Arum Silviani
Teman seperjalanan (Ani, Hinny, Novi)

Koneksi tanpa Jaringan di Desa Wae Rebo Flores, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur

Desa Wae Rebo Flores terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Di post sebelumnya Bhekti bercerita tentang perjalanan panjang menuju Kampung Terindah di Atas Awan. Tulisan kali ini menyambungnya dengan keramahan Desa Wae Rebo. Desa indah nan menawan dengan penduduknya yang berhati rupawan.

By: Bhekti Lestari, Training instructor at Antasena Edu Projects

Selamat datang di Desa Wae Rebo

Kurang lebih sekitar pukul 16.15 WITA kami sampai Desa Waerabo, lalu kami masuk ke Mbaru Niang (rumah adat Desa Waerebo). Mbaru Niang utama bernama Niang Gendang. Di dalam Niang Gendang kami disambut oleh ketua adat.

Selanjutnya dilakukan upacara kedatangan, dimana ketua adat berkomunikasi dengan arwah para leluhur dan memperkenalkan kami kepada leluhur mereka.

Tetua Adat Desa Wae Rebo
Berfoto dengan Tetua Adat Desa Wae Rebo selepas Upacara Kedatangan

Setelah upacara kedatangan, kami kemudian diantar ke Niang Gena Maro, salah satu rumah adat yang disediakan untuk para tamu yang akan menginap, disitu kami disuguhi dengan teh dan kopi khas Waerebo. 

Welcome Drink di Niang Gena Maro
Welcome Drink di Niang Gena Maro

Berhubung Niang Gena Maro depan sudah penuh, kami diantar ke Niang Gena Maro yang ada di belakang.  Begitu masuk rumah adat tersebut, ternyata besar juga. Satu rumah adat dapat menampung 30-40 orang.

baca juga: Cerita Trip Labuan Bajo: Transportasi, Penginapan, dan Tempat Makan

Koneksi tanpa Jaringan

Setelah beres-beres dan meletakkan barang pada tempat yang aman, saatnya kami mencari koneksi nyata, karena disini tidak ada jaringan internet.

Kami coba ke atas bukit untuk foto-foto Waerebo secara keseluruhan, disitu ternyata ada anak-anak Waerebo sedang berfoto juga, saya coba mengobrol dengan salah satunya, Erin Namanya, dia ternyata sekolah di Ruteng, jadi selama liburan sekolah baru ke Desa Waerebo untuk berkunjung ke kerabat, pun anak-anak yang lain seperti itu.

baca juga: Perjalanan ke Desa Wae Rebo Flores, Kampung Terindah di Atas Awan

Anak Desa Wae rebo Flores
Berfoto bersama Anak Desa Wae rebo

Cita-citanya ingin jadi Bidan, dan hendak bersekolah ke Bandung atau Jakarta, lalu jika kelak lulus ingin mengabdikan diri untuk Desa Waerebo, semoga dimudahkan dan dilancarkan segala sesuatunya ya Erin.

Disela ngobrol-ngobrol itu salah satu rekan berteriak “hayuk ikut ke helipad, ini diajak anak-anak Waerebo” tak berfikir panjang, kami pun ikut. 

Berfoto terakhir dengan Anak Desa Waerebo
Berfoto terakhir dengan Anak Desa Waerebo
Suguhan Alpukat di Desa Wae rebo
Suguhan Alpukat di Desa Wae rebo

Sesampainya di helipad anak-anak bercerita,

“Dulu waktu Pak Presiden Jokowi ke Desa Waerebo, naik helikopter dan berenti disini Kakak”

Kami pun ber oooo panjang. Enaknya pake helikopter kesini, kalo nanti dikasih rejeki mau juga naik helicopter dan mendarat di helipad Desa Waerebo.

Setelah puas berfoto-foto, kami akhirnya Kembali ke Niang Gena Maro untuk mandi dan bersih-bersih.  Selepas Sholat Magrib, penduduk desa menyiapkan hidangan untuk makan malam, kami yang ada di dalam Rumah Adat pun merapat, makan dengan menu sederhana yang lezat. 

Selepas makan kami mengobrol dengan pengunjung lain, berbagi pengalaman dan cerita, mencoba terkoneksi secara nyata.  Semakin malam, satu per satu pengunjung pamit untuk tidur.

Saatnya berpisah dengan Desa Wae Rebo Flores yang indah, dan penduduknya yang ramah

Pagi-pagi kami mencoba Kembali mengobrol dengan anak-anak desa Wae rebo, dan kami diajak ke tempat pemandian yang biasa mereka gunakan, 3 pancuran dengan air yang segar, kami diminta untuk minum air tersebut, rasanya memang segar sekali.

Sekembali dari pancuran, kami diajak untuk ke tempat tinggal mereka di Niang Gena Ndorom, mengobrol dengan para tetua disitu dan disuguhi alpukat dari tanah Waerebo yang legit sangat, ah kalau saja perjalanan kami tidak panjang, mungkin sudah borong alpukat disini.

Mengobrol dengan Tetua Desa Waerebo (1)
Suasana hangat di desa Wae Rebo

Sedang asiknya mendengerkan tetua rumah bercerita, ternyata sudah ada yang menghampiri kami memberitahu bahwa sarapan sudah siap, karena kami memang harus Kembali lagi ke kota, akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan pamit untuk siap-siap pulang.

Sarapan dengan menu nasi goreng dan telur, menu sederhana yang enak, sangat sehat tanpa penyedap rasa.  Setelah sarapan kami mandi, dan membenahi barang-barang kami.  Lalu kami keluar dengan barang-barang bawaan, pamit ke desa Waerebo dan juga penduduk, berfoto-foto untuk terakhir kalinya di hari itu, dan saatnya mengucapkan terima kasih dan berpisah. 

Semoga kelak diberi rejeki untuk Kembali lagi kesini, aamiin.

Post Terkait:

Arum Silviani

Lecturer, Travel Blogger and Founder of Antasena Projects

Add comment

AdBlocker Message

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.