, untuk kapasitas 10 orang. Sebenarnya untuk masuk ke tempat ini lewat Dam Pulo, pengunjung dikenakan tarif tidak resmi sebesar Rp5000/orang. Namun karena ada Wina yang asli orang Pangalengan, kami jadinya nggak bayar J. Meskipun demikian, kami tetap dikenakan biaya parkir Rp10.000/mobil. Lagi-lagi, biaya ini pun tidak resmi. Hanya permintaan warga sekitar.

Baca juga: Kamojang Hill Bridge, Jalur Pembuka Cukang Monteng Garut

Karena hari sudah cukup sore dan kami harus kembali ke Kota Bandung, maka kami pun berpisah dengan Wina. Sembari berjanji akan mengunjunginya lagi, tentu saja dengan agenda lainnya. Camping!

Tak lengkap rasanya jika ke suatu tempat tidak mampir ke Pusat Oleh-Oleh khasnya. Tak lengkap juga jika tak mencicip kulinernya. Dalam perjalanan menuju Bandung, kami singgah di RM. Asti yang letaknya tak jauh dari Situ Cileunca. Mungkin sekitar 15 menit perjalanan dengan mobil. Kami mencicip nasi timbel komplit dan karedok. Rasanya enak. Ayam bakarnya enak, karedoknya enak, semuanya enaaaak banget rasanya. Hanya saja buat saya, sambalnya pedaaaassss. Tapi ini preferensi saya lho ya. Buat penggemar pedas boleh jadi bilang kalau sambalnya hanya terasa manis. Huhu…

Nasi Timbel Komplit
Nasi Timbel Komplit RM Asti Pangalengan

Harga seporsi nasi timbel komplit Rp23.000. Secangkir kopi hitam Rp4.000, seporsi Karedok Rp6.000.

Kios Asti-Oleh-Oleh Pangalengan
Kios Asti-Oleh-Oleh Pangalengan

Selanjutnya, saya dan teman-teman juga mampir untuk membeli oleh-oleh permen susu. Ukuran 500 gram dibanderol Rp30.000. Murah meriah, bukan?

Perjalanan kami berakhir sampai disini. Kami kembali ke Kota Bandung yang ramai, sekaligus ngangenin 🙂

One Reply to “Asal Usul Jembatan Cinta Situ Cileunca Pangalengan”

Leave a Reply