Cerita Perjalanan Bandung-Purwokerto bersama KA Serayu

Purwokerto memang kampung halaman saya. Kota kecil yang berada  di kaki Gunung Slamet nan gagah dan melegenda itu. Suatu tempat yang punya segudang makanan enak, aneka oleh-oleh, juga kekhasan aksennya. Kota tempat saya menjalani masa remaja. Kota yang sayang, jarang dibahas oleh para traveler khususnya soal transportasi, wisata kuliner, rute, juga transportasi lokalnya sehingga kalah pamor dengan kota tetangganya seperti Pekalongan, Wonosobo, atau Cilacap.

Baca juga ini: 1001 Hal Tentang Purwokerto Kota Satria

Well…minggu lalu saya dadakan harus ke Purwokerto, karena Eyang Putri tercinta sedha (wafat). Beliau sedha di Jakarta, namun berwasiat untuk dimakamkan di Purwokerto. Saya yang saat itu sedang di Bandung pun segera mencari tiket untuk pulang kampung. Karena jadwal Bus Bandung-Purwokerto tidak ada yang match, saya pun memutuskan untuk menumpang Kereta Api Serayu. Kereta ini sebenarnya adalah kereta dari Pasar Senen, dengan tujuan akhir Purwokerto, namun melintasi Stasiun Kiaracondong, Bandung. Kereta Api ini merupakan KA satu-satunya yang menghubungkan Bandung-Purwokerto langsung. Harga tiketnya untuk Bandung Purwokerto sangat murah, hanya Rp67.000 sekali jalan. Karena saya beli lewat traveloka, maka dikenakan tambahan biaya administrasi sebesar Rp7500.

Baca juga ini: Review Gerbong Kereta Ekonomi AC Argo Parahyangan

Stasiun Kiara Condong
Stasiun Kiara Condong

Kereta Api Serayu berangkat dari Stasiun Kiaracondong Bandung jam 13.10 WIB. Kedatangan dan keberangkatannya juga sangat tepat waktu. Meskipun kelas ekonomi, kondisi di dalam kereta bersih, juga nyaman. Terutama kursinya yang tak lagi keras seperti dulu.

Baca juga ini: Cerita tentang Purwokerto dan Pencarian Bakso Pekih

Gerbong KA Serayu
Gerbong KA Serayu

Satu yang saya suka dari kereta api kelas ekonomi adalah, kita bisa bebas bercengkrama dengan teman sebangku, atau orang yang duduk berhadapan dengan kita. Bisa minta tolong untuk saling menjaga barang jikalau kita hendak ke toilet atau membeli keperluan di kereta makan. Seperti saya hari itu yang berkenalan dengan Ibu Masriyah (semoga nggak salah nulis nama). Ibu Guru Madrasah Ibtidaiyah Sidareja. Ngobrol dengan Ibu yang sederhana dan menyenangkan ini membuat perjalanan saya nggak terasa lama, juga berhasil mengurangi kesedihan saya karena ditinggal Eyang Putri. Kebayang dong kalau saat itu saya nggak ada teman bicara di perjalanan. Pastinya saya nangis terus sepanjang jalan 😀

Baca juga ini: Mulih ka Desa Bagian 1

Mulih Ka Desa Hari Kedua

Menara Tua di Stasiun Banjar
Menara Tua di Stasiun Banjar
Stasiun Ciawi
Bangunan Tua Peninggalan Jaman Belanda di Stasiun Ciawi

Perjalanan Bandung-Purwokerto ditempuh kurang lebih 6 jam 37 menit. Sehingga perkiraan sampai di Stasiun Purwokerto adalah pukul. 19.59. Hanya saja karena ada sedikit masalah, maka kereta api ini berhenti cukup lama di stasiun Kebasen, yang terletak tak jauh dari Bendung Gerak Serayu. Sebenarnya, jarak dari stasiun Kebasen ke rumah Eyang saya hanya sekitar 2km. Namun kondisi stasiun yang sangat sepi, gelap, dan tidak ada angkutan apapun, membuat saya lebih memilih turun di Stasiun Purwokerto.

Baca juga ini: Review Kereta Api Argo Parahyangan

Stasiun Purwokerto
Stasiun Purwokerto

Pukul 20.15 WIB saya sampai di stasiun Purwokerto. Hujan deras turun malam itu. Karena tujuan saya adalah ke kompleks Perhutani di daerah Tambaknegara Rawalo, yang notabene kampung banget lah ya…dimana-mana hutan rimba. Jarang ada rumah, tempatnya nyungsep dan lain sebagainya, membuat saya agak ragu mau naik taksi. Akhirnya saya tanya satpam stasiun, apakah aman naik taksi dari stasiun. Mereka langsung mengiyakan. Aman, katanya.

Baca juga ini: Mengawinkan Batik Banyumas dengan Budaya Korea

Di depan stasiun saya langsung naik ke salah satu taksi, Kondang Prima Karya namanya. Taksinya baru, berwarna kuning, dan supirnya ramah-ramah. Sebelumnya saya ditanya mau pakai argo atau borongan. Karena saya nggak tahu tarif, jelas saya pilih argo. Masuk taksi dimulai dengan argo Rp6.000. Argonya normal, tidak diakali supaya mahal. Supirnya juga hafal jalan, dan kondisi taksi bagus. Highly recommended deh. Dari Stasiun ke pemakaman Eyang saya di Desa Tambaknegara argonya Rp51.000. Sedangkan kalau ke rumah Eyang saya di kompleks Perhutani Tambaknegara sekitar Rp.57.000 (±15km). Murah, nggak pake nawar-nawar. Sampai dengan selamat. Ini penampakan taksinya:

Taksi di Purwokerto
Taksi di Purwokerto

Menurut Pak Agam, supir yang mengantarkan saya, di Purwokerto ini terdapat dua koperasi taksi. Kobata dengan warna taksi hijau, dan Kondang Prima Karya yang berwarna kuning. Saya sudah pernah mencoba keduanya, sama-sama nyaman. Tapi karena armada taksi yang kuning lebih baru, maka terasa lebih enak.

Baca juga ini: Itenerary Wisata Sehari di Cirebon

  1. Taksi Kondang Prima Karya
    Mangkal : Sokaraja (klentheng), Terminal Bus Purwokerto, Stasiun Purwokerto, Depan Hotel Java Heritage, Moro.
    Minimal pembayaran Rp. 25.000
    No Telepon : (0281) 622666, 6577828
  2. Taksi Kobata
    Mangkal : Terminal Bus Purwokerto, Bunderan RS Margono Soekarjo, Depan Hotel Java Heritage, Perempatan DKT,
    Minimal pembayaran Rp. 25.000
    No. Telepon : (0281) 642440, 642441

3 Replies to “Cerita Perjalanan Bandung-Purwokerto bersama KA Serayu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *